INICIAR SESIÓNPagi menerobos masuk dari celah-celah jendela kayu Pustu Sukamaju, membawa aroma embun berpadu tanah basah. Listrik akhirnya menyala kembali, tetapi kegelapan di dalam dadaku sama sekali belum terhalau. Email dari Ibu Mertuaku semalam tentang makan malam di Restoran Le Ciel dan pujian untuk wanita anggun di samping Mas Reno terus berputar bagai mimpi buruk di kepalaku.
Dengan jemari gemetar dan napas tersengal, aku memeluk ponsel di sudut kamar dinas. Aku butuh kepastian. Aku butuh mendengar bahwa semua ini hanya salah paham.
Akhirnya aku memberanikan diri menelpon ibu mertuaku. Pada nada sambung ketiga, suara nyaring dan dingin Ibu Mertua menyapa kasar.
"Ada apa pagi-pagi telepon, Arini? Jangan bilang kamu mau ngeluh lagi soal Pustu!"
"Bu... maaf mengganggu," ucapku pelan, menelan ludah yang terasa pahit. "Arini cuma mau tanya... soal email keluarga yang Ibu kirim semalam. Tentang makan malam di Le Ciel... dan wanita yang mendampingi Mas Reno."
Hening sejenak di seberang sana, sebelum suara kekehan sinis Nyonya Kusuma meledak, menembus gendang telingaku.
"Astaga, Arini! Jadi kamu malem malem mata-matai email keluarga, segitunya kamu curiga sama suami kamu sendiri?!" bentak Ibu Mertua tanpa ragu. "Kamu ini berani ya berpikir jelek ke suami sendiri! padahal Reno itu kerja banting tulang di kota demi ngasih kamu makan, dan kamu malah berpikiran kotor!"
"Arini tidak bermaksud mencurigai, Bu... Tapi Mas Reno bilang ada rapat investor kantor, tapi kemaren aku malah ngga sengaja liat di dompet mas reno ada nota makan malam dua orang, terus maksud email Ibu…"
"Cukup!" potong Nyonya Kusuma tajam, suaranya naik satu oktaf menembus telepon. "Kamu harusnya ngaca dulu, Arini! Wajar kalau Reno butuh pendamping orang yang pantas di acara penting. Lihat diri kamu sekarang! Cuma perawat desa, kusam, baju rumahan, tidak ada modis-modisnya sama sekali. Kamu itu jauh dari standar wanita kota yang berkelas!"
Sentilan itu menghantam dadaku begitu telak. Air mata panas mulai meleleh membasahi pipiku.
"Lagipula," lanjut Ibu Mertua dengan nada berbangga diri yang sengaja dipamerkan, "Reno sekarang sudah punya staf pribadi baru di kantor! Staf baru ini yang ngurus semua keperluan, jadwal, sampai penampilan Reno di kota supaya selalu rapi dan elegan. Bukan yang kayak kamu cuma bisa nuntut!"
"Staf... staf baru, Bu?" cicitku gagu.
"Udah ah! nggak usah banyak tanya! Fokus aja urus orang sakit di desa itu dan jangan bikin Reno pusing!"
Tut... tut... tut...
Sambungan diputus sepihak. Ponsel di genggamanku hampir terluncur jatuh. Aku terduduk lemas di tepi ranjang besi Pustu. Staf pribadi baru? Wanita anggun di restoran? Bayangan tentang diriku yang kusam dan tidak menarik mendadak memenuhkan kepala. Rasa bersalah dan krisis kepercayaan diri merayap naik, mencengkeram erat batinku. Apakah aku memang istri yang buruk untuk Mas Reno? Apakah aku yang membuat Mas Reno menjauh?
Untuk mengusir sesak yang makin menghimpit, aku memaksakan diri bangkit. Menyambar sapu dan kain lap, aku berjalan ke teras depan Pustu, berusaha melampiaskan rasa sakit hati lewat sapuan kasar di atas lantai semen.
"Assalamu’alaikum, Neng Perawat!"
