แชร์

BAB 4

ผู้เขียน: Mami lily
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-03 17:39:55

​Baru tiga hari Anin menetap di rumah berarsitektur kaku itu, namun aturan ketat dr. Bayu Aditya sudah terasa seperti tembok penjara yang merenggut napas kebebasannya.

​Di rumah ini, segalanya memiliki tata letak presisi. Letak sendok tidak boleh bergeser satu sentimeter pun dari tempatnya, remote televisi harus sejajar dengan tepi meja, dan tidak boleh ada satu helai pakaian pun yang tergeletak di luar keranjang cucian. Setiap sudut rumah menebarkan aroma antiseptik yang steril dan mengintimidasi—seolah-olah Anin sedang tinggal di dalam ruang operasi.

​Namun pagi ini, pertahanan kebersihan dr. Bayu yang diagungkan itu runtuh total oleh tabiat asli Rosalia Anindita.

​"Anin! Apa-apaan ini?!"

​Suara bariton dr. Bayu yang membentak tegas memecah keheningan ruang tengah pukul enam pagi. Pria itu berdiri kaku di ambang pintu, mengenakan setelan kemeja kerja abu-abu yang licin tanpa kelim, celana bahan hitam, dan kacamata minus yang bertengger kaku di hidung mancungnya. Namun, raut wajahnya yang biasanya tenang tanpa ekspresi kini memerah menahan amarah yang hampir meledak.

​Di atas meja kayu mahal di ruang tengah, Anin yang hanya mengenakan kaus oblong abu-abu kebesaran dan jilbab instan yang agak miring, sedang asyik memoles warna cat akrilik pada sebuah kanvas ukuran medium.

​Di sekeliling Anin, suasana terlihat sangat semrawut. Botol-botol cat terbuka lebar, beberapa kuas basah tergeletak sembarangan di atas lembaran koran bekas, dan yang paling parah—ada beberapa tetes cat berwarna maroon pekat yang menetes menyiram lantai marmer putih mahal milik Bayu, membeku bagai bercak darah segar.

​Anin menghentikan sapuan kuasnya. Ia mendongak santai, menatap suaminya dengan raut wajah tanpa dosa sambil mengunyah permen karet.

​"Lagi melukis, Mas. Tugas studio kampus buat dikumpul lusa," sahut Anin enteng, lalu tanpa merasa bersalah kembali menggoreskan kuasnya ke kanvas.

​"Saya tahu kamu melukis, tapi tidak di ruang tengah!" tegur Bayu tajam, melangkah mendekat dengan mata tertuju penuh keriapan pada lantai marmernya yang ternoda. "Rumah ini bukan galeri kampusmu yang acak-acakan, Anin. Cat akrilik ini bisa merusak pori-pori marmer jika mengering!"

​Anin menghela napas berat, membanting pelan kuasnya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi berdenting yang lumayan keras.

​"Mas Bayu, di kamar bawah itu pencahayaannya remang-remang! Cuma ada satu jendela kecil!" protes Anin, matanya menatap sengit pada kakak iparnya yang kini jadi suaminya itu. "Gak ada natural light! Kalau Anin memaksa melukis di sana, Gradasi warnanya bisa rusak semua! Mas mana paham sih urusan estetika lukisan?!"

​"Lalu solusi kamu adalah merusak lantai rumah saya?" skor Bayu dingin, menunjuk titik cat merah di bawah kaki Anin dengan ujung sepatu pantofelnya yang mengilat. "Bersihkan sekarang. Jangan sampai bercak ini membekas."

​"Cuma noda cat air, Mas! Nanti kalau lukisan Anin selesai, tinggal diusap pakai kain basah juga hilang!" Anin mulai tersulut emosi. Sisi tomboy-nya yang meledak-ledak menolak untuk terus-terusan ditindas oleh aturan perfeksionis pria di depannya. "Mas ini kenapa, sih? Semuanya harus steril, semuanya harus rapi! Ini rumah tinggal atau bangsal bedah?!"

​"Ini rumah yang punya aturan, Anin!" potong Bayu dengan intonasi tinggi yang jarang sekali ia keluarkan. "Saya mengizinkan kamu melukis, tapi tahu tempat dan jaga kebersihan!"

​“Oeeeek! Oeeeeeek!”

​Melengkingnya suara tangis bayi Arumi dari lantai atas seketika memutus pertengkaran panas mereka. Suara tangisan itu terdengar melengking, menunjukkan rasa lapar dan ketidaknyamanan yang mendalam.

​Bayu mengusap wajahnya yang kaku, berusaha menekan emosinya yang sempat tersulut. "Biarkan saya yang ambil Arumi. Kamu bersihkan kekacauan ini."

​"Biar Anin aja!" sela Anin cepat. Gadis itu bangkit berdiri, menepis pelan tangan Bayu yang hendak melewatinya, lalu berlari menaiki tangga menuju lantai atas tanpa memedulikan tatapan kaku suaminya.

