แชร์

BAB 5

ผู้เขียน: Mami lily
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-03 17:40:02

​Ruang galeri utama kampus dipenuhi oleh keriuhan mahasiswa, dosen, dan pengunjung pameran karya interior tahunan. Cahaya lampu sorot menerangi puluhan maket dan instalasi seni yang terpajang anggun. Di tengah keriuhan itu, Anin berdiri di depan sebuah instalasi kayu berkonsep rustic buatannya sendiri. Gadis itu mengenakan kemeja oversized kotak-kotak, celana jins, dan jilbab kaos yang praktis. Senyumnya terkembang lebar—di sini, di antara bau kayu, cat, dan tatanan karya, Anin merasa kembali menemukan jiwanya yang merdeka

​Namun, binar bahagia di wajahnya mendadak surut saat sebuah suara familiar memanggil namanya dari arah pintu masuk galeri.

​"Anin?"

​Anin berbalik. Seorang pria tinggi berjaket kulit cokelat dengan kamera DSLR terkalung di lehernya sedang melangkah mendekat. Wajahnya yang tegas berhiaskan senyum hangat yang dulu sangat Anin hafal.

​"Baskoro...?" bisik Anin, matanya membelalak tak percaya. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan.

​Baskoro—pria yang dua tahun lalu terbang ke London untuk melanjutkan studi kuratornya, pria yang pernah mengisi relung hati Anin sebelum takdir memisahkan mereka—kini berdiri hanya selangkah di depannya.

​"Aku baru sampai di Indonesia kemarin sore, Nin, dan langsung mengambil penerbangan ke kampusmu begitu tahu ada pameran ini," kata Baskoro, matanya menatap Anin dengan pendar kerinduan yang amat pekat. "Aku dengar... berita duka tentang Mbak Fera. Aku minta maaf baru bisa mengucapkan belasungkawa secara langsung sekarang."

​Anin menunduk, meremas jemarinya yang mendadak dingin. "Terima kasih, Bas. Semua sudah terjadi..."

​"Dan aku juga dengar kabar burung yang sangat absurd itu, Nin," potong Baskoro cepat, suaranya merendah, sarat akan rasa tak terima yang mendalam. Ia maju satu langkah, menatap Anin lekat-lekat. "Keluargamu... menjodohkanmu dengan suami almarhumah mbakmu? Kamu turun ranjang? Seniman berjiwa bebas sepertimu mengorbankan masa depan demi rumah kaku seorang dokter?"

​"Bas, stop. Ini bukan tempatnya bicara soal kehidupan pribadiku," tegur Anin tegas, meski dadanya bergemuruh hebat.

​"Ikut aku ke London, Nin," desak Baskoro nekat, tiba-tiba meraih pergelangan tangan Anin. "Studio kuratorku di sana butuh desainer bakat murni sepertimu. Jangan bunuh impian dan jiwamu di dalam rumah dingin pria itu!"

​"Lepaskan tangan istri saya."

​Sebuah suara bariton yang amat dingin dan sarat akan intonasi intimidatif memotong pembicaraan mereka dari arah belakang. Suara yang begitu berwibawa, sanggup membekukan atmosfer galeri yang bising.

​Anin dan Baskoro tersentak bersamaan.

​dr. Bayu Aditya berdiri kaku di sana. Pria itu masih mengenakan setelan kemeja kerja abu-abu dan celana bahan yang licin, berdiri tegap dengan kedua tangan terbenam di saku celananya. Sepasang mata elangnya di balik kacamata minus menatap Baskoro dengan kilat amarah yang tertahan hebat, memancarkan aura dominasi seorang suami yang merasa wilayah kekuasaannya diusik.

​Anin dengan cepat menarik pergelangan tangannya dari cengkeraman Baskoro. "Mas Bayu...? Kok sudah pulang dari rumah sakit?"

​Bayu tidak menjawab pertanyaan Anin. Matanya tetap mengunci pandangan Baskoro tanpa berkedip satu milimeter pun.

​"Saya tidak tahu siapa Anda, tapi menyentuh tangan wanita yang sudah berstatus sebagai istri orang lain di tempat umum adalah tindakan yang sangat tidak bersusila," ucap Bayu dengan suara pelan namun tajam bagai sembilu.

​Baskoro tertawa sumbang, menatap Bayu dengan pandangan menantang. "Anda dr. Bayu? Pria perfeksionis yang memanfaatkan rasa berbakti Anin untuk dijadikan pengasuh anak Anda?"

​"Baskoro, cukup!" bentak Anin, melangkah berdiri tepat di antara kedua pria itu sebelum perkelahian fisik meledak di tengah galeri kampus.

​Bayu mengambil satu langkah maju. Bukannya mundur, pria kaku itu justru meraih jemari Anin, menggenggamnya rapat dan posesif di depan mata Baskoro.

