Home / Rumah Tangga / Perawat Milik Duda Tuan Tanah / Bab 5: Pengusiran Terselubung

Share

Bab 5: Pengusiran Terselubung

Author: rose
last update publish date: 2026-09-16 12:52:33

Belum kering air mataku di balik tirai bilik medis, suara mesin mobil pikap yang menderu keras berhenti tepat di depan teras Pustu Sukamaju. Sore baru saja merayap, membawa hawa dingin khas pegunungan. Seorang pria asing berkaos lusuh menuruni pikap, menumpuk lima koper besar dan belasan kardus berisi seluruh barang pribadiku dari rumah ku dikota ,mulai dari baju, sepatu, dokumen penting, hingga bingkai foto pernikahan kami.

"Bu Arini, kan?" tanyanya dengan senyum. "Ini semua barang-barang dari rumah anda di kota disuruh bawa ke sini sama Nyonya Kusuma. Sama ini ada surat resmi dari dinas."

Pria itu menyodorkan amplop putih berlogo instansi kesehatan. Dengan jemari gemetar dan jantung berdebar liar, aku merobek amplop itu. Baris demi baris tulisan resmi di dalamnya menghantam mataku.

...Dengan ini menyatakan bahwa masa pengabdian tugas Perawat Arini di Pustu Sukamaju diperpanjang menjadi 2 (dua) tahun terhitung sejak tanggal surat ini diterbitkan...

"Dua... tahun?" cicitku tak percaya. Pandanganku mengabur seketika. Dua tahun? Ini bukan lagi tugas sementara, ini pengusiran secara halus!

Tanpa berpikir panjang, aku menyambar ponsel di saku dan memencet nomor Ibu Mertua. Panggilan baru berdering sekali sebelum suara Nyonya Kusuma menyapa dengan nada angkuh.

"Ibu... kenapa barang-barang Arini dibawa ke sini semua?" cecarku dengan suara bergetar menahan tangis yang pecah. "Surat tugas Arini juga kenapa jadi dua tahun, Bu? Kan perjanjian awal cuma sementara sampai tim perawat utama datang!"

Di seberang telepon, suara helaan napas meremehkan terdengar amat jelas.

"Udahlah, Rin, kamu fokus aja di sana," balas Ibu Mertua dengan santai dan dingin, sama sekali tidak merasa bersalah. "Gak usah pusingin hal sepele gitu. Toh di sana kamu bisa lebih bermanfaat untuk orang desa."

"Tapi rumah Arini di sana bu, bareng sama mas reno" jeritku frustrasi, meremas erat kertas surat dinas di genggamanku. "Gimana bisa Arini ditinggal sendirian di Pustu ini selama dua tahun?!"

"Lagian kamu gak usah pusing mikirin Reno lagi," potong Nyonya Kusuma cepat, nadanya berubah bangga dan penuh kepuasan. "Semenjak punya aspri reno makin  keurus kok. Bajunya rapi, makannya selalu enak, ada yang nemanin ke mana-mana. Ibu bangga sama kinerjanya! Jauh lebih bisa diandalkan daripada kamu!"

Darahku serasa berhenti mengalir. Kalimat itu bagai pisau yang ditancapkan tepat di ulu hatiku.

"Bu... kenapa mas reno merekrut aspri tanpa ijin aku bu, sebenarnya siapa aspri itu?" tanyaku lirih dengan sisa-sisa tenaga. "Siapa wanita yang…"

Klik.

Sambungan telepon langsung diputus sepihak. Tidak ada jawaban, hanya nada tut-tut nyaring yang menyiksaku dalam keheningan Pustu. Aku meluruh di atas bangku teras, menatap tumpukan kardus berisi seluruh hidupku yang telah disingkirkan dari rumahku sendiri.

Pak iwan pria paruh baya tadi sudah pulang bersama mandor itu.

Jam operasional Pustu sudah tutup. Aku duduk bengong di teras kayu dengan tatapan kosong, memeluk tubuhku yang kedinginan oleh terpaan angin gunung. Otakku buntu, batinku remuk redam dihantam kenyataan bahwa aku telah dibuang oleh keluarga suamiku sendiri.

Untuk mengalihkan pikiran yang kian liar dan gila, jemariku secara refleks membuka aplikasi I*******m di ponsel. Di deretan lingkaran cerita teratas, layar memperlihatkan unggahan terbaru dari Tasya teman dekatku sejak masa kuliah yang dulu amat kupercaya.

Aku mengetuk profilnya. Sebuah foto diunggah satu jam yang lalu.

Foto itu menampilkan meja makan marmer di sebuah restoran mewah berlampu temaram. Di atas meja, tertata cangkir kopi mahal dan makanan penutup yang cantik. Terdapat caption singkat bertuliskan.

"Kerja rasa ibadah".

Mataku menatap foto itu tanpa prasangka awal. Namun, ada sesuatu di pojok kanan bawah foto yang menarik perhatianku sebuah potret yang sedikit terpotong. Aku mendekatkan layar ponsel dan memperbesar (zoom) foto tersebut.

