แชร์

BAB 3

ผู้เขียน: Mami lily
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-03 17:39:49

​Ijab kabul itu berlangsung sangat singkat, dingin, dan sunyi di ruang tamu rumah orang tua Anin. Tanpa gaun pengantin mewah bertabur payet, tanpa dekorasi bunga-bunga segar yang harum, dan tanpa pesta meriah yang dihadiri kerabat. Anin hanya mengenakan kebaya putih sederhana milik almarhumah kakaknya yang sedikit kebesaran di tubuh ringkihnya, dipadukan dengan jilbab polos tanpa rias tebal.

​Saat dr. Bayu mengucapkan kalimat pengesahan dengan satu helaan napas tegas di hadapan penghulu, Anin merasa ada rantai kasat mata yang mendadak terikat erat di pergelangan kakinya. Tidak ada tangis bahagia. Hanya ada keheningan yang serba canggung saat Anin mencium punggung tangan dingin suaminya—pria yang kini resmi memegang status sebagai suaminya, sekaligus kakak iparnya.

​Pukul sembilan malam, mobil sedan hitam milik dr. Bayu berhenti sempurna di depan sebuah rumah berarsitektur minimalis modern bernuansa beige dan abu-abu kaku. Hujan gerimis menyambut kedatangan mereka, menciptakan suasana makin suram

​"Kita sudah sampai," ucap Bayu datar, mematikan mesin mobil tanpa memandang Anin.

​Anin menatap bangunan megah di depannya dari balik kaca mobil yang basah oleh bulir air. Rumah itu tampak sangat terawat, namun memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Tidak ada sapuan warna-warna hangat. Segala sesuatunya tertata dengan simetris dan presisi—persis seperti kepribadian pemiliknya yang seorang dokter bedah.

​Bayu keluar lebih dulu, melangkah ke pintu belakang untuk mengambil boks bayi Arumi yang tertidur lelap dalam dekapan kain hangat, lalu berjalan mendahului Anin menuju pintu utama. Anin menyusul dari belakang dengan langkah menyeret, menjinjing tas ransel besar berisi pakaian dan peralatan lukis seadanya.

​Krieeet....

​Daun pintu jati yang tebal itu terbuka. Bau antiseptik yang khas berpadu dengan wewangian terapi lavender langsung menyergap indra penciuman Anin. Sangat bersih, sangat rapi, dan sangat hampa—mirip lorong rumah sakit daripada sebuah tempat tinggal.

​"Kamar kamu di lantai bawah, di sebelah ruang kerja saya," kata Bayu tanpa menoleh, menunjuk sebuah pintu kayu berpelitur gelap di sudut lorong tengah. "Saya sudah minta ART untuk membersihkannya tadi siang."

​Anin menghentikan langkahnya di tengah ruang tamu. Dahi cantiknya berkerut kencang. Rahasia yang diucapkan Ayah kemarin malam kembali terngiang di kepalanya, namun kenyataan di depan matanya justru makin membingungkan.

​"Kamar... kita berpisah?" tanya Anin, mencoba memastikan ucapan pria itu.

​Bayu menghentikan langkahnya di anak tangga pertama menuju lantai atas, lalu menoleh perlahan. Sepasang mata elangnya menatap Anin dari balik kacamata dengan raut kaku tanpa emosi.

​"Bukannya ini yang kamu mau, Anin?" sahut Bayu dengan suara baritonnya yang tenang namun dingin. "Saya menghormati batasan yang kamu minta di rumah orang tuamu kemarin. Pernikahan ini hanya sah secara hukum dan agama demi Arumi. Di rumah ini, kita punya ruang dan batasan masing-masing."

​Anin menelan ludah. Ada rasa lega yang aneh di dadanya—sebuah kebebasan yang diberi secara eksplisit, namun terasa begitu asing dan canggung.

​"Lalu Arumi tidur di mana, Mas?" kejar Anin, menunjuk boks bayi di pelukan Bayu.

​"Arumi tidur di kamar saya di lantai atas. Malam ini dia masih minum susu formula," jawab Bayu datar. "Kamu istirahatlah. Kamu pasti lelah setelah acara tadi."

​Tanpa menunggu respons Anin lagi, Bayu membalikkan badan dan melangkah naik menaiki tangga kayu menuju lantai dua. Suara langkah sepatunya yang teratur bergaung pelan di dalam rumah yang sepi.

