Compartilhar

Bab 4

Autor: Yena
Mata masyarakat sangat jeli.

Alur bukti yang kusediakan jauh lebih utuh daripada milik Adit, alur proses penyelidikan yang kuceritakan jauh lebih logis.

Sebaliknya dengan Adit, sekali lihat saja sudah kelihatan seperti tuan muda yang dimanja, sama sekali tidak ada tampang orang yang pernah mempertaruhkan nyawa di dalam kelompok kriminal.

Orang yang tidak terhitung jumlahnya mengirimkan surat aduan ke kantor polisi, menuntut agar Adit dipecat dan mengembalikan penghargaan jasa tingkat satu yang seharusnya menjadi milikku.

Tepat saat aku berpikir bisa segera kembali ke tim reserse kriminal berkat jasa tersebut, Adit malah memulai sebuah siaran langsung.

Dia menghadap ke kamera sambil menangis terisak-isak.

"Nathan itu adik kandungku. Aku masih mikirin hubungan darah, tadinya memang nggak mau bongkar ini. Tapi, dia malah nekat putarbalikkan fakta dan mau nyuri jasaku, makanya aku harus kasih tahu yang sebenarnya ke kalian semua!"

"Aku udah nyusup di kelompok kriminal selama tiga tahun dan hadapi bahaya mati-matian baru bisa kumpulkan bukti. Nah, kalau Nathan memang udah lama bersekongkol sama mereka, dialah yang kerja sama bareng penjahat buat curi alur buktiku yang utuh!"

Tangan kiri ibuku memamerkan foto saat aku menjadi mata-mata dan sedang mengobrol sambil tertawa bersama bos penjahat, sedangkan tangan kanannya mengangkat kartu identifikasiku, lalu berkata penuh dendam.

"Aku bisa jadi saksinya! Nathan memang udah lama bersekongkol sama kelompok kriminal, aku punya banyak foto dia bareng bos penjahat di sini. Dia itu pengkhianat polisi dan bikin malu keluarga!"

Kenzo yang berada di samping mengusap air mata berpura-pura, lalu ikut menimpali.

"Aku sahabat terbaiknya Nathan, aku juga bisa jadi saksi. Aku udah sering banget lihat kelompok kriminal transfer uang ke Nathan. Malah aku pernah beberapa kali pergoki dia sama bos penjahat, Kak Sinta, keluar dari kamar dengan pakaian nggak rapi ...."

Aku menatap ruang siaran langsung itu lekat-lekat, hatiku seolah digilas berulang kali oleh pisau tumpul, sakitnya hingga membuatku sesak napas.

Aku menuliskan kalimat klarifikasi berulang kali, tapi tidak ada yang melihatnya, dengan cepat tenggelam di antara puluhan ribu makian.

"Nathan nggak tahu malu banget, sih, jasa kakak sendiri aja mau direbut!"

"Jijik banget lihat orang kayak gini, memangnya dia pantas jadi polisi? Panggil tim lalu lintas, langsung pecat aja orang!"

"Dipecat masih keenakkan! Nathan 'kan bantuin penjahat, berarti dia penjahat juga, seret aja ke penjara!"

Ponselku menyala. Aku keluar dari siaran langsung, lalu dengan gemetar membuka pesan yang dikirim dari kepolisian.

"Nathan, kamu dipecat."

"Berdasarkan keputusan organisasi, keanggotaan kepolisianmu dicabut secara permanen."

Aku mematung di tempat, seolah jantungku tertembak peluru dalam sekejap.

Hilang sudah, keanggotaan kepolisianku pun hilang, segalanya yang kumiliki sudah sirna.

Bertahun-tahun ini, aku menyelidiki kasus secara pribadi tanpa menghiraukan larangan kantor.

Aku sama sekali tidak punya bukti untuk membuktikan apakah hubunganku yang erat dengan kelompok kriminal itu demi menyelidiki kasus, atau demi bersekongkol secara diam-diam.

Keluargaku, teman-temanku, semuanya terkunci rapat mengatai kalau aku adalah pengkhianat.

Siapa yang akan percaya kalau orang tua kandung tega mencelakai anaknya sendiri?

Di dunia ini, sudah tidak ada lagi orang yang akan mempercayaiku.

Setelah tertegun sejenak, aku mendongak, lalu malah melihat sosok yang tidak asing.

Vina berlari sempoyongan menghampiriku.

Dia berhenti di depanku, lalu menggunakan buku jarinya untuk mengusap air mataku dengan lembut.

"Nathan, jangan takut."

