공유

Bab 4

작가: Singo
4 tahun lalu, aku juga pernah mengusulkan kepada Andrew untuk pergi ke pantai melihat matahari terbit.

Pria itu sempat terdiam sejenak, lalu berkata dengan santai, “Bagaimana kalau ke puncak gunung saja? Pemandangan matahari menyinari pegunungan salju pasti lebih romantis daripada di pantai.”

Andrew selalu menepati ucapannya. Dia bukan tipe yang suka memberikan janji kosong.

Seminggu kemudian, dia benar-benar menyetir dan membawaku pergi melihat matahari terbit di pegunungan salju.

Di sepanjang perjalanan aku sangat bersemangat, sementara dia tetap tenang dan pendiam seperti biasanya.

Sampai akhirnya matahari terbit ….

Di saat itulah aku berjinjit dan menciumnya lebih dulu. Itu adalah ciuman pertama kami.

Andrew jelas-jelas tertegun. Tatapannya terlihat sedikit berkilat.

Saat itu, dengan polosnya aku mengira dia sama sepertiku, gugup karena jantung yang berdebar begitu kencang.

Ternyata, saat menemaniku melihat matahari terbit waktu itu, yang ada di pikirannya adalah janji yang tidak pernah berhasil dia tepati bersama perempuan itu.

“Felly ... emosinya memang tidak stabil. Aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja.” Andrew menjelaskan kepadaku.

Aku mengangguk pelan, “Kalau begitu, batalkan saja pernikahan kita.”

Andrew menghela napas, “Mita, jangan membuat keributan. Kita sudah bukan anak kecil lagi. Lagipula, bukankah menikah denganku adalah sesuatu yang sudah lama kamu nantikan?”

Saat aku hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara lembut dari luar pintu.

“Andrew, aku boleh masuk? Di luar dingin sekali.”

Belum selesai berbicara, perempuan bernama Felly itu sudah muncul di hadapanku.

Andrew sedikit mengernyit. Nada tegurannya penuh perhatian.

“Siapa yang menyuruhmu tetap memakai rok? Sudah berapa kali kubilang, tetapi kamu tetap tidak mau dengar. Jika sampai sakit karena kedinginan, siapa yang akan merawatmu?”

“Bukankah cukup kalau ada kamu yang merawatku?”

Setelah berkata begitu, Felly seolah baru menyadari keberadaanku. Dia mengerucutkan bibirnya.

“Oh, aku lupa. Kamu mau menikah ....”

Aku menatap pemandangan absurd di depanku.

Andrew benar-benar membawa perempuan itu tepat ke hadapanku, bahkan ke hotel tempat kami bersiap untuk melangsungkan pernikahan.

Aku menarik napas dalam-dalam, “Apa maksudmu?”

“Bukan seperti yang kamu pikirkan. Felly baru pulang ke negara ini dan sementara belum punya tempat tinggal, jadi aku membawanya ke sini dulu.”

Andrew terdiam sejenak, “Lagipula, bukankah kamu masih kekurangan satu bridesmaid? Felly bisa ….”

Plak!

Dalam sekejap, bekas tamparan muncul di wajah pria itu.

Sepertinya dia tidak menyangka aku akan menamparnya. Kepala Andrew sampai menoleh ke samping dan dia terdiam sejenak.

Sebaliknya, Felly justru membelalakkan matanya.

“Apa yang kamu lakukan? Memangnya kamu berhak memukul orang?”

Dia memegang wajah Andrew dan memutar kepalanya kembali untuk memeriksanya.

Ujung jarinya menyentuh bekas merah di wajahnya dengan lembut. Alisnya langsung berkerut karena khawatir.

“Sakit?”

Telapak tanganku masih terasa sedikit kebas. Tubuhku bahkan gemetar karena terlalu marah.

“Andrew, sadar tidak apa yang sedang kamu katakan? Kamu mau menjadikannya bridesmaid-ku?”

Felly mengangkat dagunya dengan penuh percaya diri.

“Memangnya kenapa kalau aku jadi bridesmaid? Aku sudah berniat baik membantumu, tetapi kamu malah tidak tahu berterima kasih.”

“Lagipula percaya atau tidak, jika mau, pengantinnya juga bisa diganti menjadi diriku. Jujur saja, aku dan Andrew yang seharusnya bersama. Kamu hanya datang belakangan dan merebut tempatku.”

“Jadi, sebenarnya kamulah orang ketiga dalam hubungan kami.”

