Pukul sembilan lewat sepuluh menit, interkom di meja Ofelia berbunyi.“Ofelia, ke ruangan saya.”Hanya empat kata, tanpa salam, tanpa embel-embel. Sambungan langsung terputus. Ofelia menatap gagang interkom beberapa detik, lalu melirik Sita di meja sebelah yang mengangkat alis tinggi-tinggi dengan ekspresi ‘nah, kan’.“Semangat, Fe,” ujar Sita. “Kalau dia ngamuk teriak aja. Gue pura-pura nggak denger.”“Nggak lucu.”Kemudian Ofelia berdiri, merapikan bajunya, dan berjalan menuju pintu kaca buram di ujung ruangan dengan langkah seorang terdakwa. Dia baru sembuh. Dia belum siap dimarahi soal apa pun.Ofelia mengetuk pintu sebanyak dua kali.“Masuk.”Ferdy duduk di balik mejanya dengan kepala menunduk pada tumpukan dokumen, pena bergerak cepat di atas kertas. Dia tidak mengangkat wajah saat Ofelia masuk. “Tutup pintunya.”Ofelia menurut. “Duduk.”“Saya berdiri saja, Pak.”Pena berwarna hitam itu berhenti bergerak. Ferdy akhirnya mengangkat kepala, dan Ofelia langsung menyesali penolakan
Last Updated : 2026-09-28 Read more