Short
Saat Bunga Cinta Layu, Barulah Kau Berkata Cinta

Saat Bunga Cinta Layu, Barulah Kau Berkata Cinta

Oleh:  YuniTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
17Bab
18Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Lima tahun menikah, ini adalah kali ke-199 Devi Wangsa dipukuli hingga harus berurusan dengan polisi karena dituduh sebagai pelakor. Saat seseorang datang untuk menjaminnya, wajah Devi sudah penuh goresan kuku dan bercak darah. Sebagian rambutnya tercabut paksa hingga kulit kepalanya yang masih berdarah terlihat jelas, membuatnya tampak mengenaskan. Rasa sakit itu memaksanya menitikkan air mata, tetapi lama-kelamaan dia justru mati rasa. Dia duduk diam di kursi, perlahan mengurai rambutnya yang menggumpal oleh darah kental. Sampai akhirnya, seorang polisi menyerahkan selembar berkas ke tangannya dan memberitahunya bahwa dia sudah boleh pergi. Baru kemudian Devi perlahan mengangkat wajahnya. Dan benar saja, orang yang datang menjaminnya bukanlah suaminya, Reihan Akbar.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Separuh wajah Devi Wangsa membengkak dan lebam kebiruan. Tubuhnya ditekan paksa ke kursi besi yang dingin.

Teriakan perempuan itu masih memekakkan telinga. "Dasar pelakor! Masih berani goda suami orang! Dipukuli sampai mati pun pantas!"

Devi menatap tajam ke arah luar pintu. Suaminya, Reihan Akbar, sedang bersandar di pintu mobil. Di balik kepulan asap rokok di ujung jarinya, tampak wajah tampan yang mampu memikat siapa saja.

Tadi, saat rambutnya dijambak dan tubuhnya diseret di tengah jalan, pria itu berada di lantai atas.

Kini, saat dia meringkuk penuh luka di kantor polisi, pria itu hanya melirik sekilas. Tatapannya seolah menatap orang asing, lalu dengan suara dingin, dia memberi instruksi pada asistennya.

"Kalian saja yang urus."

Setelah Devi selesai memberikan keterangan dan keluar, mobil Reihan sudah lebih dulu pergi.

Dengan satu mata yang bengkak, dia bertanya, "Reihan mana?"

Asisten itu mengerutkan kening, nada suaranya sedikit tak sabar, "Pak Reihan … sedang sibuk."

"Urusan apa yang lebih penting daripada istri sendiri dipukuli hingga harus masuk kantor polisi?"

Pria itu ragu sejenak, tetapi tetap menjawab, "Pak Reihan harus menemani Nyonya Rida...."

Mendengar itu, Devi menundukkan pandangannya, lalu tersenyum penuh ironi.

Nyonya Rida?

Jadi, Rida Gautama lah yang selama ini dianggap sebagai nyonya Keluarga Akbar oleh mereka?

Sedangkan dirinya? Dia bukan siapa-siapa.

Saat ini, Devi benar-benar menyesali keputusan yang dibuatnya lima tahun lalu.

Lima tahun lalu, dia dan Reihan telah saling mencintai sejak muda, saling memahami dan menjadi tempat bergantung satu sama lain.

Devi adalah anak yatim piatu, sementara Reihan tumbuh di keluarga orang tua tunggal.

Karena sama-sama tidak memiliki keluarga yang utuh, anak-anak di lingkungan tempat tinggal mereka selalu mengucilkan Reihan dan Devi.

Alhasil, mereka hanya bisa saling menemani. Kebersamaan itu berlangsung selama sepuluh tahun, dari sekadar saling bergantung hingga akhirnya saling mencintai.

Hingga lima tahun lalu, istri orang terkaya di Kota Haidar tewas dalam kecelakaan mobil. Ibu Reihan tiba-tiba menggenggam tangan putranya dan mengungkapkan sebuah rahasia.

"Reihan, kamu adalah putra kandung Bagas Akbar. Kamu harus pulang."

Seketika itu juga, Reihan berubah status menjadi satu-satunya pewaris Grup Akbar.

Namun, satu-satunya syarat Keluarga Akbar untuk menerimanya kembali adalah dia harus menikah dengan putri Grup Gautama demi memperkuat posisi perusahaan.

Demi Devi, Reihan menolak mentah-mentah. Dia berlutut di depan gerbang Keluarga Akbar, membiarkan dirinya terguyur hujan selama tiga hari hingga tubuhnya menggigil dan mengalami pneumonia berat, tetapi tetap bersikukuh menolak pernikahan omong kosong itu.

Dia pernah berjanji. "Devi, satu-satunya wanita yang akan kunikahi seumur hidup ini adalah kamu. Aku nggak akan pernah menerima wanita itu!"

Setelah itu, Reihan menegakkan punggung dan menerima seratus pukulan hukuman keluarga. Tubuhnya dipukuli hingga berlumuran darah.

Melihat putra tunggalnya menderita, hati Bagas akhirnya luluh. Dia mengizinkan Reihan menikahi Devi, tetapi pernikahan itu hanya boleh dilakukan secara diam-diam.

