Share

Bab 2

Author: Yuni
Semua orang menganggap Devi sebagai wanita gila yang terobsesi ingin menikah dengan pria kaya.

Tidak tahu malu dan tak punya harga diri.

Bahkan buku nikahnya dengan Reihan pun dikunci rapat oleh Keluarga Akbar.

Dia tak bisa membuktikannya dan tak ada satu pun orang yang percaya.

Dia hanyalah sebuah bidak catur.

Di luar vila, sinar matahari begitu menyilaukan. Dengan asistennya yang berusaha menutupi keberadaannya, Devi masuk ke dalam sebuah Maybach yang tidak mencolok.

Reihan duduk dengan kaki bersilang, menunduk menatap dokumen di tangannya tanpa sedikit pun mengangkat kepala.

Suaranya terdengar jengkel.

"Devi, aku ini sibuk banget. Bisa nggak kamu jangan bikin masalah terus? Aku benar-benar nggak punya waktu buat mengurus jaminanmu lagi."

Bukankah semua ini justru terjadi karena dia?

Devi terkekeh, tiba-tiba rasa lelah yang luar biasa menyelimutinya.

"Reihan, ayo kita cerai."

Mendengar itu, Reihan akhirnya mendongak, menatap wajah Devi dengan datar.

Secara naluriah, Devi memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan rasa malunya dan penampilannya yang kini berantakan.

Reihan meletakkan berkasnya, dahinya berkerut. Nada suaranya terdengar dingin dan kaku.

"Kok jadi begini lagi? Bukannya sudah kubilang, kalau keluar rumah jangan sampai kelihatan wajahmu?"

Tatapannya penuh celaan, tak ada secercah pun rasa iba atau kasih sayang untuknya.

Hati Devi seketika mendingin sepenuhnya.

Melihat Reihan yang kini begitu tinggi dan berkuasa, Devi merasa begitu linglung sampai-sampai sulit memercayainya.

Apakah ini Reihan yang sama, yang dulu menemaninya makan mi instan di pinggir jalan sambil jongkok, bahkan kuahnya pun dihabiskan sampai tetes terakhir?

Dengan pikiran yang masih kacau, Devi membuka suara.

"Reihan, aku bilang, aku mau cerai!"

Pria itu menatap ke luar jendela, raut wajahnya tak terbaca, tetapi bunyi 'prak' saat dia menutup berkasnya terdengar agak terlalu keras.

"Devi, kamu cuma lagi capek. Pulang sana istirahat yang benar. Jangan keras kepala terus."

Tangan Devi berlumuran darah. Reihan sempat mengulurkan tangan hendak menghiburnya, tetapi hanya menghela napas lalu menarik tangannya kembali.

Pria itu jijik melihatnya. Sungguh memalukan!

"Mandi air hangat, nanti juga baikan. Jangan rewel lagi, ya."

Devi sudah berkali-kali mengalah dan kini rasa lelah itu benar-benar mencekiknya. Ujung jarinya secara naluriah menyentuh gagang pintu mobil.

"Reihan, kamu sudah berubah. Sama sekali nggak kayak dulu lagi. Sekarang bahkan aku nggak ngerti lagi sebenarnya kamu maunya apa ...."

Kata-kata itu seolah menyentuh titik sensitif Reihan. Raut wajah pria itu seketika dipenuhi amarah. Dia langsung menoleh dan menatap Devi tajam.

"Berubah, berubah, berubah! Tiap hari kamu bilang aku berubah, nggak kayak dulu lagi. Itu semua demi siapa, hah? Masa kamu mau balik lagi hidup melarat kayak tikus got?"

"Devi, coba lihat diri kamu sekarang. Semua yang kamu punya sekarang, mana yang bukan pemberianku? Kamu cuma perlu menahan diri sebentar aja, masa begitu aja nggak sanggup? Gimana mau jadi nyonya Keluarga Akbar kalau begini!"

