Share

Bab 2

Author: Soda
Bahkan sebelum aku sempat keluar dari ruang kedatangan, Rangga sudah meneleponku berkali-kali.

Begitu kuangkat panggilannya, bentakan penuh amarahnya nyaris memekakkan telingaku.

"Sekar! Kamu sudah gila?! Berani-beraninya kamu mengirim pesan seperti itu di forum dan memasang taruhan atas dirimu sendiri! Kamu tahu siapa yang sedang kamu tantang?"

Aku berhenti melangkah, lalu tertawa dingin. "Siapa yang kutantang? Bukankah kamu yang lebih dulu menjadikanku taruhan?"

"Aku melakukan semua itu demi keluarga!" potongnya dengan nada seolah-olah dirinya paling benar. Kesombongan dan sikapnya yang merendahkanku terdengar jelas dalam setiap katanya. "Kita sudah menjalin hubungan selama tiga tahun, dan selama setahun penuh kamu cuma bermalas-malasan di Arkapura. Pernahkah aku mengeluh? Tuan Baskara ikut bermain malam ini. Kalau aku nggak menyerahkanmu sebagai taruhan, bagaimana mungkin aku bisa mengamankan kesepakatan perdagangan senjata untuk musim berikutnya? Sadarlah! Ayahmu sudah meninggal tiga tahun lalu. Kamu pikir kamu masih putri mafia manja yang harus kulindungi setiap saat?"

"Jadi, kamu sengaja memakai fotoku yang sudah bertahun-tahun lalu dan mengunggahnya ke forum hanya untuk mempermalukanku?" Aku mencengkeram gagang koper, suaraku terdengar dingin.

Saat ayahku meninggal, keluarga kami masuk dalam kekacauan. Aku tidak punya siapa-siapa untuk dijadikan tempat bersandar. Orang-orang pun tanpa ampun mencemooh tubuhku yang gemuk. Semua kepedihan itu menumpuk hingga akhirnya aku mengalami kecemasan parah.

Rangga tahu betapa rapuhnya diriku saat itu. Pada malam-malam ketika aku tidak bisa tidur, dia selalu menemaniku lewat telepon. Dengan lembut, dia mengusap air mataku, lalu berbisik, "Jangan dengarkan omongan mereka. Kamu cantik, dan aku mencintaimu."

Sejak saat itu, kami mulai menjalin hubungan. Namun, hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Rangga takut orang-orang akan mempertanyakan bagaimana dirinya bisa menaiki tangga kesuksesan dalam keluarga mafia jika mereka tahu siapa aku sebenarnya. Karena itu, aku memilih menerima keinginannya untuk merahasiakan hubungan kami.

Sebelum kembali pulang, aku terus membayangkan reaksinya saat melihat perubahanku. Aku bertanya-tanya apakah akhirnya kami bisa mengumumkan hubungan kami kepada semua orang.

Namun, kenyataan justru menamparku dengan keras.

Tidak pernah kusangka, saat hubungan kami akhirnya akan segera diumumkan, Rangga justru menjadi orang pertama yang menginjak-injak harga diriku.

"Lalu kenapa? Memang itu kenyataannya! Apa bedanya kamu yang dulu dengan kamu yang sekarang?" bentaknya, amarahnya semakin meluap. "Aturan untuk besok malam sudah ditetapkan. Kalian harus minum sambil berpelukan erat, berfoto dengan pipi saling menempel untuk diunggah ke forum rahasia, lalu kamu harus digendong ala putri menyusuri karpet merah selama lima belas detik! Dengan tubuhmu yang beratnya sembilan puluh satu kilogram itu, kalau Tuan Baskara nggak langsung mengusirmu saat melihatmu, anggap saja itu adalah bentuk penghormatan darinya! Cepat minta maaf di forum dan batalkan taruhanmu!"

"Teruslah bermimpi." Kututup panggilannya, lalu langsung memblokir nomornya.

Sebuah notifikasi muncul di layar, menampilkan peraturan acara besok malam secara terperinci. Setiap butirnya seolah memang sengaja dirancang untuk merendahkan dan mempermalukanku.

Dan forum itu langsung dipenuhi komentar kejam:

[Aku dengar tinggi Tuan Baskara hampir seratus sembilan puluh satu sentimeter. Memangnya dia sanggup menggendong tank Arkapura seberat seratus kilogram?"

[Hahaha! Digendong ala putri selama lima belas detik? Kalau punggung Tuan Baskara sampai cedera, Keluarga Rajendra sanggup membayar biaya pengobatannya, nggak?]

[Tuan Rangga memang licik. Dia sengaja menyerahkan barang rongsokan hanya untuk menghina Keluarga Daneswara!]

Tepat saat itu, sahabatku, Larasati, meneleponku lewat panggilan video.