Sebuah sapaan ramah bersahut-sahutan membuyarkan lamunanku. Aku terperanjat, buru-buru menyeka air mata dengan punggung lengan sebelum berbalik.
Di depan gerbang Pustu, rombongan ibu-ibu desa Sukamaju yang baru saja pulang dari pengajian pagi di masjid berjalan mendekat. Mereka membawa mukena di dalam tas kain dan senyum hangat melingkupi wajah-wajah ramah mereka.
"Wa’alaikumsalam, Ibu-ibu..." jawabku seraya memasang senyum setipis mungkin.
Ibu Entin, salah satu warga desa, melangkah mendekati teras bersama seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat bersahaja namun memancarkan aura anggun dan wibawa yang amat kuat.
"Neng Arini rajin sekali pagi-pagi sudah pegang sapu," ujar Ibu Entin penuh keramahan. "Oya Neng, kenalin... ini Bu Salamah, ibunya Pak Darma pemilik perkebunan teh."
Aku sedikit tertegun. Wanita paruh baya bermukena putih bersih di samping Ibu Entin menyunggingkan senyum yang amat menenangkan. Bu Salamah melangkah menaiki anak tangga teras, menatap wajahku dengan lekat dan lembut.
"Masya Allah... ini perawat baru di Pustu kita?" bisik Hajah Salamah lembut, mengulurkan tangannya yang hangat.
Aku menyambut dan mencium punggung tangannya dengan santun. "Iya ibu, saya Arini."
Bu Salamah menangkup kedua pipiku perlahan. Matanya yang teduh meneliti raut wajahku yang letih dan sedikit sembap.
"Neng Arini ini cantik sekali, ya Allah... Manis, bersih, matanya teduh," puji Bu Salamah tulus tanpa rekayasa. "Desa kita beruntung sekali punya perawat seanggun Neng Arini. Warga sini pasti senang kalau berobat."
"Iya benar, Bu kemarin pas lihat Neng Arini datang, warga langsung cerita kalau perawatnya geulis pisan," timpal Ibu Entin menyetujui.
Pujian tulus dari ibu-ibu desa dan ibunya Mas Darma seketika menampar ingatan atas makian Ibu Mertua beberapa menit lalu. Kusam? Tidak berkelas? Tapi kenapa orang lain justru melihatku dengan penuh kehangatan?
"Ah ibu ibu bisa aja... Saya cuma perawat biasa," cicitku terharu, menahan napas agar air mata tak menetes di depan mereka.
"Kalau ada apa-apa di Pustu, jangan sungkan main ke rumah Ibu di ujung kebun ya, Neng. Darma juga sering bilang Pustu ini harus dijaga baik-baik," kata Bu Salamah mengelus bahuku penuh kasih sayang ibu.
Setelah mengobrol sebentar dan memberikan sedikit kue basah sisa sisa pengajian, rombongan ibu-ibu itu pun pamit pulang menyusuri jalanan tanah perkebunan.
Aku memandangi kepergian mereka dengan dada yang sedikit lebih lapang. Namun, begitu bayangan kehangatan itu berlalu, keheningan Pustu kembali menyergap. Bayangan Mas Reno, nota Le Ciel, dan bentakan Ibu Mertua kembali menyerbu otaku.
Aku melangkah masuk ke ruang tindakan Pustu. Sunyi. Sangat sunyi.
Kehilangan pertahanan, aku menyandarkan tubuh di tepi meja periksa. Tangisku pecah tanpa suara. Bahuku terguncang hebat. Aku meremas dada kemeja perawatku yang sesak oleh keputusasaan dan rasa terbuang.
Kenapa kamu tega banget sama aku, Mas Reno? Kenapa Ibu benci banget sam aku...?
Brak!
Pintu depan Pustu didobrak kasar dari luar, memecah tangisku seketika.
"Arini! Tolong! Siapkan bangsal periksa!"
Suara bariton Mas Darma bergema keras, sarat akan kepanikan yang amat jarang terdengar dari pria tenang itu.
Aku terperanjat mundur, menyeka air mata secara acak dan bergegas berlari ke ruang depan.