"Kalau gitu, aku nggak mau jadi Nyonya Akbar!" Devi berteriak lantang. Setelah kata-kata itu keluar, dia hampir kehabisan tenaga, suaranya parau dipenuhi keputusasaan.

Namun, Reihan tak menangkap makna tersembunyi di baliknya. Dia hanya menganggap wanita itu sedang keras kepala dan manja.

"Brak!" Dia membanting pintu mobil dan turun.

Begitu turun dari mobil, Devi melihat Rida berdiri di depan vila. Reihan tertegun seketika, dan tatapan matanya seketika melembut.

"Kok kamu ke sini? Di luar dingin, lho."

"Kalian habis berantem, ya? Apa gara-gara wawancara hari ini?"

"Maaf ya, Nona Devi. Tadi wartawannya agak cerdik, jadi mau nggak mau aku harus gandeng tangan Reihan. Jangan marah, ya."

Rida melangkah maju, dengan tatapan bersalah menggenggam tangan Devi.

Sikapnya anggun, sopan, dan tampak sangat pengertian.

Devi merasa rendah diri. Secara naluriah, dia menarik tangannya, lalu diam-diam menyeka noda darah yang berantakan di belakang punggungnya.

"Nona Rida, ini bukan urusanmu. Kamu nggak perlu minta maaf!"

"Nona Devi, mana bisa begitu. Reihan 'kan priamu. Aku udah 'nempel' sama dia selama ini aja udah merasa bersalah. Kalau sampai kalian berantem gara-gara aku, aku pasti lebih sedih lagi."

Devi tersenyum, lalu menggeleng pelan dengan getir.

"Nona Rida, setelah ini nggak akan ada lagi. Aku udah mutusin buat cerai."

Mata Rida berkilat terkejut.

Reihan yang tadinya membelakangi tiba-tiba menoleh tajam. Amarahnya seolah memuncak, suaranya sedingin es, mengucapkan setiap kata dengan penekanan.

"Devi, jangan ngawur!"

Namun, Devi Wangsa terus menatapnya, suaranya hampir tercekat, "Aku nggak ngawur, aku cuma mau ...."

Belum selesai bicara, Reihan mendengus, sudut bibirnya terangkat, nada suaranya penuh ejekan.

"Baiklah! Devi, kamu emang nggak tahu diri. Oke! Kembalikan semua yang udah aku kasih, baru aku mau cerai!"

Devi tertegun. "Maksud kamu apa?"

"Udah kubilang, semua yang kamu punya itu milikku. Kalau mau balikin, ya kita cerai. Mulai dari yang nempel di badan kamu dulu, satu per satu. Nggak boleh ada yang tertinggal."

Melihat Devi ragu, sudut bibir Reihan menyungging seringai yang makin sinis. "Gimana? Nggak rela? Jangan lupa, siapa yang selama ini nanggung hidupmu."

Rida meraih lengan Devi, menatap Reihan dengan tatapan tak percaya.

"Cukup, Reihan! Kok bisa-bisanya kamu ngomong sekejam itu!"

"Kamu nggak usah campur. Biar dia buka semuanya, bukannya dia sendiri yang mau pergi?"

Air mata yang sejak tadi ditahan Devi akhirnya tumpah.

Tas mewah di tangannya jatuh menghantam lantai. Dengan tangan gemetar, dia mulai membuka kancing kerah bajunya satu per satu.

....

Hingga kemeja terakhirnya jatuh ke lantai, dia berdiri di tengah terpaan angin dingin musim dingin, hanya mengenakan pakaian dalam.

Ujung jarinya perlahan bergerak menuju tali pakaian dalamnya.

Reihan menggertakkan gigi dan memejamkan mata sejenak, lalu membentak keras, "Cukup! Dua baju itu anggap aja sedekah. Rida, ayo kita pergi!"

Setelah itu, Reihan menarik tangan Rida dan menghilang ke dalam kegelapan malam tanpa menoleh sekali pun.

Devi perlahan berjongkok di tanah, air matanya bercucuran deras.

'Reihan, kalau yang kamu cintai memang Rida.'

