Tiga hari setelah kedatangan Broto, nggak ada kejadian aneh apa pun. Nggak ada pesan misterius, nggak ada tamu tak diundang. Justru itu yang bikin Alena makin nggak tenang."Kayak nunggu badai," katanya suatu malam, waktu dia dan Raka lagi makan malam berdua di kamar—kebiasaan yang udah jadi rutinitas mereka belakangan ini."Mungkin emang lagi nyusun strategi," jawab Raka, nyuil ayam di piringnya tanpa nafsu makan yang jelas. "Orang kayak dia nggak gerak sembarangan."Alena ngangguk pelan. Dia udah coba fokus ke kerjaan, ke urusan rumah tangga sehari-hari, tapi pikirannya terus aja balik ke percakapan sama Broto. Pion di papan yang lebih besar."Eh," katanya tiba-tiba, "kamu masih inget nggak, dulu waktu kita tanda tangan kontrak, kamu bilang nggak mau ada perasaan pribadi ikut campur?"Raka ngangkat alis, agak bingung arah pembicaraan tiba-tiba pindah. "Inget. Kenapa?""Cuma mikir aja," Alena senyum kecil, "gimana kita sekarang."Raka taruh sendoknya, natap Alena lama. "Kalau boleh j
Last Updated : 2026-09-22 Read more