INICIAR SESIÓNPandu, pemuda berusia 25 tahun. Setelah kehilangan pekerjaan di kota, dia memutuskan berlibur ke rumah pamannya yang berada di desa terpencil. Niatnya cuma berlibur sambil menenangkan diri beberapa hari. Tapi di desa itu, wanita-wanitanya sangat menggoda, terutama istri pamannya sendiri. Pesona wanita itu yang membuat Pandu semakin bertekad ingin tinggal lama di sana. Sembari membangun perkebunannya sendiri, Pandu menjadi idola di desanya, sampai akhirnya bisa menjadi pemuda yang memakmurkan desa.
Ver más"Mmm... mm... Mas, pelan sedikit! Nanti kedengaran keponakanmu!"
"Dia... pasti sudah tidur, jangan khawatir." Di dalam kamar sederhana, di bawah lampu temaram, seorang pria sedang terjerat dengan seorang wanita dengan posisi wanita yang ada di bawahnya. Sepasang mata muncul di balik celah pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Mata itu membesar ketika melihat pemandangan di dalam kamar. Pemilik mata tersebut adalah seorang pemuda yang sejak tadi mengendap-endap mendekati kamar itu. Dia menahan napas, seolah takut keberadaannya diketahui, sementara pandangannya tetap tertuju pada apa yang terjadi di dalam. "Sialan, baru juga datang, sudah dapat tontonan seperti ini saja!" batin pemuda itu. Dia menarik pandangannya lalu menyandarkan punggungnya di dinding. Nafasnya sedikit cepat karena dorongan hasrat di tubuhnya yang mulai bergejolak. Pemuda itu bernama Pandu, seorang pria tampan berusia 25 tahun yang selama ini tinggal di Ibu Kota. Dua jam yang lalu, dia baru saja tiba di rumah pamannya setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh ke desa. Kedatangannya kali ini bukan sekadar untuk berkunjung, dia ingin merasakan kehidupan di pedesaan. Namun, baru saja tiba, dia sudah di suguhkan pemandangan panas di rumah itu yang membuatnya sangat tertekan. "Tahan... tahan! Di sini gak ada wanita penghibur, aku cuma bisa menahan! Jangan sampai tanganku bertindak sendiri," batin Pandu sambil memegangi miliknya yang sudah mengeras. Dia kembali ke kamarnya, berbaring di tempat tidur, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, menutup telinga dengan tangannya, lalu menutup matanya berusaha untuk tidur. Meski terus terbayang kaki mulus Bibinya yang terbuka dan area tengahnya di gempur Pamannya, pada akhirnya Pandu terlelap dalam tidurnya. === Di pagi hari... Pandu keluar dari kamarnya, lalu meregangkan tubuhnya sambil mengusap. "Gimana, nyenyak tidurnya?" tanya seorang wanita dewasa yang sedang menyapu lantai. Pandu melirik wanita dewasa itu. Dia meneguk ludahnya dengan sedikit kasar dengan ekspresi terpana. Bayangan semalam, kembali terlintas di benaknya. "Bi... Bi Maya." Wanita itu menatap Pandu sambil tersenyum lembut. "Kenapa? Kok kelihatan linglung gitu?" tanyanya. Pandu buru-buru menggelengkan kepalanya. "Eh, nggak kok. Nyawaku belum terkumpul Bi, hehe." "Ada-ada saja, kalau belum terkumpul kamu masih tidur dong." Bi Maya lanjut menyapu lantai. "Nyenyak tidurnya?" "Nyenyak kok, nyenyak banget!" balas Pandu sambil menuangkan air dari teko ke gelas. "Baguslah kalau nyenyak," ucap Bi Maya dengan ekspresi yang tampak lega. Sambil meminum air di gelas, mata Pandu terus memandang ke arah Bi Maya. Pandangannya terus bolak balik, dari atas hingga bawah. "Mau itu wajah, atau tubuh, Bibiku ini... sangat mantap!" batinnya. Penampilan Bi Maya sangat menawan. Bukan hanya wajahnya yang cantik, tubuh wanita yang usianya sekitar 30 tahun itu sangatlah aduhai. Meski daster longgar membungkus tubuhnya, tapi tonjolan di dada dan belakang tubuhnya sama sekali tidak bisa di sembunyikan. Pandu menepuk-nepuk pelan pipinya. "Sadarlah! Dia itu Bibimu! Hilangkan pikiran kotor mu itu!" Seorang pria dewasa berkumis tebal, keluar dari kamarnya sambil menguap, dengan tangan memegangi pinggangnya. Pandu melirik pria itu. "Paman, aku kira kamu sudah pergi kerja," ucapnya dengan ekspresi aneh. Pria itu Tejo, adik kandung Ibunya Pandu. "Aku bukan pekerja