​Anin berdiri sendirian di tengah ruang tengah yang luas. Ia menurunkan tas ranselnya ke atas lantai marmer yang dingin. Gadis tomboy itu berjalan mendekati meja konsol di dekat dinding, menatap sebuah foto keluarga berbingkai perak yang dipajang di sana: foto Mas Bayu yang tersenyum tipis merangkul Mbak Fera saat mereka liburan bersama.

​"Mbak Fera..." bisik Anin lirih, menyentuh permukaan kaca foto tersebut dengan ujung jemarinya yang gemetar. "Anin benar-benar ada di rumah Mbak sekarang. Tapi rasanya... Anin seperti orang asing yang menyusup ke hidup orang lain."

​Anin menarik napas panjang untuk menguatkan dadanya yang sesak. Ia melangkah menuju kamar bawah yang ditunjuk Bayu tadi. Begitu pintu kamar dibuka, ia disambut oleh seprai putih polos yang terpasang rapi tanpa noda, serta suasana kamar yang steril dari ornamen kehidupan.

​Anin melempar ranselnya ke sudut ruangan, lalu merosot duduk di tepi ranjang. Pintu rumah dingin ini telah resmi terkunci di belakang punggungnya. Namun saat Anin hendak berbaring meluruskan badannya yang lelah, matanya tidak sengaja menangkap sebuah amplop cokelat tebal yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur.

​Di atas amplop itu, ada selembar kertas catatan kecil bergaris dengan tulisan tangan rapi milik almarhumah Mbak Fera.

​Dengan jantung yang berdegup kencang, Anin meraih kertas itu dan membaca kalimat pendek yang ditulis kakaknya sebelum meninggal:

​“Anin sayang, kalau kamu membaca surat ini, artinya Mbak sudah tidak ada. Buka amplop ini, dan kamu akan tahu alasan sebenarnya kenapa Mbak minta kamu menikahi Mas Bayu...”

​

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   bab 6

    ​"Siapa yang berkirim pesan malam-malam begini?"​Suara bariton dr. Bayu terdengar sangat dingin, memecah keheningan di dalam mobil sedan yang sedang berhenti di lampu merah. Matanya melirik tajam ke arah layar ponsel di genggaman Anin yang masih menyala terang.​Anin dengan cepat mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Tangannya gemetar tipis.​"Bukan siapa-siapa, Mas. Cuma grup kampus," kilah Anin cepat, berusaha memalingkan wajah menatap keluar kaca mobil.​Bayu tidak membalas. Pria itu menginjak pedal gas dalam-dalam begitu lampu berubah hijau. Mobil meluncur kencang membelah jalanan malam Kota Surabaya menuju rumah. Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka hingga mobil berhenti sempurna di dalam garasi.​Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Anin langsung berjalan menuju kamar bawah. Namun, langkahnya terhenti saat Bayu memanggilnya dari arah dapur dengan nada datar.​"Anin, tunggu sebentar."​Anin berbalik, menatap suaminya yang sedang melepas kacam

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 5

    ​Ruang galeri utama kampus dipenuhi oleh keriuhan mahasiswa, dosen, dan pengunjung pameran karya interior tahunan. Cahaya lampu sorot menerangi puluhan maket dan instalasi seni yang terpajang anggun. Di tengah keriuhan itu, Anin berdiri di depan sebuah instalasi kayu berkonsep rustic buatannya sendiri. Gadis itu mengenakan kemeja oversized kotak-kotak, celana jins, dan jilbab kaos yang praktis. Senyumnya terkembang lebar—di sini, di antara bau kayu, cat, dan tatanan karya, Anin merasa kembali menemukan jiwanya yang merdeka ​Namun, binar bahagia di wajahnya mendadak surut saat sebuah suara familiar memanggil namanya dari arah pintu masuk galeri. ​"Anin?" ​Anin berbalik. Seorang pria tinggi berjaket kulit cokelat dengan kamera DSLR terkalung di lehernya sedang melangkah mendekat. Wajahnya yang tegas berhiaskan senyum hangat yang dulu sangat Anin hafal. ​"Baskoro...?" bisik Anin, matanya membelalak tak percaya. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. ​Baskoro—pria yang dua

