MasukLima tahun menikah, ini adalah kali ke-199 Devi Wangsa dipukuli hingga harus berurusan dengan polisi karena dituduh sebagai pelakor. Saat seseorang datang untuk menjaminnya, wajah Devi sudah penuh goresan kuku dan bercak darah. Sebagian rambutnya tercabut paksa hingga kulit kepalanya yang masih berdarah terlihat jelas, membuatnya tampak mengenaskan. Rasa sakit itu memaksanya menitikkan air mata, tetapi lama-kelamaan dia justru mati rasa. Dia duduk diam di kursi, perlahan mengurai rambutnya yang menggumpal oleh darah kental. Sampai akhirnya, seorang polisi menyerahkan selembar berkas ke tangannya dan memberitahunya bahwa dia sudah boleh pergi. Baru kemudian Devi perlahan mengangkat wajahnya. Dan benar saja, orang yang datang menjaminnya bukanlah suaminya, Reihan Akbar.
Lihat lebih banyakReihan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, lalu tiba-tiba menghadang di depan Devi. Sementara itu, Leon berlari cepat menghampiri dan langsung melindungi Devi dalam pelukannya. "Plak!"Sebuah tamparan keras mendarat telak di wajah Reihan.Seketika, darah segar muncrat dari hidungnya. Ditambah lagi dengan lebih dari dua ratus pukulan tongkat yang baru saja dia terima, matanya memerah, dan dia menggertakkan gigi sambil mengancam."Jangan ada yang nyentuh dia!"Selanjutnya, seluruh tubuhnya ambruk jatuh ke lantai.Ruang perjamuan seketika menjadi kacau balau. Untungnya, ada yang sudah menghubungi rumah sakit lebih awal, sehingga ambulans segera tiba.Bagas mengikuti ambulans tersebut. Saat menatap Devi, tatapannya begitu kejam seolah-olah berlumur racun.Devi masih belum pulih dari keterkejutannya. Leon menggandeng tangannya dan membimbingnya masuk ke dalam mobil.Jari-jarinya mengerat, lalu dia menghibur dengan suara yang lembut."Nggak apa-apa, Devi. Ini bukan salah kamu. Ayo kita
Kali ini, Devi akhirnya bisa berdiri dengan percaya diri di bawah sorotan lampu, tanpa perlu menghindari tatapan aneh dari orang lain, tanpa perlu menanggung sinisme dingin dari Keluarga Akbar, dan lebih-lebih lagi tanpa harus disembunyikan oleh Reihan yang tidak berani mengakui identitasnya.Dulu, dia bahkan tidak punya hak untuk hadir di perjamuan Keluarga Akbar.Bahkan saat ulang tahun Reihan, Devi hanya bisa menonton dari jauh saat pria itu menggandeng tangan Rida dan memotong kue perayaan.Setiap momen kebahagiaan sekecil apa pun bersama Reihan harus bergantung pada sikap Keluarga Akbar. Dia harus selalu berhati-hati, seolah-olah dirinya benar-benar seorang pencuri yang merebut cinta orang lain—sungguh menyedihkan. Namun kini, dia melangkah di atas karpet merah, ujung gaun mewahnya menyapu cahaya bintang, kalung mutiara memancarkan cahaya lembut di lehernya, bagaikan terlahir kembali.Layaknya seorang sosialita anggun yang sejati.Menghadapi para tokoh terkemuka yang menghadiri p
Devi berhenti dan menoleh. Di tengah tatapan semua orang, dia menampar keras wajah Reihan.Dia menatapnya dengan tenang, sorot matanya menyiratkan kebencian yang samar."Kamu nggak bisa lepas dari kemewahan dan kekayaan Keluarga Akbar. Jangan lempar kesalahan ke orang lain. Ini semua pilihan kamu sendiri.""Jangan lupa, perjanjiannya kamu yang tanda tangan sendiri!"Dalam sekejap, seluruh ruangan menjadi hening. Reihan terpaku di tempat, seolah tersambar petir.Devi telah membongkar niat paling busuk yang selama ini dia sembunyikan.Dia ingin mempertahankan kekuasaan Keluarga Akbar, sekaligus ingin tetap memiliki ketulusan hati Devi.Pada akhirnya, dia kehilangan keduanya. Menyedihkan sekaligus konyol."Cekrek!" Keheningan tiba-tiba pecah oleh suara kamera para wartawan. Suasana seketika memanas. Sejumlah media langsung menyerbu dan bertubi-tubi melontarkan pertanyaan kepada Reihan. "Pak Reihan, jadi, apa yang dikatakan wanita ini benar?""Transaksi memalukan apa yang sebenarnya Anda
Membaca berita wawancara yang dibumbui berlebihan oleh media, wajah Reihan sangat kelam hingga tampak mengerikan. Namun, setelah dipikir lagi, makin besar keributannya justru makin bagus.Makin banyak orang yang memperhatikan, makin kuat pula serangan balik yang akan dia lancarkan, dan para tetua keras kepala itu akan makin tidak memiliki celah untuk berkelit.Dia sudah muak hidup di bawah kendali dan ancaman orang lain.Sudah saatnya dia bertindak.Sementara itu, Devi pun melihat berita tersebut.Dia diam-diam merapikan berkas. Ujung jarinya sempat berhenti di atas berita-berita itu, lalu dia menggeser layar begitu saja.Tepat pada saat itu, seorang rekan kerja datang memanggilnya dan memintanya pergi ke ruang CEO.Devi mendorong pintu dan masuk. Leon sedang bersandar di kursinya. Di antara jari-jarinya masih terselip sebatang rokok yang belum dinyalakan. Ruas-ruas jarinya terlihat tegas, sementara jam tangan di pergelangan tangannya memancarkan kilau logam yang mencolok, dingin seka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.