Share

Bab 6

Penulis: Singo
Felly mencibir, “Jika dulu aku tidak pergi, memangnya sekarang kamu bisa mendapatkan tempatku?”

Aku tidak ingin bertengkar dengannya lagi dan berkata dengan tenang, “Jika kamu ingin kembali ke cinta lamamu, aku tidak keberatan. Lagi pula, tidak ada yang akan merebutnya darimu.”

“Aku mendoakan kalian dengan tulus. Semoga kalian yang saling mencintai akhirnya bisa bersama.”

Andrew menatapku, tanpa sadar alisnya sedikit berkerut. Mungkin dia tidak menyangka aku akan setenang ini.

Selama ini meskipun kami jarang bertengkar, aku selalu menjadi orang yang lebih dulu memerah matanya.

Tetapi sekarang aku berdiri di hadapannya dengan nada bicara yang bahkan lebih tenang darinya. Seolah-olah sedang membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku.

Andrew menatapku selama beberapa detik. Kemudian nada suaranya tiba-tiba melunak, dan melangkah sedikit ke arahku.

“Mita.”

Felly yang berada di belakangnya tiba-tiba menarik lengan bajunya dengan lembut.

“Andrew, kepalaku pusing sekali. Tadi saat jatuh, sepertinya bagian belakang kepalaku terbentur ….”

Tubuhnya bergoyang, lalu perlahan bersandar ke arah Andrew.

Langkah yang baru saja diambil Andrew langsung berhenti. Dia refleks mengulurkan tangan untuk menopangnya.

Andrew melirikku, “Aku akan mengantarnya ke rumah sakit.”

Aku menatap punggung mereka yang perlahan menghilang di ujung koridor. Kepala Felly bersandar di bahu Andrew, tetapi langkahnya tetap stabil.

Saat melihat punggung mereka, aku justru merasa bersyukur. Setidaknya aku masih bisa pergi, bukan terjebak selamanya dalam sebuah pernikahan.

Beberapa hari kemudian, Andrew mengirimkan rancangan baru acara pernikahan melalui email.

Berbeda jauh dari rancangan yang kubuat sebelumnya. Lautan bunga mawar yang romantis, nuansa pink yang manis, semuanya adalah elemen yang paling disukai Felly.

[Mita, apakah kamu keberatan dengan konsep ini? Jika tidak ada masalah, kita pakai yang ini saja ….]

Konsep yang sebelumnya kubuat adalah pesta di halaman rumput terbuka dengan nuansa putih dan hijau, sederhana dan bersih.

Di meja dessert harus ada tiramisu kesukaannya. Area registrasi tamu dihiasi bunga kering yang diawetkan. Aku bahkan menulis tiga versi janji pernikahan.

Seluruh rancangan itu kusiapkan selama 2 bulan ….

Sekarang semuanya dibatalkan. Diganti dengan apa yang disukai Felly. Hubunganku dengan Andrew selama 5 tahun akhirnya sampai di titik ini.

Aku hanya merasa sangat tidak berarti, lalu membalas tanpa ekspresi.

[Terserah ….]

[Kalau tidak suka, kamu bisa berterus terang ….]

[Aku tidak keberatan ….]

Lagipula, ini bukan pernikahanku.

Mungkin Andrew merasa sedikit bersalah.

[Mita, aku sudah terlalu banyak berutang pada Felly. Sekarang aku hanya sedang menebusnya ….]

[Gaun pengantinmu juga sudah kuambil kembali. Lain kali jangan merajuk lagi ….]

[Aku janji, setelah kita menikah, aku akan memperlakukanmu dengan baik sepenuh hati dan memutuskan hubungan dengannya ….]

Benarkah? Aku tidak percaya.

Hari pernikahan pun tiba.

Aku sudah membereskan barang-barangku dan duduk di ruang tunggu bandara. Pesawatku akan berangkat 40 menit lagi.

Akun media sosial Felly baru saja memperbarui unggahannya 8 menit yang lalu.

Dia berdiri di samping sebuah gapura, wajahnya terlihat dari samping dan tidak menghadap kamera.

Dia mengenakan gaun panjang berwarna terang. Riasannya sangat cantik, sementara anting yang dikenakannya bergoyang pelan.

Caption-nya berbunyi ….

[Dia menikah. Pengantinnya bukan aku ….]

[Tetapi semua bunga ini adalah warna yang kusukai ….]

[Sulit menjelaskan perasaanku. Mungkin seperti sedih karena ternyata masih diingat ….]

