Catalog
29 chapters
01. Panggilan Telepon
Rosmala menunggu kepulangan Arga, sudah pukul sembilan malam belum pulang-pulang. Rosmala sudah mencoba menghubungi dengan cara menelfon dan mengirim sms, namun sama sekali tidak ada balasan.  Sebenarnya Arga kemana?  Tidak mungkin ada kegiatan di kampus. Jam kampus saja sudah selesai sejak dirinya pulang. Pernikahan Rosmala dengan Arga baru berjalan tiga bulan. Dalam tiga bulan, Rosmala sudah menghadapi banyak masalah keluarganya. “Assalamu'alaikum.” Salam dari Arga membuat Rosmala langsung berdiri, dia sempat bercermin untuk membenarkan kerudungnya. Syukurlah suaminya yang sejak tadi di tunggu akhirnya pulang ke rumah—walaupun pulang larut malam. Rosmala langsung mencium punggung tangan Arga. “W*'alaikumsalam, Mas,” jawab Rosmala. Rosmala memandang Arga dengan sorot mata khawatir. “Kenapa baru pulang, Mas? Apa ada masalah pekerjaan atau urusan mendadak? Kenapa nggak hubungi Mala?” Rosmala bertanya dengan sederet p
Read more
02. Bentakan Dari Arga
“Assalamu'alaikum, Mbak,” salam Rosmala setelah panggilan terhubung. '"Walaikumsalam ... Rosmala?” jawab kak Yura. Nadanya terdengar sedikit terkejut, siapa yang mengangkat panggilan di ponsel Arga.  Mendengar nada bicara Yura membuat Rosmala sadar, Yura ingin berbicara dengan Arga, bukan ingin berbicara dengannya. Sepertinya Yura kecewa Rosmala yang mengangkat panggilan itu. “Iya, ada apa, Mbak?” Rosmala bertanya the point maksud dan tujuan Yura menelfon Arga. Detik ini juga, Rosmala masih berpikir positif, tapi dia sangat penasaran kenapa Yura menelfon Arga.  “Bisa bicara dengan Mas Arga?” Rosmala terdiam, mengeryit kening mendengar Yura menyebut suaminya dengan sebutan Mas—Mas Arga? Itu terdengar sangat tidak nyaman jika ada wanita memanggil suaminya dengan sebutan kata 'Mas.' Rosmala cukup lama terdiam di tempat sampai suara dari Yura menyadarkannya dari lamunan. “La?” panggil Yura. “Kamu mendengar perkataan Mbak
Read more
03. Dia Meminta Talak
“Mari kita cerai.” Dheg! Rosmala syok. Tubuhnya mematung di tempat. Dia berhenti bernapas. Jantungnya berdegup keras. Matanya tidak berkedip sama sekali. Mulutnya tanpa sadar sudah menganga lebar membentuk lubang tanpa dasar.Bumi seakan berhenti berputar, tiga kata itu terngiang di kepala Rosmala. Dia masih menatap Arga. Kata-kata yang selama ini tidak aku harapkan harus terdengar malam ini membuat luka hati tampak sempurna. “Aku ingin kita bercerai,” ulang Arga memperjelas. Rosmala menelan ludah susah payah dan mata menerjap beberapa kali. Rahangnya mulai mengeras, dia ingin menuntut penjelasan darinya, tapi lidah kelu untuk mengatakan.Demi Allah! Rosmala benar-benar dibuat syok. “C-ce-rai?”Arga mengangguk.Rosmala tersenyum getir. “A-apa yang kamu bicarakan?” tanya Rosmala dengan nada parau. Kerongkongannya terasa kering. “Aku mohon, Mas ... jangan bercanda.”“Tidak, La. Aku serius.”Read more
04. Luka Hati
“ROSMALA!” bentak Arga.Rosmala langsung terdiam, tidak melanjutkan perkataannya. Bentakan itu... terdengar menyakitkan di hatinya. Rosmala type wanita yang tidak suka dibentak, karena bentakkan membuat hati menohok. “Maafkan aku, Mala,” desis Arga lirih. “Maaf ... telah membentakmu,” ucapnya. Matanya menatap penuh bersalah. Rosmala meremas selimut kuat-kuat. Menunduk kepala, menatap selimut putih awan.“Tiga bulan lagi kita bercerai. Tapi sekarang kamu tetap menjadi tanggung jawabku, kamu masih menjadi istriku. Jadi, jangan berubah. Aku mohon, La.”“Mas,” panggil Rosmala dengan suara serak. Dia memberanikan diri untuk memandangi Arga.Arga menatap Rosmala dengan sorot mata bersalah. Terdiam sangat lama.“Mas Arga?” Air mata Rosmala mengalir turun dengan deras, membasahi kedua pipinya, menetes dan berjatuhan. “Seharusnya kamu nggak begini. Seharusnya kamu tidak pernah menikahiku. Tolong ... jangan menyiksa diriku. Aku mohon, berh
Read more
05. Ingat! Tiga Bulan Lagi
“Ini nggak akan sulit, 'kan, La?”Tubuh Rosmala membatu di tempat. Sejujur tubuhnya kaku sekali untuk digerakan, bahkan kepalanya ingin menoleh ke sumber suara tertahan seolah saraf otot menahan Rosmala agar tidak menoleh. Benar-benar kaku. Rosmala masih berdiri di tempat, di depan dapur. Awalnya dia hendak sarapan pagi membuat sandwich, tiba-tiba Arga mendatanginya dan menanyakan pertanyaan yang tidak bisa Rosmala jawab dengan kata-kata.“Jawab, La,” desak Arga. “Aku sungguh merasa tidak hati denganmu.”Rosmala membuka mulutnya dengan susah payah, tetapi untuk mengeluarkan suara susah. Kejadian semalam masih terekam di memori dan sekarang Arga mengungkit masalah itu? Jujur, Rosmala ingin berpura-puru seolah tidak terjadi apa-apa.  Rosmala percaya,  Everything will be fine.“Katakanlah yang mengganjal hatimu,” tambah Arga lagi. “Kamu masih menjadi istriku dan tanggung jawabku. Jadi, aku tidak ingin lari dari tanggung jawab seorang suami.”Read more
06. Mampu Melewati Cobaan
Orang-orang pasti menginginkan pernikahan sakinah, mawadah dan rahmah yang memiliki ketenangan, ketentraman, kasih sayang dan perasaan cinta kedua belah pihak. Namun pernikahan yang Rosmala jalani jauh dari itu, tidak ada kasih sayang, tidak ada ketenangan dan tidak ada keromatisan dalam rumah tangganya.Mungkin hanya Rosmala yang mempunyai rasa cinta, sedangkan Arga tidak.“Kenapa dia menikahiku?” gumam Rosmala sambil menunduk, memainkan ujung hijabnya. Matanya sembab dan wajahnya pucat tak terpoleskan make up dan lipstik sedikitpun. Rosmala benar-benar tidak mengerti dengan rencana Allah. Dear Allah, bukan pernikahan seperti ini yang diharapkan Rosmala.Salwa hanya diam, tidak membalas pertanyaan Rosmala. Dia juga tidak tahu, kenapa Arga menikah dengan Rosmala dan setelah mereka menikah, Arga ingin bercerai. Itu gila! Pemikiran bodoh seakan pernikahan sudah sah secara agama malah berakhir perceraian.Rosmala mulai bercerita panjang lebar, mengeluarkan apa y
Read more
07. Dear Allah
Sudah satu minggu setelah kejadian Arga meminta talak kepada Rosmala.Rosmala tidak lepas dari tanggung jawabnya, setiap pagi dia membangunkan Arga untuk shalat subuh, membuatkan sarapan untuknya dan tidak pernah lepas dari tugas seorang istri. Rumah baru yang ditempati masih terasa asing bagi Rosmala dan sangat dingin membuat Rosmala insomnia setiap malam.Rumah besar dan berlantai dua. Interior rumah warna olive dan alami dan tidak membosan, namun entah kenapa Rosmala tidak betah di sana. Malam ini Rosmala menghabiskan waktu dengan murotal Alquran dan membaca buku diagnosis gangguan jiwa sampai matanya terasa berat. Setelah salat tahajud, baru Rosmala bisa tidur dan bangun ketika azan subuh.Setelah salat subuh, Rosmala  membuat sarapan dan bersiap pergi ke kampus sebagai mahasiswa psikologi S1, semester 7. Kini umur Rosmala 21  tahun, dia lulus sekolah ketika berusia 17 tahun.Sebelum berangkat ke kampus, Rosmala dan Arga sarapan bersama. Tid
Read more
08. Tak Habis Pikir
“Apa kamu sedang ada masalah dengannya?” tanya Ganang tidak menyebut nama Rosmala.Arga hampir tersedak dengan pertanyaan Ganang. Dia memang belum bercerita mengenai dirinya ingin menggugat cerai Rosmala tidak bulan lagi. “Astagfirullah. Kamu kebiasaan banget bikin orang keselek, Nang.” Arga geleng-geleng kepala. Ganang tidak menanggapi itu, dia hanya ingin mendengar jawaban dari Arga tentang pertanyaan tadi. Mungkin Arga menghindari pertanyaannya. Ganang memperhatikan Arga yang mulai gelisah saat membicarakan Rosmala.“Pasti ada sesuatu,” batin Ganang. Ganang mulai menebak. “Kau menyakiti Mala lagi?”Arga berdehem. Menarik napas panjang lalu dihembuskan. “Aku ingin menceraikannya,” jawab Arga dengan suara sangat lirih. Berharap tidak ada yang mendengarkan percakapan mereka.Ganang yang mendengar itu, terkejut bukan main. Mata be
Read more
09. Nafkah Batin
Rosmala pergi ke rumah Salwa untuk melihat adiknya yang baru lahiran satu bulan. Dia berdiri di ambang pintu dan melihat Tania, Beliau Mama Salwa berada di dalam kamar yang sedang memberi ASI. Tania tersenyum pada Rosmala dan Rosmala membalasnya.“Udah izin ke suamimu belum?” tanya Salwa sambil melihat ke arah Mamanya.Rosmala diam. Haruskah dia meminta izin pada Arga lebih dahulu ketika akan pergi ke suatu tempat? Sedangkan Arga tidak pernah mengirim pesan saat pulang telat.“Belum.” Rosmala menjawab seadanya.“Ohh ….” Salwa mengangguk paham lalu kakinya berjalan mendekati Tania yang baru saja selesai memberi ASI dan diikuti oleh Rosmala.Ekor mata Rosmala melihat bayi mungil berpipi gembul. “Masya Allah, lucunya ….” Rosmala memegang pipinya dan mempermainkan pipi bayi ini saking gemasnya.“Sini gendong sama Kakak.” Salwa meminta Mamanya, dia ingin menggendong adik perempuan yang bernama Alena dan Tiana pun pergi ke dapur untuk menyiapkan makan m
Read more
10. Ijab Kabul
[Flashback On] Ketika resepsi pernikahan.Tubuh Rosmala terasa panas dingin ketika lantunan ayat suci mulai terdengar di gendang telinga. Yura menggenggam tangan Rosmala dengan erat. Wanita itu tidak menyangka bakal dilengkah oleh Rosmala. Resepsi pernikahan mereka dilaksanakan di Ballroom hotel.Suara Papa Rosmala sungguh mulai menggetarkan hati Rosmala. Tangisan Rosmala pecah saat Arga mengucapkan ijab kabul dengan lantang. Tak ada keraguan dari suaranya, namun keraguan itu datang setelah resepsi pernikahan selesai. Waktu itu Rosmala memperkenalkan Arga dan Yura.“Mbak Yura,” panggil Rosmala. Rosmala sengaja memperkenalkan Yura dengan Arga karena sejak tadi dia sama sekali tidak melihat Yura setelah keluar dari kamar. Rosmala mengira mereka berdua belum saling kenal. “Sini!” Rosmala menghentikan langkahnya dan Yura menghampiri.“Kalian sudah mau istirahat?” tanya Yura. “Pasti cape,
Read more
DMCA.com Protection Status