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 4

    ​Baru tiga hari Anin menetap di rumah berarsitektur kaku itu, namun aturan ketat dr. Bayu Aditya sudah terasa seperti tembok penjara yang merenggut napas kebebasannya. ​Di rumah ini, segalanya memiliki tata letak presisi. Letak sendok tidak boleh bergeser satu sentimeter pun dari tempatnya, remote televisi harus sejajar dengan tepi meja, dan tidak boleh ada satu helai pakaian pun yang tergeletak di luar keranjang cucian. Setiap sudut rumah menebarkan aroma antiseptik yang steril dan mengintimidasi—seolah-olah Anin sedang tinggal di dalam ruang operasi. ​Namun pagi ini, pertahanan kebersihan dr. Bayu yang diagungkan itu runtuh total oleh tabiat asli Rosalia Anindita. ​"Anin! Apa-apaan ini?!" ​Suara bariton dr. Bayu yang membentak tegas memecah keheningan ruang tengah pukul enam pagi. Pria itu berdiri kaku di ambang pintu, mengenakan setelan kemeja kerja abu-abu yang licin tanpa kelim, celana bahan hitam, dan kacamata minus yang bertengger kaku di hidung mancungnya. Namun, rau

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 3

    ​Ijab kabul itu berlangsung sangat singkat, dingin, dan sunyi di ruang tamu rumah orang tua Anin. Tanpa gaun pengantin mewah bertabur payet, tanpa dekorasi bunga-bunga segar yang harum, dan tanpa pesta meriah yang dihadiri kerabat. Anin hanya mengenakan kebaya putih sederhana milik almarhumah kakaknya yang sedikit kebesaran di tubuh ringkihnya, dipadukan dengan jilbab polos tanpa rias tebal. ​Saat dr. Bayu mengucapkan kalimat pengesahan dengan satu helaan napas tegas di hadapan penghulu, Anin merasa ada rantai kasat mata yang mendadak terikat erat di pergelangan kakinya. Tidak ada tangis bahagia. Hanya ada keheningan yang serba canggung saat Anin mencium punggung tangan dingin suaminya—pria yang kini resmi memegang status sebagai suaminya, sekaligus kakak iparnya. ​Pukul sembilan malam, mobil sedan hitam milik dr. Bayu berhenti sempurna di depan sebuah rumah berarsitektur minimalis modern bernuansa beige dan abu-abu kaku. Hujan gerimis menyambut kedatangan mereka, menciptakan su

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 2

    ​Dua minggu setelah tanah kuburan Mbak Fera mengering, suasana rumah orang tua Anin masih dipenuhi hening yang mencekik. Foto almarhumah berbingkai kayu masih tersenyum anggun di atas meja sudut ruang tamu, menjadi kontras yang menyakitkan di tengah rapat keluarga yang mendadak digelar malam ini. ​Anin berdiri di dekat jendela, bersedekap dada dengan kaus hitam longgar dan celana jins belelnya. Matanya yang sembap menatap kaku ke arah meja makan, tempat Ayah, Bunda, dan dr. Bayu duduk melingkar. Di pangkuan Bunda, bayi Arumi menggeliat pelan dalam lelapnya, tidak tahu bahwa nasibnya sedang dipertaruhkan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. ​"Gak. Anin gak mau!" ​Suara Anin memotong keheningan malam dengan tegas. Sepasang matanya membelalak tak percaya menatap ketiga orang dewasa di hadapannya. ​"Anin, dengarkan Ayah dulu, Nak," panggil Ayah dengan nada memohon yang sangat halus. Wajah pria tua itu tampak jauh lebih renta dan keriput dalam dua minggu terakhir. "Ini bukan ke

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 1.

    ​"Anin, pulang, Nak. Mbak Fera kritis!" ​Suara Bunda di seberang telepon gemetar hebat, disusul jerit tangis histeris yang langsung diputus sepihak. Nada tut-tut-tut yang menyusul setelahnya terdengar seperti dentang lonceng kematian yang memekakkan telinga. ​Hati Anin mencelos seketika. Kuas di genggamannya terlepas, jatuh mencoreng lantai semen galeri kampus dengan noda cat merah pekat yang membekas seperti genangan darah. Tanpa sempat mematikan lampu studio atau sekadar membersihkan jemarinya yang belepotan cat, Anin berlari menembus hujan deras yang mengguyur Kota Surabaya malam itu ​Aroma tanah basah dan dinginnya angin malam menusuk hingga ke tulang, namun tak ada yang lebih membekukan daripada rasa takut yang mendera dadanya. Lututnya gemetar sepanjang langkah menyusuri koridor rumah sakit yang berbau karbol tajam. Setiap pijakan kakinya terasa amat berat, seolah menghantar Anin menuju gerbang neraka paling menakutkan dalam hidupnya ​Mbak Fera bukan sekadar kakak bagi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status