Di layar, matanya terlihat merah menahan amarah. "Sekar! Aku melihat fotomu di forum! Rangga benar-benar bajingan! Aku akan menghubungi anak buah kakakku sekarang juga. Malam ini juga akan kucabik-cabik dia!"

"Jangan." Aku menatap pantulan diriku di cermin, memperhatikan tulang selangkaku yang tegas dan sorot mataku yang kini penuh keyakinan. Suaraku tetap tenang, tetapi tetap terdengar dingin.

"Membunuhnya itu terlalu mudah. Dia pikir, meski setahun kuhabiskan di Arkapura, aku tetap nggak berubah. Dia masih menganggapku gadis bodoh dan nggak berdaya yang bisa diinjak-injak sesuka hatinya."

"Apa yang akan kamu lakukan?" jawab Larasati penasaran.

"Dia ingin menjadikanku batu loncatan untuk meraih kekuasaan? Kalau begitu, akan kutampar mukanya di hadapan seluruh dunia mafia Kota Kertamaya." Aku tersenyum tipis. "Bantu aku memilih gaun paling bagus untuk besok."

"Tentu saja! Aku akan membantumu!" seru Larasati sambil menghantamkan tinjunya ke telapak tangan yang lain.

Setelah mengakhiri panggilan, kubuka kembali forum rahasia itu. Semua orang masih sibuk mengejek berat badanku.

Tiba-tiba, sebuah pengumuman berwarna emas muncul di bagian atas layar.

Sebuah akun dengan foto profil hitam pekat, milik seseorang yang tidak pernah mengetik sepatah kata pun di grup mana saja, akhirnya memecah keheningan.

Itu adalah akun milik bos mafia paling berkuasa di Kota Kertamaya, Baskara Daneswara.

Baskara Daneswara: [Dia bukan bahan taruhan kalian.]

Seluruh forum seolah mendadak membeku. Selama satu menit penuh, tak satu pun pesan baru yang muncul.

Bahkan sebelum aku pulih dari keterkejutanku, sebuah pesan pribadi tiba-tiba masuk.

Foto profilnya masih sama, hitam pekat tanpa hiasan. Hanya ada beberapa kata di layar.

Baskara Daneswara: [Besok malam kalau kamu nggak ingin datang, nggak akan ada seorang pun yang akan berani menyentuhmu.]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 10

    "Sekar! Tunggu!"Suara decitan ban memecah suasana hangat itu. Rangga berlari keluar dari pintu klub sambil menggenggam kunci mobil balapnya. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, pakaiannya berantakan, dan matanya dipenuhi permohonan serta keputusasaan."Sekar! Kumohon, beri aku kesempatan! Biar aku yang mengantarmu pulang! Kita bisa membicarakan ini baik-baik!"Sebelum aku sempat menjawab, Baskara melangkah ke samping dan menghadang Rangga. Tubuhnya yang tinggi dan tegap berdiri kokoh di depan pintu mobil, bak gunung yang mustahil ditaklukkan.Dia menatap Rangga dengan tatapan dingin dan tajam."Nggak perlu. Mulai malam ini, dia adalah bos yang sebenarnya dari Keluarga Rajendra. Sedangkan kamu …."Baskara berhenti sejenak, lalu melontarkan kalimat pamungkas dengan seringai dingin, "Sampah menyedihkan sepertimu nggak pantas berdiri di sisinya.""Sekar! Kumohon, angkat teleponku! Aku mengaku salah, aku serius!"Teleponku terus berdering sepanjang pagi.Sejak tengah malam, rumor itu tela

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 9

    "Ng … nggak … ini nggak mungkin! Ini palsu! Kamu memalsukan semua ini!" Rangga mencengkeram lembaran-lembaran dokumen itu dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya membelalak seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya."Dokumen resmi yang ditandatangani langsung oleh Bos Besar dulu, disahkan dengan segel Notaris Internasional dan persetujuan kelima keluarga mafia." Suara Baskara menggema di ruang VIP yang sunyi, tanpa sedikit pun kehangatan. "Bos Besar sudah tahu betapa serakah dan nggak bergunanya dirimu. Seluruh aset Keluarga Rajendra, gudang senjata, dan saham utama diwariskan ke Sekar. Siapa pun yang mencoba merebutnya akan dicopot dari jabatannya dan diusir!"Seluruh ruangan seketika terhenyak."Gila ... jadi, pewaris yang sebenarnya selama ini, Sekar?!""Bos Besar mempercayakan urusan pribadi dan persenjataannya ke Keluarga Daneswara. Dia menunggu sampai Sekar cukup umur!""Jadi, Rangga cuma orang dalam palsu yang bekerja untuk pewaris sebenarnya? Dia bahkan bukan bos sunggu