Jantungku mendadak berhenti berdetak seketika.

Di sudut meja yang agak gelap, tampak bagian lengan kemeja pria berwarna putih dengan pola kancing khusus. Namun yang membuat seluruh darah di tubuhku mendadak berdesir dingin adalah jam tangan perak berdinding hitam yang melingkar di pergelangan tangan pria itu.

Itu adalah jam tangan edisi terbatas hadiah ulang tahun untuk mas reno yang kubeli dengan menyisihkan separuh gaji pertamaku sebagai perawat. Kawat goresan kecil di bagian pinggir pelindung kacanya... aku sangat mengenalnya karena aku sendiri yang tak sengaja menggoresnya saat menyerahkan hadiah itu dua tahun lalu.

Tanganku mulai gemetar hebat. Ponsel di genggamanku terguncang pelan.

Tasya...? Aspri baru Mas Reno... adalah Tasya?

Rasa penasaran, caci maki mertua, kebohongan Mas Reno soal rapat investor, hingga potongan jam tangan di unggahan Tasya mendadak menyatu menjadi satu teka-teki mengerikan yang telanjang di depan mataku. Sahabatku sendiri... sedang berada di restoran mewah bersama suamiku.

"Arini?"

Suara bariton yang berat dan tenang memecah halusinasi mengerikan di kepalaku.

Aku terperanjat pelan, mendongak dengan napas memburu dan air mata yang merebak hebat di pelupuk mata.

Mas Darma berjalan mendekat menaiki anak tangga teras. Pria tegap berjaket kanvas hitam itu membawa sebuah nampan kayu berisi secangkir teh hangat yang masih mengusulkan asap tipis. Langkah kakinya terhenti dua tapak dari tempatku duduk.

Iris mata pekat Mas Darma menatap lurus ke arah jemariku yang gemetar hebat memegang ponsel, lalu beralih menatap raut wajahku yang pucat pasi bagai mayat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perawat Milik Duda Tuan Tanah   Bab 6: Suara di Ujung Telepon

    "Minum dulu tehnya," suara bariton Mas Darma memecah keheningan yang menyiksa di teras Pustu.Aku mematung, menatap nampan kayu yang diulurkannya. Tanganku masih gemetar hebat memegang ponsel yang menampilkan foto jam tangan Mas Reno di akun Instagram Tasya. Dada ini serasa diremas sampai remuk. Rasa penasaran dan sesak yang meluap-luap membakar seluruh naluriku."Terima kasih mas Darma," cicitku dengan suara bergetar, bahkan tak sanggup mendongak menatap wajahnya.Mas Darma meletakkan cangkir itu pelan di atas meja kayu. Sorot mata pekatnya sempat tertahan lama pada raut wajahku yang pucat pasi, namun pria itu memilih memberi ruang dan melangkah mundur dua tapak. "Kalau butuh bantuan , saya ada di sekitar kebun."Begitu langkah kaki Mas Darma menjauh menuruni tangga teras, aku tak sanggup lagi menahan gelombang amarah dan rasa tidak percaya ini. Jemariku yang dingin langsung menekan tombol panggilan ke nomor Mas Reno.Panggilan pertama dialihkan. Ditolak begitu saja."Angkat, Mas...

  • Perawat Milik Duda Tuan Tanah   Bab 5: Pengusiran Terselubung

    Belum kering air mataku di balik tirai bilik medis, suara mesin mobil pikap yang menderu keras berhenti tepat di depan teras Pustu Sukamaju. Sore baru saja merayap, membawa hawa dingin khas pegunungan. Seorang pria asing berkaos lusuh menuruni pikap, menumpuk lima koper besar dan belasan kardus berisi seluruh barang pribadiku dari rumah ku dikota ,mulai dari baju, sepatu, dokumen penting, hingga bingkai foto pernikahan kami."Bu Arini, kan?" tanyanya dengan senyum. "Ini semua barang-barang dari rumah anda di kota disuruh bawa ke sini sama Nyonya Kusuma. Sama ini ada surat resmi dari dinas."Pria itu menyodorkan amplop putih berlogo instansi kesehatan. Dengan jemari gemetar dan jantung berdebar liar, aku merobek amplop itu. Baris demi baris tulisan resmi di dalamnya menghantam mataku....Dengan ini menyatakan bahwa masa pengabdian tugas Perawat Arini di Pustu Sukamaju diperpanjang menjadi 2 (dua) tahun terhitung sejak tanggal surat ini diterbitkan..."Dua... tahun?" cicitku tak percaya

