Share

Aku Bukan Taruhanmu
Aku Bukan Taruhanmu
Author: Soda

Bab 1

Author: Soda
Roda pesawat baru saja menyentuh landasan bandara saat ponselku dibanjiri lebih dari selusin notifikasi.

Aku mengambil koper, menyusuri lorong setelah keluar dari pesawat, lalu membuka layar ponselku. Sebuah pengumuman dengan latar merah mencolok terpampang di halaman utama forum rahasia itu: [Selamat untuk Tuan Baskara Daneswara atas hadiah berbobot dari Keluarga Rajendra!]

Di bawahnya terlampir bukti transaksi dari permainan kartu dengan taruhan besar. Tanda tangan pihak yang kalah tertera jelas di sana, dan dia adalah Rangga Prabaswara.

Lalu untuk taruhannya adalah aku, Sekar Rajendra.

Selama tiga tahun dia menjadi kekasihku, setiap hari selama aku berada di Benua Arkapura, dia tidak pernah berhenti mengatakan bahwa dia sedang merindukanku. Namun, begitu aku kembali, dia justru tega menjadikanku sebagai bahan taruhan dalam permainan kartu, seolah-olah aku tidak lebih berharga baginya. Dia menyerahkanku ke Baskara Daneswara, bos mafia paling berkuasa di Kota Kertamaya.

Rasa muak itu bahkan belum sempat kutelan ketika forum rahasia itu mendadak ramai.

Rangga mengunggah fotoku.

Itu foto profil lamaku, diambil empat tahun lalu saat berat badanku mencapai delapan puluh dua kilogram. Dalam foto itu, aku mengenakan sweter abu-abu kebesaran, dengan wajah sembap dan tatapan penuh ketakutan.

Rangga Prabaswara: [Semuanya, kenalkan, ini Sekar Rajendra, yang baru pulang dari Benua Arkapura! Tuan Baskara, kalau menurut kamu dia masih kurang gemuk, aku bisa tambahkan dua peti anggur berkualitas tinggi.]

Komentar-komentar ejekan langsung membanjiri seperti air bah.

[Hahaha! Tuan Rangga, kamu memang keterlaluan! Ini hadiah atau lelucon?]

[Pantas saja makin berisi. Kebanyakan makan makanan Arkapura, ya? Jangan-jangan sekarang beratnya sudah sembilan puluh satu kilogram!]

[Memangnya Tuan Baskara bisa tidur nyenyak malam ini? Atau jangan-jangan, malah remuk tertindih babi segemuk itu?]

Ting!

Sebuah pesan suara dari Rangga masuk. Suaranya terdengar berat seperti orang yang sedang mabuk dengan nada bicara yang dibuat-buat. Sama sekali tidak terdengar seperti orang yang menunjukkan rasa bersalah.

"Sekar, dengarkan aku. Jangan terlena dengan kehidupan indahmu selama di Arkapura. Tuan Baskara juga ikut dalam permainan malam ini. Kalau aku nggak mempertaruhkan sesuatu yang berharga, keluarga kita nggak akan mendapatkan kesepakatan perdagangan senjata untuk musim berikutnya. Sebagai putri mendiang bos keluarga ini, sudah sepantasnya kamu berkorban. Jadi, jadilah gadis baik dan datanglah ke klub pribadi besok malam. Jangan sampai kamu mempermalukanku."

Kugenggam ponselku erat-erat hingga buku-buku jariku memutih. Rasa mual menjalar di perutku.

Tiga tahun menjalin hubungan. Satu tahun terpisah. Namun, di matanya, aku tidak lebih dari batu pijakan untuk menaiki tangga kekuasaan.

Tepat saat itu, seseorang membuat jajak pendapat dengan taruhan besar di forum obrolan itu: [Saatnya bertaruh! Apakah Nona Sekar benar-benar muncul di klub besok malam setelah setahun menghilang?]

Rangga langsung memasang taruhan di depan semua orang tanpa ragu sedikit pun: [480 juta, dia pasti sembunyi di rumah dan nggak berani keluar!]

Tak lama kemudian, Gendhis, sosialita paling terkenal sekaligus paling banyak dibicarakan di Kota Kertamaya, mengirimkan pesan suara ke grup. Suaranya terdengar manis, tetapi setiap katanya mengandung racun.

"Rangga, kok kamu tega sekali memperlakukan Sekar kecil kita seperti itu? Memang, sih, dia agak gemuk dan lemah, tapi dia masih putri bos sebelumnya. Sekar, Sayang, kalau kamu takut, minta maaf saja ke Rangga. Nanti aku coba bujuk Tuan Baskara biar nggak terlalu keras ke kamu."

