INICIAR SESIÓN"Hey! Jangan main-main, ya?!" teriakku keberanian yang tersisa, memegang erat gagang pintu Pustu.
Jemariku meremas pinggiran kayu yang lapuk hingga berbekas kaku. Suara petir yang menyambar di kejauhan menyertai embusan angin dingin yang menampar wajahku. Sosok jangkung bertubuh tegap di ambang teras itu bergerak perlahan, melangkah maju hingga cahaya redup dari layar ponselku menyinari rahangnya yang kokoh.
"Tenang," suara pria itu berat, dalam, dan teratur. "Saya bukan penjahat."
Aku menarik napas memburu, berusaha menyembunyikan getaran di lututku. "Pakai baju serba hitam malam-malam mati lampu begini... gimana saya nggak waspada?!"
Pria itu menghentikan langkahnya tepat dua jengkal dari ambang pintu. Aroma pekat tanah dan pucuk teh basah menyengat indra penciumanku, berasal dari jaket kanvas hitam yang ia kenakan.
"Saya Darma. Pemilik Perkebunan Teh Sukamaju," jawabnya dingin namun lugas. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam iris mataku yang berkaca-kaca. "Pustu ini berdiri di atas lahan milik perkebunan keluarga saya."
Aku tertegun sejenak. "Mas... maksud saya, Pak Darma?"
"Panggil Darma saja," potongnya singkat. Ia melirik koper bajuku yang tergeletak di lantai kayu, lalu beralih menatap jalanan tanah di luar yang sepi. "Saya melihat mobil yang mengantarmu langsung pergi. Ngebiarin seorang wanita sendirian di bangunan tua ini tanpa pencahayaan... sangat tidak bertanggung jawab."
Dadaku tersentil. Ucapan pria itu seperti menampar kenyataan pahit yang coba kututupi sejak tadi.
"I-itu suami saya," balasku cepat, nada suaraku naik satu oktaf karena refleks membela Mas Reno. "Dia ada rapat penting, jadi dia tidak bisa menginap."
Mas Darma tak langsung membalas. Ia menatapku diam, sorot matanya yang pekat tampak membaca kebohonganku dengan mudah. Tatapan dingin namun intens itu membuat dadaku berdesir asing sebuah sensasi aneh yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
"Urusan apa pun itu, membiarkan istrinya sendirian di malam hari dalam keadan gelap itu menurut saya sangat tidak pantas!" cetus Mas Darma tanpa kompromi. "Desa ini memang relatif aman, tapi wilayah perkebunan di belakang rumah dinas ini sering dilintasi penebang pohon liar saat malam."
Aku hanya bisa terdiam setelah mendengar ucapan Darma yang begitu masuk akal.
"Kunci pintunya dari dalam. Pasang engsel ganda yang ada di balik daun pintu," petunjuk Mas Darma terdengar bariton dan tegas, menuntut kepatuhan tanpa terkesan menggurui. "Besok pagi saya minta kepala dusun memeriksa instalasi listrikmu yang mati."
"Terima kasih mas darma, tapi saya bisa mengurusnya sendiri besok ke kantor desa," jawabku formal, mencoba menegaskan jarak.
Mas Darma mengangkat sedikit alisnya. "Saya tidak bermaksud ikut campur urusan pribadi atau pekerjaanmu di sini, saya hanya memastikan aset perkebunan dan penghuninya tidak tertimpa masalah di tanah saya."
Pria itu memutar tubuhnya, bersiap pergi menembus gerimis yang mulai mereda. Namun, ia menyempatkan diri menoleh sejenak melewati bahunya yang tegap.
"Jangan menyalakan lilin dekat tirai kain. Pakai lampu minyak di atas meja," tambah Mas Darma dingin sebelum akhirnya melangkah pergi, menghilang di telan pekatnya kegelapan perkebunan teh.
Aku terpaku beberapa saat di balik pintu. Desir asing di dadaku masih menyisakan getaran halus. Ketegasan pria bernama Darma itu terasa begitu kontras dengan kelembutan manipulatif yang kerap diberikan Mas Reno.
Brak!
Aku menutup pintu kayu rapat-rapat, memutar engsel ganda seperti yang diinstruksikan Mas Darma. Rumah dinas kembali hening. Bau lengket kayu lapuk beradu dengan kegelapan malam yang menghimpit batin.
Aku berjalan lesu menuju ranjang besi di kamar tidur. Koper kuletakkan begitu saja di sudut ruangan. Kesepian yang amat sangat mendadak merayap naik, menyiksa dadaku hingga terasa sesak. Aku merindukan Mas Reno. Aku butuh suara hangatnya untuk mengusir rasa takut ini.
Dengan jemari gemetar, aku meraih ponsel di saku. Kupilih kontak bernama 'Suamiku Mas Reno' dan menekan tombol panggil.
Tut... Tut... Tut...
Panggilan pertama tak diangkat hingga terputus otomatis. Aku menggigit bibir bawahku, mencoba lagi.
