LOGINReihan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, lalu tiba-tiba menghadang di depan Devi. Sementara itu, Leon berlari cepat menghampiri dan langsung melindungi Devi dalam pelukannya. "Plak!"Sebuah tamparan keras mendarat telak di wajah Reihan.Seketika, darah segar muncrat dari hidungnya. Ditambah lagi dengan lebih dari dua ratus pukulan tongkat yang baru saja dia terima, matanya memerah, dan dia menggertakkan gigi sambil mengancam."Jangan ada yang nyentuh dia!"Selanjutnya, seluruh tubuhnya ambruk jatuh ke lantai.Ruang perjamuan seketika menjadi kacau balau. Untungnya, ada yang sudah menghubungi rumah sakit lebih awal, sehingga ambulans segera tiba.Bagas mengikuti ambulans tersebut. Saat menatap Devi, tatapannya begitu kejam seolah-olah berlumur racun.Devi masih belum pulih dari keterkejutannya. Leon menggandeng tangannya dan membimbingnya masuk ke dalam mobil.Jari-jarinya mengerat, lalu dia menghibur dengan suara yang lembut."Nggak apa-apa, Devi. Ini bukan salah kamu. Ayo kita
Kali ini, Devi akhirnya bisa berdiri dengan percaya diri di bawah sorotan lampu, tanpa perlu menghindari tatapan aneh dari orang lain, tanpa perlu menanggung sinisme dingin dari Keluarga Akbar, dan lebih-lebih lagi tanpa harus disembunyikan oleh Reihan yang tidak berani mengakui identitasnya.Dulu, dia bahkan tidak punya hak untuk hadir di perjamuan Keluarga Akbar.Bahkan saat ulang tahun Reihan, Devi hanya bisa menonton dari jauh saat pria itu menggandeng tangan Rida dan memotong kue perayaan.Setiap momen kebahagiaan sekecil apa pun bersama Reihan harus bergantung pada sikap Keluarga Akbar. Dia harus selalu berhati-hati, seolah-olah dirinya benar-benar seorang pencuri yang merebut cinta orang lain—sungguh menyedihkan. Namun kini, dia melangkah di atas karpet merah, ujung gaun mewahnya menyapu cahaya bintang, kalung mutiara memancarkan cahaya lembut di lehernya, bagaikan terlahir kembali.Layaknya seorang sosialita anggun yang sejati.Menghadapi para tokoh terkemuka yang menghadiri p
Devi berhenti dan menoleh. Di tengah tatapan semua orang, dia menampar keras wajah Reihan.Dia menatapnya dengan tenang, sorot matanya menyiratkan kebencian yang samar."Kamu nggak bisa lepas dari kemewahan dan kekayaan Keluarga Akbar. Jangan lempar kesalahan ke orang lain. Ini semua pilihan kamu sendiri.""Jangan lupa, perjanjiannya kamu yang tanda tangan sendiri!"Dalam sekejap, seluruh ruangan menjadi hening. Reihan terpaku di tempat, seolah tersambar petir.Devi telah membongkar niat paling busuk yang selama ini dia sembunyikan.Dia ingin mempertahankan kekuasaan Keluarga Akbar, sekaligus ingin tetap memiliki ketulusan hati Devi.Pada akhirnya, dia kehilangan keduanya. Menyedihkan sekaligus konyol."Cekrek!" Keheningan tiba-tiba pecah oleh suara kamera para wartawan. Suasana seketika memanas. Sejumlah media langsung menyerbu dan bertubi-tubi melontarkan pertanyaan kepada Reihan. "Pak Reihan, jadi, apa yang dikatakan wanita ini benar?""Transaksi memalukan apa yang sebenarnya Anda
Membaca berita wawancara yang dibumbui berlebihan oleh media, wajah Reihan sangat kelam hingga tampak mengerikan. Namun, setelah dipikir lagi, makin besar keributannya justru makin bagus.Makin banyak orang yang memperhatikan, makin kuat pula serangan balik yang akan dia lancarkan, dan para tetua keras kepala itu akan makin tidak memiliki celah untuk berkelit.Dia sudah muak hidup di bawah kendali dan ancaman orang lain.Sudah saatnya dia bertindak.Sementara itu, Devi pun melihat berita tersebut.Dia diam-diam merapikan berkas. Ujung jarinya sempat berhenti di atas berita-berita itu, lalu dia menggeser layar begitu saja.Tepat pada saat itu, seorang rekan kerja datang memanggilnya dan memintanya pergi ke ruang CEO.Devi mendorong pintu dan masuk. Leon sedang bersandar di kursinya. Di antara jari-jarinya masih terselip sebatang rokok yang belum dinyalakan. Ruas-ruas jarinya terlihat tegas, sementara jam tangan di pergelangan tangannya memancarkan kilau logam yang mencolok, dingin seka
Karena Leon sengaja menyembunyikannya, Reihan sama sekali tidak tahu di mana Devi tinggal.Tak punya pilihan lain, dia terpaksa mendatangi Grup Mahatma.Dia mengenakan setelan jas rapi, berdiri di depan gedung sambil memeluk seikat besar bunga mawar.Matahari begitu terik, tetapi dia tetap berdiri tegak tanpa beranjak sedikit pun selama lebih dari tiga jam.Karena auranya yang menonjol, dia tak pelak menarik perhatian banyak karyawan, yang beramai-ramai menebak-nebak apa tujuan bos Grup Akbar ini melalui jendela."Bukannya itu Tuan Muda Grup Akbar, Reihan? Dia ngapain ke kantor kita? Jangan-jangan lagi ngejar istrinya?""Ah, ngawur. Tunangan orang Grup Akbar 'kan putri Keluarga Mahatma, nggak ada hubungannya sama perusahaan kita. Kayaknya sih lagi mau ngurus bisnis sama Pak Leon?""Siapa juga yang ngurus bisnis sambil bawa seikat gede bunga mawar berdiri di bawah gedung? Udah gila kali!"Mendengar percakapan itu, Devi yang sedang memeluk setumpuk berkas, diam-diam menatap sosok Reihan
Mata Reihan membelalak. Dia bahkan sempat mengira dirinya salah lihat. Secara naluriah, dia mengucek matanya, dan akhirnya menyadari bahwa sosok yang berdiri di hadapannya benar-benar Devi. Berarti, dialah "orang yang paling disayang" yang dimaksud oleh Leon."Devi, kok kamu bisa ada di sini? Bukannya kamu harusnya di rumah?"Tak disangka, Devi sama sekali tidak terlihat terkejut dengan kehadiran Reihan.Raut wajahnya dingin, dia angkat bicara dengan tenang."Berkat kebaikan Pak Reihan, aku nggak mati di vila Keluarga Akbar. Pasti ngecewain harapan kamu, ya?"Reihan tampak sangat bingung, seolah-olah dia tidak mengerti satu patah kata pun dari apa yang dikatakan Devi.Bagaimana mungkin wanita itu mati di Keluarga Akbar? Bukankah Devi adalah orang yang paling dia pedulikan?"Devi, kamu ngomong apa sih? Aku nggak ngerti. Sini, ikut aku pulang."Tindakan yang dia harapkan tidak terjadi. Devi tidak lagi bersikap seperti dulu, yang cukup dibujuk sedikit saja saat dia marah.Sebaliknya, wa







