Share

Bab 4

Author: Yuni
Dulu, dia menelan semua sakit hati dan amarah demi cinta yang dia kira begitu berharga. Dia bahkan mengorbankan nama baik dan kesuciannya.

Namun Reihan ternyata tidak mencintainya. Kalau begitu, untuk apa dia terus menyiksa dirinya sendiri?

Setelah taksi berhenti, Devi baru saja membuka pintu ketika dia melihat sosok Reihan.

Tatapan mereka bertemu. Raut wajah Devi yang kuyu dan lelah tertangkap oleh mata Reihan, dan sikap pria itu pun tanpa sadar melunak.

Dengan suara berat, pria itu menjelaskan.

"Foto-foto itu bakal aku beresin."

Devi tersenyum tanpa berkata apa-apa.

Pasti yang Reihan maksud dengan "mengurusnya" hanyalah menurunkan popularitas berita itu, lalu membiarkan semua orang perlahan melupakannya seiring berjalannya waktu, sampai akhirnya kejadian ini hanya menjadi bahan obrolan yang terlupakan.

Lalu, bagaimana dengan Devi?

Dia tetap saja "pelakor" yang tidak bisa diakui di depan umum, 'kan?

Semua cemoohan dan fitnah itu masih akan tertancap di hatinya seperti ujung pisau, meninggalkan luka yang tak akan pernah benar-benar hilang, bukan?

"Kalau cuma mau nurunin trending topik dan hapus beritanya, mending nggak usah. Aku mau ke sana buat jelasin kalau aku bukan perempuan murahan, bukan pelakor nggak tahu malu."

"Aku mau buktiin aku nggak bersalah!"

Begitu kata-katanya selesai, Reihan langsung melangkah cepat dan mencengkeram pergelangan tangan Devi dengan keras.

Tatapan lembutnya barusan seketika berubah dingin membeku.

"Devi, hubungan kita belum bisa dibuka ke publik. Bisa nggak kamu ngertiin aku sebentar? Jangan bikin ulah lagi!"

Dia menatap balik pria itu. "Bikin ulah? Sampai detik ini, kamu masih nganggep aku yang bikin ulah?" Matanya tak hanya memancarkan ketidakpercayaan, tetapi juga kepahitan yang menyedihkan.

Ternyata, pria itu tak pernah benar-benar peduli pada kesedihan dan keputusasaannya.

Semua yang telah dia lalui, di mata Reihan yang kini begitu tinggi dan berkuasa, ternyata tak ada artinya sama sekali.

Luka di kulit kepalanya yang baru saja diperban beberapa waktu lalu kini kembali berdenyut nyeri, membuatnya gemetar pelan.

Namun, Reihan hanya mengerutkan kening, lalu memberi perintah dengan nada dingin.

"Pokoknya, kamu harus nunggu sebentar lagi!"

Seketika, beberapa pengawal menyerbu dan mencengkeram kedua lengan Devi, lalu memasukkannya secara paksa ke dalam mobil.

Dia ingin memberontak, ingin melepaskan diri dari lumpur yang makin dalam menenggelamkannya.

Namun, dia terlalu lemah dan tak berdaya.

Satu jam kemudian, dia dihempaskan ke atas tempat tidur. Reihan membanting pintu hingga berbunyi 'brak', lalu langsung menguncinya.

Secara naluriah, Devi hendak melarikan diri, tetapi seseorang langsung menariknya dengan kasar dan dilemparkan kembali.

Ujung mata Reihan memerah. Dengan kasar, dia mengurung Devi di antara kedua lengannya, lalu mencium bibirnya dengan keras dan panas, memaksa membuka bibirnya tanpa memberi kesempatan untuk menghindar.

"Hiss ...." Reihan mendesis saat Devi menggigit bibirnya dengan keras, hingga tercium rasa amis darah.

Bukannya marah, pria itu malah menyeringai, tatapannya menusuk dingin.

"Devi, dulu kamu nurut banget. Belakangan ini kenapa sih? Kamu emang sengaja maksa aku pakai kekerasan, ya?"

Devi menatap lurus ke dalam sepasang mata yang dingin dan lelah itu, rasa perih menyengat di pangkal hidungnya.

Namun, dia tidak menangis. Dia tidak mau menunjukkan kelemahannya.

"Reihan, aku udah muak, oke? Drama suami istri rahasia sekaligus wanita simpanan di depan publik ini ... Aku udah nggak mau menjalani semua ini lagi."

Reihan menatap lekat mata Devi yang berkaca-kaca, lalu setelah beberapa saat, dia mendengus dingin.

"Devi, aku udah ngasih kamu banyak hal. Sekarang baru nyesel? Sudah terlambat. Sekarang, semuanya bukan lagi terserah kamu."

Rahangnya yang kaku perlahan mendekat, menenggelamkan seluruh perlawanan Devi dalam embusan napas yang panas.

Dengan gerakan cepat, dia membalikkan pinggul wanita itu, lalu menerjang masuk bagai badai yang mengamuk.

