LOGIN
Akhir tahun merupakan momen yang ditunggu banyak seniman ataupun idol dalam negeri. Banyak acara penghargaan yang digelar tahun ini. Salah satunya adalah pagelaran di panggung megah Jakarta, memberikan penghargaan Artist of the Year kepada grup idol yang sedang naik daun, Motion13.
Sebagai seorang leader, Samudera Adikara Wicaksana, seharusnya berada di pesta perayaan bersama kedua belas membernya di asrama mewah mereka. Namun, sebuah pesan singkat dari ajudan Papanya, membawa Samudera ke ruangan kantor yang dingin di lantai paling atas gedung World Entertainment.
Saat membuka pintu, Ardhaka Wicaksana—Papa Samudera sekaligus pemilik saham utama World Entertainment—agensi yang menaungi Motion13, sudah duduk di balik meja maoninya. Ardhaka tidak menatap layar saham, di depannya hanya terdapat map berwarna cokelat yang menunggu kedatangan Samudera.
Samudera menghela napas. Pria dengan mata tajam dan aura alpha leader itu menutup pintu pelan. “Papa manggil Sam kesini bukan buat ngucapin selama atas kemenangan daesang tadi, kan?” tanya Samudera. Dia masih mengenakan pakaian panggungnya, jaket kulit custom dengan kristal yang berat.
Ardhaka mendongak. Matanya tajam, lebih tajam dari milik Samudera. Dia tersenyum tipis, mempersilakan putra tunggalnya untuk duduk. “Selamat, Sam. Kamu membuktikan kalau investasi Papa tidak sia-sia. Tapi kita berdua sama-sama tahu, Motion13 cuma satu fase dalam hidup kamu. Sekarang, waktunya membayar janji.”
Samudera tertawa hambar, menyisir rambutnya yang dicat cokelat dengan jemarinya. “Janji? Janji apa, Pa? Janji membawa agensi ini ke pasar internasional? Sudah ku lakukan. Motion13 konser hingga ke Amerika sejak tiga tahun yang lalu,” ujar Samudera menyebutkan kebanggannya. “Atau janji untuk tidak terlibat skandal? Aku bersih. Tidak ada skandal apapun dalam grupku.”
“Bukan itu,” Ardhaka menggeser map cokelat tersebut ke tengah meja. “Jani sepuluh tahun yang lalu. Saat kamu bersujud memohon ke Papa dan Mama untuk mengizinkanmu menjadi trainee ketimbang masuk sekolah bisnis di London. Kamu waktu itu bilang, ‘Beri Sam waktu sampai usiaku 30 tahun untuk menguasai panggung dan membawa Motion13 ke puncak tertinggi, setelah itu Samudera janji akan mengikuti rencana yang Papa tentuin.’”
Ardhaka menyebutkan ucapan Samudera dengan mantap, seolah masih mengingat malam dimana Samudera memohon sambil menangis di depan orang tuanya.
Dan Samudera juga masih mengingat jelas momen itu. Wajahnya mengeras. “Itu janji anak remaja yang sedang putus asa, Pa! Aku baru dua puluh tahun waktu itu!”
Ardhaka menyeringai. “Dua puluh atau lima puluh tahun, keturunan Wicaksana tidak pernah menjilat ludahnya sendiri, Samudera,” suara Ardhaka tidak meninggi, namun semakin berat. “Tahun ini kamu memasuki usia tiga puluh tahun. Kontrakmu dengan kebebasan yang kamu setujui, sudah habis. Kamu akan menikah dengan perempuan dari rekan bisnis kita.”
Samudera meradang, dia menggebrak meja. “MENIKAH?! Fans mencintaiku karena aku milik mereka! Papa gila minta aku menikah sekarang? Disaat Motion13 bulan depan mau world tour? Papa mau ngehancurin saham perusahaan sendiri?”
