Sebelum melangkah masuk, aku berhenti sejenak dan berbisik kepada pria di sampingku, "Boleh aku masuk lebih dulu, Tuan Baskara? Aku ingin melihat ekspresi mereka saat melihatku.""Silakan," jawab Baskara dengan suara lembut dan tenang. Dia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membuka pintu besar itu, lalu menyingkir dengan sikap seorang pria yang terhormat.Aku membalasnya dengan senyum tipis penuh arti, kemudian melangkah mantap memasuki aula utama.Gelak tawa, denting gelas, dan siulan usil yang memenuhi ruangan seketika terhenti saat pintu terbuka lebar. Puluhan pasang mata langsung tertuju ke arah pintu masuk, seolah semua orang tengah menantikan sebuah tontonan yang memalukan.Dua bos mafia yang duduk tak jauh dari pintu sontak terpaku, rokok cerutu mahal masih terselip di antara bibir mereka."Gila ...." gumam salah satu dari mereka, nyaris menjatuhkan gelas di tangannya. Matanya membelalak lebar."Dari mana datangnya perempuan secantik ini? Apa ada putri bos mafia lain yang
続きを読む