Share

Bab 5

*Happy reading*

"Kalau begitu kenapa kamu gak berani hanya memilih Audy saja, dan meninggalkan perusahaan Rara?"

Degh!

Tunggu!

Itu maksudnya apa?

Hening pun kembali menyapa. Membuat aku kembali menunggu dengan harap cemas, akan jawaban Kak sean setelah ini.

Namun, sampai waktu berlalu pun, Kak Sean ternyata tak memberikan jawaban juga. Hingga Mama Sulis pun kembali mendesaknya.

"Jawab Mama, Sean!"

"Karena Sean gak mau membuat Audy menderita sebagai istri Sean, Ma! Jadi Sean gak boleh kehilangan pekerjaan saat itu. Sean harus bertanggung jawab akan hidup dan kebahagiaan Audy saat itu."

Lalu, bagaimana dengan aku?!

Ingin sekali aku berteriak seperti itu. Namun, rasanya suaraku tercekat dalam tenggorokan, dan tak bisa keluar tanpa membuatku sesak.

Tuhan, ternyata pernikahan ini benar-benar tidak sehat dari awal. Wajar jika Kak Sean tak pernah mau melirikku. Karena ternyata ... aku ... hanya ... sebuah beban untuknya.

Sekarang harus bagaimana aku ambil sikap terhadap pernikahan ini?

"Seharusnya kamu memikirkan hal sama terhadap Rara juga, karena--"

Klik!

Cukup. Aku tak kuat lagi!

Akhirnya aku pun memilih menutup panggilan itu, saat Mama Sulis masih mencoba membuat Kak Sean mau memikirkanku.

Demi tuhan, aku tak ingin seperti ini!

Aku pun meninggalkan ponselku begitu saja di sofa, dan merayap ke atas tempat tidur dengan langkah tak pasti, untuk segera memejamkan mata.

"Gak papa, Ra. Besok semuanya pasti akan baik-baik saja." Aku mencoba memberi sugesti pada diriku sendiri. Berharap ini hanya sebuah mimpi buruk dalam hidupku, yang akan hilang saat aku membuka mata esok hari.

Aku menolak pikiran buruk, yang terus memenuhi kepalaku. Tentang Papi yang mungkin saja melakukan ancaman pada kak Sean, hanya untuk pernikahan ini. Atau mungkin memanipulasi Kak Sean saat itu.

Tidak, Papi gak mungkin setega itu, kan?

Ugh ... Papi, Rara harus bagaimana sekarang?

Tidur, Ra. Besok semuanya akan kembali baik-baik saja. Batinku menegur.

Aku merapatkan mataku seerat mungkin, dan mengigit bibir bawahku agar tak bergetar karena rasa sesak ini membuat mataku mulai memanas.

Jangan nangis, Ra! Kamu gak boleh lemah. Sekarang gak akan ada yang memelukmu jika sedih, Rara. Gak akan ada lagi yang mau menghiburmu. Kamu harus belajar berdiri pada kakimu sendiri.

Harus!

Kamu harus segera lulus, meraih sarjanamu, dan mengambil tampuk kepemimpinan perusahaan Papi. Agar bisa melepaskan Kak Sean dari bebannya, yaitu kamu.

Kamu harus kuat, Rara! Harus!

Akhirnya, sekalipun rasanya sulit sekali. Aku pun bisa memejamkan mata, meski harus diiringi rasa sakit hati yang luar biasa. Karena otakku tak bisa berhenti berpikir dan mengingatkanku, kalau ... ternyata ....

Aku cuma beban suamiku sendiri!

***

Akhirnya, setelah hari itu. Aku pun mencoba menjalani hariku seperti biasa. Tanpa memikirkan tentang pernikahan tak sehat ini, juga semua hal yang menyangkut pada pernikahan ini.

Aku tak ingin sakit hati terus menerus. Cukup sudah aku tahu alasan Kak Sean sebenarnya, dan mencari bukti sendiri tentang perjanjian hitam di atas putih pernikahan ini.

Ya, setelah aku bertanya langsung kepada sekretaris Papi dan pengacaranya. Ternyata memang benar, Papi menjanjikan masing-masing 20 saham perusahan, pada Kak Sean dan Kak Audy jika mereka mau menerimaku pada pernikahan mereka.

Konyol, kan!

Apa ... aku memang sebodoh itu, Sampai harus di carikan suami?

Apa, Papi terlalu takut hartanya jatuh ke pria yang salah, yang mungkin hanya akan manfaatkanku untuk sebuah harta?

Tuhan, aku benar-benar tak habis pikir untuk semua alasan di balik perjanjian Papi itu. Karena aku merasa, aku gak sebodoh itu.

Maka dari itu, karena sekarang aku sudah tau maksud dan niat Kak Sean menjadi suamiku. Aku pun mencoba mengabaikan dan menutup hatiku untuk pernikahan ini.

Aku yakin, sampai kapanpun. Kak Sean pasti gak akan mau menerimaku sebagai istrinya. Karena dari awal, bagi kak Sean istrinya itu hanya kak Audy. Sementara aku, hanya sumber penghasilan saja.

Jadi, untuk apa aku menjadi pungguk merindukan rembulan seperti ini? Iya, kan?

Lebih baik aku fokus pada pendidikanku, agar bisa segera melepaskan diri darinya.

Bercerai? Tentu saja. Apa lagi yang bisa aku lakukan selain itu? Karena aku tak ingin menjadi beban siapapun terlalu lama.

Ya! Aku rasa. Aku pasti bisa mengurus hidupku sendiri tanpa bantuan siapapun.

Kalian tenang saja, aku tidak serta merta mengabaikan orang-orang di Jakarta. Karena sampai saat ini pun, aku masih berhubungan baik dengan Mama Sulis, seperti hari biasanya.

Namun sekarang, aku menolak dan mencoba menutup telinga untuk semua kabar Kak Sean dan istrinya di sana.

Biarkan saja kami hidup masing-masing sekarang. Aku ingin lebih menikmati kesendirianku, sebelum benar-benar terjun menjalan Bisnis Papi.

Ya, Aku pasti bisa melewati ini semua!

Sayangnya, kebahagiaanku itu tak bertahan lama. Karena pada dua bulan setelahnya, sebuah nomor keramat menghubungiku, tanpa adanya peringatan terlebih Dahulu.

Kak Sean!

Bukan cuma itu, dia bahkan mengatakan sudah menungguku di depan Apartementku yang ada di sini, dan menyuruhku segera datang  Karena dia ingin segera istirahat.

"Saya baru sampai negara ini. Masih sangat lelah dan butuh tidur. Jadi kamu cepatlah datang, lalu bukakan pintu ini untuk saya. Saya mengantuk sekali."

Itu ucapannya yang penuh dengan nada perintah padaku.

Aku tidak tahu untuk urusan apa dia ke sini, dan akan berapa lama?

Yang jelas, mendengar hal itu. Tentu saja aku pun bergegas pulang, dan menyambut tamuku tersebut.

Terlepas dari hubungan kami yang sudah sangat lost contact. Bagaimanapun, dia masih sah sebagai suamiku. Dan Kehadirannya, memang tak boleh aku abaikan begitu saja, iya kan?

Karena surgaku masih ada pada kakinya.

Untungnya, kelas hari ini sudah selesai, dan jarak Apartement dari kampus juga tak terlalu jauh. Jadi, aku bisa berlari cepat untuk pulang.

Namun, baru saja aku sampai di hadapannya. Dia pun langsung menatapku tajam, dan berdesis kesal.

"Lelet!"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status