Aku berdiri di depan cermin besar di ruang tunggu pribadi. Setelah memasang kacamata hitamku, kulepas mantel panjang yang membungkus tubuhku.

Pantulan di cermin memperlihatkan seorang wanita mengenakan gaun hitam ketat dengan desain sederhana. Tulang selangkaku tampak tegas, bahuku terbentuk indah, dan pinggangku ramping tanpa sedikit pun lemak berlebih. Proporsi tubuhku nyaris sempurna.

Selama setahun di Benua Arkapura, aku rajin berolahraga selama empat jam setiap hari. Dari berat delapan puluh dua kilogram, aku berhasil mengubah tubuhku sampai empat puluh delapan kilogram. Aku juga berhasil meraih gelar sebagai desainer perhiasan unggulan dari Akademi Seni Kerajaan. Bersamaan dengan itu, aku menyingkirkan segala ketakutan dan keraguan terhadap diriku sendiri.

Awalnya, kukira aku kembali ke Kota Kertamaya demi cinta.

Ternyata, kepulanganku kali ini bertujuan untuk menghancurkan kesombongan dari seorang bajingan.

Kutatap taruhan Rangga sebesar 480 juta tanpa berkata apa-apa. Perlahan, hatiku mengeras, tak lagi menyisakan kehangatan untuknya.

Kubuka forum taruhan itu, lalu menautkan kartu pembayaranku, dan kupasang taruhan sebesar 800 juta pada salah satu pilihan: [Datang tepat waktu.]

Forum itu mendadak senyap. Detik berikutnya, semua orang langsung heboh.

[Gila! Siapa yang baru saja bertaruh 800 juta kalau dia bakal datang?]

Kuhapus setetes air mata yang lolos dari sudut mataku. Jemariku bergerak cepat di atas papan ketik.

Di tengah gelak tawa dan ejekan yang memenuhi forum itu, kukirimkan pesan pertamaku sejak kembali ke rumah.

[Aku akan datang tepat waktu. Sampai jumpa.]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 10

    "Sekar! Tunggu!"Suara decitan ban memecah suasana hangat itu. Rangga berlari keluar dari pintu klub sambil menggenggam kunci mobil balapnya. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, pakaiannya berantakan, dan matanya dipenuhi permohonan serta keputusasaan."Sekar! Kumohon, beri aku kesempatan! Biar aku yang mengantarmu pulang! Kita bisa membicarakan ini baik-baik!"Sebelum aku sempat menjawab, Baskara melangkah ke samping dan menghadang Rangga. Tubuhnya yang tinggi dan tegap berdiri kokoh di depan pintu mobil, bak gunung yang mustahil ditaklukkan.Dia menatap Rangga dengan tatapan dingin dan tajam."Nggak perlu. Mulai malam ini, dia adalah bos yang sebenarnya dari Keluarga Rajendra. Sedangkan kamu …."Baskara berhenti sejenak, lalu melontarkan kalimat pamungkas dengan seringai dingin, "Sampah menyedihkan sepertimu nggak pantas berdiri di sisinya.""Sekar! Kumohon, angkat teleponku! Aku mengaku salah, aku serius!"Teleponku terus berdering sepanjang pagi.Sejak tengah malam, rumor itu tela

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 9

    "Ng … nggak … ini nggak mungkin! Ini palsu! Kamu memalsukan semua ini!" Rangga mencengkeram lembaran-lembaran dokumen itu dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya membelalak seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya."Dokumen resmi yang ditandatangani langsung oleh Bos Besar dulu, disahkan dengan segel Notaris Internasional dan persetujuan kelima keluarga mafia." Suara Baskara menggema di ruang VIP yang sunyi, tanpa sedikit pun kehangatan. "Bos Besar sudah tahu betapa serakah dan nggak bergunanya dirimu. Seluruh aset Keluarga Rajendra, gudang senjata, dan saham utama diwariskan ke Sekar. Siapa pun yang mencoba merebutnya akan dicopot dari jabatannya dan diusir!"Seluruh ruangan seketika terhenyak."Gila ... jadi, pewaris yang sebenarnya selama ini, Sekar?!""Bos Besar mempercayakan urusan pribadi dan persenjataannya ke Keluarga Daneswara. Dia menunggu sampai Sekar cukup umur!""Jadi, Rangga cuma orang dalam palsu yang bekerja untuk pewaris sebenarnya? Dia bahkan bukan bos sunggu

