"Ah... Abby," sapa Valerie dengan suara serak. Perempuan itu menelan ludah dengan susah payah, memaksakan sebuah senyuman di bibirnya."Kakak... kenapa?" tanya Abby pelan, suaranya dipenuhi keraguan. "Kakak habis menangis?"Valerie buru-buru menundukkan wajahnya, menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan secara kasar. Ia menggeleng cepat, tak ingin terlihat menyedihkan di depan Abby."Ah... nggak apa-apa kok, By," jawab Valerie dengan nada bergetar, memaksakan tawa kecil yang terdengar sangat hambar. "Aku... aku harus pergi dulu, ya. Sampai jumpa."Tanpa menunggu balasan dari Abby, Valerie langsung melangkah pergi dengan tergesa-gesa menyusuri lorong menuju lift, seolah ia tidak sanggup berada di lantai apartemen itu satu detik pun lebih lama.Abby hanya bisa mematung, menatap kepergian Valerie dengan dada yang terasa sesak. Setelah punggung perempuan itu menghilang di balik pintu lift, Abby akhirnya menghela napas panjang dan melangkah masuk ke dalam apartemen, lalu m
Last Updated : 2026-10-06 Read more