공유

Bab 3

작가: Soda
Saat membaca pesan pribadi dari Baskara, ujung jemariku sedikit gemetar.

Bahkan sebelum aku sempat membalas, ponselku kembali bergetar.

Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak aku kenal.

Begitu kuangkat, suara Rangga yang penuh ejekan dan niat jahat langsung terdengar dari seberang.

"Sekar, kamu pikir hanya karena Baskara mengirim satu pesan, itu berarti dia tertarik padamu? Teruslah bermimpi!"

Aku mendengus dingin sambil melangkah keluar dari ruang kedatangan dan membuka pintu mobil pribadiku. "Rangga Prabaswara, bukannya aku sudah memblokirmu? Sampai segitunya kamu mencari cara untuk meneleponku dan mengoceh nggak karuan?"

"Aku sedang menyadarkanmu!" Suaranya terdengar tajam, penuh nada merendahkan. "Kamu pikir jika kamu memblokirku, itu akan mengubah sesuatu? Baskara hanya bersikap sopan. Kamu benar-benar berpikir kamu pantas mendapatkan pria yang berada di puncak kekuasaan? Setahun di Arkapura, apa semua makanan di sana sudah membuat otakmu rusak?"

Mendengar hinaannya yang begitu keterlaluan, kenangan selama tiga tahun terakhir bermunculan di benakku seperti potongan film yang buruk.

Rangga adalah pria yang pernah berkendara semalaman setelah menghadiri pertemuan antargeng demi menemaniku menyaksikan matahari terbit, hanya karena aku pernah bilang ingin melakukannya.

Dia adalah pria yang menghabiskan setengah bulan belajar membuat cokelat premium dari seorang koki profesional hanya karena dia tahu aku menyukai makanan manis.

Selama ayahku masih hidup, beliau tidak pernah membatasi uang yang kubutuhkan. Namun, dalam urusan perasaan, beliau tidak pernah mengajariku cara mengenali seorang pria yang pandai berpura-pura.

Setelah ayah meninggal, hanya Rangga yang masih memperlakukanku seperti seorang putri.

Dan aku pun tertipu olehnya.

Tanpa pikir panjang, aku mendukungnya, membiarkannya memperluas kekuasaan dan mengganti orang-orang kepercayaan keluarga dengan anak buahnya sendiri. Kukira semua itu adalah bukti cinta.

Namun, satu tahun yang lalu, tepat setelah aku naik pesawat menuju Arkapura, dia tanpa sengaja menemukan foto lamaku saat berat badanku berada di titik tertinggi.

Gendhis ada di sana. Wanita itu hanya menyeringai lalu berkata, "Aku nggak menyangka seleramu ternyata adalah seekor paus terdampar." Ekspresi wajah Rangga seketika langsung berubah. Saat itu, kukira dia marah karena ingin membelaku. Namun, kini aku tahu kenyataannya, ucapan itu ternyata melukai harga dirinya yang rapuh dan menyedihkan.

Sejak hari itu, sikapnya perlahan berubah dingin. Hingga akhirnya, malam ini, dia sendiri yang menjatuhkanku ke dalam jurang, demi menjadikanku batu loncatan untuk meraih puncak kekuasaan.

"Sudah selesai?" tanyaku datar, suaraku terdengar dingin melalui sambungan telepon.

"Terlalu kasar untukmu? Memang itu kenyataannya!" bentak Rangga tanpa sedikit pun menahan diri. "Aku sudah lama tahu betapa menjijikkannya kepura-puraanmu itu! Kalau dulu kamu nggak ada gunanya bagiku, aku bahkan nggak sudi melihatmu tanpa merasa mual!"

Jadi, topengnya benar-benar sudah terlepas.

Kugenggam ponselku erat-erat, sementara senyum sinis tersungging di sudut bibirku.

Setiap air mata yang pernah kutumpahkan untuknya, setiap sisa harapan yang susah payah kusimpan, membeku sepenuhnya pada detik itu.

"Kalau kamu begitu membenciku …." ucapku sambil menyandarkan tubuh ke kursi mobil, nadaku santai seolah-olah kami sedang membicarakan cuaca. "Aku harap, besok malam kamu masih bisa tertawa."

