Alena tidak menunggu lama. Ia meninggalkan panci di atas kompor menyala kecil, berjalan cepat menuju kamar Ibu Wulan, dengan Nadia mengikuti dari belakang, masih gemetar."Kak, tunggu," Nadia mencoba menahannya. "Kalau kita masuk begitu saja, mereka pasti curiga kita mendengarkan."Alena berhenti di depan pintu, menarik napas, mencoba berpikir lebih tenang. Nadia benar. Masuk dengan amarah tidak akan menghasilkan apa-apa selain membuat Sasa dan Ibu Wulan semakin waspada."Baik," katanya akhirnya. "Kita cari Raka dulu."Mereka menemukan Raka di ruang kerjanya, masih sibuk dengan laporan yang dibawanya pulang dari kantor. Begitu mendengar cerita Nadia, wajahnya langsung berubah serius."Kau yakin dengar nama Broto disebut?" tanyanya pada Nadia."Yakin, Kak. Lebih dari sekali."Raka berdiri, melangkah menuju pintu, namun Alena menahan lengannya."Jangan langsung menuduh," katanya. "Kita butuh dengar sendiri dulu, bukan cuma lewat cerita orang lain—bukan karena aku tidak percaya Nadia, ta
Terakhir Diperbarui : 2026-10-01 Baca selengkapnya