Panggilan dialihkan.
"Mas Reno... angkatlah," bisikku memohon pada layar ponsel yang menyala terang.
Kucoba sekali lagi, berharap suara bariton suamiku membalas di ujung telepon. Namun, yang kudengar hanyalah nada serak dari operator yang memberitahukan bahwa nomor tujuan sedang tidak dapat menerima panggilan.
Panggilanku ditolak secara sengaja.
Air mataku lolos begitu saja menetes ke atas layar kaca ponsel. Rasa diabaikan dan dibuang ke tempat terpencil ini terasa begitu nyata. Kenapa Mas Reno begitu tega mematikan teleponnya? Apakah mengabari istrinya yang ketakutan di desa terpencil butuh waktu berjam-jam?
"Mungkin Mas Reno memang sedang fokus menyetir di jalan ," bisikku meyakinkan diri sendiri, meski hatiku terus meringis menolak alasan itu.
Untuk menenangkan gejolak di dada, aku membuka aplikasi perpesanan. Kucoba memeriksa salinan riwayat percakapan lama dengan Mas Reno, sekadar mencari hiburan dari kata-kata manis yang pernah ia tuliskan untukku.
Namun, saat jari tanganku menyapu layar dan membuka tab penyimpanan berkas dan tangkapan layar akun keluarga termasuk notifikasi sinkronisasi email keluarga yang terhubung dengan ponsel lama Mas Reno yang pernah kupakai sebuah notifikasi pesan baru mendadak muncul di bilah atas layar.
Notifikasi email masuk itu diperuntukkan bagi Mas Reno, namun terbacakan secara otomatis di layar ponselku.
Pesan itu berasal dari nomor kontak Ibu Mertuaku Nyonya Kusuma.
Jemariku membeku. Dengan rasa ingin tahu yang campur adur dengan firasat buruk, aku menekan notifikasi tersebut.
Dari: Ibu Kusuma
Untuk: Reno Kusuma Atmaja
"Gimana acara makan malammu? Jangan lupa ambil dokumentasi yang rapi. Ibu senang kamu akhirnya jalan sama orang yang tepat kelihatan pas dan berkelas mendampingi kamu. Nggak seperti yang sebelumnya, cuma bikin malu.”
Ponsel di genggamanku hampir terluncur jatuh.
Darahku mendadak berhenti mengalir. Napasku tercekat di tenggorokan, sementara mataku membelalak menatap deretan kalimat kejam yang terpampang nyata di depan mataku.
"Makan malam?" cicitku serak, suaranya nyaris tak terdengar ditelan kesunyian kamar Pustu yang dingin.
"Minum dulu tehnya," suara bariton Mas Darma memecah keheningan yang menyiksa di teras Pustu.Aku mematung, menatap nampan kayu yang diulurkannya. Tanganku masih gemetar hebat memegang ponsel yang menampilkan foto jam tangan Mas Reno di akun Instagram Tasya. Dada ini serasa diremas sampai remuk. Rasa penasaran dan sesak yang meluap-luap membakar seluruh naluriku."Terima kasih mas Darma," cicitku dengan suara bergetar, bahkan tak sanggup mendongak menatap wajahnya.Mas Darma meletakkan cangkir itu pelan di atas meja kayu. Sorot mata pekatnya sempat tertahan lama pada raut wajahku yang pucat pasi, namun pria itu memilih memberi ruang dan melangkah mundur dua tapak. "Kalau butuh bantuan , saya ada di sekitar kebun."Begitu langkah kaki Mas Darma menjauh menuruni tangga teras, aku tak sanggup lagi menahan gelombang amarah dan rasa tidak percaya ini. Jemariku yang dingin langsung menekan tombol panggilan ke nomor Mas Reno.Panggilan pertama dialihkan. Ditolak begitu saja."Angkat, Mas...
