"Mas... pustunya masih jauh ya?" tanyaku pelan, meremas jemariku sendiri di atas pangkuan.Mas Reno tidak menjawab. Ia tetap fokus menatap jalanan tanah yang licin dan bergelombang. Wajahnya tampak tegang, berkali-kali melirik jam tangan perak di pergelangan kirinya."Mas?" panggilku lagi, kali ini menyentuh lengan kemeja kerjanya."Sebentar lagi arini, jangan rewel , Mas lagi fokus nyetir, kamu gak liat jalannya rusak begini," sahutnya dingin tanpa menoleh sedikit pun.Pintu gerbang kayu lapuk Pustu Sukamaju akhirnya terlihat di ujung penerangan lampu mobil. Bangunan tua bercat putih kusam itu berdiri terisolasi di tepi perkebunan. Gelap gulita. Tidak ada satu pun pendar cahaya yang menyala di sana."Lho, Mas... mati lampu ini, Mas!?" bisikku ketakutan.Mas Reno menghentikan mobil tepat di depan teras Pustu. Ia mematikan mesin, membuat gemuruh hujan dan deru angin makin membahana di dalam kabin."Pedesaan ya begini, listrik sering mati," ucap Mas Reno singkat. Ia menyambar payung di
Dernière mise à jour : 2026-09-16 Read More