pabrik. Aku bisa berangkat kapanpun aku mau, gak berangkat kerja juga gak masalah," balas Paman Tejo santai. Dia duduk di sofa kayu, meminum air, lalu menyalakan sebatang rokok. Kemudian, dia menatap Pandu dengan tatapan datar. "Kamu pasti punya uang kan?" tanyanya. Pandu mengangguk. Paman Tejo menyodorkan tangannya memberi isyarat meminta. "Paman pinjam dulu dong 500, paman gak punya uang nih. Kamu juga kan perlu makan di sini," ucapnya. Bi Maya langsung menatap suaminya itu. "Mas, kamu kan beberapa hari ini kerja, kok malah pinjam uang sama Pandu?" tanyanya sambil mengernyitkan dahinya. "Kamari motorku rusak," balas Paman Tejo santai. Bi Maya menghela nafas. "Huh, ya sudah, nanti siang aku mau metik cabai rawit buat beli beras. Jangan pinjam uang sama Pandu!" "Aku mau pergi kerja! Kalau gak pegang uang, gimana nanti aku bisa makan? Lagi pula, uang segitu Pandu pasti punya! Nanti juga aku ganti kok," balas Paman Tejo dengan suara sedikit meninggi. "Tapi... Mas..." sebelum Bi Maya kembali berkata, Pandu memotongnya. "Sudah Bi, aku punya uang kok. Bentar Paman, aku ambil dulu," Pandu beranjak pergi ke kamarnya. Tak lama kemudian, dia kembali lalu memberikan uang 500 ribu ke pamannya itu. Mata pria itu berbinar. "Kamu memang keponakanku yang baik!" ucap Paman Tejo sambil mengambil uang itu. Dia buru-buru bangkit berdiri. "Jangan siapkan sarapan, aku gak lapar! Nanti saja makan di luar," ucapnya sambil beranjak pergi. Pandu menatap punggung Pamannya dengan tatapan tajam. "Hmm, dia haus uang ternyata," batinnya. "Pan, maaf yah... jadi merepotkan mu," ucap Bi Maya dengan ekspresi meminta maaf. Pandu menatap wanita itu sambil tersenyum. "Gak apa-apa Bi, kita kan Keluarga, gak perlu begitu sungkan." "Kamu tenang saja, kalau Pamanmu gak ganti uang itu, nanti Bibi yang ganti," ucap Bi Maya. "Gak perlu di pikirkan Bi. Lagi pula aku makan sama tidur di sini, uang itu akan masuk lagi ke perutku," balas Pandu. Saat Bi Maya hendak berkata lagi, Paman Tejo datang dengan penampilan yang sudah rapi. "Pan, kalau kamu lapar minta Bibimu masakkan saja. Paman mau kerja dulu!" ucapnya, lalu dia menghampiri istrinya. "Nih, buat beli beras sama daging!" ucapnya sambil memberikan uang 100 ribu kepada istrinya. Bi Maya mengangguk. "Aku berangkat," Paman Tejo keluar dari rumah. Setelah mendengar suara motor melaju, Pandu berkata. "Bi, emangnya Paman itu... kerja apa?" "Gak menentu. Kadang dia ngojek, kadang dia jadi calo hasil panen," balas Bi Maya. Pandu mengangkat alisnya, sambil menjepit dagunya. "Keluarga kalian kan punya kebun. Kenapa Paman gak kerja di kebun?" tanyanya. Pandu tahu dari ibunya, kalau keluarga pamannya itu punya kebun yang lumayan lebar. Dulu, waktu membeli kebun itu, Pamannya itu meminjam uang kepada ibunya untuk tambahan. Bi Maya meletakkan sapu sambil menghela nafas. "Dia gak mau kerja di kebun. Paling... waktu panen raya saja dia bantu-bantu." "Jadi Bibi yang kerja di kebun?" tanya Pandu. "Iya. Kalau nggak, siapa lagi? Mau nyuruh orang lain, gak ada uangnya," balas Bi Maya dengan ekspresi yang tampak getir. "Tunggu bentar yah, Bibi mau ke warung dulu," lanjutnya sambil melangkah pergi. Pandu menatap punggung bibinya yang cantik itu. "Sayang sekali, wanita secantik dia malah kerja kasar di kebun," batinnya. Pandu mengambil ponselnya, lalu dia pergi ke luar rumah. Di luar, dia menghirup udara dengan ekspresi yang tampak sangat nyaman. "Udara di desa... segar banget! Andaikan di Ibu Kota udaranya seperti ini, pasti nyaman banget hidup di sana!" ucapnya. Saat Pandu sedang menikmati udara pagi, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah halaman rumah. Mendengar suara tersebut, Pandu langsung menoleh. Seketika, matanya sedikit membesar saat melihat sosok seorang wanita berjalan masuk ke halaman. "Gluk," Pandu ludah. "Ternyata... bukan cuma Bibiku yang menawan di desa ini," batinnya.Melihat itu, hati Pandu melonjak senang. Sepertinya, kali ini Bu Hesti benar-benar tak