'Maka aku akan melepaskanmu.'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Bunga Cinta Layu, Barulah Kau Berkata Cinta   Bab 17

    Reihan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, lalu tiba-tiba menghadang di depan Devi. Sementara itu, Leon berlari cepat menghampiri dan langsung melindungi Devi dalam pelukannya. "Plak!"Sebuah tamparan keras mendarat telak di wajah Reihan.Seketika, darah segar muncrat dari hidungnya. Ditambah lagi dengan lebih dari dua ratus pukulan tongkat yang baru saja dia terima, matanya memerah, dan dia menggertakkan gigi sambil mengancam."Jangan ada yang nyentuh dia!"Selanjutnya, seluruh tubuhnya ambruk jatuh ke lantai.Ruang perjamuan seketika menjadi kacau balau. Untungnya, ada yang sudah menghubungi rumah sakit lebih awal, sehingga ambulans segera tiba.Bagas mengikuti ambulans tersebut. Saat menatap Devi, tatapannya begitu kejam seolah-olah berlumur racun.Devi masih belum pulih dari keterkejutannya. Leon menggandeng tangannya dan membimbingnya masuk ke dalam mobil.Jari-jarinya mengerat, lalu dia menghibur dengan suara yang lembut."Nggak apa-apa, Devi. Ini bukan salah kamu. Ayo kita

  • Saat Bunga Cinta Layu, Barulah Kau Berkata Cinta   Bab 16

    Kali ini, Devi akhirnya bisa berdiri dengan percaya diri di bawah sorotan lampu, tanpa perlu menghindari tatapan aneh dari orang lain, tanpa perlu menanggung sinisme dingin dari Keluarga Akbar, dan lebih-lebih lagi tanpa harus disembunyikan oleh Reihan yang tidak berani mengakui identitasnya.Dulu, dia bahkan tidak punya hak untuk hadir di perjamuan Keluarga Akbar.Bahkan saat ulang tahun Reihan, Devi hanya bisa menonton dari jauh saat pria itu menggandeng tangan Rida dan memotong kue perayaan.Setiap momen kebahagiaan sekecil apa pun bersama Reihan harus bergantung pada sikap Keluarga Akbar. Dia harus selalu berhati-hati, seolah-olah dirinya benar-benar seorang pencuri yang merebut cinta orang lain—sungguh menyedihkan. Namun kini, dia melangkah di atas karpet merah, ujung gaun mewahnya menyapu cahaya bintang, kalung mutiara memancarkan cahaya lembut di lehernya, bagaikan terlahir kembali.Layaknya seorang sosialita anggun yang sejati.Menghadapi para tokoh terkemuka yang menghadiri p

  • Saat Bunga Cinta Layu, Barulah Kau Berkata Cinta   Bab 15

    Devi berhenti dan menoleh. Di tengah tatapan semua orang, dia menampar keras wajah Reihan.Dia menatapnya dengan tenang, sorot matanya menyiratkan kebencian yang samar."Kamu nggak bisa lepas dari kemewahan dan kekayaan Keluarga Akbar. Jangan lempar kesalahan ke orang lain. Ini semua pilihan kamu sendiri.""Jangan lupa, perjanjiannya kamu yang tanda tangan sendiri!"Dalam sekejap, seluruh ruangan menjadi hening. Reihan terpaku di tempat, seolah tersambar petir.Devi telah membongkar niat paling busuk yang selama ini dia sembunyikan.Dia ingin mempertahankan kekuasaan Keluarga Akbar, sekaligus ingin tetap memiliki ketulusan hati Devi.Pada akhirnya, dia kehilangan keduanya. Menyedihkan sekaligus konyol."Cekrek!" Keheningan tiba-tiba pecah oleh suara kamera para wartawan. Suasana seketika memanas. Sejumlah media langsung menyerbu dan bertubi-tubi melontarkan pertanyaan kepada Reihan. "Pak Reihan, jadi, apa yang dikatakan wanita ini benar?""Transaksi memalukan apa yang sebenarnya Anda

