Para warga saling pandang. "Terus, kamu terima apa saja, Pan?" tanya salah satu dari mereka. "Semua hasil panen aku terima, Pak. Cabai rawit, pinang, kemiri, jahe, kopi, buah-buahan. Asalkan kualitasnya masuk syarat," jawab Pandu. Seorang wanita dewasa yang sejak tadi berdiri di dekat etalase ikut bertanya. "Kalau pinang, kamu berani beli berapa?" Pandu menoleh. "Ibu mau jual pinang? Kalau iya, aku lihat dulu barangnya. Nanti baru aku kasih tahu harganya." "Ada sih... tapi belum kering." "Kalau kualitasnya bagus dan keringnya juga bagus, harga dariku gak akan mengecewakan," balas Pandu sambil tersenyum. "Kalau gitu, aku jemur dulu sampai benar-benar kering," ucap wanita itu. Namun, dari raut wajahnya, dia tampak masih setengah percaya. Orang-orang yang lain pun sama. Bicara memang gampang. Mereka ingin melihat dulu, seberapa berani pemuda Kota ini memberi harga. Tiba-tiba, seorang pria berjalan ke depan Pandu sambil memikul sebuah karung. Dia meletakkannya, lalu membuka ikata
Last Updated : 2026-10-04 Read more