Ardhaka berdiri, postur tubuhnya masih tegak meski usianya tidak lagi muda. “Saham bisa naik turun kapan saja, Sam. Tapi integritas keluarga adalah prioritas. Kamu pikir kenapa Papa membiarkanmu menjadi idola di atas panggung selama sepuluh tahun? Supaya kamu punya modal sosial, dikenal banyak orang.”
Ardhaka menghela napas, mengusap pelan pundak Samudera. “Sekarang, gunakan modal itu untuk memperkuat dinasti kita. Menikahlah, atau Papa akan membekukan seluruh promosi Motion13, membatalkan world tour kalian.”
Samudera tertegun. Darahnya berdesir hebat, tangannya sedikit bergetar dan berkeringat. Dia sangat mengenal Papanya. Ardhaka adalah orang paling penting di industri ini, ancamannya tidak pernah main-main. Samudera tahu bahwa Papanya akan dengan mudah menghancurkan orang-orang yang tidak mau menuruti kendalinya, semudah membalikkan telapak tangan.
“Papa egois,” bisik Samudera, suaranya bergetar menahan amarah. “Papa menggunakan impianku sebagai perjanjian dan sandera. Papa gak pernah sekalipun menyempatkan waktu untuk sekadar bertanya, apa aku bahagia?”
Ardhaka tersenyum. “Kebahagiaan adalah harapan bagi orang biasa, Sam. Tapi kita adalah penguasa. Penguasa tidak mencari kebahagiaan, mereka mencari stabilitas,” jawab Ardhaka dingin.
“Papa udah gila! Aku tetap gak mau menikah,” Samudera berbalik menuju pintu. “Batalkan saja tur dunianya. Hancurkan saja karirku. Aku tidak peduli.”
“Samudera!” suara Ardhaka menggelegar, menghentikan langkah anaknya di ambang pintu. “Jika kamu pergi sekarang, besok pagi akan ada berita bubarnya Motion13. Papa akan menghancurkan juga karir kedua belas membermu dengan memastikan tidak ada lagi agensi yang mau menerima kalian di negeri ini. Kamu mau membermu berhenti dari mimpi-mimpinya?”
Samudera membeku. Tangannya mengepal di gagang pintu hingga buku jarinya memutih. Ini bukan lagi sekadar perdebatan tentang pernikahan, ini adalah perang antara martabat seorang artis dan realitas seorang ahli waris.
Samudera masih mematung di ambang pintu. Ruangan itu mendadak terasa kekurangan oksigen. “Siapa?” suara Samudera terdengar serak.
Langkahnya berbalik menuju meja sang Papa. “Siapa wanita malang yang Papa pilih untuk masuk ke dalam neraka kontrak ini?”
Ardhaka Wicaksana tidak langsung menjawab. Ia kembali duduk di kursi kebesarannya, menyesap sisa kopi hitam yang sudah mendingin. Ia menikmati momen ini, momen dimana sang anak kembali dan dia memegang kendali sepenuhnya.
Ardhaka mendongak. “Dia bukan wanita malang, Sam. Dia adalah satu-satunya orang yang levelnya layak untuk bersanding denganmu tanpa terlihat seperti pajangan yang numpang tenar pada nama besarmu sebagai idola,” Ardhaka meletakkan cangkirnya. “Kamu sudah pernah bertemu dengannya. Papa yakin kamu tahu siapa dia. Bahkan, grup kalian pernah menjadi brand ambassador untuk produknya tahun lalu.”
Samudera mengerutkan kening. Pikirannya berlari cepat, memindai puluhan brand yang pernah bekerja sama dengan Motion13 tahun lalu. Namun, hanya ada satu nama yang muncul cepat di otaknya, membuat jantungnya memberikan reaksi tidak terduga.
“Jangan bilang…”
“Seraphine Swarna Kirana,” Ardhaka menyebutkan nama itu dengan nada bicara yang tenang dan artikulasi yang sempurna. “Pemilik Seraphine Aesthetic Group. Papanya, Handoko Kirana adalah teman lama Papa. Papa sudah bertemu dengannya.”