  • Perawat Milik Duda Tuan Tanah   Bab 4: Pengabdian di Tengah Luka

    "Baringkan di ranjang itu mas Darma! Cepat!"Insting perawatku seketika mengambil alih. Tangisan dan rasa bersalah yang sempat meremukkan hatiku menghilang begitu saja, tergantikan oleh fokus medis yang penuh presisi. Aku bergegas merobek bungkus sarung tangan steril dan memasangnya dengan cepat.Mas Darma membaringkan pria paruh baya itu di atas ranjang periksa. Darah segar berwarna merah pekat terus mengucur dari robekan dalam di betis sang pasien, menetes membasahi lantai semen. Rupanya bukan hanya diantar mas darma saja, pria yang rintihannya makin melemah ini juga didampingi seorang pria berkemeja proyek yang panik di belakang Mas Darma."Bantu saya tekan bagian atas lukanya dengan kassa ini, mas!" perintahku tegas tanpa ragu.Tanpa banyak bicara, Mas Darma mendekat. Tangan besarnya yang kekar langsung menekan tumpukan kassa steril tepat di atas pembuluh darah yang robek, menahan pendarahan sesuai intruksiku. Gerakannya sangat sigap dan tenang, sama sekali tidak jijik oleh bau am

  • Perawat Milik Duda Tuan Tanah   Bab 3: Tekanan Mertua

    Pagi menerobos masuk dari celah-celah jendela kayu Pustu Sukamaju, membawa aroma embun berpadu tanah basah. Listrik akhirnya menyala kembali, tetapi kegelapan di dalam dadaku sama sekali belum terhalau. Email dari Ibu Mertuaku semalam tentang makan malam di Restoran Le Ciel dan pujian untuk wanita anggun di samping Mas Reno terus berputar bagai mimpi buruk di kepalaku.Dengan jemari gemetar dan napas tersengal, aku memeluk ponsel di sudut kamar dinas. Aku butuh kepastian. Aku butuh mendengar bahwa semua ini hanya salah paham.Akhirnya aku memberanikan diri menelpon ibu mertuaku. Pada nada sambung ketiga, suara nyaring dan dingin Ibu Mertua menyapa kasar."Ada apa pagi-pagi telepon, Arini? Jangan bilang kamu mau ngeluh lagi soal Pustu!""Bu... maaf mengganggu," ucapku pelan, menelan ludah yang terasa pahit. "Arini cuma mau tanya... soal email keluarga yang Ibu kirim semalam. Tentang makan malam di Le Ciel... dan wanita yang mendampingi Mas Reno."Hening sejenak di seberang sana, sebelu

  • Perawat Milik Duda Tuan Tanah   Bab 2: Duda Pemilik Perkebunan

    "Hey! Jangan main-main, ya?!" teriakku keberanian yang tersisa, memegang erat gagang pintu Pustu.Jemariku meremas pinggiran kayu yang lapuk hingga berbekas kaku. Suara petir yang menyambar di kejauhan menyertai embusan angin dingin yang menampar wajahku. Sosok jangkung bertubuh tegap di ambang teras itu bergerak perlahan, melangkah maju hingga cahaya redup dari layar ponselku menyinari rahangnya yang kokoh."Tenang," suara pria itu berat, dalam, dan teratur. "Saya bukan penjahat."Aku menarik napas memburu, berusaha menyembunyikan getaran di lututku. "Pakai baju serba hitam malam-malam mati lampu begini... gimana saya nggak waspada?!"Pria itu menghentikan langkahnya tepat dua jengkal dari ambang pintu. Aroma pekat tanah dan pucuk teh basah menyengat indra penciumanku, berasal dari jaket kanvas hitam yang ia kenakan."Saya Darma. Pemilik Perkebunan Teh Sukamaju," jawabnya dingin namun lugas. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam iris mataku yang berkaca-kaca. "Pustu ini berdiri d

  • Perawat Milik Duda Tuan Tanah   Bab 1: Ditinggal di Tengah Sunyi

    "Mas... pustunya masih jauh ya?" tanyaku pelan, meremas jemariku sendiri di atas pangkuan.Mas Reno tidak menjawab. Ia tetap fokus menatap jalanan tanah yang licin dan bergelombang. Wajahnya tampak tegang, berkali-kali melirik jam tangan perak di pergelangan kirinya."Mas?" panggilku lagi, kali ini menyentuh lengan kemeja kerjanya."Sebentar lagi arini, jangan rewel , Mas lagi fokus nyetir, kamu gak liat jalannya rusak begini," sahutnya dingin tanpa menoleh sedikit pun.Pintu gerbang kayu lapuk Pustu Sukamaju akhirnya terlihat di ujung penerangan lampu mobil. Bangunan tua bercat putih kusam itu berdiri terisolasi di tepi perkebunan. Gelap gulita. Tidak ada satu pun pendar cahaya yang menyala di sana."Lho, Mas... mati lampu ini, Mas!?" bisikku ketakutan.Mas Reno menghentikan mobil tepat di depan teras Pustu. Ia mematikan mesin, membuat gemuruh hujan dan deru angin makin membahana di dalam kabin."Pedesaan ya begini, listrik sering mati," ucap Mas Reno singkat. Ia menyambar payung di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status