Separuh wajah Devi Wangsa membengkak dan lebam kebiruan. Tubuhnya ditekan paksa ke kursi besi yang dingin. Teriakan perempuan itu masih memekakkan telinga. "Dasar pelakor! Masih berani goda suami orang! Dipukuli sampai mati pun pantas!"Devi menatap tajam ke arah luar pintu. Suaminya, Reihan Akbar, sedang bersandar di pintu mobil. Di balik kepulan asap rokok di ujung jarinya, tampak wajah tampan yang mampu memikat siapa saja. Tadi, saat rambutnya dijambak dan tubuhnya diseret di tengah jalan, pria itu berada di lantai atas. Kini, saat dia meringkuk penuh luka di kantor polisi, pria itu hanya melirik sekilas. Tatapannya seolah menatap orang asing, lalu dengan suara dingin, dia memberi instruksi pada asistennya."Kalian saja yang urus."Setelah Devi selesai memberikan keterangan dan keluar, mobil Reihan sudah lebih dulu pergi. Dengan satu mata yang bengkak, dia bertanya, "Reihan mana?"Asisten itu mengerutkan kening, nada suaranya sedikit tak sabar, "Pak Reihan … sedang sibuk.""Urus
Read More