  • Saat Bunga Cinta Layu, Barulah Kau Berkata Cinta   Bab 14

    Membaca berita wawancara yang dibumbui berlebihan oleh media, wajah Reihan sangat kelam hingga tampak mengerikan. Namun, setelah dipikir lagi, makin besar keributannya justru makin bagus.Makin banyak orang yang memperhatikan, makin kuat pula serangan balik yang akan dia lancarkan, dan para tetua keras kepala itu akan makin tidak memiliki celah untuk berkelit.Dia sudah muak hidup di bawah kendali dan ancaman orang lain.Sudah saatnya dia bertindak.Sementara itu, Devi pun melihat berita tersebut.Dia diam-diam merapikan berkas. Ujung jarinya sempat berhenti di atas berita-berita itu, lalu dia menggeser layar begitu saja.Tepat pada saat itu, seorang rekan kerja datang memanggilnya dan memintanya pergi ke ruang CEO.Devi mendorong pintu dan masuk. Leon sedang bersandar di kursinya. Di antara jari-jarinya masih terselip sebatang rokok yang belum dinyalakan. Ruas-ruas jarinya terlihat tegas, sementara jam tangan di pergelangan tangannya memancarkan kilau logam yang mencolok, dingin seka

  • Saat Bunga Cinta Layu, Barulah Kau Berkata Cinta   Bab 13

    Karena Leon sengaja menyembunyikannya, Reihan sama sekali tidak tahu di mana Devi tinggal.Tak punya pilihan lain, dia terpaksa mendatangi Grup Mahatma.Dia mengenakan setelan jas rapi, berdiri di depan gedung sambil memeluk seikat besar bunga mawar.Matahari begitu terik, tetapi dia tetap berdiri tegak tanpa beranjak sedikit pun selama lebih dari tiga jam.Karena auranya yang menonjol, dia tak pelak menarik perhatian banyak karyawan, yang beramai-ramai menebak-nebak apa tujuan bos Grup Akbar ini melalui jendela."Bukannya itu Tuan Muda Grup Akbar, Reihan? Dia ngapain ke kantor kita? Jangan-jangan lagi ngejar istrinya?""Ah, ngawur. Tunangan orang Grup Akbar 'kan putri Keluarga Mahatma, nggak ada hubungannya sama perusahaan kita. Kayaknya sih lagi mau ngurus bisnis sama Pak Leon?""Siapa juga yang ngurus bisnis sambil bawa seikat gede bunga mawar berdiri di bawah gedung? Udah gila kali!"Mendengar percakapan itu, Devi yang sedang memeluk setumpuk berkas, diam-diam menatap sosok Reihan

  • Saat Bunga Cinta Layu, Barulah Kau Berkata Cinta   Bab 12

    Mata Reihan membelalak. Dia bahkan sempat mengira dirinya salah lihat. Secara naluriah, dia mengucek matanya, dan akhirnya menyadari bahwa sosok yang berdiri di hadapannya benar-benar Devi. Berarti, dialah "orang yang paling disayang" yang dimaksud oleh Leon."Devi, kok kamu bisa ada di sini? Bukannya kamu harusnya di rumah?"Tak disangka, Devi sama sekali tidak terlihat terkejut dengan kehadiran Reihan.Raut wajahnya dingin, dia angkat bicara dengan tenang."Berkat kebaikan Pak Reihan, aku nggak mati di vila Keluarga Akbar. Pasti ngecewain harapan kamu, ya?"Reihan tampak sangat bingung, seolah-olah dia tidak mengerti satu patah kata pun dari apa yang dikatakan Devi.Bagaimana mungkin wanita itu mati di Keluarga Akbar? Bukankah Devi adalah orang yang paling dia pedulikan?"Devi, kamu ngomong apa sih? Aku nggak ngerti. Sini, ikut aku pulang."Tindakan yang dia harapkan tidak terjadi. Devi tidak lagi bersikap seperti dulu, yang cukup dibujuk sedikit saja saat dia marah.Sebaliknya, wa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status