“Seraphine?” Samudera mengulang nama itu, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil. “Dia tidak mungkin setuju dengan kegilaan ini. Dia wanita pekerja keras dan punya segalanya. Kenapa dia mau terikat dengan kehidupan seorang idol yang penuh dengan sorotan dan hidupnya diatur oleh agensi?”
Ardhaka tersenyum tipis. Ia menangkap keraguan di mata anaknya. “Seraphine adalah wanita cerdas dan visioner, Sam. Dia tahu keuntungan dari menggabungkan pengaruh lifestyle brand-nya dengan fans Motion13 adalah strategi bisnis yang jenius. Dia juga menghormati pekerjaanmu. Dia bilang padaku bahwa kamu dan Motion13 adalah sedikit dari idol yang punya ‘isi kepala’ dan prinsip teguh di industri ini.”
Samudera memalingkan wajah, tak ingin Papanya melihat kilat aneh di matanya. Menghormatiku? batinnya. Selama kerja sama tahun lalu, mereka hampir tidak pernah bicara secara pribadi. Hanya pertukaran sapaan formal dan diskusi professional.
“Kenapa kamu diam saja, Sam?” tanya Ardhaka membuat Samudera mendongak. “Dengan sifat keras kepalamu, Papa tahu kamu mungkin akan memaki nama lain yang Papa sebutkan jika itu artis ataupun idol dari industri yang sama. Tapi Seraphine tidak.”
Ardhaka menatap tepat kedua mata Samudera. “Apa karena dia Seraphine? Apa karena kamu sadar bahwa dia adalah satu-satunya wanita yang tidak bisa kamu tolak dengan alasan ‘dia tidak selevel denganku’?”
Samuder terdiam. Bayangan Seraphine yang sedang memeriksa foto di lokasi pemotretan di pinggiran kota Paris untuk kampanye parfum terbaru Seraphine kembali terlintas.
“Dia udah setuju?” tanya Samudera lagi, memastikan.
“Kamu bisa memastikannya sendiri. Temui dia besok malam,” Ardhaka memberikan kartu nama Seraphine, ia tersenyum simpul dan menepuk bahu Samudera dengan keras. “Jangan mempermalukan nama Wicaksana. Bersikaplah seperti ‘pria’ saat bertemu dengannya, bukan sebagai idol papan atas.”
Samudera menepis tangan ayahnya. "Papa menang kali ini. Bukan karena Papa mengancamku dengan kontrak sepuluh tahun itu."
Ardhaka menaikkan alisnya. "Oh ya? Terus karena apa?"
Samudera menatap ayahnya dengan keberanian yang baru muncul, sebuah jenis keberanian yang dicampur dengan keputusasaan. "Karena aku ingin mendengar langsung dari Seraphine. Aku ingin tahu alasan apa yang membuat wanita sepertinya sudi masuk ke dalam permainan kotor Papa. Jika dia memang setuju hanya karena bisnis, maka aku akan menikahinya, menjadi boneka Papa, dan memastikan Papa mendapatkan semua keuntungan saham yang Papa mau."
"Tapi?" Ardhaka memancing.
"Tapi jika dia dipaksa, seperti aku..." Samudera menjeda, suaranya bergetar oleh emosi yang sulit didefinisikan. "Aku akan melakukan segala cara untuk menghancurkan rencana ini, bahkan jika aku harus membakar gedung World Entertainment ini bersamaku."
Ardhaka tidak marah. Ia justru tertawa kecil. "Itu baru anakku. Ambisi, kemarahan, dan sedikit drama. Pergilah. Temui dia.”