Di ambang pintu, Mas Darma berdiri dengan napas memburu. Kemeja kanvas cokelat yang dikenakannya bersimbah darah segar di bagian dada dan lengan. Di dalam dekapan tangannya yang tegap dan berotot, ia sedang memapah seorang pemetik teh paruh baya yang terkulai lemas dengan luka sabetan tajam di bagian paha yang terus mengucurkan darah pekat.
"Mas Darma?! Astaga, kenapa ini?!" pekikku tertahan, rasa profesionalismeku langsung mengambil alih panik.
"Kecelakaan kerja di celah jurang kebun, kakinya kena mesin pemotong rumput!" tegas Mas Darma, matanya yang tajam menatapku penuh urgensi di tengah lumuran darah. "Cepat, Arini! Dia bisa kehabisan banyak darah!"
"Minum dulu tehnya," suara bariton Mas Darma memecah keheningan yang menyiksa di teras Pustu.Aku mematung, menatap nampan kayu yang diulurkannya. Tanganku masih gemetar hebat memegang ponsel yang menampilkan foto jam tangan Mas Reno di akun Instagram Tasya. Dada ini serasa diremas sampai remuk. Rasa penasaran dan sesak yang meluap-luap membakar seluruh naluriku."Terima kasih mas Darma," cicitku dengan suara bergetar, bahkan tak sanggup mendongak menatap wajahnya.Mas Darma meletakkan cangkir itu pelan di atas meja kayu. Sorot mata pekatnya sempat tertahan lama pada raut wajahku yang pucat pasi, namun pria itu memilih memberi ruang dan melangkah mundur dua tapak. "Kalau butuh bantuan , saya ada di sekitar kebun."Begitu langkah kaki Mas Darma menjauh menuruni tangga teras, aku tak sanggup lagi menahan gelombang amarah dan rasa tidak percaya ini. Jemariku yang dingin langsung menekan tombol panggilan ke nomor Mas Reno.Panggilan pertama dialihkan. Ditolak begitu saja."Angkat, Mas...
Belum kering air mataku di balik tirai bilik medis, suara mesin mobil pikap yang menderu keras berhenti tepat di depan teras Pustu Sukamaju. Sore baru saja merayap, membawa hawa dingin khas pegunungan. Seorang pria asing berkaos lusuh menuruni pikap, menumpuk lima koper besar dan belasan kardus berisi seluruh barang pribadiku dari rumah ku dikota ,mulai dari baju, sepatu, dokumen penting, hingga bingkai foto pernikahan kami."Bu Arini, kan?" tanyanya dengan senyum. "Ini semua barang-barang dari rumah anda di kota disuruh bawa ke sini sama Nyonya Kusuma. Sama ini ada surat resmi dari dinas."Pria itu menyodorkan amplop putih berlogo instansi kesehatan. Dengan jemari gemetar dan jantung berdebar liar, aku merobek amplop itu. Baris demi baris tulisan resmi di dalamnya menghantam mataku....Dengan ini menyatakan bahwa masa pengabdian tugas Perawat Arini di Pustu Sukamaju diperpanjang menjadi 2 (dua) tahun terhitung sejak tanggal surat ini diterbitkan..."Dua... tahun?" cicitku tak percaya
"Baringkan di ranjang itu mas Darma! Cepat!"Insting perawatku seketika mengambil alih. Tangisan dan rasa bersalah yang sempat meremukkan hatiku menghilang begitu saja, tergantikan oleh fokus medis yang penuh presisi. Aku bergegas merobek bungkus sarung tangan steril dan memasangnya dengan cepat.Mas Darma membaringkan pria paruh baya itu di atas ranjang periksa. Darah segar berwarna merah pekat terus mengucur dari robekan dalam di betis sang pasien, menetes membasahi lantai semen. Rupanya bukan hanya diantar mas darma saja, pria yang rintihannya makin melemah ini juga didampingi seorang pria berkemeja proyek yang panik di belakang Mas Darma."Bantu saya tekan bagian atas lukanya dengan kassa ini, mas!" perintahku tegas tanpa ragu.Tanpa banyak bicara, Mas Darma mendekat. Tangan besarnya yang kekar langsung menekan tumpukan kassa steril tepat di atas pembuluh darah yang robek, menahan pendarahan sesuai intruksiku. Gerakannya sangat sigap dan tenang, sama sekali tidak jijik oleh bau am