Tak memberi Devi sedikit pun kesempatan untuk bernapas.

Setelah gairah yang menggila itu mereda, Reihan keluar dari kamar mandi, mengenakan setelan jasnya, dan kembali menjadi sosok angkuh serta dingin seperti sedia kala.

Seolah-olah pria yang baru saja begitu ganas menuntutnya hingga nyaris menelannya hidup-hidup itu bukanlah dirinya.

"Nurut aja. Mau nggak mau, kamu harus nunggu. Ngerti?"

Brak!

Ruangan kembali diselimuti keheningan.

Devi bangkit perlahan untuk membersihkan dirinya yang berantakan, tetapi samar-samar dia mendengar percakapan pelan di luar pintu.

"Pak Reihan, masalah Nona Devi, benaran nggak akan ditangani?"

Pria itu menjentikkan abu rokok dari ujung jarinya, nada suaranya terdengar nyaris acuh tak acuh.

"Biarkan aja. Makin kotor citranya, makin bagus!"

"Sebarkan semua foto-foto itu. Naikkan lagi jadi berita utama."

"Tapi ... apa ini nggak terlalu kejam untuk Nona Devi? Selama lima tahun ini, dia sudah banyak menderita gara-gara masalah ini!"

Hening sejenak, lalu dia mendengar helaan napas pasrah dari Reihan.

"Cuma cara ini yang bisa melindunginya dengan aman. Udah, nggak usah banyak omong. Lakuin aja sesuai perintahku."

Ternyata .... "Reihan, selama bertahun-tahun ini, aku difitnah, dicemooh, dan terus-menerus dihina, semuanya gara-gara kamu?!"

Devi perlahan menyandarkan punggungnya ke dinding. Dadanya terasa nyeri, napasnya sesak.

Dia tak pernah menyangka, demi melindungi Rida, Reihan bisa sampai tega melakukan ini. Rela memanfaatkannya untuk membuka jalan bagi Rida dan menciptakan skandal!

Kenangan indah masa muda mereka, kini hancur berkeping-keping di hati Devi.

"Reihan, tega sekali kamu!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Bunga Cinta Layu, Barulah Kau Berkata Cinta   Bab 17

    Reihan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, lalu tiba-tiba menghadang di depan Devi. Sementara itu, Leon berlari cepat menghampiri dan langsung melindungi Devi dalam pelukannya. "Plak!"Sebuah tamparan keras mendarat telak di wajah Reihan.Seketika, darah segar muncrat dari hidungnya. Ditambah lagi dengan lebih dari dua ratus pukulan tongkat yang baru saja dia terima, matanya memerah, dan dia menggertakkan gigi sambil mengancam."Jangan ada yang nyentuh dia!"Selanjutnya, seluruh tubuhnya ambruk jatuh ke lantai.Ruang perjamuan seketika menjadi kacau balau. Untungnya, ada yang sudah menghubungi rumah sakit lebih awal, sehingga ambulans segera tiba.Bagas mengikuti ambulans tersebut. Saat menatap Devi, tatapannya begitu kejam seolah-olah berlumur racun.Devi masih belum pulih dari keterkejutannya. Leon menggandeng tangannya dan membimbingnya masuk ke dalam mobil.Jari-jarinya mengerat, lalu dia menghibur dengan suara yang lembut."Nggak apa-apa, Devi. Ini bukan salah kamu. Ayo kita

  • Saat Bunga Cinta Layu, Barulah Kau Berkata Cinta   Bab 16

    Kali ini, Devi akhirnya bisa berdiri dengan percaya diri di bawah sorotan lampu, tanpa perlu menghindari tatapan aneh dari orang lain, tanpa perlu menanggung sinisme dingin dari Keluarga Akbar, dan lebih-lebih lagi tanpa harus disembunyikan oleh Reihan yang tidak berani mengakui identitasnya.Dulu, dia bahkan tidak punya hak untuk hadir di perjamuan Keluarga Akbar.Bahkan saat ulang tahun Reihan, Devi hanya bisa menonton dari jauh saat pria itu menggandeng tangan Rida dan memotong kue perayaan.Setiap momen kebahagiaan sekecil apa pun bersama Reihan harus bergantung pada sikap Keluarga Akbar. Dia harus selalu berhati-hati, seolah-olah dirinya benar-benar seorang pencuri yang merebut cinta orang lain—sungguh menyedihkan. Namun kini, dia melangkah di atas karpet merah, ujung gaun mewahnya menyapu cahaya bintang, kalung mutiara memancarkan cahaya lembut di lehernya, bagaikan terlahir kembali.Layaknya seorang sosialita anggun yang sejati.Menghadapi para tokoh terkemuka yang menghadiri p