​Di dalam boks kayu berukir di kamar utama lantai dua, Arumi sedang menangis sesenggukan dengan wajah yang memerah. Pipinya yang gempal basah oleh air mata. Begitu Anin mendekat dan merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, tangis Arumi perlahan mereda menjadi isakan-isakan kecil. Jemari mungil bayi itu menggapai-gapai kerah kaus Anin, menduselkan wajahnya di ceruk leher Anin seolah menemukan aroma hangat yang sangat ia kenali.

​Anin menimang Arumi sembari mengusap lembut punggungnya. Ada rasa hangat dan getaran aneh yang menjalar di dalam dadanya—sebuah naluri keibuan yang perlahan mekar tanpa pernah ia duga sebelumnya.

​Di ambang pintu kamar, dr. Bayu berdiri mematung. Pria itu memperhatikan bagaimana Anin—gadis yang baru saja ia bentak karena noda cat—kini menatap Arumi dengan binar kelembutan yang begitu murni. Binar mata yang sangat mirip dengan almarhumah Fera.

​"Dia... mau susu hangat," ucap Bayu pelan, menetralisir kecanggungan di antara mereka. "Botolnya ada di sterilizer dapur."

​Anin menoleh, menatap Bayu yang masih berdiri kaku di pintu. "Mas pergi kerja aja. Hari ini Mas ada jadwal operasi, kan? Biar Anin yang buatkan susunya dan jaga Arumi seharian ini."

​Bayu terdiam sejenak. Sepasang mata elangnya menatap Anin lekat-lekat. Ada kilat penyesalan tipis di balik matanya atas bentakannya tadi, namun gengsi prianya terlalu tinggi untuk sekadar mengucapkan kata maaf.

​"Saya pulang jam lima sore," kata Bayu datar, memutar badannya. "Dan tolong... lap noda cat merah itu."

​Namun, baru saja Bayu melangkah dua ayunan ke arah tangga, ponsel di saku kemejanya berdering nyaring. Bayu menggeser layar ponselnya dan menempelkannya ke telinga.

​Sekejap kemudian, langkah kaki dr. Bayu terhenti kaku di depan tangga. Wajahnya yang semula tenang mendadak berubah menjadi sangat pucat pasil.

​"Apa maksudmu?" suara Bayu terdengar bergetar hebat di udara, menahan guncangan yang amat besar. "Baskoro... pria dari London itu sudah mendarat di kota ini?"

​Anin yang sedang menimang Arumi di ambang pintu kamar seketika membeku. Jantungnya berdegup kencang mendengar nama yang sangat lama tenggelam dari masa lalunya itu kini diucapkan dari mulut suaminya.

​

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   bab 6

    ​"Siapa yang berkirim pesan malam-malam begini?"​Suara bariton dr. Bayu terdengar sangat dingin, memecah keheningan di dalam mobil sedan yang sedang berhenti di lampu merah. Matanya melirik tajam ke arah layar ponsel di genggaman Anin yang masih menyala terang.​Anin dengan cepat mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Tangannya gemetar tipis.​"Bukan siapa-siapa, Mas. Cuma grup kampus," kilah Anin cepat, berusaha memalingkan wajah menatap keluar kaca mobil.​Bayu tidak membalas. Pria itu menginjak pedal gas dalam-dalam begitu lampu berubah hijau. Mobil meluncur kencang membelah jalanan malam Kota Surabaya menuju rumah. Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka hingga mobil berhenti sempurna di dalam garasi.​Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Anin langsung berjalan menuju kamar bawah. Namun, langkahnya terhenti saat Bayu memanggilnya dari arah dapur dengan nada datar.​"Anin, tunggu sebentar."​Anin berbalik, menatap suaminya yang sedang melepas kacam

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 5

    ​Ruang galeri utama kampus dipenuhi oleh keriuhan mahasiswa, dosen, dan pengunjung pameran karya interior tahunan. Cahaya lampu sorot menerangi puluhan maket dan instalasi seni yang terpajang anggun. Di tengah keriuhan itu, Anin berdiri di depan sebuah instalasi kayu berkonsep rustic buatannya sendiri. Gadis itu mengenakan kemeja oversized kotak-kotak, celana jins, dan jilbab kaos yang praktis. Senyumnya terkembang lebar—di sini, di antara bau kayu, cat, dan tatanan karya, Anin merasa kembali menemukan jiwanya yang merdeka ​Namun, binar bahagia di wajahnya mendadak surut saat sebuah suara familiar memanggil namanya dari arah pintu masuk galeri. ​"Anin?" ​Anin berbalik. Seorang pria tinggi berjaket kulit cokelat dengan kamera DSLR terkalung di lehernya sedang melangkah mendekat. Wajahnya yang tegas berhiaskan senyum hangat yang dulu sangat Anin hafal. ​"Baskoro...?" bisik Anin, matanya membelalak tak percaya. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. ​Baskoro—pria yang dua