***
Di kamar hotelnya yang mewah di Amsterdam, Samudera baru saja menyelesaikan sarapan bersama member Motion13. Samudera mulai melepaskan kaos hitamnya, menyisakan tubuh atletis dengan garis otot yang tegas, hasil dari latihan bertahun-tahun. Ia memiliki waktu singkat untuk membersihkan diri sebelum bus tur menjemput mereka menuju Ziggo Dome untuk sesi final soundcheck dan persiapan konser malam pertama. Ia meletakkan ponselnya di atas meja marmer kamar mandi, mengatur posisinya agar stabil, lalu menekan tombol panggilan video. Wajah Seraphine muncul di layar. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, terlihat dari rambutnya yang masih basah. Ia mengenakan silk robe berwarna putih tulang yang kontras dengan warna kulitnya. "Baru mandi, Sayang?" tanya Samudera dengan suara yang sengaja direndahkan. Seraphine sedang duduk di depan meja riasnya, mengoleskan skincare dengan gerakan ritmis. "Hm. Temen-temen gue baru aja pulang setengah jam lalu. Rumah lo udah bersih, tim kebersihan lo bener-b
Pagi di Amsterdam terasa sangat menenangkan dengan langit biru pucatnya yang cerah. Namun, ketenangan itu tidak berlaku bagi Samudera Adikara Wicaksana. Di meja panjang restoran hotel bintang lima tempat Motion13 menginap, seluruh member berkumpul disana. Mereka memperhatikan Samudera yang tidak lepas dari layar ponsel yang ia letakkan di samping garpu. Leader mereka itu bahkan mengabaikan sepiring omelet dan sosis jerman yang masih utuh, belum disentuh sama sekali. “Bang, makan dulu. Nanti maag lo kumat pas soundcheck,” tegur Danendra—si bungsu sambil mengoleskan selai kacang ke rotinya. Samudera tidak menjawab. Ia kembali menekan tombol panggil. “Jakarta udah jam 1 lebih. Dia pasti masih tidur,” gumamnya pada kegelisahannya. Pada deringan kedelapan di panggilan keenam, layar itu akhirnya berubah. Sebuah panggilan video diterima. Wajah Seraphine muncul. Rambutnya berantakan di atas bantal sutra, matanya masih terpejam rapat dengan dahi yang sedikit mengernyit. Cahaya matahari pa
Pesta malam itu baru hening saat waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Seraphine menyeret langkahnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Kepalanya terasa mulai berdenyut sekaligus berat—efek dari beberapa gelas wine vintage dan obrolan tanpa henti bersama sahabat-sahabatnya.Sesuai perintah Samudera, area lantai atas, terutama kamar tidur utama mereka, adalah zona terlarang bagi siapa pun. Seraphine sudah memastikan Bianca dan yang lainnya terlelap di kamar tamu yang luas, berselimut hangat setelah pesta satin mereka berakhir.Begitu pintu jati kamar utama itu tertutup rapat, Seraphine menjatuhkan dirinya di atas ranjang king size yang terasa terlalu luas tanpa sosok pria yang biasanya mendominasi tempat itu. Ia meraba bantal di sampingnya, lalu meraih ponselnya.Di Amsterdam, jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Samudera baru saja kembali ke hotel setelah rehearsal yang melelahkan. Saat ponselnya bergetar menampilkan panggilan video dari "Wifey 🤍", ia langsung menyambarnya dengan ge
Suasana rumah megah di Kawasan Jakarta Selatan itu benar-benar terasa ramai oleh kehadiran The Inner Circle—teman-teman circle sosialita Seraphine sejak masa SMA. Ruang tengah yang didominasi marmer italia dan furniture minimalis karya desainer eropa itu kini berubah menjadi pusat keramaian. Suara melengking Gisela, nyanyian-nyanyian dari Anya, dan denting gelas kristal yang saling beradu memenuhi setiap sudut ruangan.Seraphine Swarna Kirana, yang kini sudah menanggalkan gaun silk hitamnya dan berganti dengan piyama sutra berwarna champagne, duduk di sofa panjang sambil mengamati sahabat-sahabatnya. Di atas meja marmer di depannya, terhampar kemewahan yang dipesan secara impulsif: tumpukan kotak sushi premium dari Senopati, Wagyu A5 yang masih hangat, truffle fries yang aromanya memenuhi ruangan, hingga botol-botol wine dan champagne dari cellar pribadi Samudera yang harganya cukup untuk membeli sebuah mobil kota."Sera! Gila, ini Krug Clos d'Ambonnay? Suami lo beneran biarin kita mi
