Metropop dan chicklit sering kali dianggap mirip karena sama-sama fokus pada kehidupan urban, tapi sebenarnya keduanya punya ciri khas yang berbeda. Metropop biasanya lebih universal dalam tema, menggali kompleksitas kehidupan modern dengan nuansa yang kadang puitis atau filosofis. Contohnya, karya-
karya dee lestari seperti 'Supernova' sering membahas isu sosial, teknologi, atau bahkan spiritual dengan gaya penceritaan yang dalam. Sementara chicklit lebih spesifik menyasar pembaca perempuan muda, dengan cerita yang ringan, romantis, dan penuh drama percintaan. Judul seperti 'Critical Eleven' atau 'Rectoverso' mungkin lebih mudah dikenali sebagai metropop, sedangkan '
cinta brontosaurus' atau '
jomblo happy' lebih condong ke chicklit.
Kalau dilihat dari
karakter tokohnya, metropop sering menampilkan sosok yang multi-dimensional, dengan konflik batin atau pencarian jati diri yang kuat. Chicklit cenderung punya protagonis yang relatable buat perempuan muda—misalnya, karir, cinta segitiga, atau pertemanan. Gaya bahasanya juga beda: metropop kadang pakai diksi lebih berat atau metafora, sementara chicklit lebih casual dan sering diselipkan humor. Tapi, batasannya nggak selalu kaku—kadang ada juga buku yang memadukan unsur keduanya.
Yang menarik, metropop sering mendapat pengakuan sastra lebih luas karena dianggap 'lebih serius', meski chicklit juga punya penggemar loyal sendiri. Di Indonesia, genre ini berkembang pesat tahun 2000-an, dengan metropop merambah ke pembaca lintas gender, sementara chicklit tetap jadi 'comfort read' bagi banyak orang. Nggak jarang juga penulis chicklit kemudian berkembang ke tema lebih berat, atau sebaliknya, penulis metropop sesekali bikin karya ringan. Jadi, meski berbeda, keduanya tetap punya tempat sendiri di hati pembaca.