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 8

    "Lima belas, empat belas, tiga belas ...."Di tengah seruan dan hitung mundur yang menggema di antara kerumunan, Baskara tetap menopang tubuhku dengan satu tangan. Dadanya begitu dekat hingga menempel pada wajahku. Detak jantungnya yang teratur terdengar jelas di telingaku.Rangga menerjang maju seperti orang kesetanan, berusaha merebutku kembali. "Kembalikan dia padaku!"Baskara bahkan tak meliriknya. Dia memutar tubuh, menjadikan punggungnya yang kokoh sebagai penghalang hingga Rangga tidak bisa lagi mendekatiku. Dia melindungiku sepenuhnya, tidak membiarkan siapa pun untuk menyentuhku."Lepaskan dia! Dia sudah jadi pacarku selama tiga tahun!" teriak Rangga histeris, matanya memerah karena amarah."Sudah tiga tahun bersama, tapi kamu masih tega menjadikannya taruhan?" Suara Baskara merendah, dingin dan tajam. "Tiga tahun. Hanya segitu nilai hubungan kalian bagimu, Rangga?"Ucapan itu membuat Rangga terdiam. Dia hanya berdiri terpaku dengan mulut ternganga dan wajahnya pucat pasi. Tak

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 7

    Tubuhku langsung menabrak dada Baskara yang keras bak baja. Aroma kayu cedar yang segar langsung menyelimutiku."Yakin nggak mau mundur?" Tangan Baskara semakin erat di pinggangku. Suaranya yang dalam terdengar serak dan tertahan saat berbisik di dekat telingaku. "Katakan saja, dan taruhan ini akan aku batalkan.""Yang benar saja, Tuan." Aku sedikit mendongakkan kepala hingga bibir merahku nyaris menyentuh dagunya. "Aku selalu menepati janjiku. Pertunjukannya baru saja dimulai."Seluruh ruangan menahan napas.Kilatan usil melintas di mata Baskara. Dia mengambil garpu perak dari atas meja, memotong sepotong kue cokelat yang lembut, lalu menyuapkannya tepat ke bibirku.Tanpa ragu, aku membuka mulut dan menggigit kue itu. Saat menerima suapannya, ujung bibirku dengan santai sengaja menyentuh ujung jari Baskara yang memegang garpu. Seketika, tubuhnya menegang dan sorot matanya langsung berubah.Aku mengambil garpu perak dari tangannya, memotong sepotong kue, lalu menyuapkannya ke bibir Bas

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 6

    "Apa katamu?!" Rangga membeku seolah baru saja disambar petir.Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Sesaat kemudian, suara tawa mengejek dan seruan tak percaya pun langsung pecah dari kerumunan."Nggak mungkin! Dia pasti perempuan bayaran!""Hei, Sayang! Berapa pun bayaran yang kamu terima darinya, aku akan membayarmu dua kali lipat! Kamu tahu siapa yang sedang kamu permainkan? Perempuan gemuk itu adalah hadiah utama malam ini! Jangan main-main!""Betul! Foto yang beredar di forum itu jelas menunjukkan perempuan yang beratnya sembilan puluh satu kilogram, tubuhnya besar seperti paus! Tuan Rangga, apa kamu menyewa perempuan bayaran kelas atas untuk menyelamatkan harga dirimu?!""Sudah pasti kamu membawa perempuan palsu buat menggantikannya! Memangnya kami nggak pernah melihat perempuan cantik?"Beberapa anak buah mafia yang mulai panik berteriak sambil mengangkat ponsel mereka, memperlihatkan foto lamaku dari forum. Mereka bergegas maju untuk membongkar penyamaranku. Namun, saat mem

  • Aku Bukan Taruhanmu   Bab 5

    Sebelum melangkah masuk, aku berhenti sejenak dan berbisik kepada pria di sampingku, "Boleh aku masuk lebih dulu, Tuan Baskara? Aku ingin melihat ekspresi mereka saat melihatku.""Silakan," jawab Baskara dengan suara lembut dan tenang. Dia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membuka pintu besar itu, lalu menyingkir dengan sikap seorang pria yang terhormat.Aku membalasnya dengan senyum tipis penuh arti, kemudian melangkah mantap memasuki aula utama.Gelak tawa, denting gelas, dan siulan usil yang memenuhi ruangan seketika terhenti saat pintu terbuka lebar. Puluhan pasang mata langsung tertuju ke arah pintu masuk, seolah semua orang tengah menantikan sebuah tontonan yang memalukan.Dua bos mafia yang duduk tak jauh dari pintu sontak terpaku, rokok cerutu mahal masih terselip di antara bibir mereka."Gila ...." gumam salah satu dari mereka, nyaris menjatuhkan gelas di tangannya. Matanya membelalak lebar."Dari mana datangnya perempuan secantik ini? Apa ada putri bos mafia lain yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status