แชร์

Episode 24

ผู้เขียน: El Barra
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-23 08:42:49

Malam sudah larut, lampu-lampu luar gedung mulai meredup satu per satu. Di lantai paling atas, cahaya masih menyala redup dari balik pintu kantor Agus. Ruangan itu hening, hanya terdengar suara gelas yang beradu pelan di meja.

Agus duduk sendirian di tepi meja, botol di tangannya, wajahnya memerah, matanya sayu dan berkaca-kaca. Pulang dari desa tadi, sesuatu di dalam dirinya seakan hancur tak tersisa. Ia punya segalanya — uang, usaha, masa depan yang terjamin — tapi orang yang ingin ia bagik
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 38

    Saat suasana mulai tenang, Mereka duduk disofa diruang kerja toko. "sini duduk" ajak Agus. Langit di luar sudah gelap pekat. Lampu-lampu jalan satu per satu menyala redup, membiaskan cahaya keemasan ke jendela lantai paling atas. Semua karyawan sudah pulang. Pintu utama sudah dikunci. Suara langkah kaki, tawa, percakapan — semuanya lenyap. Hening menyelimuti gedung itu sepenuhnya, menyisakan hanya mereka berdua di ruangan yang hari tadi penuh ketegangan dan air mata. "Duk.." Eny duduk di tepi sofa, menatap jendela yang memantulkan bayangan mereka. Beban berat yang dipikulnya sendirian selama berhari-hari, selama bertahun-tahun — akhirnya terangkat. Dika sudah pergi. Rahasia sudah terbuka. Dan Agus tetap di sini, tak pergi, tak menjauh, justru memeluknya lebih erat dari sebelumnya. Agus duduk di sampingnya, merangkul bahu wanita itu perlahan. "Kamu mau pulang ke rumah?" tanyanya lembut. "Atau di sini saja malam ini?" Eny menoleh, menatapnya lekat. "Di sini saja. Aku belum mau perg

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 37

    "Ceklek..!" Dika masuk ruangan itu. Dua pasang mata bertemu di ruangan itu — Agus berdiri tegak di depan Eny, menatap lurus ke arah Dika yang berdiri di ambang pintu dengan senyum yang dibuat-buat. Eny masih duduk di lantai, air mata belum kering di pipinya, napasnya tertahan menanti apa yang akan terjadi. "Siapa kau?" suara Agus tenang tapi berat, bergema di ruangan yang hening. "Tap..tap..tap..!" Dika melangkah masuk, menutup pintu pelan di belakangnya. Dia tersenyum sinis, menatap Agus dari atas ke bawah seakan meremehkan. "Aku Dika" Tunangan sahnya Eny, Dagunya terangkat. "Dan kau siapa? Pemuda desa yang kebetulan kaya?" tanya Dika merendahkan. Agus melangkah maju selangkah, tak mundur sedikit pun. "Aku Agus. Laki-laki yang Eny pilih..!" Jawab Agus tegas. "Dan kau bukan tunangannya, Kau yang pergi dulu, meninggalkannya tanpa pesan, tanpa kabar." imbuhnya. "Kau dengar dari siapa?" Dika tertawa pelan, suaranya tajam. "Dia yang bilang begitu? Dia pandai bicara. Padahal ken

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 36

    Perjalanan pulang terasa jauh lebih lama dibandingkan saat berangkat. Sepanjang jalan Eny menatap ke luar jendela, pikirannya tak tenang. Ia berusaha menenangkan diri — mungkin hanya kesalahan catatan, mungkin sekadar salah paham. Begitu sampai, diperiksa, beres, lalu bisa kembali ke desa. Begitu harapannya. Tapi saat melangkah masuk ke gedung Agus Supermart, suasana tak seperti yang dibayangkan. Wajah-wajah tegang menyambutnya. Ria menyambut di pintu, matanya merah sembab. "Eny..." suaranya bergetar. "Kamu datang... syukurlah kamu datang." "Sudah berapa lama begini?" tanya Eny cepat, meletakkan tasnya di meja. "Sudah tiga hari. Sejak seseorang datang, mengaku... mengaku sebagai tunanganmu," jawab Ria pelan. Eny mengerutkan kening. "Tunanganku? Siapa?" Ria menunduk, tak berani menatap. "Dika." Nama itu membuat darah Eny mendidih sekaligus dingin menjalar ke sekujur tubuh. Dika. Mantan pacarnya. Pria yang dulu meninggalkannya tanpa pamit, yang pernah menyakitinya begitu dalam, y

