MasukMalam sebelum pernikahan, Andrew mabuk di KTV, jadi aku pergi menjemputnya. Pria yang selalu tenang dan kalem di depanku itu, saat ini matanya memerah. Kebetulan, lagu yang sedang dinyanyikannya sampai pada bagian …. [Pada akhirnya, aku belajar bagaimana cara mencintai ….] [Sayangnya, kamu sudah pergi jauh dan menghilang di tengah keramaian ….] Temannya menepuk bahunya dengan perasaan campur aduk, “Sebenarnya selama ini aku belum pernah memberitahumu. Dia sudah kembali. Kamu masih mau menemuinya?” Ada orang-orang yang tidak perlu disebut namanya, tetapi semua orang sudah tahu siapa yang dimaksud. Felly, mantan pacar sekaligus cinta pertama Andrew. Dulu hubungan mereka begitu menggebu-gebu dan penuh lika-liku. Pada akhirnya, gadis itu memilih pergi dan mengajarinya apa arti mencintai dan menghargai seseorang. Aku pun sampai menahan napas, berharap dia akan mengatakan tidak. Tetapi Andrew hanya terdiam sesaat, lalu tetap menelepon nomor yang sudah sangat dia hafal itu.
Lihat lebih banyakAndrew berdiri di bagian paling luar kerumunan, menatap panggung dari kejauhan di balik kepala orang-orang yang berlalu-lalang.Frans yang berdiri di sampingku juga melihatnya. Tubuhnya sempat menegang sesaat, hampir tidak terlihat. Namun tidak lama kemudian, dia menggenggam tanganku lebih erat.Tatapan Andrew jatuh kepadaku, lalu beralih ke tangan kami yang saling menggenggam.Seluruh tubuhnya seperti terkena pukulan ringan. Bahunya sedikit berguncang, tetapi dia tetap tidak pergi.Sepasang mata yang dulu begitu tenang dan dingin itu, kini perlahan dipenuhi kilau air mata.Dia melihatku mengenakan gaun pengantin … melihat jari-jari Frans yang sedikit gemetar saat memasangkan cincin ke jariku … melihat Frans yang matanya memerah tetapi mati-matian menahan air mata ... juga melihat keakraban yang mengalir begitu alami ketika aku tersenyum dan merapikan dasinya.Semua yang dulu pernah menjadi miliknya, dia sendiri yang mendorongnya pergi. Kini semuanya telah menjadi milik orang lain.Di
Malam itu, setelah Bibi Shea tahu bahwa kami memutuskan untuk menikah, dia sangat bahagia hingga malam itu juga mengukus 2 nampan bakpao dan membawanya kemari. Dia menggenggam tanganku dan menangis cukup lama.Frans malah diusir ibunya ke dapur untuk mencuci piring. Sambil mencuci, dia berteriak ke luar, “Bu! Sebenarnya siapa yang anak kandungmu?!”Bibi Shea sama sekali tidak memedulikannya. Dia hanya terus menggenggam tanganku sambil berkata, “Mita, nanti jika anak ini berani macam-macam padamu, bilang saja pada Bibi. Biar Bibi patahkan kakinya.”Frans menjulurkan setengah kepalanya dari dapur.“Mana berani aku macam-macam padanya? Dia tidak merundungku saja aku sudah bersyukur!”Aku tertawa dan mengacungkan tinju kepadanya. Dia langsung menarik kepalanya kembali dan lanjut mencuci piring.Pernikahan kami akan berlangsung di musim gugur. Itulah musim terbaik di Kota Brooklyn, ketika aroma bunga osmanthus memenuhi seluruh kota.Awalnya aku ingin mengadakan pernikahan yang sederhana. Cu
Tanganku terpeleset saat sedang mengelap sebuah vas porselen biru-putih. Vas itu hampir saja jatuh dan pecah.“Apa katamu?”“Kubilang ....” Dia menegakkan tubuh, berjalan mendekat lalu menopangkan kedua tangannya di atas meja kasir. Dia sedikit membungkuk dan mendekat kepadaku.“Ayo kita menikah.”Jarak kami terlalu dekat. Begitu dekat hingga aku bisa melihat bayangan bulu matanya yang jatuh di bawah cahaya lampu, juga mencium samar aroma deterjen dari tubuhnya.Tenggorokanku terasa tercekat, “Kamu habis minum di mana?”“Aku tidak minum.” Dia menatapku dengan serius, “Aku sadar sepenuhnya.”“Lalu kenapa tiba-tiba ....”“Tidak tiba-tiba.” Dia memotong ucapanku, “Aku sudah menunggumu selama belasan tahun. Sejak saat aku memasukkan koin itu ke tanganmu, aku sudah menunggu.”“Sekarang kamu sudah setuju menjadi pacarku. Kupikir jika statusnya sudah naik, sekalian saja langsung sampai tahap berikutnya. Toh cepat atau lambat kita pasti menikah. Jika menikah lebih cepat, hatiku juga lebih t
Aku sempat tertegun.“Tentu.”Frans menarik napas dalam-dalam, seolah baru saja mengambil keputusan yang sangat besar. Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menyodorkannya kepadaku.Sebuah koin lama.Aku menatap koin itu selama beberapa detik, lalu tiba-tiba teringat.Waktu kecil, di ujung gang terdapat sebuah mesin kapsul mainan. Aku ingin mendapatkan gantungan kelinci di dalamnya, tetapi setelah mengobrak-abrik semua isi kantong, aku hanya punya satu koin.Frans memberikan satu-satunya koin yang tersisa kepadaku dan berkata, “Ini untukmu. Tetapi kamu berutang sesuatu kepadaku.”“Apa?”“Nanti akan kuberitahu.”Setelah itu, aku menunggunya selama bertahun-tahun, tetapi dia tidak pernah lagi membicarakan hal itu. Kupikir dia sudah melupakannya sejak lama.“Kamu masih menyimpannya?”“Tentu saja.”Frans memalingkan wajah. Telinganya sudah merah hampir seperti terbakar, tetapi suaranya tetap dibuat seolah tidak peduli.“Aku sudah menunggu lebih dari 10 tahun. Bunganya saja hampir berli


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.