Kalau ngomongin Fitri Soh, gue perhatiin dia lagi gencar banget di dunia teater musikal. Tahun ini dia jadi produser pendamping untuk adaptasi panggung dari novel 'Pulang' karya Leila S. Chudori. Yang keren, mereka pakai teknologi projection mapping buat scene flashback, jadi penonton bisa merasakan lompatan waktu dengan lebih immersive. Gue dapet spoiler dikit dari behind-the-scenes-nya: ternyata Fitri sendiri yang ngajak kolaborasi seniman mural buat desain visualnya.
Oh iya, dia juga baru buka kelas masterclass buat penulis muda, khusus ngajar cara bikin narasi kuat ala karya dia di 'Imperfect'-verse. Temen gue yang ikut bilang materinya daging banget—ga cuma teori tapi ada studi kasus langsung dari draft awal naskah filmnya dulu.
Fitri Soh tahun ini kayaknya lagi demen eksperimen dengan format hybrid. Projek teranyarnya yang viral itu kolaborasi sama brand skincare lokal bikin mini-series 'Dailies', di mana setiap episode durasinya cuma 5 menit tapi packed dengan karakter kuat dan twist ending ala Black Mirror versi slice-of-life. Uniknya, tiap episode bisa ditonton secara standalone, tapi kalo dilihat berurutan jadi satu kesatuan tema tentang perempuan urban. Aku suka banget cara dia mainin metafora skincare sebagai simbol self-growth—typical Fitri banget sih, selalu bisa bikin yang sehari-hari jadi filosofis.
Ada sesuatu yang menarik dari Fitri Soh tahun ini—dia baru saja meluncurkan serial podcast tentang perkembangan industri kreatif di Indonesia. Bukan sekadar wawancara biasa, tapi benar-benar menyelami proses kreatif para seniman, mulai dari musisi indie sampai sutradara film pendek. Aku sempat mendengarkan episode pertamanya yang ngobrol bareng komposer 'Geez & Ann', dan cara dia mengangkat cerita di balik layar bikin aku kayak menemukan harta karun.
Selain itu, Fitri juga aktif jadi kurator untuk festival seni digital di Bali. Projek ini menggabungkan instalasi AR dengan musik live, dan menurutku ini salah satu terobosan paling segar di 2023. Dia bilang di Instagram Story-nya bahwa ini langkah kecil buat bikin seni digital lebih 'rasional' buat penikmat biasa.
2026-07-07 21:27:15
4
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Setelah Lima Tahun
Lis Susanawati
9.9
1.2M
Mereka mengira kami baik-baik saja. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di istana kami. Kenyataan yang membuatku harus memilih, bertahan atau melepaskan.Dia pria yang menghalalkanku lima tahun yang lalu ternyata masih menyimpan kisah yang belum usai dengan perempuan itu, masa lalunya.
Tujuh tahun membina rumah tangga bersama Hamish, ternyata membuat Najwa menyadari bahwa ia bukanlah satu-satunya wanita di hati suaminya. Najwa pikir, Hamish akan setia padanya yang tak kunjung memberinya buah hati, ternyata ia salah besar. Diam-diam Hamish telah menikah dengan Aisyah Rahmah, yang adalah mantan kekasihnya di masa lalu. Badai rumah tangga kemudian pada akhirnya meruntuhkan juga rumah tangga yang Najwa bangun kala ternyata Hamish tidak adil padanya.
Samudera terbiasa memimpin, terbiasa menang, terbiasa memegang kendali.
Dia adalah Leader Motion13, hidupnya berjalan sempurna dengan kesuksesan yang luar biasa.
Tapi tidak ada yang tahu, sepuluh tahun yang lalu ia pernah membuat janji pada orang tuanya—janji yang kini datang untuk ditagih.
Di usia tiga puluh tahun, ia diminta menikah. Bukan karena cinta. Bukan karena siap. Tapi karena kesepakatan dua keluarga besar.
Dengan Seraphine Swarna Kirana.
Pernikahan ini seharusnya hanya soal bisnis. Soal citra. Soal stabilitas.
Tapi masalahnya, Samudera bukan tipe pria yang mau hidupnya diatur begitu saja.
Dan Seraphine bukan wanita yang bisa dikendalikan.
Ketika dua orang yang sama-sama keras kepala dipaksa berjalan berdampingan, yang lahir mungkin bukan cinta.
Tapi juga bukan sekadar kontrak.
Cahaya Mustika memutuskan mondok di sebuah pesantren begitu lulus kuliah demi menjalankan amanat sang ibu. Berbekal nama sebuah pondok pesantren di Purwokerto, Caca mendatangi pesantren milik sahabat sang ibu.
Di gerbang pesantren Al-Hikam, Caca berjumpa dengan putra sulung pengasuh pondok pesantren. Gus Azzam, gus yang terkenal garang.
Rupanya, pertemuan awal yang menggetarkan menjadi awal hubungan pelik keduanya. Mereka sering berdebat jika bertemu, tapi merindu jika jarak menjauh.