Sambil berkata begitu, dia terus berjalan mendekat selangkah demi selangkah. Tatapan menantangnya sama sekali tidak disembunyikan.

Bahkan dia mengangkat jarinya dan menunjuk tepat ke arah hidungku sambil tersenyum, “Jika bukan karenaku, menurutmu Andrew bisa memperlakukanmu sebaik ini selama bertahun-tahun?”

“Dalam urusan cinta, bukankah seperti orang yang menanam pohon lebih dulu, lalu orang berikutnya yang menikmati teduhnya? Jangan lupa berterima kasih padaku, ya.”

Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi dan menepis tangannya.

Tetapi Felly justru memanfaatkan kesempatan itu untuk menjatuhkan tubuhnya ke belakang, seolah-olah aku baru saja mendorongnya sekuat tenaga.

Brak! Tubuhnya jatuh ke lantai.

Felly menatapku dengan wajah memelas, “Kenapa kamu mendorongku?”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Kota Brooklyn Tanpa Hujan Lama   Bab 21

    Andrew berdiri di bagian paling luar kerumunan, menatap panggung dari kejauhan di balik kepala orang-orang yang berlalu-lalang.Frans yang berdiri di sampingku juga melihatnya. Tubuhnya sempat menegang sesaat, hampir tidak terlihat. Namun tidak lama kemudian, dia menggenggam tanganku lebih erat.Tatapan Andrew jatuh kepadaku, lalu beralih ke tangan kami yang saling menggenggam.Seluruh tubuhnya seperti terkena pukulan ringan. Bahunya sedikit berguncang, tetapi dia tetap tidak pergi.Sepasang mata yang dulu begitu tenang dan dingin itu, kini perlahan dipenuhi kilau air mata.Dia melihatku mengenakan gaun pengantin … melihat jari-jari Frans yang sedikit gemetar saat memasangkan cincin ke jariku … melihat Frans yang matanya memerah tetapi mati-matian menahan air mata ... juga melihat keakraban yang mengalir begitu alami ketika aku tersenyum dan merapikan dasinya.Semua yang dulu pernah menjadi miliknya, dia sendiri yang mendorongnya pergi. Kini semuanya telah menjadi milik orang lain.Di

  • Kota Brooklyn Tanpa Hujan Lama   Bab 20

    Malam itu, setelah Bibi Shea tahu bahwa kami memutuskan untuk menikah, dia sangat bahagia hingga malam itu juga mengukus 2 nampan bakpao dan membawanya kemari. Dia menggenggam tanganku dan menangis cukup lama.Frans malah diusir ibunya ke dapur untuk mencuci piring. Sambil mencuci, dia berteriak ke luar, “Bu! Sebenarnya siapa yang anak kandungmu?!”Bibi Shea sama sekali tidak memedulikannya. Dia hanya terus menggenggam tanganku sambil berkata, “Mita, nanti jika anak ini berani macam-macam padamu, bilang saja pada Bibi. Biar Bibi patahkan kakinya.”Frans menjulurkan setengah kepalanya dari dapur.“Mana berani aku macam-macam padanya? Dia tidak merundungku saja aku sudah bersyukur!”Aku tertawa dan mengacungkan tinju kepadanya. Dia langsung menarik kepalanya kembali dan lanjut mencuci piring.Pernikahan kami akan berlangsung di musim gugur. Itulah musim terbaik di Kota Brooklyn, ketika aroma bunga osmanthus memenuhi seluruh kota.Awalnya aku ingin mengadakan pernikahan yang sederhana. Cu

  • Kota Brooklyn Tanpa Hujan Lama   Bab 19

    Tanganku terpeleset saat sedang mengelap sebuah vas porselen biru-putih. Vas itu hampir saja jatuh dan pecah.“Apa katamu?”“Kubilang ....” Dia menegakkan tubuh, berjalan mendekat lalu menopangkan kedua tangannya di atas meja kasir. Dia sedikit membungkuk dan mendekat kepadaku.“Ayo kita menikah.”Jarak kami terlalu dekat. Begitu dekat hingga aku bisa melihat bayangan bulu matanya yang jatuh di bawah cahaya lampu, juga mencium samar aroma deterjen dari tubuhnya.Tenggorokanku terasa tercekat, “Kamu habis minum di mana?”“Aku tidak minum.” Dia menatapku dengan serius, “Aku sadar sepenuhnya.”“Lalu kenapa tiba-tiba ....”“Tidak tiba-tiba.” Dia memotong ucapanku, “Aku sudah menunggumu selama belasan tahun. Sejak saat aku memasukkan koin itu ke tanganmu, aku sudah menunggu.”“Sekarang kamu sudah setuju menjadi pacarku. Kupikir jika statusnya sudah naik, sekalian saja langsung sampai tahap berikutnya. Toh cepat atau lambat kita pasti menikah. Jika menikah lebih cepat, hatiku juga lebih t

