Share

ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS
ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS
Author: Mami lily

BAB 1.

Author: Mami lily
last update publish date: 2026-09-03 17:39:34

​"Anin, pulang, Nak. Mbak Fera kritis!"

​Suara Bunda di seberang telepon gemetar hebat, disusul jerit tangis histeris yang langsung diputus sepihak. Nada tut-tut-tut yang menyusul setelahnya terdengar seperti dentang lonceng kematian yang memekakkan telinga.

​Hati Anin mencelos seketika. Kuas di genggamannya terlepas, jatuh mencoreng lantai semen galeri kampus dengan noda cat merah pekat yang membekas seperti genangan darah. Tanpa sempat mematikan lampu studio atau sekadar membersihkan jemarinya yang belepotan cat, Anin berlari menembus hujan deras yang mengguyur Kota Surabaya malam itu

​Aroma tanah basah dan dinginnya angin malam menusuk hingga ke tulang, namun tak ada yang lebih membekukan daripada rasa takut yang mendera dadanya. Lututnya gemetar sepanjang langkah menyusuri koridor rumah sakit yang berbau karbol tajam. Setiap pijakan kakinya terasa amat berat, seolah menghantar Anin menuju gerbang neraka paling menakutkan dalam hidupnya

​Mbak Fera bukan sekadar kakak bagi Anin. Sejak ibu mereka sering sakit-sakitan, Fera adalah sosok yang memanjakan Anin, menutupi kenakalannya, dan menjadi satu-satunya orang di rumah yang selalu memasang badan membela impian Anin menjadi seorang seniman. Bagi Anin yang berjiwa bebas, Fera adalah jangkar sekaligus rumah.

​Kalimat Bunda terus berputar di kepala Anin bagai kaset tua yang rusak dan berulang tanpa henti. “Pendarahannya tidak mau berhenti. Bunda takut, Nak. Mas Bayu tidak berdaya.”

​Mas Bayu tidak berdaya? Kalimat itu terdengar mustahil. Kakak iparnya, dr. Bayu Aditya, adalah seorang dokter spesialis bedah yang terkenal dingin, perfeksionis, dan selalu memegang kendali atas segala hal. Bagaimana mungkin seorang pria seangkuh Bayu bisa dikatakan 'tidak berdaya'?

​Begitu Anin menerobos pintu kaca ruang perawatan intensif, aroma antiseptik yang pekat langsung menusuk indra penciumannya, memicu rasa mual yang melilit perut. Di sudut lorong yang temaram, Bunda terduduk di lantai keramik yang dingin dengan jilbab yang acak-acakan. Ayah merangkul bahu Bunda yang berguncang, sementara matanya sendiri memerah menahan duka yang membuncah.

​Lalu pandangan Anin jatuh pada sosok pria yang berdiri membatu di depan pintu besi bertuliskan Ruang Operasi.

​dr. Bayu Aditya. Kakak iparnya yang biasanya selalu tampil necis, kemeja licin tanpa kelim, dan ekspresi wajah datar yang tak terjangkau, kini menjelma menjadi sosok yang sama sekali tak Anin kenali. Jas putih dokternya terkulai di kursi tunggu, kemejanya kusut terlepas dari tali pinggang, dan yang paling mengerikan—kedua telapak tangannya yang bersimbah bercak darah kering terus mengusap wajahnya yang pucat pasi.

​"Mas Bayu! Mbak Fera gimana?!" cecar Anin parau, melangkah cepat dan langsung mencengkeram lengan kemeja kakak iparnya.

​Bayu menoleh lambat, seolah sendi-sendi lehernya telah berkarat. Sepasang mata elangnya yang biasa memancarkan dominasi kaku, kini terlihat kusam, kosong, dan mati. Ada pecahan jiwa yang hancur di dasar netranya.

​"Saya gagal, Nin..." bisik Bayu dengan suara parau yang hampir tenggelam dalam deru angin dan petir di luar jendela.

​"Maksud Mas Bayu apa?! Mas kan dokter hebat! Mas dokter di rumah sakit ini!" teriak Anin histeris, cengkeramannya di lengan Bayu makin mengetat hingga jemarinya memutih. Air matanya seketika tumpah, merusak rias tipis di wajahnya. "Kenapa cuma berdiri di sini?! Masuk ke dalam dan selamatkan Mbak Fera, Mas! Lakukan sesuatu!"