Secara resmi, tunangan Reihan tetaplah Rida Gautama.

Nama Devi baru boleh disandingkan dengan nama Reihan setelah pria itu benar-benar memegang kendali penuh atas perusahaan.

"Devi, tunggu aku, ya. Aku janji nggak akan mengecewakanmu."

Hati Devi tersentuh oleh ketulusan Reihan. Devi pun mengangguk pelan, air mata menetes di pipinya.

Namun setelah menikah, dia seolah menjadi tikus got yang harus bersembunyi di dalam kegelapan.

Bahkan menggandeng tangan Reihan saja sudah menjadi kemewahan yang mustahil.

Seiring dengan makin gencarnya Grup Akbar menggembar-gemborkan kisah cinta abad ini yang mereka rekayasa untuk Reihan dan Rida, publik pun makin memujanya.

Suatu kali, saat Devi dan Reihan pergi keluar dan diam-diam bergandengan tangan, Devi malah dituduh sebagai pelakor.

Makian, fitnah, dan hujatan pun datang bertubi-tubi.

Namun, Reihan tetap memilih bungkam. Kalimat yang paling sering dia ucapkan hanyalah.

"Tunggu sedikit lagi ya, Devi. Tunggu sampai aku pegang kendali perusahaan. Nanti aku bakal umumkan pernikahan kita. Semua penderitaan yang kamu alami bakal aku tebus, ya?"

Namun, penantian itu ternyata berlangsung selama lima tahun.

Devi selalu meyakini, selama Reihan masih mencintainya, dia yang tak punya kuasa maupun kedudukan hanya perlu menanggung semua ini dalam diam. Dengan begitu, dia bisa membantu Reihan dan bertahan sampai hari ketika semuanya akhirnya menjadi terang.

Hingga akhirnya, beberapa waktu lalu, dia tak sengaja menemukan sebuah undangan pernikahan berwarna merah menyala di laci meja Reihan.

Mempelai pria: [Reihan Akbar].

Mempelai wanita: [Rida Gautama].

Di bawah undangan itu, terselip sebuah dokumen pewarisan saham.

Ternyata, Reihan sudah lama memegang kendali penuh atas Grup Akbar, dan wanita yang benar-benar ingin dinikahinya adalah Rida.

Keyakinan yang selama ini Devi genggam erat diam-diam runtuh, meninggalkan luka besar di hatinya hingga membuatnya sesak napas.

Setelah keluar dari ruang kerja Reihan dengan pikiran kacau, dia berdiri di depan layar raksasa di pinggir jalan, mendongak menonton tayangan ulang wawancara Reihan dan Rida.

Pria itu tampan, dingin, dan berkelas, sementara wanita itu lembut dan memesona. Mereka benar-benar pasangan yang serasi.

Devi hanya bisa berdiri dalam bayang-bayang, memandang dengan rendah diri pada betapa serasi dan selarasnya mereka.

Betapa konyolnya!

Seorang pejalan kaki menabraknya hingga kacamata hitamnya terjatuh. Seseorang mengenali dirinya sebagai "pelakor" tak tahu malu yang pernah datang ke kantor Reihan beberapa waktu lalu.

"Wajah ini kok familier banget, ya? Kayaknya sih pelakor nggak tahu malu yang dulu pernah ketahuan ngejar-ngejar CEO Grup Akbar."

"Masih berani ke sini? Mau bikin ulah lagi nih. Hajar aja si jalang ini!"

Sebuah tamparan mendarat telak dan tak terduga di wajah Devi. Dia terhuyung beberapa langkah, mencengkeram tali tasnya erat-erat sambil mencoba membela diri.

"Bukan, akulah istri sah Reihan ...."

"Dasar jalang! Masih ngelantur aja. Kamu pikir kamu siapa, berani-beraninya mengincar suami orang!"

Beberapa wanita yang tersulut emosi itu langsung mengeroyoknya, menjatuhkan Devi ke tanah, menindihnya, lalu dengan ganas menarik-narik rambutnya dan menamparnya bertubi-tubi.

Kuku-kuku mereka dengan kejam menggores kulit pucatnya, mencakar hingga menusuk ke daging.

Lantai terasa begitu dingin, tubuhnya begitu nyeri, dan hatinya pun seolah ikut tercabik, perih menusuk.

"Dasar jalang, coba ngomong lagi kalau kamu istri Pak Reihan, aku sobek mulutmu!"

Teringat pada undangan pernikahan yang menyilaukan mata itu dan surat pewarisan saham.

Devi tiba-tiba menyerah dan berhenti melawan. Dia terbaring pasrah di tanah, mati rasa menerima pukulan demi pukulan, sementara air mata terus mengalir di pipinya.

"Iya, aku bukan istri Reihan!"

"Maaf, aku salah!"

Satu jam kemudian, beberapa wanita itu diseret ke kantor polisi. Begitu melihat Devi, petugas polisi menatapnya dengan tatapan merendahkan.

"Kok dia lagi? Gila, terobsesi banget ingin jadi nyonya orang kaya. Tiap hari dipukuli karena dianggap pelakor. Benar-benar nggak habis pikir."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
17 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status