Samudera duduk di tepi ranjang hotelnya di Amsterdam, menatap room chatnya dengan Seraphine. Sejak menutup panggilan, Seraphine mengabaikan seluruh pesannya. Membuat Samudera berdecak dan mengacak rambutnya frustasi.Ia melirik jam di ponselnya. Pukul 15.15 di Belanda. Itu berarti di Jakarta sudah pukul 20.15 malam. Hanya butuh 45 menit sebelum pukul 9 malam—waktu dimana Seraphine bilang dia akan berangkat ke bar."Gila, gue nggak bisa begini," gumam Samudera. Ia berdiri, mondar-mandir di kamar hotelnya yang luas. “Dia pasti beneran berangkat kalau gue nggak telepon sekarang," gumam Samudera.Ia mengabaikan rasa pusing yang tersisa dari penerbangan Berlin-Amsterdam. Pikirannya hanya satu: Seraphine tidak boleh berada di Blue Terrace malam ini tanpa dirinya.Ia menekan tombol panggilan video. Ditolak.Ia menekan lagi. Ditolak lagi.Hingga pada panggilan kelima, layar itu akhirnya terhubung.Wajah Seraphine muncul di layar. Samudera nyaris menahan napas. Seraphine sedang berada di depan
Di Jakarta, hari sudah memasuki sore hari dengan semburat jingganya yang memasuki kaca jendela ruangan Seraphine Swarna Kirana. Ia baru saja menyelesaikan rapat koordinasi terakhirnya di hari itu. Helaan napas lega keluar dari mulutnya, sambil menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk, memutar lehernya yang terasa kaku. Ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Begitu melihat nama pengirimnya: Suami, sudut bibir Seraphine terangkat tanpa disadari. Samudera: Obat sama supnya sudah habis. Enak banget, makasih ya Nyonya Wicaksana. Maaf buat semalam... gue beneran di luar kendali. Tapi satu hal yang perlu lo tau, bagian 'The Muse' itu... itu satu-satunya bagian yang paling jujur dari semua racauan gue. Gue siap kasih penjelasan lengkap, tapi syaratnya, gue harus jelasin itu sambil peluk lo di rumah. Amsterdam sebentar lagi mendarat. I love you, Sera. Seraphine tertegun, dadanya berdesir hangat. “Sambil peluk lo di rumah katanya?” gumamnya p
Pagi itu, Jakarta seolah menahan napas. Pernikahan power couple antara leader Motion13 dan CEO Seraphine Aesthetics yang sudah diumumkan sejak bulan lalu, hari ini adalah puncaknya.Pemberkatan.Ballroom Hotel The Langham pagi itu telah disulap menjadi altar suci yang memadukan kemewahan dan elegan
Samudera keluar dari kamar, setelah perdebatan di atas ranjang tadi dan akhirnya Seraphine bergantian masuk ke kamar mandi. Dia berjalan menuju ruang tengah, rambutnya masih basah dan hanya mengenakan celana pendek hitam serta baju putih. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Seraphine turun ke lanta
Uap hangat sisa air panas masih mengepul tipis saat Seraphine membuka pintu kamar mandi. Ia telah menghabiskan waktu hampir empat puluh menit di dalam sana—jauh lebih lama dari ritual mandi biasanya. Karena Seraphine harus membersihkan diri dari makeup berat ataupun hair do yang sangat nempel. Sela
Seraphie masih mematung, menatap daun pintu kayu itu dengan kekesalan yang melupa. Di samping kakinya, piyama sutra berwarna navy itu tergeletak disana. “Lima menit?” gumam Seraphine, suaranya parau. “Lo bener-bener gila, Samudera.”Seraphine mencoba bergerak. Tetapi denyutan ngilu masih terasa di