"Aku udah pelajari kasusmu baik-baik. Asal kamu mau serahin diri sekarang, kamu bisa dapat pengurangan hukuman. Apalagi Adit baru aja berjasa besar, kalau dia bantuin kamu minta keringanan, pasti bakal bantu banget."

"Paling lama delapan tahun kamu udah bisa keluar kok. Nanti aku sendiri yang bakal jemput kamu, aku bakal bujuk ayah, ibu, sama Adit, supaya nanti kita sekeluarga bisa tinggal bareng lagi."

Rasa dingin yang menusuk tulang merogoh setiap celah tulangku.

Demi menyelidiki kasus, demi keadilan, aku sudah mengorbankan segalanya.

Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, atas dasar apa aku harus masuk penjara?

Aku mendorong pelukan Vina dengan kuat, lalu sambil meneteskan air mata, aku berlari menuju lantai teratas bangunan mangkrak.

Di atas balkon setinggi ratusan meter, aku membuka siaran langsung.

Di tengah kepungan makian yang memenuhi layar, aku tersenyum dan berkata ke arah layar.

"Aku udah nulis semua pengalaman waktu tangani kasus selama bertahun-tahun ini, yang pas sama setiap bukti di tanganku dan bekas luka di tubuhku."

"Aku rela tukar nyawaku demi buktikan kalau aku nggak salah."

Setelah selesai berbicara, aku memejamkan mata, lalu menjatuhkan diri ke belakang dari ketinggian ratusan meter ....

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Rembulan Gugur di Ujung Awan   Bab 10

    Binar di mata Vina perlahan padam. Dia menatap putrinya yang menangis sesenggukan di sampingnya, lalu tidak tega dan merangkulnya.Vina memeluk putrinya, memohon padaku dengan sangat rendah hati."Nathan, aku tahu aku udah salah sama kamu, aku makin tahu kalau aku nggak pantas dapat maaf darimu.""Tapi, anak ini gimanapun juga nggak bersalah.""Tolong lihat Sella, kasih aku satu kesempatan lagi, ya? Ke depannya, aku pasti bakal makin baik sama kalian berdua, aku sumpah nggak bakal sakiti kamu lagi!"Wajah Sella sudah belepotan air mata. Dia menatapku dengan mata kabur terhalang air mata, mulutnya terus-terusan memanggil "ayah".Aku menatapnya dingin. Setelah rasa sakit yang singkat di hati, aku tidak luluh."Dia dari dulu udah nggak mau akui aku sebagai ayahnya, buat apa aku akui dia sebagai anak?""Kalian pergi aja."Aku menutup pintu tanpa rasa iba sedikit pun.Setelah pertama kali ditolak di luar pintu, Vina tidak menyerah.Dia bolak-balik datang ke rumahku setiap beberapa hari seka

  • Rembulan Gugur di Ujung Awan   Bab 9

    Kepolisian mempertimbangkan bahwa aku memiliki alasan khusus dan berprestasi besar, sehingga tidak menuntut tanggung jawab atas pura-pura matiku.Pimpinan secara pribadi menyematkan lencana penghargaan jasa ke dadaku, lalu tersenyum tulus."Nathan, besok langsung kembali bekerja di tim reserse kriminal, ya."Aku mendadak tertegun. Rasa pedih pertama-tama menyeruak di hidungku, lalu dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh.Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku yang gemetaran hebat.Hari ini, akhirnya datang juga.Aku memberi hormat dengan khidmat kepada pimpinan, merasa sangat emosional hingga air mata berlinang."Nathan, kembali ke tim!"Malam harinya, rekan-rekan kerja menggelar pesta perayaan yang meriah untukku.Ada yang memuji keberanianku, ada yang merasa iba dengan kesulitan yang kulewati sepanjang jalan ini, ada pula yang meminta maaf atas ejekan serta cemoohan mereka selama bertahun-tahun ini.Kebaikan-kebaikan itu membuatku merasa hangat.Namun, untuk permintaan maaf yang terlam

