Abby mengangguk pelan. Untuk alasan yang bahkan tidak bisa Abby jelaskan, air matanya menetes membasahi ibu jari Justin. “Iya, Kak.”“Katakan padaku,” perintah Justin, suaranya merendah menjadi bisikan posesif. Tangannya yang lain kembali bergerak di paha dalam Abby, kali ini lebih berani. Jari-jarinya menyelinap di bawah tepi celana dalam, menyentuh kulit yang lebih hangat dan basah. “Siapa satu-satunya pria yang boleh menyentuhmu seperti ini?”Abby menatap mata kelam itu, terhipnotis oleh kedalaman gairah dan rasa kepemilikan di sana. “Hanya… Kak Justin.”“Katakan lagi, Abigail,” tuntut Justin. Tangannya memberikan usapan lembut di paha dalam Abby, ibu jarinya menyentuh tepat di tepi lipatan paling sensitif. Tubuh gadis itu tersentak maju, bokongnya bergesekan dengan paha Justin yang masih tertutup celana.“Hanya Kak Justin!” isak Abby pelan. Kepalanya jatuh bersandar di perpotongan leher pria itu. Kulit leher Justin terasa begitu panas, sedikit basah oleh keringat, dan bau tubuhn
Last Updated : 2026-10-26 Read more