​"Anin, cukup, Nak! Cukup!" sela Ayah dengan suara terputus-putus, melangkah maju dan menarik tubuh Anin ke dalam pelukannya. "Masmu sudah berjuang dari sore... Tim dokter sudah melakukan segalanya."

l

​"Tapi Mbak Fera janji mau lihat pameran Anin minggu depan, Yah!" jerit Anin di dada Ayah, menangis meraung-raung meluapkan kepedihan yang tak tertampung.

l

​Pintu besi ruang operasi berdecit terbuka perlahan. Seorang dokter senior dengan pakaian bedah hijau keluar memegang papan catatan medis. Wajahnya menunduk dalam, enggan menatap mata keluarga yang menanti di lorong.

​"dr. Bayu... kami sudah melakukan yang terbaik. Waktu kematian Ibu Fera tercatat pukul 21.14 WIB," ucap dokter itu lirih. Ia menepuk bahu Bayu yang membatu. "Bayinya selamat dan stabil di ruang inkubator. Tapi pendarahan Ibu Fera... kami sungguh minta maaf."

​Jeritan histeris Bunda memecah kesunyian koridor sebelum akhirnya tubuh tua itu terkulai pingsan di pelukan Ayah. Suasana seketika kacau. Para perawat berlarian membawa minyak kayu putih dan membopong Bunda ke ruang perawatan.

​Dunia Anin seketika runtuh tak berbekas. Pandangannya bergoyang, dadanya dihantam rasa sesak yang luar biasa hingga ia harus berpegangan pada dinding koridor agar tidak roboh. Di tengah kekacauan itu, seorang suster melangkah keluar dari pintu samping membawa sebuah boks bayi transparan

​Dari balik selimut kuning tipis, terngiang suara tangis melengking dari seorang bayi merah yang baru saja lahir ke dunia tanpa sempat mengenali hangatnya dekapan sang ibu.

​Bayu melangkah mendekati boks itu dengan tubuh yang goyah. Pria itu berlutut di samping boks bayi, dan untuk pertama kalinya sejak Anin mengenalnya, air mata menetes dari pipi dr. Bayu yang kaku. Pria yang tak pernah menunjukkan kelemahan itu kini menangis tergugu di depan boks anaknya.

​"Arumi..." gumam Bayu lirih, menyentuh pipi halus sang bayi dengan jemarinya yang masih berbekas darah almarhumah istrinya

​Anin ikut merosot bersimpuh di samping Bayu. Tangannya yang gemetar terulur menyentuh jemari kecil Arumi. Saat mata bulat bayi mungil itu terbuka samar dan jemari mungilnya mengepal mengikat ujung jari Anin—seolah mencari kehangatan ibu yang telah pergi—Anin terisak makin dalam.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki terburu-buru bergaung di koridor. Ayah melangkah mendekati Bayu dan Anin yang masih bersimpuh di lantai. Wajah Ayah tampak sangat pucat, dan matanya menatap Anin serta Bayu bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan—seseorang yang baru saja mengambil keputusan paling berat dalam hidupnya.

​Ayah meletakkan tangannya di atas bahu Bayu dan Anin, lalu berbisik dengan suara yang bergetar hebat.

​"Bayu, Anin... sebelum Mbak Fera masuk ke ruang operasi tadi, dia sempat membisikkan satu wasiat terakhir kepada Ayah. Dan demi Allah, kalian berdua harus mewujudkannya malam ini juga."

​

​

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 5

    ​Ruang galeri utama kampus dipenuhi oleh keriuhan mahasiswa, dosen, dan pengunjung pameran karya interior tahunan. Cahaya lampu sorot menerangi puluhan maket dan instalasi seni yang terpajang anggun. Di tengah keriuhan itu, Anin berdiri di depan sebuah instalasi kayu berkonsep rustic buatannya sendiri. Gadis itu mengenakan kemeja oversized kotak-kotak, celana jins, dan jilbab kaos yang praktis. Senyumnya terkembang lebar—di sini, di antara bau kayu, cat, dan tatanan karya, Anin merasa kembali menemukan jiwanya yang merdeka ​Namun, binar bahagia di wajahnya mendadak surut saat sebuah suara familiar memanggil namanya dari arah pintu masuk galeri. ​"Anin?" ​Anin berbalik. Seorang pria tinggi berjaket kulit cokelat dengan kamera DSLR terkalung di lehernya sedang melangkah mendekat. Wajahnya yang tegas berhiaskan senyum hangat yang dulu sangat Anin hafal. ​"Baskoro...?" bisik Anin, matanya membelalak tak percaya. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. ​Baskoro—pria yang dua