Aku terpaksa menumpang di barak proyek tempat sahabatku bekerja, tetapi kehadiranku justru memancing perhatian sekelompok pria di sana.
Suami sahabatku berniat melindungiku.
Namun, tanpa sengaja dia menyelinap ke dalam selimut dan meraba seluruh tubuhku. Aku yang sudah menjanda selama setengah tahun pun, tak sanggup menahan gejolak yang muncul ....
"Tiduri istriku sampai hamil! Bukan hanya pinjaman 50 juta yang akan kau dapatkan, tapi 500 juta pun akan kuberikan!"
Demi menyelamatkan putrinya, Atta menerima syarat gila dari bosnya: menghamili Felly, istri sang bos.
Yang awalnya hanya sebuah perjanjian berubah menjadi hubungan terlarang. Felly justru ketagihan pada belaian Atta, sementara Atta perlahan jatuh cinta padanya. Di balik itu, satu per satu rahasia gelap Rizwan mulai terungkap.
Saat cinta lahir dari pengkhianatan, siapa yang akan bertahan... dan siapa yang akan hancur?
Baru saja melihat kabar terbaru tentang Zaqia Firdaus, dan rasanya seperti menemukan harta karun! Di tahun 2024 ini, dia sedang mengerjakan proyek kolaborasi musik dengan beberapa artis indie lokal yang cukup mengejutkan. Katanya, ini akan menjadi semacam eksperimen fusion antara elemen tradisional Jawa dengan aransemen elektronik modern. Aku sudah mendengar cuplikan demonya lewat akun SoundCloud-nya, dan vibe-nya sangat segar—seperti gabungan antara 'Lathi' dan 'Langit Abu-Abu' tapi dengan sentuhan yang lebih personal.
Selain itu, Zaqia juga dikabarkan terlibat dalam proyek dokumenter pendek tentang seniman jalanan di Yogyakarta. Dari bocoran fotonya di Instagram, project ini terlihat sangat intim dan penuh warna. Kayaknya dia sedang eksplor sisi visual storytelling-nya juga. Jadi penasaran, karena biasanya karyanya selalu punya kedalaman emosi yang nggak biasa.
Ada sesuatu yang bikin penasaran dari sosok Aris Faris belakangan ini. Tahun 2023 ini, dia lagi serius banget ngembangin podcast 'Sama-Sama' bareng suara-suara inspiratif dari berbagai latar belakang. Yang keren, formatnya nggak cuma ngobrol doang — ada segmen eksperimen sosialnya juga, kayak episode 'Jualan Es Teh di Kereta' yang viral itu.
Selain itu, di Instagramnya sering banget muncul konten kolaborasi kreatif sama musisi indie atau seniman jalanan. Kayaknya dia lagi fase eksplorasi konten yang lebih humanis dan deket sama kehidupan sehari-hari. Justru karena nggak terlalu over-produced, malah ada charm-nya sendiri.
Tahun ini Dita Karang benar-benar membuat gebrakan dengan proyek kolaborasinya bersama musisi indie ternama. Mereka sedang menggarap album mini bertema 'urban melancholy' yang menggabungkan elemen pop elektronik dengan lirik-lirik personal tentang kehidupan kota. Beberapa teaser lagu sudah beredar di platform streaming dan langsung mendapat respons positif dari pendengar setianya.
Yang menarik, Dita juga terlibat dalam penulisan seluruh lirik dan sebagian aransemen musik. Proyek ini menunjukkan sisi baru dari kreativitasnya yang selama ini mungkin belum banyak terekspos. Selain album, kabarnya dia juga sedang mempersiapkan tur kecil-kecilan ke beberapa kota besar untuk mempromosikan karya terbarunya ini.
Ada gemuruh kecil di komunitas kreator lokal sejak Sasi Suro mengunggah cuplikan konsep di media sosialnya. Aku terus memantau perkembangan ini karena karyanya selalu punya sentuhan magis—seperti 'Lara' yang dulu bikin aku merinding sekaligus terpesona. Tahun ini, katanya sedang mengerjakan proyek multimedia interaktif bertema mitologi Jawa modern. Bukan sekadar animasi, tapi semacam pengalaman imersif di mana penonton bisa memilih alur cerita lewat platform tertentu. Dari sketsa yang bocor, aku bisa melihat desain karakter wayang kontemporer dengan palet warna neon yang nyeleneh. Beberapa teman di Discord sudah mulai teori konspirasi tentang kemungkinan kolaborasi dengan musisi indie karena ada elemen musik yang kuat dalam teasernya.
Yang bikin penasaran, Sasi juga sering posting penelitian lapangan ke candi-candi dan wawancara dengan dalang tua. Kayaknya dia mau mencampur teknologi motion capture dengan gerakan wayang tradisional. Kalau berhasil, ini bisa jadi terobosan besar buat menghidupkan kembali budaya lokal dengan cara yang nggak terduga. Aku sendiri udah ngebet pengen liat bagaimana dia mengolah tema 'karma' dalam setting urban—sesuatu yang jarang diangkat di medium populer Indonesia.