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 8

    "Lima belas, empat belas, tiga belas ...."Di tengah seruan dan hitung mundur yang menggema di antara kerumunan, Baskara tetap menopang tubuhku dengan satu tangan. Dadanya begitu dekat hingga menempel pada wajahku. Detak jantungnya yang teratur terdengar jelas di telingaku.Rangga menerjang maju seperti orang kesetanan, berusaha merebutku kembali. "Kembalikan dia padaku!"Baskara bahkan tak meliriknya. Dia memutar tubuh, menjadikan punggungnya yang kokoh sebagai penghalang hingga Rangga tidak bisa lagi mendekatiku. Dia melindungiku sepenuhnya, tidak membiarkan siapa pun untuk menyentuhku."Lepaskan dia! Dia sudah jadi pacarku selama tiga tahun!" teriak Rangga histeris, matanya memerah karena amarah."Sudah tiga tahun bersama, tapi kamu masih tega menjadikannya taruhan?" Suara Baskara merendah, dingin dan tajam. "Tiga tahun. Hanya segitu nilai hubungan kalian bagimu, Rangga?"Ucapan itu membuat Rangga terdiam. Dia hanya berdiri terpaku dengan mulut ternganga dan wajahnya pucat pasi. Tak

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 7

    Tubuhku langsung menabrak dada Baskara yang keras bak baja. Aroma kayu cedar yang segar langsung menyelimutiku."Yakin nggak mau mundur?" Tangan Baskara semakin erat di pinggangku. Suaranya yang dalam terdengar serak dan tertahan saat berbisik di dekat telingaku. "Katakan saja, dan taruhan ini akan aku batalkan.""Yang benar saja, Tuan." Aku sedikit mendongakkan kepala hingga bibir merahku nyaris menyentuh dagunya. "Aku selalu menepati janjiku. Pertunjukannya baru saja dimulai."Seluruh ruangan menahan napas.Kilatan usil melintas di mata Baskara. Dia mengambil garpu perak dari atas meja, memotong sepotong kue cokelat yang lembut, lalu menyuapkannya tepat ke bibirku.Tanpa ragu, aku membuka mulut dan menggigit kue itu. Saat menerima suapannya, ujung bibirku dengan santai sengaja menyentuh ujung jari Baskara yang memegang garpu. Seketika, tubuhnya menegang dan sorot matanya langsung berubah.Aku mengambil garpu perak dari tangannya, memotong sepotong kue, lalu menyuapkannya ke bibir Bas

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 6

    "Apa katamu?!" Rangga membeku seolah baru saja disambar petir.Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Sesaat kemudian, suara tawa mengejek dan seruan tak percaya pun langsung pecah dari kerumunan."Nggak mungkin! Dia pasti perempuan bayaran!""Hei, Sayang! Berapa pun bayaran yang kamu terima darinya, aku akan membayarmu dua kali lipat! Kamu tahu siapa yang sedang kamu permainkan? Perempuan gemuk itu adalah hadiah utama malam ini! Jangan main-main!""Betul! Foto yang beredar di forum itu jelas menunjukkan perempuan yang beratnya sembilan puluh satu kilogram, tubuhnya besar seperti paus! Tuan Rangga, apa kamu menyewa perempuan bayaran kelas atas untuk menyelamatkan harga dirimu?!""Sudah pasti kamu membawa perempuan palsu buat menggantikannya! Memangnya kami nggak pernah melihat perempuan cantik?"Beberapa anak buah mafia yang mulai panik berteriak sambil mengangkat ponsel mereka, memperlihatkan foto lamaku dari forum. Mereka bergegas maju untuk membongkar penyamaranku. Namun, saat mem

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 5

    Sebelum melangkah masuk, aku berhenti sejenak dan berbisik kepada pria di sampingku, "Boleh aku masuk lebih dulu, Tuan Baskara? Aku ingin melihat ekspresi mereka saat melihatku.""Silakan," jawab Baskara dengan suara lembut dan tenang. Dia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membuka pintu besar itu, lalu menyingkir dengan sikap seorang pria yang terhormat.Aku membalasnya dengan senyum tipis penuh arti, kemudian melangkah mantap memasuki aula utama.Gelak tawa, denting gelas, dan siulan usil yang memenuhi ruangan seketika terhenti saat pintu terbuka lebar. Puluhan pasang mata langsung tertuju ke arah pintu masuk, seolah semua orang tengah menantikan sebuah tontonan yang memalukan.Dua bos mafia yang duduk tak jauh dari pintu sontak terpaku, rokok cerutu mahal masih terselip di antara bibir mereka."Gila ...." gumam salah satu dari mereka, nyaris menjatuhkan gelas di tangannya. Matanya membelalak lebar."Dari mana datangnya perempuan secantik ini? Apa ada putri bos mafia lain yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status