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 4

    ​Baru tiga hari Anin menetap di rumah berarsitektur kaku itu, namun aturan ketat dr. Bayu Aditya sudah terasa seperti tembok penjara yang merenggut napas kebebasannya. ​Di rumah ini, segalanya memiliki tata letak presisi. Letak sendok tidak boleh bergeser satu sentimeter pun dari tempatnya, remote televisi harus sejajar dengan tepi meja, dan tidak boleh ada satu helai pakaian pun yang tergeletak di luar keranjang cucian. Setiap sudut rumah menebarkan aroma antiseptik yang steril dan mengintimidasi—seolah-olah Anin sedang tinggal di dalam ruang operasi. ​Namun pagi ini, pertahanan kebersihan dr. Bayu yang diagungkan itu runtuh total oleh tabiat asli Rosalia Anindita. ​"Anin! Apa-apaan ini?!" ​Suara bariton dr. Bayu yang membentak tegas memecah keheningan ruang tengah pukul enam pagi. Pria itu berdiri kaku di ambang pintu, mengenakan setelan kemeja kerja abu-abu yang licin tanpa kelim, celana bahan hitam, dan kacamata minus yang bertengger kaku di hidung mancungnya. Namun, rau

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 3

    ​Ijab kabul itu berlangsung sangat singkat, dingin, dan sunyi di ruang tamu rumah orang tua Anin. Tanpa gaun pengantin mewah bertabur payet, tanpa dekorasi bunga-bunga segar yang harum, dan tanpa pesta meriah yang dihadiri kerabat. Anin hanya mengenakan kebaya putih sederhana milik almarhumah kakaknya yang sedikit kebesaran di tubuh ringkihnya, dipadukan dengan jilbab polos tanpa rias tebal. ​Saat dr. Bayu mengucapkan kalimat pengesahan dengan satu helaan napas tegas di hadapan penghulu, Anin merasa ada rantai kasat mata yang mendadak terikat erat di pergelangan kakinya. Tidak ada tangis bahagia. Hanya ada keheningan yang serba canggung saat Anin mencium punggung tangan dingin suaminya—pria yang kini resmi memegang status sebagai suaminya, sekaligus kakak iparnya. ​Pukul sembilan malam, mobil sedan hitam milik dr. Bayu berhenti sempurna di depan sebuah rumah berarsitektur minimalis modern bernuansa beige dan abu-abu kaku. Hujan gerimis menyambut kedatangan mereka, menciptakan su

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 2

    ​Dua minggu setelah tanah kuburan Mbak Fera mengering, suasana rumah orang tua Anin masih dipenuhi hening yang mencekik. Foto almarhumah berbingkai kayu masih tersenyum anggun di atas meja sudut ruang tamu, menjadi kontras yang menyakitkan di tengah rapat keluarga yang mendadak digelar malam ini. ​Anin berdiri di dekat jendela, bersedekap dada dengan kaus hitam longgar dan celana jins belelnya. Matanya yang sembap menatap kaku ke arah meja makan, tempat Ayah, Bunda, dan dr. Bayu duduk melingkar. Di pangkuan Bunda, bayi Arumi menggeliat pelan dalam lelapnya, tidak tahu bahwa nasibnya sedang dipertaruhkan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. ​"Gak. Anin gak mau!" ​Suara Anin memotong keheningan malam dengan tegas. Sepasang matanya membelalak tak percaya menatap ketiga orang dewasa di hadapannya. ​"Anin, dengarkan Ayah dulu, Nak," panggil Ayah dengan nada memohon yang sangat halus. Wajah pria tua itu tampak jauh lebih renta dan keriput dalam dua minggu terakhir. "Ini bukan ke

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 1.

    ​"Anin, pulang, Nak. Mbak Fera kritis!" ​Suara Bunda di seberang telepon gemetar hebat, disusul jerit tangis histeris yang langsung diputus sepihak. Nada tut-tut-tut yang menyusul setelahnya terdengar seperti dentang lonceng kematian yang memekakkan telinga. ​Hati Anin mencelos seketika. Kuas di genggamannya terlepas, jatuh mencoreng lantai semen galeri kampus dengan noda cat merah pekat yang membekas seperti genangan darah. Tanpa sempat mematikan lampu studio atau sekadar membersihkan jemarinya yang belepotan cat, Anin berlari menembus hujan deras yang mengguyur Kota Surabaya malam itu ​Aroma tanah basah dan dinginnya angin malam menusuk hingga ke tulang, namun tak ada yang lebih membekukan daripada rasa takut yang mendera dadanya. Lututnya gemetar sepanjang langkah menyusuri koridor rumah sakit yang berbau karbol tajam. Setiap pijakan kakinya terasa amat berat, seolah menghantar Anin menuju gerbang neraka paling menakutkan dalam hidupnya ​Mbak Fera bukan sekadar kakak bagi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status