แชร์

BAB 2

ผู้เขียน: Mami lily
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-03 17:39:42

​Dua minggu setelah tanah kuburan Mbak Fera mengering, suasana rumah orang tua Anin masih dipenuhi hening yang mencekik. Foto almarhumah berbingkai kayu masih tersenyum anggun di atas meja sudut ruang tamu, menjadi kontras yang menyakitkan di tengah rapat keluarga yang mendadak digelar malam ini.

​Anin berdiri di dekat jendela, bersedekap dada dengan kaus hitam longgar dan celana jins belelnya. Matanya yang sembap menatap kaku ke arah meja makan, tempat Ayah, Bunda, dan dr. Bayu duduk melingkar. Di pangkuan Bunda, bayi Arumi menggeliat pelan dalam lelapnya, tidak tahu bahwa nasibnya sedang dipertaruhkan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya.

​"Gak. Anin gak mau!"

​Suara Anin memotong keheningan malam dengan tegas. Sepasang matanya membelalak tak percaya menatap ketiga orang dewasa di hadapannya.

​"Anin, dengarkan Ayah dulu, Nak," panggil Ayah dengan nada memohon yang sangat halus. Wajah pria tua itu tampak jauh lebih renta dan keriput dalam dua minggu terakhir. "Ini bukan keputusan yang gegabah. Ini amanah terakhir dari mbakmu sebelum masuk ruang operasi. Fera takut kalau Mas Bayu menikah lagi dengan orang lain, Arumi akan ditelantarkan atau dapat ibu tiri yang jahat. Ini demi Arumi, Nak."

​"Tapi gak dengan cara turun ranjang kayak gini, Yah!" tegas Anin, suaranya bergetar menahan amarah dan ketakutan yang membuncah di dadanya. Ia melangkah mendekati meja, menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk yang gemetar. "Anin ini masih semester lima! Impian Anin jadi desainer interior dan melukis masih panjang! Kenapa harus Anin yang dikorbankan untuk menutup lubang yang ditinggalkan Mbak Fera?!"

​"Anin! Jaga bicaramu!" bentak Bunda dengan suara parau. Air mata wanita tua itu kembali menetes mengaliri pipinya yang kempot. "Mbakmu baru saja meninggal! Apa kamu tega melihat anak mbakmu dirawat orang asing kalau Mas Bayu menikah lagi kelak? Arumi ini darah daging mbakmu sendiri, Anin!"

​"Lalu gimana dengan hidup Anin, Nda?!" air mata Anin akhirnya runtuh juga. Sisi tomboy-nya hancur berkeping-keping di depan kekehnya keinginan keluarga. "Anin bukan Mbak Fera! Anin gak bisa masak, Anin gak kaku, Anin punya dunia seni yang Anin cintai! Dan yang paling penting... Anin gak ada rasa cinta sedikit pun sama Mas Bayu!"

​Kalimat terakhir Anin mengudara, menghantam atmosfer ruangan hingga terasa sangat dingin dan membeku

​Di sudut meja, dr. Bayu yang sejak tadi memilih diam dengan pandangan tertuju pada cangkir tehnya, perlahan mendongak. Sepasang mata elangnya menatap Anin kaku, tanpa ekspresi, namun ada kilat terluka yang tersembunyi di balik kacamata minusnya. Pria itu menggeser duduknya, merapikan kerah kemeja kerjanya yang selalu rapi tanpa cela.

​"Saya juga tidak pernah merencanakan hal ini dalam hidup saya, Anin," ucap Bayu, suara baritonnya terdengar amat dingin dan datar, seolah sedang membaca laporan medis pasien. "Jika bukan karena amanah almarhumah Fera dan demi masa depan Arumi, saya tidak akan pernah duduk di sini meminta hal absurd ini padamu."

​Anin tertawa sumbang di sela isakannya, menatap kakak iparnya dengan tatapan muak. "Amanah? Atau cuma alasan Mas Bayu supaya ada yang mengurus Arumi tanpa Mas harus repot cari pengasuh?!"

​"Anin!" Ayah mengebrak meja pelan, memandangnya dengan tatapan kecewa yang mendalam. "Masmu ini sedang berduka, sama seperti kita! Jangan kekanak-kanakan!"

​Bayu bangkit berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang tinggi tegap menciptakan bayangan intimidatif di bawah remang lampu ruang tamu. Pria itu melangkah mendekati Anin, berhenti tepat dua langkah di depannya.