​"Urusan masa depan, impian, dan hidup Anin adalah tanggung jawab saya sepenuhnya sebagai suaminya," tegas Bayu, menatap Baskoro penuh penekanan. "Anda tidak punya hak satu persen pun untuk ikut campur atau mengajaknya pergi."

​Bayu lalu menoleh pada Anin, menatap istrinya dengan raut wajah kaku yang menyimpan gejolak cemburu yang teramat asing. "Pameranmu sudah selesai, bukan? Arumi menangis di rumah, menunggu ibunya pulang."

​Kata "ibunya" diucapkan Bayu dengan nada penekanan yang sangat tegas, menusuk tepat di dada Baskoro.

​Tanpa memberikan kesempatan pada Baskoro untuk membalas sepatah kata pun, Bayu menuntun Anin berjalan keluar dari galeri kampus dengan langkah-langkah lebar dan tegas. Genggaman tangannya di jemari Anin terasa begitu erat, hangat, sekaligus protektif.

​Anin terdiam, membiarkan dirinya ditarik menuju parkiran. Namun di dalam mobil sedan hitam yang berjalan membelah jalanan sore Kota Surabaya, suasana berubah menjadi sangat hening dan tegang.

​Bayu mengemudikan mobil dengan cengkeraman kuat pada kemudi. Matanya lurus menatap jalanan, sementara rahangnya mengetat keras.

​"Siapa pria itu?" tanya Bayu akhirnya, memecah keheningan dengan suara bariton yang dingin.

​Anin menoleh, menatap samping wajah suaminya. "Cuma teman lama dari London, Mas."

​"Teman lama tidak akan memegang tanganmu dan mengajakmu terbang ke London," potong Bayu tajam, memelankan laju mobilnya saat lampu merah menyala di perempatan jalan. Pria itu menoleh, menatap Anin lurus-lurus di bawah temaram cahaya lampu jalan. "Kamu masih memiliki perasaan padanya, Anin?"

Anin tercekat. Lidahnya mendadak kelu di bawah tatapan intens dr. Bayu.

​Sebelum Anin sempat menjawab, ponsel di dalam tas ranselnya berdering nyaring. Anin merogoh tasnya dan melihat layar ponsel. Sebuah pesan singkat dari Baskoro masuk.

​“Nin, aku tahu kamu tidak bahagia di rumah itu. Malam ini aku tunggu kamu di kafe biasa tempat kita dulu. Kalau kamu tidak datang, aku sendiri yang akan menjemputmu dari rumah dr. Bayu.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   bab 6

    ​"Siapa yang berkirim pesan malam-malam begini?"​Suara bariton dr. Bayu terdengar sangat dingin, memecah keheningan di dalam mobil sedan yang sedang berhenti di lampu merah. Matanya melirik tajam ke arah layar ponsel di genggaman Anin yang masih menyala terang.​Anin dengan cepat mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Tangannya gemetar tipis.​"Bukan siapa-siapa, Mas. Cuma grup kampus," kilah Anin cepat, berusaha memalingkan wajah menatap keluar kaca mobil.​Bayu tidak membalas. Pria itu menginjak pedal gas dalam-dalam begitu lampu berubah hijau. Mobil meluncur kencang membelah jalanan malam Kota Surabaya menuju rumah. Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka hingga mobil berhenti sempurna di dalam garasi.​Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Anin langsung berjalan menuju kamar bawah. Namun, langkahnya terhenti saat Bayu memanggilnya dari arah dapur dengan nada datar.​"Anin, tunggu sebentar."​Anin berbalik, menatap suaminya yang sedang melepas kacam

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 5

    ​Ruang galeri utama kampus dipenuhi oleh keriuhan mahasiswa, dosen, dan pengunjung pameran karya interior tahunan. Cahaya lampu sorot menerangi puluhan maket dan instalasi seni yang terpajang anggun. Di tengah keriuhan itu, Anin berdiri di depan sebuah instalasi kayu berkonsep rustic buatannya sendiri. Gadis itu mengenakan kemeja oversized kotak-kotak, celana jins, dan jilbab kaos yang praktis. Senyumnya terkembang lebar—di sini, di antara bau kayu, cat, dan tatanan karya, Anin merasa kembali menemukan jiwanya yang merdeka ​Namun, binar bahagia di wajahnya mendadak surut saat sebuah suara familiar memanggil namanya dari arah pintu masuk galeri. ​"Anin?" ​Anin berbalik. Seorang pria tinggi berjaket kulit cokelat dengan kamera DSLR terkalung di lehernya sedang melangkah mendekat. Wajahnya yang tegas berhiaskan senyum hangat yang dulu sangat Anin hafal. ​"Baskoro...?" bisik Anin, matanya membelalak tak percaya. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. ​Baskoro—pria yang dua