  • Kota Brooklyn Tanpa Hujan Lama   Bab 18

    Aku sempat tertegun.“Tentu.”Frans menarik napas dalam-dalam, seolah baru saja mengambil keputusan yang sangat besar. Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menyodorkannya kepadaku.Sebuah koin lama.Aku menatap koin itu selama beberapa detik, lalu tiba-tiba teringat.Waktu kecil, di ujung gang terdapat sebuah mesin kapsul mainan. Aku ingin mendapatkan gantungan kelinci di dalamnya, tetapi setelah mengobrak-abrik semua isi kantong, aku hanya punya satu koin.Frans memberikan satu-satunya koin yang tersisa kepadaku dan berkata, “Ini untukmu. Tetapi kamu berutang sesuatu kepadaku.”“Apa?”“Nanti akan kuberitahu.”Setelah itu, aku menunggunya selama bertahun-tahun, tetapi dia tidak pernah lagi membicarakan hal itu. Kupikir dia sudah melupakannya sejak lama.“Kamu masih menyimpannya?”“Tentu saja.”Frans memalingkan wajah. Telinganya sudah merah hampir seperti terbakar, tetapi suaranya tetap dibuat seolah tidak peduli.“Aku sudah menunggu lebih dari 10 tahun. Bunganya saja hampir berli

  • Kota Brooklyn Tanpa Hujan Lama   Bab 17

    Aku tahu yang dimaksud Andrew adalah Frans, tetapi aku tidak menjawab.Andrew menundukkan pandangan, sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan yang sangat tipis. Bukan senyum, melainkan lebih seperti sebuah penerimaan atas takdir.Sepertinya dia sudah mengatakan semua isi hatinya.Aku meletakkan cangkir teh dan berdiri, “Andrew.”Dia mengangkat kepala.“Mulai sekarang, kita adalah orang asing.”Saat mengucapkan kalimat itu, suaraku begitu tenang, tanpa sedikit pun getaran.Tenggorokan Andrew bergerak naik turun, “Semoga kamu bahagia.”Aku berbalik dan berjalan keluar dari restoran kecil itu. Di luar, Frans sedang bersandar di bawah pohon pagoda di seberang jalan, menungguku.Begitu melihatku keluar, dia langsung menghampiri.“Sudah selesai?”Aku tersenyum dan mengangguk.Dia melirikku tanpa banyak bertanya. Dengan santai, dia mengambil tasku dan menyampirkan di bahunya sendiri.Kemudian dia memasukkan satu tangan ke saku dan memperlambat langkahnya, menungguku menyusul.“Ayo. Ibuku

  • Kota Brooklyn Tanpa Hujan Lama   Bab 16

    Andrew benar-benar membeku, seolah seluruh semangat hidupnya telah direnggut sampai tidak tersisa sedikit pun.Dia dirawat di rumah sakit selama 3 hari. Pada sore hari ketiga, aku menerima pesan dari nomor yang tidak kukenal.[Mita, lusa aku akan keluar dari rumah sakit dan bersiap kembali ke kotaku. Sebelum pergi, bisakah kita makan bersama?][Untuk terakhir kalinya ….]Aku menatap kalimat terakhir itu dan terdiam cukup lama.Kebetulan Frans baru saja pulang dari luar. Melihatku tertegun menatap ponsel, dia mendekat dan melirik sekilas.“Mau pergi?”Frans bersandar di kusen pintu sambil melipat kedua tangan di dada, menatapku. Setelah beberapa saat, dia mengangkat bahu.“Pergilah. Selesaikan semuanya dengan jelas, supaya nanti dia tidak datang mengganggumu lagi.”Setelah jeda sejenak, dia pun menambahkan, “Tetapi aku yang mengantar-jemputmu.”Aku pun tersenyum, “Baik.”Kami membuat janji di sebuah restoran kecil yang tenang di kawasan jalan tua Kota Brooklyn.Saat aku tiba, Andrew sud

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status