Di tengah derai air mata, segala hal mendadak kabur, hanya wajah putriku yang tampak makin jelas.Tiga tahun berlalu, dia sudah makin tinggi dan banyak berubah.Bagaimanapun juga, Sella masih hidup adalah kejutan terbesar bagiku.Aku menerjang ke depan, menerobos semua halangan, lalu memeluk putriku erat-erat."Sella, Ayah bawa kamu pergi, ya?"Detik berikutnya, Sella menggigit tanganku dengan ganas, lalu menendang perutku dengan keras.Aku melepas pelukan karena kesakitan, sementara dia berlari kencang ke belakang tubuh kakakku.Sambil menjulurkan separuh kepalanya, dia membuat muka ejekan padaku."Kamu bukan ayahku lagi! Sekarang Om Adit yang jadi ayahku!""Aku nggak mau ikut sama kamu! Kamu cuma bisa maksa aku belajar!""Om Adit nggak kayak kamu, dia mau temani aku main gim dan kasih permen yang aku suka!""Kamu sama sekali nggak sayang sama aku, aku nggak mau punya ayah kayak kamu!"Aku menatap Sella dengan tidak percaya, hatiku seolah diiris tajam oleh ujung pisau.Sella sejak kec
Read more