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 4

    ​Baru tiga hari Anin menetap di rumah berarsitektur kaku itu, namun aturan ketat dr. Bayu Aditya sudah terasa seperti tembok penjara yang merenggut napas kebebasannya. ​Di rumah ini, segalanya memiliki tata letak presisi. Letak sendok tidak boleh bergeser satu sentimeter pun dari tempatnya, remote televisi harus sejajar dengan tepi meja, dan tidak boleh ada satu helai pakaian pun yang tergeletak di luar keranjang cucian. Setiap sudut rumah menebarkan aroma antiseptik yang steril dan mengintimidasi—seolah-olah Anin sedang tinggal di dalam ruang operasi. ​Namun pagi ini, pertahanan kebersihan dr. Bayu yang diagungkan itu runtuh total oleh tabiat asli Rosalia Anindita. ​"Anin! Apa-apaan ini?!" ​Suara bariton dr. Bayu yang membentak tegas memecah keheningan ruang tengah pukul enam pagi. Pria itu berdiri kaku di ambang pintu, mengenakan setelan kemeja kerja abu-abu yang licin tanpa kelim, celana bahan hitam, dan kacamata minus yang bertengger kaku di hidung mancungnya. Namun, rau

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 3

    ​Ijab kabul itu berlangsung sangat singkat, dingin, dan sunyi di ruang tamu rumah orang tua Anin. Tanpa gaun pengantin mewah bertabur payet, tanpa dekorasi bunga-bunga segar yang harum, dan tanpa pesta meriah yang dihadiri kerabat. Anin hanya mengenakan kebaya putih sederhana milik almarhumah kakaknya yang sedikit kebesaran di tubuh ringkihnya, dipadukan dengan jilbab polos tanpa rias tebal. ​Saat dr. Bayu mengucapkan kalimat pengesahan dengan satu helaan napas tegas di hadapan penghulu, Anin merasa ada rantai kasat mata yang mendadak terikat erat di pergelangan kakinya. Tidak ada tangis bahagia. Hanya ada keheningan yang serba canggung saat Anin mencium punggung tangan dingin suaminya—pria yang kini resmi memegang status sebagai suaminya, sekaligus kakak iparnya. ​Pukul sembilan malam, mobil sedan hitam milik dr. Bayu berhenti sempurna di depan sebuah rumah berarsitektur minimalis modern bernuansa beige dan abu-abu kaku. Hujan gerimis menyambut kedatangan mereka, menciptakan su

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 2

    ​Dua minggu setelah tanah kuburan Mbak Fera mengering, suasana rumah orang tua Anin masih dipenuhi hening yang mencekik. Foto almarhumah berbingkai kayu masih tersenyum anggun di atas meja sudut ruang tamu, menjadi kontras yang menyakitkan di tengah rapat keluarga yang mendadak digelar malam ini. ​Anin berdiri di dekat jendela, bersedekap dada dengan kaus hitam longgar dan celana jins belelnya. Matanya yang sembap menatap kaku ke arah meja makan, tempat Ayah, Bunda, dan dr. Bayu duduk melingkar. Di pangkuan Bunda, bayi Arumi menggeliat pelan dalam lelapnya, tidak tahu bahwa nasibnya sedang dipertaruhkan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. ​"Gak. Anin gak mau!" ​Suara Anin memotong keheningan malam dengan tegas. Sepasang matanya membelalak tak percaya menatap ketiga orang dewasa di hadapannya. ​"Anin, dengarkan Ayah dulu, Nak," panggil Ayah dengan nada memohon yang sangat halus. Wajah pria tua itu tampak jauh lebih renta dan keriput dalam dua minggu terakhir. "Ini bukan ke

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 1.

    ​"Anin, pulang, Nak. Mbak Fera kritis!" ​Suara Bunda di seberang telepon gemetar hebat, disusul jerit tangis histeris yang langsung diputus sepihak. Nada tut-tut-tut yang menyusul setelahnya terdengar seperti dentang lonceng kematian yang memekakkan telinga. ​Hati Anin mencelos seketika. Kuas di genggamannya terlepas, jatuh mencoreng lantai semen galeri kampus dengan noda cat merah pekat yang membekas seperti genangan darah. Tanpa sempat mematikan lampu studio atau sekadar membersihkan jemarinya yang belepotan cat, Anin berlari menembus hujan deras yang mengguyur Kota Surabaya malam itu ​Aroma tanah basah dan dinginnya angin malam menusuk hingga ke tulang, namun tak ada yang lebih membekukan daripada rasa takut yang mendera dadanya. Lututnya gemetar sepanjang langkah menyusuri koridor rumah sakit yang berbau karbol tajam. Setiap pijakan kakinya terasa amat berat, seolah menghantar Anin menuju gerbang neraka paling menakutkan dalam hidupnya ​Mbak Fera bukan sekadar kakak bagi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status