로그인"Sekar! Tunggu!"Suara decitan ban memecah suasana hangat itu. Rangga berlari keluar dari pintu klub sambil menggenggam kunci mobil balapnya. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, pakaiannya berantakan, dan matanya dipenuhi permohonan serta keputusasaan."Sekar! Kumohon, beri aku kesempatan! Biar aku yang mengantarmu pulang! Kita bisa membicarakan ini baik-baik!"Sebelum aku sempat menjawab, Baskara melangkah ke samping dan menghadang Rangga. Tubuhnya yang tinggi dan tegap berdiri kokoh di depan pintu mobil, bak gunung yang mustahil ditaklukkan.Dia menatap Rangga dengan tatapan dingin dan tajam."Nggak perlu. Mulai malam ini, dia adalah bos yang sebenarnya dari Keluarga Rajendra. Sedangkan kamu …."Baskara berhenti sejenak, lalu melontarkan kalimat pamungkas dengan seringai dingin, "Sampah menyedihkan sepertimu nggak pantas berdiri di sisinya.""Sekar! Kumohon, angkat teleponku! Aku mengaku salah, aku serius!"Teleponku terus berdering sepanjang pagi.Sejak tengah malam, rumor itu tela
"Ng … nggak … ini nggak mungkin! Ini palsu! Kamu memalsukan semua ini!" Rangga mencengkeram lembaran-lembaran dokumen itu dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya membelalak seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya."Dokumen resmi yang ditandatangani langsung oleh Bos Besar dulu, disahkan dengan segel Notaris Internasional dan persetujuan kelima keluarga mafia." Suara Baskara menggema di ruang VIP yang sunyi, tanpa sedikit pun kehangatan. "Bos Besar sudah tahu betapa serakah dan nggak bergunanya dirimu. Seluruh aset Keluarga Rajendra, gudang senjata, dan saham utama diwariskan ke Sekar. Siapa pun yang mencoba merebutnya akan dicopot dari jabatannya dan diusir!"Seluruh ruangan seketika terhenyak."Gila ... jadi, pewaris yang sebenarnya selama ini, Sekar?!""Bos Besar mempercayakan urusan pribadi dan persenjataannya ke Keluarga Daneswara. Dia menunggu sampai Sekar cukup umur!""Jadi, Rangga cuma orang dalam palsu yang bekerja untuk pewaris sebenarnya? Dia bahkan bukan bos sunggu
"Lima belas, empat belas, tiga belas ...."Di tengah seruan dan hitung mundur yang menggema di antara kerumunan, Baskara tetap menopang tubuhku dengan satu tangan. Dadanya begitu dekat hingga menempel pada wajahku. Detak jantungnya yang teratur terdengar jelas di telingaku.Rangga menerjang maju seperti orang kesetanan, berusaha merebutku kembali. "Kembalikan dia padaku!"Baskara bahkan tak meliriknya. Dia memutar tubuh, menjadikan punggungnya yang kokoh sebagai penghalang hingga Rangga tidak bisa lagi mendekatiku. Dia melindungiku sepenuhnya, tidak membiarkan siapa pun untuk menyentuhku."Lepaskan dia! Dia sudah jadi pacarku selama tiga tahun!" teriak Rangga histeris, matanya memerah karena amarah."Sudah tiga tahun bersama, tapi kamu masih tega menjadikannya taruhan?" Suara Baskara merendah, dingin dan tajam. "Tiga tahun. Hanya segitu nilai hubungan kalian bagimu, Rangga?"Ucapan itu membuat Rangga terdiam. Dia hanya berdiri terpaku dengan mulut ternganga dan wajahnya pucat pasi. Tak
Tubuhku langsung menabrak dada Baskara yang keras bak baja. Aroma kayu cedar yang segar langsung menyelimutiku."Yakin nggak mau mundur?" Tangan Baskara semakin erat di pinggangku. Suaranya yang dalam terdengar serak dan tertahan saat berbisik di dekat telingaku. "Katakan saja, dan taruhan ini akan aku batalkan.""Yang benar saja, Tuan." Aku sedikit mendongakkan kepala hingga bibir merahku nyaris menyentuh dagunya. "Aku selalu menepati janjiku. Pertunjukannya baru saja dimulai."Seluruh ruangan menahan napas.Kilatan usil melintas di mata Baskara. Dia mengambil garpu perak dari atas meja, memotong sepotong kue cokelat yang lembut, lalu menyuapkannya tepat ke bibirku.Tanpa ragu, aku membuka mulut dan menggigit kue itu. Saat menerima suapannya, ujung bibirku dengan santai sengaja menyentuh ujung jari Baskara yang memegang garpu. Seketika, tubuhnya menegang dan sorot matanya langsung berubah.Aku mengambil garpu perak dari tangannya, memotong sepotong kue, lalu menyuapkannya ke bibir Bas
"Apa katamu?!" Rangga membeku seolah baru saja disambar petir.Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Sesaat kemudian, suara tawa mengejek dan seruan tak percaya pun langsung pecah dari kerumunan."Nggak mungkin! Dia pasti perempuan bayaran!""Hei, Sayang! Berapa pun bayaran yang kamu terima darinya, aku akan membayarmu dua kali lipat! Kamu tahu siapa yang sedang kamu permainkan? Perempuan gemuk itu adalah hadiah utama malam ini! Jangan main-main!""Betul! Foto yang beredar di forum itu jelas menunjukkan perempuan yang beratnya sembilan puluh satu kilogram, tubuhnya besar seperti paus! Tuan Rangga, apa kamu menyewa perempuan bayaran kelas atas untuk menyelamatkan harga dirimu?!""Sudah pasti kamu membawa perempuan palsu buat menggantikannya! Memangnya kami nggak pernah melihat perempuan cantik?"Beberapa anak buah mafia yang mulai panik berteriak sambil mengangkat ponsel mereka, memperlihatkan foto lamaku dari forum. Mereka bergegas maju untuk membongkar penyamaranku. Namun, saat mem
Sebelum melangkah masuk, aku berhenti sejenak dan berbisik kepada pria di sampingku, "Boleh aku masuk lebih dulu, Tuan Baskara? Aku ingin melihat ekspresi mereka saat melihatku.""Silakan," jawab Baskara dengan suara lembut dan tenang. Dia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membuka pintu besar itu, lalu menyingkir dengan sikap seorang pria yang terhormat.Aku membalasnya dengan senyum tipis penuh arti, kemudian melangkah mantap memasuki aula utama.Gelak tawa, denting gelas, dan siulan usil yang memenuhi ruangan seketika terhenti saat pintu terbuka lebar. Puluhan pasang mata langsung tertuju ke arah pintu masuk, seolah semua orang tengah menantikan sebuah tontonan yang memalukan.Dua bos mafia yang duduk tak jauh dari pintu sontak terpaku, rokok cerutu mahal masih terselip di antara bibir mereka."Gila ...." gumam salah satu dari mereka, nyaris menjatuhkan gelas di tangannya. Matanya membelalak lebar."Dari mana datangnya perempuan secantik ini? Apa ada putri bos mafia lain yang