​"Saya tidak butuh pelayan untuk mengurus Arumi, Anin. Saya bisa menyewa lima suster terbaik di kota ini jika saya mau," kata Bayu dengan nada tenang namun tajam menusuk batin. "Tapi Arumi butuh keturunan ibunya. Jika kamu merasa pernikahan ini adalah penjara yang membunuh masa depanmu, kamu boleh mengajukan syarat apa pun. Tapi jangan pernah ragukan niat saya untuk menjalankan wasiat Fera."

​Anin menatap pria kaku di depannya dengan napas memburu. "Syarat? Syarat Anin cuma satu, Mas: biarkan Anin tetap kuliah, biarkan Anin tetap melukis, dan jangan pernah atur hidup Anin!"

​Bayu mengangguk sekali, sangat kaku. "Disetujui. Saya tidak akan mencampuri urusan kampusmu, dan kamu tidak perlu berpura-pura menjadi Fera di rumah saya. Kita jalani ini secara formalitas demi hukum dan agama."

​"Baik. Kalau begitu nikahi Anin besok!" sela Ayah tiba-tiba, membuat Anin dan Bayu tersentak bersamaan.

​Anin menoleh cepat pada Ayahnya. "Yah?! Kok besok?!"

​Ayah menatap Anin dengan raut wajah yang sangat serius dan tidak menerima bantahan.

​"Penghulu sudah Ayah hubungi. Tapi ingat, Anin... ada satu hal penting tentang Mas Bayu dan almarhumah mbakmu yang belum pernah Ayah ceritakan padamu. Dan rahasia itu akan mengubah seluruh pikiranmu tentang pernikahan ini setelah kamu menginjakkan kaki di rumahnya besok."

​

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   bab 6

    ​"Siapa yang berkirim pesan malam-malam begini?"​Suara bariton dr. Bayu terdengar sangat dingin, memecah keheningan di dalam mobil sedan yang sedang berhenti di lampu merah. Matanya melirik tajam ke arah layar ponsel di genggaman Anin yang masih menyala terang.​Anin dengan cepat mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Tangannya gemetar tipis.​"Bukan siapa-siapa, Mas. Cuma grup kampus," kilah Anin cepat, berusaha memalingkan wajah menatap keluar kaca mobil.​Bayu tidak membalas. Pria itu menginjak pedal gas dalam-dalam begitu lampu berubah hijau. Mobil meluncur kencang membelah jalanan malam Kota Surabaya menuju rumah. Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka hingga mobil berhenti sempurna di dalam garasi.​Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Anin langsung berjalan menuju kamar bawah. Namun, langkahnya terhenti saat Bayu memanggilnya dari arah dapur dengan nada datar.​"Anin, tunggu sebentar."​Anin berbalik, menatap suaminya yang sedang melepas kacam

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 5

    ​Ruang galeri utama kampus dipenuhi oleh keriuhan mahasiswa, dosen, dan pengunjung pameran karya interior tahunan. Cahaya lampu sorot menerangi puluhan maket dan instalasi seni yang terpajang anggun. Di tengah keriuhan itu, Anin berdiri di depan sebuah instalasi kayu berkonsep rustic buatannya sendiri. Gadis itu mengenakan kemeja oversized kotak-kotak, celana jins, dan jilbab kaos yang praktis. Senyumnya terkembang lebar—di sini, di antara bau kayu, cat, dan tatanan karya, Anin merasa kembali menemukan jiwanya yang merdeka ​Namun, binar bahagia di wajahnya mendadak surut saat sebuah suara familiar memanggil namanya dari arah pintu masuk galeri. ​"Anin?" ​Anin berbalik. Seorang pria tinggi berjaket kulit cokelat dengan kamera DSLR terkalung di lehernya sedang melangkah mendekat. Wajahnya yang tegas berhiaskan senyum hangat yang dulu sangat Anin hafal. ​"Baskoro...?" bisik Anin, matanya membelalak tak percaya. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. ​Baskoro—pria yang dua