Pagi menerobos masuk dari celah-celah jendela kayu Pustu Sukamaju, membawa aroma embun berpadu tanah basah. Listrik akhirnya menyala kembali, tetapi kegelapan di dalam dadaku sama sekali belum terhalau. Email dari Ibu Mertuaku semalam tentang makan malam di Restoran Le Ciel dan pujian untuk wanita anggun di samping Mas Reno terus berputar bagai mimpi buruk di kepalaku.Dengan jemari gemetar dan napas tersengal, aku memeluk ponsel di sudut kamar dinas. Aku butuh kepastian. Aku butuh mendengar bahwa semua ini hanya salah paham.Akhirnya aku memberanikan diri menelpon ibu mertuaku. Pada nada sambung ketiga, suara nyaring dan dingin Ibu Mertua menyapa kasar."Ada apa pagi-pagi telepon, Arini? Jangan bilang kamu mau ngeluh lagi soal Pustu!""Bu... maaf mengganggu," ucapku pelan, menelan ludah yang terasa pahit. "Arini cuma mau tanya... soal email keluarga yang Ibu kirim semalam. Tentang makan malam di Le Ciel... dan wanita yang mendampingi Mas Reno."Hening sejenak di seberang sana, sebelu
"Hey! Jangan main-main, ya?!" teriakku keberanian yang tersisa, memegang erat gagang pintu Pustu.Jemariku meremas pinggiran kayu yang lapuk hingga berbekas kaku. Suara petir yang menyambar di kejauhan menyertai embusan angin dingin yang menampar wajahku. Sosok jangkung bertubuh tegap di ambang teras itu bergerak perlahan, melangkah maju hingga cahaya redup dari layar ponselku menyinari rahangnya yang kokoh."Tenang," suara pria itu berat, dalam, dan teratur. "Saya bukan penjahat."Aku menarik napas memburu, berusaha menyembunyikan getaran di lututku. "Pakai baju serba hitam malam-malam mati lampu begini... gimana saya nggak waspada?!"Pria itu menghentikan langkahnya tepat dua jengkal dari ambang pintu. Aroma pekat tanah dan pucuk teh basah menyengat indra penciumanku, berasal dari jaket kanvas hitam yang ia kenakan."Saya Darma. Pemilik Perkebunan Teh Sukamaju," jawabnya dingin namun lugas. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam iris mataku yang berkaca-kaca. "Pustu ini berdiri d
"Mas... pustunya masih jauh ya?" tanyaku pelan, meremas jemariku sendiri di atas pangkuan.Mas Reno tidak menjawab. Ia tetap fokus menatap jalanan tanah yang licin dan bergelombang. Wajahnya tampak tegang, berkali-kali melirik jam tangan perak di pergelangan kirinya."Mas?" panggilku lagi, kali ini menyentuh lengan kemeja kerjanya."Sebentar lagi arini, jangan rewel , Mas lagi fokus nyetir, kamu gak liat jalannya rusak begini," sahutnya dingin tanpa menoleh sedikit pun.Pintu gerbang kayu lapuk Pustu Sukamaju akhirnya terlihat di ujung penerangan lampu mobil. Bangunan tua bercat putih kusam itu berdiri terisolasi di tepi perkebunan. Gelap gulita. Tidak ada satu pun pendar cahaya yang menyala di sana."Lho, Mas... mati lampu ini, Mas!?" bisikku ketakutan.Mas Reno menghentikan mobil tepat di depan teras Pustu. Ia mematikan mesin, membuat gemuruh hujan dan deru angin makin membahana di dalam kabin."Pedesaan ya begini, listrik sering mati," ucap Mas Reno singkat. Ia menyambar payung di







