Tak lama kemudian, Pandu sampai di warung yang di kenal dengan nama Warung Nenek Hartini. Warung itu cukup besar untuk ukuran desa. Di terasnya ada dua bangku kayu panjang, dan pagi itu sudah di penuhi beberapa pria yang sedang ngopi sambil mengobrol. Di balik etalase, seorang wanita tua berkerudung lusuh sedang sibuk menghitung uang receh. Begitu Pandu melangkah masuk ke teras, obrolan mereka langsung berhenti. Semua mata tertuju padanya. "Wah, ini dia pemuda Kota yang lagi rame di omongin!" seru salah satu pria sambil tertawa. "Sini, Pan! Duduk dulu, ngopi bareng!" sahut yang lain sambil menggeser duduknya. Pandu sedikit terkejut di sambut sehangat itu. Dia tersenyum, lalu mengangguk sopan. "Pagi, Pak. Makasih, aku mau beli rokok dulu." Dia menghampiri etalase. "Nek, rokok yang ini dua bungkus, sama minyak goreng satu liter." Wanita tua itu menatap Pandu dari balik kacamatanya yang tebal, lalu tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang sudah tak lengkap. "Oalah, kamu
Last Updated : 2026-09-30 Read more