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 4

    ​Baru tiga hari Anin menetap di rumah berarsitektur kaku itu, namun aturan ketat dr. Bayu Aditya sudah terasa seperti tembok penjara yang merenggut napas kebebasannya. ​Di rumah ini, segalanya memiliki tata letak presisi. Letak sendok tidak boleh bergeser satu sentimeter pun dari tempatnya, remote televisi harus sejajar dengan tepi meja, dan tidak boleh ada satu helai pakaian pun yang tergeletak di luar keranjang cucian. Setiap sudut rumah menebarkan aroma antiseptik yang steril dan mengintimidasi—seolah-olah Anin sedang tinggal di dalam ruang operasi. ​Namun pagi ini, pertahanan kebersihan dr. Bayu yang diagungkan itu runtuh total oleh tabiat asli Rosalia Anindita. ​"Anin! Apa-apaan ini?!" ​Suara bariton dr. Bayu yang membentak tegas memecah keheningan ruang tengah pukul enam pagi. Pria itu berdiri kaku di ambang pintu, mengenakan setelan kemeja kerja abu-abu yang licin tanpa kelim, celana bahan hitam, dan kacamata minus yang bertengger kaku di hidung mancungnya. Namun, rau

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 3

    ​Ijab kabul itu berlangsung sangat singkat, dingin, dan sunyi di ruang tamu rumah orang tua Anin. Tanpa gaun pengantin mewah bertabur payet, tanpa dekorasi bunga-bunga segar yang harum, dan tanpa pesta meriah yang dihadiri kerabat. Anin hanya mengenakan kebaya putih sederhana milik almarhumah kakaknya yang sedikit kebesaran di tubuh ringkihnya, dipadukan dengan jilbab polos tanpa rias tebal. ​Saat dr. Bayu mengucapkan kalimat pengesahan dengan satu helaan napas tegas di hadapan penghulu, Anin merasa ada rantai kasat mata yang mendadak terikat erat di pergelangan kakinya. Tidak ada tangis bahagia. Hanya ada keheningan yang serba canggung saat Anin mencium punggung tangan dingin suaminya—pria yang kini resmi memegang status sebagai suaminya, sekaligus kakak iparnya. ​Pukul sembilan malam, mobil sedan hitam milik dr. Bayu berhenti sempurna di depan sebuah rumah berarsitektur minimalis modern bernuansa beige dan abu-abu kaku. Hujan gerimis menyambut kedatangan mereka, menciptakan su

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 2

    ​Dua minggu setelah tanah kuburan Mbak Fera mengering, suasana rumah orang tua Anin masih dipenuhi hening yang mencekik. Foto almarhumah berbingkai kayu masih tersenyum anggun di atas meja sudut ruang tamu, menjadi kontras yang menyakitkan di tengah rapat keluarga yang mendadak digelar malam ini. ​Anin berdiri di dekat jendela, bersedekap dada dengan kaus hitam longgar dan celana jins belelnya. Matanya yang sembap menatap kaku ke arah meja makan, tempat Ayah, Bunda, dan dr. Bayu duduk melingkar. Di pangkuan Bunda, bayi Arumi menggeliat pelan dalam lelapnya, tidak tahu bahwa nasibnya sedang dipertaruhkan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. ​"Gak. Anin gak mau!" ​Suara Anin memotong keheningan malam dengan tegas. Sepasang matanya membelalak tak percaya menatap ketiga orang dewasa di hadapannya. ​"Anin, dengarkan Ayah dulu, Nak," panggil Ayah dengan nada memohon yang sangat halus. Wajah pria tua itu tampak jauh lebih renta dan keriput dalam dua minggu terakhir. "Ini bukan ke

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 1.

    ​"Anin, pulang, Nak. Mbak Fera kritis!" ​Suara Bunda di seberang telepon gemetar hebat, disusul jerit tangis histeris yang langsung diputus sepihak. Nada tut-tut-tut yang menyusul setelahnya terdengar seperti dentang lonceng kematian yang memekakkan telinga. ​Hati Anin mencelos seketika. Kuas di genggamannya terlepas, jatuh mencoreng lantai semen galeri kampus dengan noda cat merah pekat yang membekas seperti genangan darah. Tanpa sempat mematikan lampu studio atau sekadar membersihkan jemarinya yang belepotan cat, Anin berlari menembus hujan deras yang mengguyur Kota Surabaya malam itu ​Aroma tanah basah dan dinginnya angin malam menusuk hingga ke tulang, namun tak ada yang lebih membekukan daripada rasa takut yang mendera dadanya. Lututnya gemetar sepanjang langkah menyusuri koridor rumah sakit yang berbau karbol tajam. Setiap pijakan kakinya terasa amat berat, seolah menghantar Anin menuju gerbang neraka paling menakutkan dalam hidupnya ​Mbak Fera bukan sekadar kakak bagi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status