  • Saat Bunga Cinta Layu, Barulah Kau Berkata Cinta   Bab 15

    Devi berhenti dan menoleh. Di tengah tatapan semua orang, dia menampar keras wajah Reihan.Dia menatapnya dengan tenang, sorot matanya menyiratkan kebencian yang samar."Kamu nggak bisa lepas dari kemewahan dan kekayaan Keluarga Akbar. Jangan lempar kesalahan ke orang lain. Ini semua pilihan kamu sendiri.""Jangan lupa, perjanjiannya kamu yang tanda tangan sendiri!"Dalam sekejap, seluruh ruangan menjadi hening. Reihan terpaku di tempat, seolah tersambar petir.Devi telah membongkar niat paling busuk yang selama ini dia sembunyikan.Dia ingin mempertahankan kekuasaan Keluarga Akbar, sekaligus ingin tetap memiliki ketulusan hati Devi.Pada akhirnya, dia kehilangan keduanya. Menyedihkan sekaligus konyol."Cekrek!" Keheningan tiba-tiba pecah oleh suara kamera para wartawan. Suasana seketika memanas. Sejumlah media langsung menyerbu dan bertubi-tubi melontarkan pertanyaan kepada Reihan. "Pak Reihan, jadi, apa yang dikatakan wanita ini benar?""Transaksi memalukan apa yang sebenarnya Anda

  • Saat Bunga Cinta Layu, Barulah Kau Berkata Cinta   Bab 14

    Membaca berita wawancara yang dibumbui berlebihan oleh media, wajah Reihan sangat kelam hingga tampak mengerikan. Namun, setelah dipikir lagi, makin besar keributannya justru makin bagus.Makin banyak orang yang memperhatikan, makin kuat pula serangan balik yang akan dia lancarkan, dan para tetua keras kepala itu akan makin tidak memiliki celah untuk berkelit.Dia sudah muak hidup di bawah kendali dan ancaman orang lain.Sudah saatnya dia bertindak.Sementara itu, Devi pun melihat berita tersebut.Dia diam-diam merapikan berkas. Ujung jarinya sempat berhenti di atas berita-berita itu, lalu dia menggeser layar begitu saja.Tepat pada saat itu, seorang rekan kerja datang memanggilnya dan memintanya pergi ke ruang CEO.Devi mendorong pintu dan masuk. Leon sedang bersandar di kursinya. Di antara jari-jarinya masih terselip sebatang rokok yang belum dinyalakan. Ruas-ruas jarinya terlihat tegas, sementara jam tangan di pergelangan tangannya memancarkan kilau logam yang mencolok, dingin seka

  • Saat Bunga Cinta Layu, Barulah Kau Berkata Cinta   Bab 13

    Karena Leon sengaja menyembunyikannya, Reihan sama sekali tidak tahu di mana Devi tinggal.Tak punya pilihan lain, dia terpaksa mendatangi Grup Mahatma.Dia mengenakan setelan jas rapi, berdiri di depan gedung sambil memeluk seikat besar bunga mawar.Matahari begitu terik, tetapi dia tetap berdiri tegak tanpa beranjak sedikit pun selama lebih dari tiga jam.Karena auranya yang menonjol, dia tak pelak menarik perhatian banyak karyawan, yang beramai-ramai menebak-nebak apa tujuan bos Grup Akbar ini melalui jendela."Bukannya itu Tuan Muda Grup Akbar, Reihan? Dia ngapain ke kantor kita? Jangan-jangan lagi ngejar istrinya?""Ah, ngawur. Tunangan orang Grup Akbar 'kan putri Keluarga Mahatma, nggak ada hubungannya sama perusahaan kita. Kayaknya sih lagi mau ngurus bisnis sama Pak Leon?""Siapa juga yang ngurus bisnis sambil bawa seikat gede bunga mawar berdiri di bawah gedung? Udah gila kali!"Mendengar percakapan itu, Devi yang sedang memeluk setumpuk berkas, diam-diam menatap sosok Reihan

  • Saat Bunga Cinta Layu, Barulah Kau Berkata Cinta   Bab 12

    Mata Reihan membelalak. Dia bahkan sempat mengira dirinya salah lihat. Secara naluriah, dia mengucek matanya, dan akhirnya menyadari bahwa sosok yang berdiri di hadapannya benar-benar Devi. Berarti, dialah "orang yang paling disayang" yang dimaksud oleh Leon."Devi, kok kamu bisa ada di sini? Bukannya kamu harusnya di rumah?"Tak disangka, Devi sama sekali tidak terlihat terkejut dengan kehadiran Reihan.Raut wajahnya dingin, dia angkat bicara dengan tenang."Berkat kebaikan Pak Reihan, aku nggak mati di vila Keluarga Akbar. Pasti ngecewain harapan kamu, ya?"Reihan tampak sangat bingung, seolah-olah dia tidak mengerti satu patah kata pun dari apa yang dikatakan Devi.Bagaimana mungkin wanita itu mati di Keluarga Akbar? Bukankah Devi adalah orang yang paling dia pedulikan?"Devi, kamu ngomong apa sih? Aku nggak ngerti. Sini, ikut aku pulang."Tindakan yang dia harapkan tidak terjadi. Devi tidak lagi bersikap seperti dulu, yang cukup dibujuk sedikit saja saat dia marah.Sebaliknya, wa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status