Kolom komentarnya sudah dipenuhi ratusan komentar.

[Tidak usah datang, Kak. Kenapa harus menyiksa diri sendiri?]

[Pria ini kenapa sih? Pernikahannya malah dihias sesuai kesukaan mantan?]

[Kasihan. Cepat pergi dari sana ….]

Dia membalas salah satu komentar.

[Aku tidak bisa pergi. Aku sudah berjanji padanya untuk menjadi bridesmaid hari ini. Anggap saja ini hal terakhir yang kulakukan untuknya ….]

Aku membaca balasan itu, lalu tiba-tiba tersenyum. Aku mengunci ponsel dan memasukkannya ke dalam tas.

Pengumuman terdengar dari pengeras suara, memberitahukan bahwa penumpang sudah dipersilakan untuk naik ke pesawat.

Aku mengambil koper dan berdiri.

Andrew, aku tidak akan ikut campur lagi kisah cinta antara dirimu dan cinta pertamamu. Semoga di kehidupan ini, kita tidak perlu bertemu lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kota Brooklyn Tanpa Hujan Lama   Bab 21

    Andrew berdiri di bagian paling luar kerumunan, menatap panggung dari kejauhan di balik kepala orang-orang yang berlalu-lalang.Frans yang berdiri di sampingku juga melihatnya. Tubuhnya sempat menegang sesaat, hampir tidak terlihat. Namun tidak lama kemudian, dia menggenggam tanganku lebih erat.Tatapan Andrew jatuh kepadaku, lalu beralih ke tangan kami yang saling menggenggam.Seluruh tubuhnya seperti terkena pukulan ringan. Bahunya sedikit berguncang, tetapi dia tetap tidak pergi.Sepasang mata yang dulu begitu tenang dan dingin itu, kini perlahan dipenuhi kilau air mata.Dia melihatku mengenakan gaun pengantin … melihat jari-jari Frans yang sedikit gemetar saat memasangkan cincin ke jariku … melihat Frans yang matanya memerah tetapi mati-matian menahan air mata ... juga melihat keakraban yang mengalir begitu alami ketika aku tersenyum dan merapikan dasinya.Semua yang dulu pernah menjadi miliknya, dia sendiri yang mendorongnya pergi. Kini semuanya telah menjadi milik orang lain.Di

  • Kota Brooklyn Tanpa Hujan Lama   Bab 20

    Malam itu, setelah Bibi Shea tahu bahwa kami memutuskan untuk menikah, dia sangat bahagia hingga malam itu juga mengukus 2 nampan bakpao dan membawanya kemari. Dia menggenggam tanganku dan menangis cukup lama.Frans malah diusir ibunya ke dapur untuk mencuci piring. Sambil mencuci, dia berteriak ke luar, “Bu! Sebenarnya siapa yang anak kandungmu?!”Bibi Shea sama sekali tidak memedulikannya. Dia hanya terus menggenggam tanganku sambil berkata, “Mita, nanti jika anak ini berani macam-macam padamu, bilang saja pada Bibi. Biar Bibi patahkan kakinya.”Frans menjulurkan setengah kepalanya dari dapur.“Mana berani aku macam-macam padanya? Dia tidak merundungku saja aku sudah bersyukur!”Aku tertawa dan mengacungkan tinju kepadanya. Dia langsung menarik kepalanya kembali dan lanjut mencuci piring.Pernikahan kami akan berlangsung di musim gugur. Itulah musim terbaik di Kota Brooklyn, ketika aroma bunga osmanthus memenuhi seluruh kota.Awalnya aku ingin mengadakan pernikahan yang sederhana. Cu

  • Kota Brooklyn Tanpa Hujan Lama   Bab 19

    Tanganku terpeleset saat sedang mengelap sebuah vas porselen biru-putih. Vas itu hampir saja jatuh dan pecah.“Apa katamu?”“Kubilang ....” Dia menegakkan tubuh, berjalan mendekat lalu menopangkan kedua tangannya di atas meja kasir. Dia sedikit membungkuk dan mendekat kepadaku.“Ayo kita menikah.”Jarak kami terlalu dekat. Begitu dekat hingga aku bisa melihat bayangan bulu matanya yang jatuh di bawah cahaya lampu, juga mencium samar aroma deterjen dari tubuhnya.Tenggorokanku terasa tercekat, “Kamu habis minum di mana?”“Aku tidak minum.” Dia menatapku dengan serius, “Aku sadar sepenuhnya.”“Lalu kenapa tiba-tiba ....”“Tidak tiba-tiba.” Dia memotong ucapanku, “Aku sudah menunggumu selama belasan tahun. Sejak saat aku memasukkan koin itu ke tanganmu, aku sudah menunggu.”“Sekarang kamu sudah setuju menjadi pacarku. Kupikir jika statusnya sudah naik, sekalian saja langsung sampai tahap berikutnya. Toh cepat atau lambat kita pasti menikah. Jika menikah lebih cepat, hatiku juga lebih t

