Hari yang ditakutkan sekaligus dinanti akhirnya tiba. Alena berdiri di depan cermin besar di ruang rias, memandangi pantulan dirinya sendiri dengan gaun pengantin putih yang dijahit khusus untuknya. Cantik, tapi terasa asing—seperti melihat orang lain memakai wajahnya."Kamu terlihat luar biasa, Non," kata penata riasnya, tersenyum bangga dengan hasil kerjanya.Alena hanya tersenyum tipis, tidak menjawab. Bagaimana caranya menjelaskan bahwa di balik gaun indah ini, ia merasa seperti sedang berjalan menuju ruang sidang, bukan pelaminan?Pintu ruang rias terbuka. Ayahnya masuk, mengenakan setelan jas terbaiknya, tapi matanya tampak lelah—lebih lelah dari yang pernah Alena lihat."Kamu siap?" tanya ayahnya lembut."Apa aku punya pilihan lain, Yah?"Pak Wijaya terdiam, tidak menjawab pertanyaan itu. Sebagai gantinya, ia mendekat, menggenggam tangan putrinya erat."Ayah minta maaf, Alena. Untuk semua ini. Suatu hari, Ayah janji akan menjelaskan semuanya padamu."Kata-kata itu membuat Alena
Last Updated : 2026-09-07 Read more