LOGINAndrew berdiri di bagian paling luar kerumunan, menatap panggung dari kejauhan di balik kepala orang-orang yang berlalu-lalang.Frans yang berdiri di sampingku juga melihatnya. Tubuhnya sempat menegang sesaat, hampir tidak terlihat. Namun tidak lama kemudian, dia menggenggam tanganku lebih erat.Tatapan Andrew jatuh kepadaku, lalu beralih ke tangan kami yang saling menggenggam.Seluruh tubuhnya seperti terkena pukulan ringan. Bahunya sedikit berguncang, tetapi dia tetap tidak pergi.Sepasang mata yang dulu begitu tenang dan dingin itu, kini perlahan dipenuhi kilau air mata.Dia melihatku mengenakan gaun pengantin … melihat jari-jari Frans yang sedikit gemetar saat memasangkan cincin ke jariku … melihat Frans yang matanya memerah tetapi mati-matian menahan air mata ... juga melihat keakraban yang mengalir begitu alami ketika aku tersenyum dan merapikan dasinya.Semua yang dulu pernah menjadi miliknya, dia sendiri yang mendorongnya pergi. Kini semuanya telah menjadi milik orang lain.Di
Malam itu, setelah Bibi Shea tahu bahwa kami memutuskan untuk menikah, dia sangat bahagia hingga malam itu juga mengukus 2 nampan bakpao dan membawanya kemari. Dia menggenggam tanganku dan menangis cukup lama.Frans malah diusir ibunya ke dapur untuk mencuci piring. Sambil mencuci, dia berteriak ke luar, “Bu! Sebenarnya siapa yang anak kandungmu?!”Bibi Shea sama sekali tidak memedulikannya. Dia hanya terus menggenggam tanganku sambil berkata, “Mita, nanti jika anak ini berani macam-macam padamu, bilang saja pada Bibi. Biar Bibi patahkan kakinya.”Frans menjulurkan setengah kepalanya dari dapur.“Mana berani aku macam-macam padanya? Dia tidak merundungku saja aku sudah bersyukur!”Aku tertawa dan mengacungkan tinju kepadanya. Dia langsung menarik kepalanya kembali dan lanjut mencuci piring.Pernikahan kami akan berlangsung di musim gugur. Itulah musim terbaik di Kota Brooklyn, ketika aroma bunga osmanthus memenuhi seluruh kota.Awalnya aku ingin mengadakan pernikahan yang sederhana. Cu
Tanganku terpeleset saat sedang mengelap sebuah vas porselen biru-putih. Vas itu hampir saja jatuh dan pecah.“Apa katamu?”“Kubilang ....” Dia menegakkan tubuh, berjalan mendekat lalu menopangkan kedua tangannya di atas meja kasir. Dia sedikit membungkuk dan mendekat kepadaku.“Ayo kita menikah.”Jarak kami terlalu dekat. Begitu dekat hingga aku bisa melihat bayangan bulu matanya yang jatuh di bawah cahaya lampu, juga mencium samar aroma deterjen dari tubuhnya.Tenggorokanku terasa tercekat, “Kamu habis minum di mana?”“Aku tidak minum.” Dia menatapku dengan serius, “Aku sadar sepenuhnya.”“Lalu kenapa tiba-tiba ....”“Tidak tiba-tiba.” Dia memotong ucapanku, “Aku sudah menunggumu selama belasan tahun. Sejak saat aku memasukkan koin itu ke tanganmu, aku sudah menunggu.”“Sekarang kamu sudah setuju menjadi pacarku. Kupikir jika statusnya sudah naik, sekalian saja langsung sampai tahap berikutnya. Toh cepat atau lambat kita pasti menikah. Jika menikah lebih cepat, hatiku juga lebih t
Aku sempat tertegun.“Tentu.”Frans menarik napas dalam-dalam, seolah baru saja mengambil keputusan yang sangat besar. Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menyodorkannya kepadaku.Sebuah koin lama.Aku menatap koin itu selama beberapa detik, lalu tiba-tiba teringat.Waktu kecil, di ujung gang terdapat sebuah mesin kapsul mainan. Aku ingin mendapatkan gantungan kelinci di dalamnya, tetapi setelah mengobrak-abrik semua isi kantong, aku hanya punya satu koin.Frans memberikan satu-satunya koin yang tersisa kepadaku dan berkata, “Ini untukmu. Tetapi kamu berutang sesuatu kepadaku.”“Apa?”“Nanti akan kuberitahu.”Setelah itu, aku menunggunya selama bertahun-tahun, tetapi dia tidak pernah lagi membicarakan hal itu. Kupikir dia sudah melupakannya sejak lama.“Kamu masih menyimpannya?”“Tentu saja.”Frans memalingkan wajah. Telinganya sudah merah hampir seperti terbakar, tetapi suaranya tetap dibuat seolah tidak peduli.“Aku sudah menunggu lebih dari 10 tahun. Bunganya saja hampir berli
Aku tahu yang dimaksud Andrew adalah Frans, tetapi aku tidak menjawab.Andrew menundukkan pandangan, sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan yang sangat tipis. Bukan senyum, melainkan lebih seperti sebuah penerimaan atas takdir.Sepertinya dia sudah mengatakan semua isi hatinya.Aku meletakkan cangkir teh dan berdiri, “Andrew.”Dia mengangkat kepala.“Mulai sekarang, kita adalah orang asing.”Saat mengucapkan kalimat itu, suaraku begitu tenang, tanpa sedikit pun getaran.Tenggorokan Andrew bergerak naik turun, “Semoga kamu bahagia.”Aku berbalik dan berjalan keluar dari restoran kecil itu. Di luar, Frans sedang bersandar di bawah pohon pagoda di seberang jalan, menungguku.Begitu melihatku keluar, dia langsung menghampiri.“Sudah selesai?”Aku tersenyum dan mengangguk.Dia melirikku tanpa banyak bertanya. Dengan santai, dia mengambil tasku dan menyampirkan di bahunya sendiri.Kemudian dia memasukkan satu tangan ke saku dan memperlambat langkahnya, menungguku menyusul.“Ayo. Ibuku
Andrew benar-benar membeku, seolah seluruh semangat hidupnya telah direnggut sampai tidak tersisa sedikit pun.Dia dirawat di rumah sakit selama 3 hari. Pada sore hari ketiga, aku menerima pesan dari nomor yang tidak kukenal.[Mita, lusa aku akan keluar dari rumah sakit dan bersiap kembali ke kotaku. Sebelum pergi, bisakah kita makan bersama?][Untuk terakhir kalinya ….]Aku menatap kalimat terakhir itu dan terdiam cukup lama.Kebetulan Frans baru saja pulang dari luar. Melihatku tertegun menatap ponsel, dia mendekat dan melirik sekilas.“Mau pergi?”Frans bersandar di kusen pintu sambil melipat kedua tangan di dada, menatapku. Setelah beberapa saat, dia mengangkat bahu.“Pergilah. Selesaikan semuanya dengan jelas, supaya nanti dia tidak datang mengganggumu lagi.”Setelah jeda sejenak, dia pun menambahkan, “Tetapi aku yang mengantar-jemputmu.”Aku pun tersenyum, “Baik.”Kami membuat janji di sebuah restoran kecil yang tenang di kawasan jalan tua Kota Brooklyn.Saat aku tiba, Andrew sud