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 35

    Tiga hari berlalu begitu indah — terasa seperti mimpi yang tak ingin diakhiri. Setiap pagi mereka bangun berpelukan, setiap hari berbagi segala hal, setiap malam tidur berdampingan tanpa lagi ada jarak di antara mereka. Di desa yang tenang itu, tak ada urusan toko, tak ada laporan, tak ada kesibukan kota — hanya mereka berdua, hidup sederhana, bahagia sepenuhnya. Agus hampir lupa bahwa dunia lain masih ada di luar sana — tempat di mana ia bukan sekadar pria yang dicintai, melainkan pemilik usaha, orang yang diandalkan, sosok yang punya tanggung jawab besar. Sore ketiga hari itu, langit mulai kemerahan. Mereka baru saja selesai makan sore di beranda, Eny sedang menyusun rencana menanam bunga di halaman depan — tiba-tiba ponsel yang ditaruh di meja bergetar kencang, bunyinya nyaring memecah keheningan. Eny menoleh, lalu meraihnya. Nama yang muncul di layar membuatnya mengernyit — Ria, wakil manajer di toko. "Permisi sebentar ya," ucapnya pelan, lalu mengangkat. "Halo, Ria?" Wajahnya

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 34

    Cahaya matahari pagi menyelinap pelan lewat celah jendela, menyentuh wajah mereka yang masih berpelukan di atas tempat tidur. Agus yang pertama membuka mata — tubuhnya terasa ringan, lelah semalam hilang tak berbekas. Di sampingnya, Eny masih tertidur pulas, kepalanya bersandar di dada bidangnya, tangan melingkar di pinggangnya. Napasnya teratur, hangat menyentuh kulitnya. Agus tersenyum lembut, membelai rambut panjang itu pelan. Rasanya damai sekali — bangun pagi bukan lagi sendirian di rumah yang sepi, melainkan ada seseorang di sampingnya, seseorang yang dicintainya, yang tulus menyayanginya. "emmmuah" Ia mencium ubun-ubun wanita itu pelan, tak berniat membangunkannya, hanya ingin menunjukkan betapa berharganya ia. Eny bergerak pelan, matanya perlahan terbuka. Melihat wajah Agus di dekatnya, senyumnya langsung merekah — murni, bahagia, tanpa ragu sedikit pun. "Sudah pagi..." bisiknya lembut, merapatkan tubuhnya makin dekat. "Iya, Sayang," jawab Agus pelan, tangannya mengusap p

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 33

    Langit masih gelap pekat, fajar belum menyingsing saat Agus melangkah pulang. Kakinya terasa berat, pakaiannya berdebu, keringat kering menempel di dahi. Sepanjang malam warga menyisir hutan, pematang sawah, jalan keluar desa — tak ada jejak pencuri. Tak ada motor, tak ada barang, tak ada siapa pun yang dicurigai. Seakan mereka lenyap ditelan bumi. Warga pulang satu per satu dengan wajah kecewa dan cemas. Agus yang paling akhir ikut berkeliling, akhirnya berjalan pulang sendirian saat udara subuh mulai terasa dingin menusuk tulang. Di depan rumah, ia mengetuk pelan — pola yang sudah disepakati: dua ketukan pendek, satu ketukan lagi. Hening. Tak ada jawaban. Ia mengetuk sekali lagi, sedikit lebih keras. "Eny... aku pulang." Masih tak ada suara. Agus merogoh saku "krincing" — kunci cadangan yang disimpan di sana sejak dulu, kini terasa begitu berharga. Ia memasukkan ke lubang kunci, memutar perlahan "klik" Pintu terbuka senyap. Ruangan dalam gelap, cahaya samar dari langit timur me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status