"Tertawa? Tentu saja aku akan tertawa!" Rangga semakin sombong, tidak lagi berusaha menyembunyikan ancamannya. "Besok malam, sepanjang acara Gendhis akan terus berada di sisiku. Sedangkan kamu, cukup kenakan gaun tanpa tali yang membungkus tubuh besarmu itu, lalu datanglah untuk minum sambil berpelukan dan menjalani acara gendong ala putri! Aku nggak sabar melihat bagaimana babi gemuk sepertimu mempermalukan diri sendiri di hadapan Gendhis dan seluruh mafia Kota Kertamaya!"

Kuakhiri panggilan itu, lalu kembali membuka pesan dari pemilik foto profil hitam pekat itu.

Jemariku bergerak cepat di atas papan ketik saat membalas pesan Baskara:

[Terima kasih atas perhatianmu, Tuan Baskara. Aku akan datang tepat waktu untuk menghadiri jamuan besok malam.]

Baskara membalas dengan cepat. Hanya satu kalimat singkat.

Baskara Daneswara: [Bagus. Besok malam, aku akan menyambut kepulanganmu.]

Kukunci layar ponsel, melemparkannya ke samping, lalu menatap gemerlap lampu neon yang menghiasi cakrawala Kota Kertamaya. Tidak ada lagi sedikit pun kehangatan di mataku.

Gendhis akan datang dengan bergelayut di lengannya?

Rangga, besok malam akan jauh lebih menyenangkan daripada yang kamu bayangkan.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 10

    "Sekar! Tunggu!"Suara decitan ban memecah suasana hangat itu. Rangga berlari keluar dari pintu klub sambil menggenggam kunci mobil balapnya. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, pakaiannya berantakan, dan matanya dipenuhi permohonan serta keputusasaan."Sekar! Kumohon, beri aku kesempatan! Biar aku yang mengantarmu pulang! Kita bisa membicarakan ini baik-baik!"Sebelum aku sempat menjawab, Baskara melangkah ke samping dan menghadang Rangga. Tubuhnya yang tinggi dan tegap berdiri kokoh di depan pintu mobil, bak gunung yang mustahil ditaklukkan.Dia menatap Rangga dengan tatapan dingin dan tajam."Nggak perlu. Mulai malam ini, dia adalah bos yang sebenarnya dari Keluarga Rajendra. Sedangkan kamu …."Baskara berhenti sejenak, lalu melontarkan kalimat pamungkas dengan seringai dingin, "Sampah menyedihkan sepertimu nggak pantas berdiri di sisinya.""Sekar! Kumohon, angkat teleponku! Aku mengaku salah, aku serius!"Teleponku terus berdering sepanjang pagi.Sejak tengah malam, rumor itu tela

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 9

    "Ng … nggak … ini nggak mungkin! Ini palsu! Kamu memalsukan semua ini!" Rangga mencengkeram lembaran-lembaran dokumen itu dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya membelalak seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya."Dokumen resmi yang ditandatangani langsung oleh Bos Besar dulu, disahkan dengan segel Notaris Internasional dan persetujuan kelima keluarga mafia." Suara Baskara menggema di ruang VIP yang sunyi, tanpa sedikit pun kehangatan. "Bos Besar sudah tahu betapa serakah dan nggak bergunanya dirimu. Seluruh aset Keluarga Rajendra, gudang senjata, dan saham utama diwariskan ke Sekar. Siapa pun yang mencoba merebutnya akan dicopot dari jabatannya dan diusir!"Seluruh ruangan seketika terhenyak."Gila ... jadi, pewaris yang sebenarnya selama ini, Sekar?!""Bos Besar mempercayakan urusan pribadi dan persenjataannya ke Keluarga Daneswara. Dia menunggu sampai Sekar cukup umur!""Jadi, Rangga cuma orang dalam palsu yang bekerja untuk pewaris sebenarnya? Dia bahkan bukan bos sunggu

