Dua minggu setelah tanah kuburan Mbak Fera mengering, suasana rumah orang tua Anin masih dipenuhi hening yang mencekik. Foto almarhumah berbingkai kayu masih tersenyum anggun di atas meja sudut ruang tamu, menjadi kontras yang menyakitkan di tengah rapat keluarga yang mendadak digelar malam ini. Anin berdiri di dekat jendela, bersedekap dada dengan kaus hitam longgar dan celana jins belelnya. Matanya yang sembap menatap kaku ke arah meja makan, tempat Ayah, Bunda, dan dr. Bayu duduk melingkar. Di pangkuan Bunda, bayi Arumi menggeliat pelan dalam lelapnya, tidak tahu bahwa nasibnya sedang dipertaruhkan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. "Gak. Anin gak mau!" Suara Anin memotong keheningan malam dengan tegas. Sepasang matanya membelalak tak percaya menatap ketiga orang dewasa di hadapannya. "Anin, dengarkan Ayah dulu, Nak," panggil Ayah dengan nada memohon yang sangat halus. Wajah pria tua itu tampak jauh lebih renta dan keriput dalam dua minggu terakhir. "Ini bukan ke
Last Updated : 2026-09-03 Read more