  • Kota Brooklyn Tanpa Hujan Lama   Bab 18

    Aku sempat tertegun.“Tentu.”Frans menarik napas dalam-dalam, seolah baru saja mengambil keputusan yang sangat besar. Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menyodorkannya kepadaku.Sebuah koin lama.Aku menatap koin itu selama beberapa detik, lalu tiba-tiba teringat.Waktu kecil, di ujung gang terdapat sebuah mesin kapsul mainan. Aku ingin mendapatkan gantungan kelinci di dalamnya, tetapi setelah mengobrak-abrik semua isi kantong, aku hanya punya satu koin.Frans memberikan satu-satunya koin yang tersisa kepadaku dan berkata, “Ini untukmu. Tetapi kamu berutang sesuatu kepadaku.”“Apa?”“Nanti akan kuberitahu.”Setelah itu, aku menunggunya selama bertahun-tahun, tetapi dia tidak pernah lagi membicarakan hal itu. Kupikir dia sudah melupakannya sejak lama.“Kamu masih menyimpannya?”“Tentu saja.”Frans memalingkan wajah. Telinganya sudah merah hampir seperti terbakar, tetapi suaranya tetap dibuat seolah tidak peduli.“Aku sudah menunggu lebih dari 10 tahun. Bunganya saja hampir berli

  • Kota Brooklyn Tanpa Hujan Lama   Bab 17

    Aku tahu yang dimaksud Andrew adalah Frans, tetapi aku tidak menjawab.Andrew menundukkan pandangan, sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan yang sangat tipis. Bukan senyum, melainkan lebih seperti sebuah penerimaan atas takdir.Sepertinya dia sudah mengatakan semua isi hatinya.Aku meletakkan cangkir teh dan berdiri, “Andrew.”Dia mengangkat kepala.“Mulai sekarang, kita adalah orang asing.”Saat mengucapkan kalimat itu, suaraku begitu tenang, tanpa sedikit pun getaran.Tenggorokan Andrew bergerak naik turun, “Semoga kamu bahagia.”Aku berbalik dan berjalan keluar dari restoran kecil itu. Di luar, Frans sedang bersandar di bawah pohon pagoda di seberang jalan, menungguku.Begitu melihatku keluar, dia langsung menghampiri.“Sudah selesai?”Aku tersenyum dan mengangguk.Dia melirikku tanpa banyak bertanya. Dengan santai, dia mengambil tasku dan menyampirkan di bahunya sendiri.Kemudian dia memasukkan satu tangan ke saku dan memperlambat langkahnya, menungguku menyusul.“Ayo. Ibuku

  • Kota Brooklyn Tanpa Hujan Lama   Bab 16

    Andrew benar-benar membeku, seolah seluruh semangat hidupnya telah direnggut sampai tidak tersisa sedikit pun.Dia dirawat di rumah sakit selama 3 hari. Pada sore hari ketiga, aku menerima pesan dari nomor yang tidak kukenal.[Mita, lusa aku akan keluar dari rumah sakit dan bersiap kembali ke kotaku. Sebelum pergi, bisakah kita makan bersama?][Untuk terakhir kalinya ….]Aku menatap kalimat terakhir itu dan terdiam cukup lama.Kebetulan Frans baru saja pulang dari luar. Melihatku tertegun menatap ponsel, dia mendekat dan melirik sekilas.“Mau pergi?”Frans bersandar di kusen pintu sambil melipat kedua tangan di dada, menatapku. Setelah beberapa saat, dia mengangkat bahu.“Pergilah. Selesaikan semuanya dengan jelas, supaya nanti dia tidak datang mengganggumu lagi.”Setelah jeda sejenak, dia pun menambahkan, “Tetapi aku yang mengantar-jemputmu.”Aku pun tersenyum, “Baik.”Kami membuat janji di sebuah restoran kecil yang tenang di kawasan jalan tua Kota Brooklyn.Saat aku tiba, Andrew sud

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status