menolak lagi. Dia membuka celananya, lalu mengeluarkan batangnya. Bu Hesti melepaskan kain rendanya, menaikkan bagian bawah dasternya sampai ke pinggang, lalu duduk di atas meja kayu lapuk yang ada di sana. Kedua kakinya di lebarkan. Pemandangan apem basah itu terpampang jelas. "Gluk." Pandu menelan ludah. Walau semak belukarnya tampak berserakan, tapi bentuknya sangat dia sukai. Tembem, dan merekah. "Cepat masukin," ucap Bu Hesti dengan nafas berat. "Kenapa buru-buru banget sih, Bu? Punyaku belum keras banget nih," goda Pandu. Dia menggesekkan batangnya naik turun di apem itu. "Ahh... mmh..." Bu Hesti mendesah. Pinggulnya ikut bergerak. "Cepat masukin saja! Kalau ada yang datang, kamu sendiri yang rugi." "Bu Hesti juga ikut rugi dong." Pandu mengambil posisi, lalu mendorong pinggangnya ke depan. "Ohh!" Bu Hesti mengerang nikmat. Tubuhnya membusung indah, kedua tangannya mencengkeram tepi
Bi Maya terdiam dengan wajah di tekuk. Dia tidak mengiyakan, tapi juga tidak menolak lagi. Pandu bangkit, lalu menarik tangan Bibinya ke arah kamar. "Pan! Ini siang bolong! Gimana kalau ada yang datang?" ucap Bi Maya dengan cepat. Namun, kakinya tetap melangkah mengikuti keponakannya itu. "Gak akan ada, Bi." Bi Maya menggigit bibirnya, lalu berkata dengan suara pelan. "Pintu depan belum di tutup!" Pandu berhenti. "Iya, iya. Aku tutup dulu." Dia bergegas ke pintu depan. Namun, baru saja tangannya hendak mendorong daun pintu, dia melihat seorang wanita dewasa cantik masuk ke halaman rumah. Daster ketat yang membalut tubuh molek, semangka besar yang bergoyang di setiap langkah, dan senyum genit yang sangat dia kenal. Wanita itu Bu Hesti. Mata Pandu seketika cerah. Bi Maya penasaran melihat Pandu hanya diam di depan pintu. Dia menghampirinya, lalu ikut melihat ke luar. "Untung saja..." batinnya lega. Bu Hesti datang sebelum dia dan Pandu terlanjur terjerat lagi. Kalau terlamba
Semakin lama, semakin banyak orang yang berdatangan ke warung Nenek Hartini. Walau begitu, Pandu tidak gegabah. Dia tetap mengecek barang-barang itu satu per satu. "Jahe aku beli delapan ribu. Cabai rawit, tiga puluh ribu," ucapnya. "Ti-tiga puluh ribu?" Seorang petani membelalakkan matanya. "Aku masih punya banyak di kebun. Besok aku panen semuanya!" "Aku juga! Punyaku sudah merah-merah!" Namun, tak semua barang Pandu terima. Kalau ada yang tidak memenuhi syarat, dia langsung menolaknya. "Maaf Bu, pinang ini masih lembab. Aku gak bisa terima." "Ya sudah, nanti aku jemur lagi. Kalau sudah kering, aku bawa ke kamu yah," balas wanita itu sambil tersenyum. Ada yang menerima penolakan itu dengan lapang dada seperti dia. Ada juga yang kesal. "Halah, baru jadi pengepul sehari saja sudah banyak gaya!" gerutu seorang pria sambil mengikat kembali karungnya dengan kasar. "Pengepul lain gak pernah serewel ini!" "Iya! Sombong banget!" timpal yang lain. Pandu menatap mereka dengan sorot
Para warga saling pandang. "Terus, kamu terima apa saja, Pan?" tanya salah satu dari mereka. "Semua hasil panen aku terima, Pak. Cabai rawit, pinang, kemiri, jahe, kopi, buah-buahan. Asalkan kualitasnya masuk syarat," jawab Pandu. Seorang wanita dewasa yang sejak tadi berdiri di dekat etalase ikut bertanya. "Kalau pinang, kamu berani beli berapa?" Pandu menoleh. "Ibu mau jual pinang? Kalau iya, aku lihat dulu barangnya. Nanti baru aku kasih tahu harganya." "Ada sih... tapi belum kering." "Kalau kualitasnya bagus dan keringnya juga bagus, harga dariku gak akan mengecewakan," balas Pandu sambil tersenyum. "Kalau gitu, aku jemur dulu sampai benar-benar kering," ucap wanita itu. Namun, dari raut wajahnya, dia tampak masih setengah percaya. Orang-orang yang lain pun sama. Bicara memang gampang. Mereka ingin melihat dulu, seberapa berani pemuda Kota ini memberi harga. Tiba-tiba, seorang pria berjalan ke depan Pandu sambil memikul sebuah karung. Dia meletakkannya, lalu membuka ikata












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.