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 8

    "Lima belas, empat belas, tiga belas ...."Di tengah seruan dan hitung mundur yang menggema di antara kerumunan, Baskara tetap menopang tubuhku dengan satu tangan. Dadanya begitu dekat hingga menempel pada wajahku. Detak jantungnya yang teratur terdengar jelas di telingaku.Rangga menerjang maju seperti orang kesetanan, berusaha merebutku kembali. "Kembalikan dia padaku!"Baskara bahkan tak meliriknya. Dia memutar tubuh, menjadikan punggungnya yang kokoh sebagai penghalang hingga Rangga tidak bisa lagi mendekatiku. Dia melindungiku sepenuhnya, tidak membiarkan siapa pun untuk menyentuhku."Lepaskan dia! Dia sudah jadi pacarku selama tiga tahun!" teriak Rangga histeris, matanya memerah karena amarah."Sudah tiga tahun bersama, tapi kamu masih tega menjadikannya taruhan?" Suara Baskara merendah, dingin dan tajam. "Tiga tahun. Hanya segitu nilai hubungan kalian bagimu, Rangga?"Ucapan itu membuat Rangga terdiam. Dia hanya berdiri terpaku dengan mulut ternganga dan wajahnya pucat pasi. Tak

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 7

    Tubuhku langsung menabrak dada Baskara yang keras bak baja. Aroma kayu cedar yang segar langsung menyelimutiku."Yakin nggak mau mundur?" Tangan Baskara semakin erat di pinggangku. Suaranya yang dalam terdengar serak dan tertahan saat berbisik di dekat telingaku. "Katakan saja, dan taruhan ini akan aku batalkan.""Yang benar saja, Tuan." Aku sedikit mendongakkan kepala hingga bibir merahku nyaris menyentuh dagunya. "Aku selalu menepati janjiku. Pertunjukannya baru saja dimulai."Seluruh ruangan menahan napas.Kilatan usil melintas di mata Baskara. Dia mengambil garpu perak dari atas meja, memotong sepotong kue cokelat yang lembut, lalu menyuapkannya tepat ke bibirku.Tanpa ragu, aku membuka mulut dan menggigit kue itu. Saat menerima suapannya, ujung bibirku dengan santai sengaja menyentuh ujung jari Baskara yang memegang garpu. Seketika, tubuhnya menegang dan sorot matanya langsung berubah.Aku mengambil garpu perak dari tangannya, memotong sepotong kue, lalu menyuapkannya ke bibir Bas

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 6

    "Apa katamu?!" Rangga membeku seolah baru saja disambar petir.Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Sesaat kemudian, suara tawa mengejek dan seruan tak percaya pun langsung pecah dari kerumunan."Nggak mungkin! Dia pasti perempuan bayaran!""Hei, Sayang! Berapa pun bayaran yang kamu terima darinya, aku akan membayarmu dua kali lipat! Kamu tahu siapa yang sedang kamu permainkan? Perempuan gemuk itu adalah hadiah utama malam ini! Jangan main-main!""Betul! Foto yang beredar di forum itu jelas menunjukkan perempuan yang beratnya sembilan puluh satu kilogram, tubuhnya besar seperti paus! Tuan Rangga, apa kamu menyewa perempuan bayaran kelas atas untuk menyelamatkan harga dirimu?!""Sudah pasti kamu membawa perempuan palsu buat menggantikannya! Memangnya kami nggak pernah melihat perempuan cantik?"Beberapa anak buah mafia yang mulai panik berteriak sambil mengangkat ponsel mereka, memperlihatkan foto lamaku dari forum. Mereka bergegas maju untuk membongkar penyamaranku. Namun, saat mem

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 5

    Sebelum melangkah masuk, aku berhenti sejenak dan berbisik kepada pria di sampingku, "Boleh aku masuk lebih dulu, Tuan Baskara? Aku ingin melihat ekspresi mereka saat melihatku.""Silakan," jawab Baskara dengan suara lembut dan tenang. Dia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membuka pintu besar itu, lalu menyingkir dengan sikap seorang pria yang terhormat.Aku membalasnya dengan senyum tipis penuh arti, kemudian melangkah mantap memasuki aula utama.Gelak tawa, denting gelas, dan siulan usil yang memenuhi ruangan seketika terhenti saat pintu terbuka lebar. Puluhan pasang mata langsung tertuju ke arah pintu masuk, seolah semua orang tengah menantikan sebuah tontonan yang memalukan.Dua bos mafia yang duduk tak jauh dari pintu sontak terpaku, rokok cerutu mahal masih terselip di antara bibir mereka."Gila ...." gumam salah satu dari mereka, nyaris menjatuhkan gelas di tangannya. Matanya membelalak lebar."Dari mana datangnya perempuan secantik ini? Apa ada putri bos mafia lain yang

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status