Belum kering air mataku di balik tirai bilik medis, suara mesin mobil pikap yang menderu keras berhenti tepat di depan teras Pustu Sukamaju. Sore baru saja merayap, membawa hawa dingin khas pegunungan. Seorang pria asing berkaos lusuh menuruni pikap, menumpuk lima koper besar dan belasan kardus berisi seluruh barang pribadiku dari rumah ku dikota ,mulai dari baju, sepatu, dokumen penting, hingga bingkai foto pernikahan kami."Bu Arini, kan?" tanyanya dengan senyum. "Ini semua barang-barang dari rumah anda di kota disuruh bawa ke sini sama Nyonya Kusuma. Sama ini ada surat resmi dari dinas."Pria itu menyodorkan amplop putih berlogo instansi kesehatan. Dengan jemari gemetar dan jantung berdebar liar, aku merobek amplop itu. Baris demi baris tulisan resmi di dalamnya menghantam mataku....Dengan ini menyatakan bahwa masa pengabdian tugas Perawat Arini di Pustu Sukamaju diperpanjang menjadi 2 (dua) tahun terhitung sejak tanggal surat ini diterbitkan..."Dua... tahun?" cicitku tak percaya
"Baringkan di ranjang itu mas Darma! Cepat!"Insting perawatku seketika mengambil alih. Tangisan dan rasa bersalah yang sempat meremukkan hatiku menghilang begitu saja, tergantikan oleh fokus medis yang penuh presisi. Aku bergegas merobek bungkus sarung tangan steril dan memasangnya dengan cepat.Mas Darma membaringkan pria paruh baya itu di atas ranjang periksa. Darah segar berwarna merah pekat terus mengucur dari robekan dalam di betis sang pasien, menetes membasahi lantai semen. Rupanya bukan hanya diantar mas darma saja, pria yang rintihannya makin melemah ini juga didampingi seorang pria berkemeja proyek yang panik di belakang Mas Darma."Bantu saya tekan bagian atas lukanya dengan kassa ini, mas!" perintahku tegas tanpa ragu.Tanpa banyak bicara, Mas Darma mendekat. Tangan besarnya yang kekar langsung menekan tumpukan kassa steril tepat di atas pembuluh darah yang robek, menahan pendarahan sesuai intruksiku. Gerakannya sangat sigap dan tenang, sama sekali tidak jijik oleh bau am
Pagi menerobos masuk dari celah-celah jendela kayu Pustu Sukamaju, membawa aroma embun berpadu tanah basah. Listrik akhirnya menyala kembali, tetapi kegelapan di dalam dadaku sama sekali belum terhalau. Email dari Ibu Mertuaku semalam tentang makan malam di Restoran Le Ciel dan pujian untuk wanita anggun di samping Mas Reno terus berputar bagai mimpi buruk di kepalaku.Dengan jemari gemetar dan napas tersengal, aku memeluk ponsel di sudut kamar dinas. Aku butuh kepastian. Aku butuh mendengar bahwa semua ini hanya salah paham.Akhirnya aku memberanikan diri menelpon ibu mertuaku. Pada nada sambung ketiga, suara nyaring dan dingin Ibu Mertua menyapa kasar."Ada apa pagi-pagi telepon, Arini? Jangan bilang kamu mau ngeluh lagi soal Pustu!""Bu... maaf mengganggu," ucapku pelan, menelan ludah yang terasa pahit. "Arini cuma mau tanya... soal email keluarga yang Ibu kirim semalam. Tentang makan malam di Le Ciel... dan wanita yang mendampingi Mas Reno."Hening sejenak di seberang sana, sebelu
"Hey! Jangan main-main, ya?!" teriakku keberanian yang tersisa, memegang erat gagang pintu Pustu.Jemariku meremas pinggiran kayu yang lapuk hingga berbekas kaku. Suara petir yang menyambar di kejauhan menyertai embusan angin dingin yang menampar wajahku. Sosok jangkung bertubuh tegap di ambang teras itu bergerak perlahan, melangkah maju hingga cahaya redup dari layar ponselku menyinari rahangnya yang kokoh."Tenang," suara pria itu berat, dalam, dan teratur. "Saya bukan penjahat."Aku menarik napas memburu, berusaha menyembunyikan getaran di lututku. "Pakai baju serba hitam malam-malam mati lampu begini... gimana saya nggak waspada?!"Pria itu menghentikan langkahnya tepat dua jengkal dari ambang pintu. Aroma pekat tanah dan pucuk teh basah menyengat indra penciumanku, berasal dari jaket kanvas hitam yang ia kenakan."Saya Darma. Pemilik Perkebunan Teh Sukamaju," jawabnya dingin namun lugas. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam iris mataku yang berkaca-kaca. "Pustu ini berdiri d
"Mas... pustunya masih jauh ya?" tanyaku pelan, meremas jemariku sendiri di atas pangkuan.Mas Reno tidak menjawab. Ia tetap fokus menatap jalanan tanah yang licin dan bergelombang. Wajahnya tampak tegang, berkali-kali melirik jam tangan perak di pergelangan kirinya."Mas?" panggilku lagi, kali ini menyentuh lengan kemeja kerjanya."Sebentar lagi arini, jangan rewel , Mas lagi fokus nyetir, kamu gak liat jalannya rusak begini," sahutnya dingin tanpa menoleh sedikit pun.Pintu gerbang kayu lapuk Pustu Sukamaju akhirnya terlihat di ujung penerangan lampu mobil. Bangunan tua bercat putih kusam itu berdiri terisolasi di tepi perkebunan. Gelap gulita. Tidak ada satu pun pendar cahaya yang menyala di sana."Lho, Mas... mati lampu ini, Mas!?" bisikku ketakutan.Mas Reno menghentikan mobil tepat di depan teras Pustu. Ia mematikan mesin, membuat gemuruh hujan dan deru angin makin membahana di dalam kabin."Pedesaan ya begini, listrik sering mati," ucap Mas Reno singkat. Ia menyambar payung di







