Bibi Shea, yang sejak kecil sudah biasa kupanggil dengan sebutan “Bibi”, muncul di depan pintu sambil membawa sepanci sup iga yang masih mengepul. Di belakangnya, Frans juga ikut datang sambil membawa beberapa piring lauk.“Mita sudah pulang!”Begitu melihatku, mata Bibi Shea langsung memerah. Dia meletakkan panci sup di atas meja, lalu menarik tanganku dan mengamati dari atas sampai bawah.“Kurus sekali, wajahmu juga kelihatan tidak sehat. Selama di luar sana, kamu tidak makan dengan baik, ya?”Hidungku terasa perih. Aku hanya bisa memanggilnya, “Bibi.”Bibi Shea menepuk punggung tanganku dengan penuh rasa sayang, “Yang penting kamu sudah pulang. Rumahmu di sini.”Dia sibuk menata meja di halaman dan bersikeras melihatku makan lebih banyak sebelum merasa tenang.Sambil terus menyendokkan lauk ke mangkukku, dia tidak henti-hentinya mengomel, “Lihat, kurus sekali. Harus makan lebih banyak.”Frans duduk di samping dengan kaki disilangkan. Mulutnya mengeluh karena ibunya terlalu banyak bi
Ler mais