  • Rembulan Gugur di Ujung Awan   Bab 8

    Adegan demi adegan saat Nathan menyusup di kelompok kriminal terpampang jelas di depan mata semua orang.Saat menjadi mata-mata, identitas Nathan dicurigai oleh para penjahat, lalu dikurung di penjara air selama tiga hari tiga malam.Lukanya terendam air bau hingga infeksi berulang kali, ditambah gigitan ular dan tikus yang tidak terhitung jumlahnya.Dia demam tinggi hingga kesadarannya kabur, tapi masih berusaha merekam menggunakan kamera tersembunyi di tubuhnya."Kalau kalian berhasil menemukan mayatku, kalian pasti bisa menemukan bukti yang ada di tubuhku ini.""Jangan bersedih buat aku, asalkan para penjahat bisa diadili, kematianku bakal sepadan."Saat mengambil foto bukti secara sembunyi-sembunyi, Nathan ketahuan oleh penjahat, mereka mendorong Nathan turun dari lantai empat hingga seluruh tulang bahu Nathan patah remuk.Sambil merayap ke dalam semak-semak, dia merekam pesan terakhirnya."Kalau aku beruntung bisa selamat, aku bakal serahkan sendiri bukti ini ke kepolisian.""Kala

  • Rembulan Gugur di Ujung Awan   Bab 7

    Setelah menaruh ponselnya, Adit membayangkan hal itu dengan penuh suka cita.Di pesta perayaan, di tengah kerumunan istri dan keluarganya, dia disematkan lencana penghargaan jasa tingkat satu yang sangat terhormat, betapa bahagianya hal itu.Sedangkan Nathan, cuma sesosok mayat tidak berguna.Mana mungkin Vina dan orang tuanya terus meratapi Nathan seumur hidup cuma gara-gara sedih sesaat?Dia yakin tidak sampai sebulan, semua orang pasti sudah melupakan bajingan itu.Saat masih hidup saja, Nathan tidak bisa menang darinya, mana pantas bersaing dengannya setelah mati?Bisa menyumbangkan penghargaan jasa tingkat satu sebelum mati, setidaknya pecundang itu masih ada harganya.Saat pintu kamar VIP terdorong terbuka, pelayan mendorong kue ulang tahun raksasa melangkah mendekati Adit.Para atasan dan rekan kerja mulai masuk satu per satu, dengan senyum penuh ucapan selamat di wajah mereka.Setelah itu, Rudi dan Mila menuntun Sella, sedangkan Vina menggendong putranya, Zio, seluruh keluarga

  • Rembulan Gugur di Ujung Awan   Bab 6

    Adit mengira Vina pasti akan merendahkan diri dan meminta maaf dengan lembut seperti dulu.Namun, pelukan hangat yang dia bayangkan tidak kunjung datang.Justru tamparan ibu yang lebih dulu mendarat di wajah Adit."Kamu bilang siapa yang penjahat? Nathan itu pahlawan yang udah bongkar banyak kasus besar, dia itu kebanggaan keluarga kita! Dia udah meninggal, tapi kamu masih tega mau fitnah dia?"Vina perlahan berdiri, dia menatap Adit dengan dingin, matanya menyiratkan bayangan rasa benci yang pekat."Adit, apa yang dibilang Sella ada yang salah, hah? Kalau bukan gara-gara kamu nyuri jasanya Nathan, terus nuduh dia pengkhianat, mana mungkin dia bakal putus asa sampai nekat lompat dari gedung? Kamulah yang udah buat Nathan mati!"Adit memegangi wajahnya yang bengkak tertampar, membuka matanya lebar-lebar dengan tidak percaya.Dunia ini pasti sudah gila.Orang-orang yang tadi pagi masih mencampakkan Nathan seperti sampah, kenapa tiba-tiba bertingkah seolah-olah sangat menyayanginya?Apa c

  • Rembulan Gugur di Ujung Awan   Bab 5

    Saat Vina menyusul sampai ke atap gedung, dia sudah terlambat satu langkah.Dia menerjang ke depan, mengulurkan tangan berusaha menggapai bayangan tubuh yang hampir jatuh itu, tapi tidak ada apa pun yang berhasil dia genggam.Dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, Nathan menghilang di depan matanya.Vina memaksakan diri berpegangan pada pagar pembatas di tepi atap gedung, melihat ke bawah, lalu melepaskan satu teriakan histeris yang memilukan."Nathan!"Sayangnya, tidak akan pernah ada lagi orang yang menjawab panggilannya.Vina berlari sampai ke dasar gedung, di saat yang sama Rudi dan Mila, ayah ibu Nathan juga baru tiba membawa Sella.Mereka pun sama-sama terpaku syok melihat pemandangan di depan mata mereka.Vina berlutut di atas genangan darah segar di depannya, dia sembarang mengulurkan kedua tangannya, ingin memeluk Nathan untuk terakhir kalinya, meskipun hanya mayatnya.Namun, Nathan bahkan tidak menyisakan mayat yang utuh untuknya.Jatuh dari ketinggian ratusan meter,

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status