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 4

    ​Baru tiga hari Anin menetap di rumah berarsitektur kaku itu, namun aturan ketat dr. Bayu Aditya sudah terasa seperti tembok penjara yang merenggut napas kebebasannya. ​Di rumah ini, segalanya memiliki tata letak presisi. Letak sendok tidak boleh bergeser satu sentimeter pun dari tempatnya, remote televisi harus sejajar dengan tepi meja, dan tidak boleh ada satu helai pakaian pun yang tergeletak di luar keranjang cucian. Setiap sudut rumah menebarkan aroma antiseptik yang steril dan mengintimidasi—seolah-olah Anin sedang tinggal di dalam ruang operasi. ​Namun pagi ini, pertahanan kebersihan dr. Bayu yang diagungkan itu runtuh total oleh tabiat asli Rosalia Anindita. ​"Anin! Apa-apaan ini?!" ​Suara bariton dr. Bayu yang membentak tegas memecah keheningan ruang tengah pukul enam pagi. Pria itu berdiri kaku di ambang pintu, mengenakan setelan kemeja kerja abu-abu yang licin tanpa kelim, celana bahan hitam, dan kacamata minus yang bertengger kaku di hidung mancungnya. Namun, rau

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 3

    ​Ijab kabul itu berlangsung sangat singkat, dingin, dan sunyi di ruang tamu rumah orang tua Anin. Tanpa gaun pengantin mewah bertabur payet, tanpa dekorasi bunga-bunga segar yang harum, dan tanpa pesta meriah yang dihadiri kerabat. Anin hanya mengenakan kebaya putih sederhana milik almarhumah kakaknya yang sedikit kebesaran di tubuh ringkihnya, dipadukan dengan jilbab polos tanpa rias tebal. ​Saat dr. Bayu mengucapkan kalimat pengesahan dengan satu helaan napas tegas di hadapan penghulu, Anin merasa ada rantai kasat mata yang mendadak terikat erat di pergelangan kakinya. Tidak ada tangis bahagia. Hanya ada keheningan yang serba canggung saat Anin mencium punggung tangan dingin suaminya—pria yang kini resmi memegang status sebagai suaminya, sekaligus kakak iparnya. ​Pukul sembilan malam, mobil sedan hitam milik dr. Bayu berhenti sempurna di depan sebuah rumah berarsitektur minimalis modern bernuansa beige dan abu-abu kaku. Hujan gerimis menyambut kedatangan mereka, menciptakan su

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 2

    ​Dua minggu setelah tanah kuburan Mbak Fera mengering, suasana rumah orang tua Anin masih dipenuhi hening yang mencekik. Foto almarhumah berbingkai kayu masih tersenyum anggun di atas meja sudut ruang tamu, menjadi kontras yang menyakitkan di tengah rapat keluarga yang mendadak digelar malam ini. ​Anin berdiri di dekat jendela, bersedekap dada dengan kaus hitam longgar dan celana jins belelnya. Matanya yang sembap menatap kaku ke arah meja makan, tempat Ayah, Bunda, dan dr. Bayu duduk melingkar. Di pangkuan Bunda, bayi Arumi menggeliat pelan dalam lelapnya, tidak tahu bahwa nasibnya sedang dipertaruhkan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. ​"Gak. Anin gak mau!" ​Suara Anin memotong keheningan malam dengan tegas. Sepasang matanya membelalak tak percaya menatap ketiga orang dewasa di hadapannya. ​"Anin, dengarkan Ayah dulu, Nak," panggil Ayah dengan nada memohon yang sangat halus. Wajah pria tua itu tampak jauh lebih renta dan keriput dalam dua minggu terakhir. "Ini bukan ke

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 1.

    ​"Anin, pulang, Nak. Mbak Fera kritis!" ​Suara Bunda di seberang telepon gemetar hebat, disusul jerit tangis histeris yang langsung diputus sepihak. Nada tut-tut-tut yang menyusul setelahnya terdengar seperti dentang lonceng kematian yang memekakkan telinga. ​Hati Anin mencelos seketika. Kuas di genggamannya terlepas, jatuh mencoreng lantai semen galeri kampus dengan noda cat merah pekat yang membekas seperti genangan darah. Tanpa sempat mematikan lampu studio atau sekadar membersihkan jemarinya yang belepotan cat, Anin berlari menembus hujan deras yang mengguyur Kota Surabaya malam itu ​Aroma tanah basah dan dinginnya angin malam menusuk hingga ke tulang, namun tak ada yang lebih membekukan daripada rasa takut yang mendera dadanya. Lututnya gemetar sepanjang langkah menyusuri koridor rumah sakit yang berbau karbol tajam. Setiap pijakan kakinya terasa amat berat, seolah menghantar Anin menuju gerbang neraka paling menakutkan dalam hidupnya ​Mbak Fera bukan sekadar kakak bagi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status