LOGINSepuluh tahun bahtera rumah tangga Fadilah Muhammad, seorang CEO sukses, dan Fahira Dewi Puspita terasa hampa tanpa kehadiran seorang anak. Berbagai upaya medis dan tradisional telah mereka tempuh, namun garis keturunan tak kunjung hadir. Tekanan semakin berat dirasakan Fahira tatkala ibunda Fadil tak henti menyindir dan bahkan mencelanya. Setiap pertemuan menjadi momok yang menggerogoti ketenangan batin Fahira. Label mandul seolah menjadi hantu yang terus menghantuinya, membuatnya terpuruk dalam kesedihan dan stres yang mendalam. Di tengah perjuangan melawan takdir dan tekanan keluarga, akankah cinta Fadil dan Fahira mampu bertahan? Mampukah mereka menemukan kebahagiaan sejati di tengah penantian yang tak berujung, ataukah tekanan dari orang terdekat justru akan merenggut segalanya?
View MoreFadil duduk di depan dokter, wajahnya tegang dan lelah. Kantung mata menghitam, dan ia terlihat jauh lebih tua dari usianya. Dokter menghela napas, menatap Fadil dengan sorot mata penuh simpati."Pak Fadil, kami sudah melakukan segala upaya medis," ujar dokter dengan suara pelan dan serius. "Namun, kondisi Bu Fahira... kami menemukan bahwa ada kerusakan otak yang sangat parah. Beliau saat ini dalam kondisi mati otak."Kata-kata "mati otak" menghantam Fadil. Meskipun ia sudah menduganya, mendengar konfirmasi langsung terasa seperti hukuman mati. Air mata yang selama ini ia tahan, kini mendesak keluar."Tidak ada harapan lagi, Dok?" tanya Fadil, suaranya tercekat.Dokter menggeleng pelan. "Secara medis, Pak, fungsi otaknya sudah tidak ada. Kami hanya bisa mempertahankan fungsi organ vitalnya dengan alat. Kami tahu ini sangat berat, tapi... kami menyarankan agar Bapak mengikhlaskan Bu Fahira."Dunia Fadil terasa runtuh. Ia menundukkan kepala, membiarkan air mata membanjiri pipinya. Mengi
"Apapun yang terjadi, jangan salahin diri kamu sendiri ya, Sabrina, Istriku," ucap Fadil, suaranya parau namun tegas. Ada kekuatan baru dalam tatapannya. Ia tahu, di tengah semua kehancuran ini, ia harus menjadi sandaran. "Aku mencintai Fahira karena Allah. Dan aku akan berusaha menjalani amanah Fahira untuk menjagamu." Kata-kata Fadil meresap ke dalam hati Sabrina. Sebuah janji yang tak terduga, di tengah duka yang begitu mendalam. Sabrina menatapnya, bingung namun juga merasakan sedikit kehangatan di tengah kehancuran. Fadil kembali berdiri, menarik Sabrina agar bangkit. Ia memeluk Sabrina erat, sebuah pelukan yang bukan lagi penuh konflik, melainkan penuh dukungan dan kepedihan bersama. Di pelukan itu, keduanya berbagi duka atas kehilangan yang baru saja terjadi, dan kesiapan untuk menghadapi masa depan yang kini terasa begitu tak pasti. Hari-hari setelah tragedi itu terasa panjang dan berat. Rutinitas Fadil berubah drastis. Pagi-pagi sekali, ia akan berada di rumah sakit, duduk
Setelah makan siang dan percakapan mendalam yang menghangatkan hati, Fahira dan Sabrina memutuskan untuk segera pulang. Tawa kecil masih sesekali terdengar saat mereka berjalan beriringan menuju seberang jalan, di mana mobil yang mereka pesan sudah menunggu.Keduanya berhenti di pinggir jalan, menunggu lampu lalu lintas berubah hijau. Sabrina membungkuk sejenak, membenarkan tali sepatu yang tiba-tiba terasa longgar. Fahira berdiri di sampingnya, melihat sekeliling, memastikan jalan aman.Saat lampu berubah hijau, Fahira melangkah lebih dulu, berniat menyeberang. Namun, dari kejauhan, sebuah mobil melaju kencang, menerobos lampu merah. Suara deru mesinnya memekakkan telinga."Mbak Fahira, awas!" teriak Sabrina, panik, pandangannya terarah pada mobil yang melesat bagai anak panah itu.Terlambat. Dalam sepersekian detik yang terasa abadi, mobil itu melaju tanpa kendali dan menabrak Fahira dengan keras. Tubuh Fahira terpental beberapa meter, lalu tergeletak tak berdaya di aspal. Darah mul
Fadil menggenggam tangan Fahira dengan erat. Fahira menatap mata suaminya dengan lembut. "Mas, bagaimanapun Sabrina juga istrimu," ucap Fahira, suaranya dipenuhi ketulusan. "Aku minta maaf kalau aku sempat menginginkan kamu untuk mencintai Sabrina. Tapi aku mohon, Latifah juga butuh sosokmu, Mas. Aku yang sudah mengikhlaskan dia menjadi bagian keluarga ini. Sabrina juga perempuan yang baik."Fadil menundukkan kepalanya, air matanya menetes. Beban di dadanya sedikit terangkat oleh kemuliaan hati Fahira. Fahira tersenyum dan membelai pipi Fadil dengan lembut. "Kamu akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk anakku dan anak Sabrina."Fadil mengangkat wajahnya dan menatap Fahira dengan serius. "Maksudmu?""Sabrina... hamil, Mas. Anaknya juga butuh sosok ayahnya. Sebelumnya, kamu pasti mencintainya kan, Mas? Jadi anak yang dikandungnya itu hasil cinta kalian, bukan?" tanya Fahira dengan mata berbinar.Fadil menghela napas dan tertunduk. Ia mengangguk menerima kenyataan. Fadil memeluk Fahi
Akhirnya Sabrina pun mencoba menenangkan dirinya dan menceritakan kejadian dari awal hingga akhir. Sabian menghela napas, panjang dan berat. Ia membelai lembut rambut Sabrina. "Sab," ucapnya, suaranya sangat lembut, mencoba membuat Sabrina berpikir jernih. "Kamu bilang ini keterpaksaan. Tapi coba ka
Sore harinya, Sabian sudah menunggu di lobi kantor. Ia berdiri santai, sesekali melirik pintu masuk. Ketika Sabrina muncul, ia tersenyum kecil, namun senyumnya memudar melihat reaksi wanita itu. Sabrina hanya meliriknya sekilas, lalu berjalan cepat, seolah tak peduli dengan keberadaan Sabian yang j
Fahira kembali ke rumah, meninggalkan Fadil sendirian di ruang kerjanya. Fadil menghela napas panjang, merosot di kursinya. Pikirannya masih dipenuhi kerumitan pernikahannya dan harapan tipis tentang bayi tabung yang baru saja diungkapkan Fahira. Ia memijat pelipisnya, berusaha mengusir segala beba
Sabrina tiba di kantor dengan taksi, perasaan campur aduk setelah kejadian di hotel. Ia berjalan menyusuri lorong kantor, mencoba bersikap normal. Namun, ia bisa merasakan bisikan-bisikan dari karyawan lain, tatapan-tatapan penasaran yang mengikutinya. Ia tahu, kabar pernikahannya dengan Fadil pasti






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews