Mag-log inMereka mendekati gudang itu lewat sisi samping, menghindari cahaya lampu jalan yang remang-remang. Dua anggota tim Pak Handoko sudah menunggu di sana, memberi isyarat diam sebelum menunjukkan celah kecil di dinding seng tempat mereka bisa mengintip ke dalam.Alena menahan napas saat matanya menyesuaikan dengan cahaya temaram di dalam gudang.Benar. Itu ayahnya.Pak Wijaya berdiri berhadapan dengan Pak Surya, wajahnya tegang, tangannya menggenggam map tipis. Namun yang membuat Alena menahan napas bukan kehadirannya—melainkan nada suaranya yang terdengar samar dari balik dinding."...sudah kubilang, aku tidak akan kasih lebih dari ini," suara Pak Wijaya terdengar tegas, bukan nada orang yang bersekongkol. "Kalau Broto masih berharap aku jadi bagian dari rencananya, dia salah besar."Alena mengerutkan kening, bingung. Itu bukan nada seorang kaki tangan. Itu nada seseorang yang sedang menolak."Bapak harus pikirkan lagi," jawab Pak Surya, suaranya lebih dingin. "Pak Broto sudah tahu soal
Tiga hari setelah penemuan amplop itu, rumah keluarga Pradipta berubah jadi tempat yang asing. Setiap orang saling melirik lebih lama dari biasanya. Setiap percakapan terasa diukur, dipilih kata-katanya dengan hati-hati.Alena duduk di ruang makan pagi itu, memperhatikan satu per satu orang yang biasa mengelilingi mereka. Bi Inah yang menyiapkan sarapan. Sopir pribadi yang sudah bekerja delapan tahun. Sekretaris Raka yang selalu rapi dan tepat waktu. Bahkan Nadia, yang duduk di ujung meja sambil memainkan sendoknya tanpa nafsu makan.Siapa pun dari mereka bisa jadi orang yang dimaksud Broto."Kau melamun," suara Raka membuyarkan pikirannya."Aku cuma... mikir," Alena menjawab pelan. "Siapa pun bisa jadi orangnya, Raka. Dan itu bikin aku takut mempercayai siapa pun lagi."Raka menggenggam tangannya di bawah meja, jauh dari pandangan orang lain. "Kita cari pelan-pelan. Tidak langsung menuduh, tapi juga tidak lengah."Pak Handoko tiba pagi itu dengan laporan baru—daftar semua orang yang
Pagi setelah rapat panjang itu, Alena bangun dengan kepala masih penuh detail strategi konferensi pers yang harus mereka siapkan. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama—ponselnya berdering keras di atas nakas.Pak Handoko."Bu Alena," suaranya terdengar tegang, berbeda dari biasanya yang selalu tenang. "Kami kehilangan kontak dengan salah satu orang kami yang mengawasi pergerakan Broto di luar negeri.""Kehilangan kontak bagaimana?""Dia seharusnya lapor rutin setiap enam jam. Sudah lewat dua belas jam tanpa kabar. Dan yang lebih mengkhawatirkan, kami baru dapat informasi bahwa Broto membeli tiket penerbangan kembali ke Jakarta. Semalam."Alena duduk tegak seketika, rasa kantuk langsung menguap. "Dia sudah di Jakarta?""Kemungkinan besar sudah mendarat beberapa jam lalu."Alena segera membangunkan Raka, menceritakan kabar itu dengan suara bergetar. Raka langsung bangun, raut wajahnya berubah serius."Kalau dia
"Investor bayangan?" Raka mengulang kata-kata itu, mencoba memahami maksudnya. "Jelaskan lebih detail."Sasa menarik napas, mengatur pikirannya sebelum melanjutkan. "Broto sudah menyiapkan beberapa perusahaan cangkang selama bertahun-tahun, tersebar di beberapa negara. Lewat perusahaan-perusahaan itu, dia perlahan membeli saham kecil Pradipta Group, sedikit demi sedikit, supaya tidak terdeteksi sebagai satu kepemilikan besar.""Berapa persen yang sudah dia kuasai?" tanya Raka, suaranya mulai menegang."Aku tidak tahu angka pastinya. Tapi dari yang pernah aku dengar, kemungkinan sudah mendekati lima belas persen, tersebar di berbagai nama perusahaan berbeda."Raka menghitung cepat dalam kepalanya. Lima belas persen bukan jumlah kecil, terutama kalau dikombinasikan dengan kekacauan internal yang sedang terjadi—skandal keluarga, tuduhan korupsi Dimas, dan sekarang kemungkinan gugatan tanah dari keturunan pemilik lama."Kalau skandal ini pecah ke publik bersamaan," Alena menyadari, "harga
Raka membaca pesan itu dua kali, memastikan matanya tidak salah lihat.*Sasa Wirawan.*Ia duduk diam beberapa detik, mencoba menyusun ulang semua yang ia tahu tentang perempuan itu. Putri rekan bisnis lama keluarga Pradipta. Calon istri yang pernah diharapkan ibunya. Sekarang, karyawan baru di divisi hubungan investor yang sudah dicurigai bekerja untuk Broto.Dan sekarang, kemungkinan juga keturunan dari salah satu keluarga yang kehilangan tanahnya karena kakek Alena puluhan tahun lalu.Ia segera menelepon Pak Handoko, meski jam sudah menunjukkan hampir tengah malam."Kau yakin dengan nama ini?" tanya Raka begitu panggilan tersambung."Cukup yakin, Pak. Kakek dari pihak ibu Sasa, namanya Wirjono, tercatat sebagai salah satu pemilik tanah di kawasan yang sama sebelum berpindah tangan ke keluarga Wijaya. Dokumennya memang sudah lama dan sebagian rusak, tapi catatan nama dan lokasi cukup jelas.""Apakah keluarga Wirawan yang sekarang—ayah Sasa—tahu soal sejarah ini?""Itu yang belum bisa
Pak Wijaya menuangkan air untuk dirinya sendiri, tangannya sedikit gemetar saat mengangkat gelas itu ke bibirnya. Alena dan Raka duduk menunggu, tidak ingin terburu-buru, membiarkan ayahnya mengumpulkan kata-kata yang tepat."Kakekmu, Soetedjo Wijaya, bukan orang sebaik yang diceritakan dalam sejarah keluarga kita," Pak Wijaya memulai, matanya menerawang ke masa yang jauh. "Tanah tempat kantor pusat kita berdiri sekarang, dulunya bukan milik keluarga kita sepenuhnya.""Lalu punya siapa?" tanya Alena."Punya tiga keluarga lain, sebelum akhirnya semuanya berpindah ke tangan kakekmu dalam waktu kurang dari lima tahun." Pak Wijaya menghela napas berat. "Cara perpindahannya... tidak selalu lewat jalur yang bisa dibanggakan.""Maksud Ayah, kakek merebut tanah itu secara paksa?""Tidak selalu paksa secara fisik," Pak Wijaya mengoreksi. "Lebih ke arah tekanan bisnis, manipulasi utang, bahkan menurut beberapa cerita yang pernah aku dengar waktu kecil, ada yang bilang satu keluarga terpaksa men







