Share

PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN
PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN
Author: yourayas

Bab 1

Author: yourayas
last update publish date: 2026-02-25 22:27:29

Akhir tahun merupakan momen yang ditunggu banyak seniman ataupun idol dalam negeri. Banyak acara penghargaan yang digelar tahun ini. Salah satunya adalah pagelaran di panggung megah Jakarta, memberikan penghargaan Artist of the Year kepada grup idol yang sedang naik daun, Motion13.

Sebagai seorang leader, Samudera Adikara Wicaksana, seharusnya berada di pesta perayaan bersama kedua belas membernya di asrama mewah mereka. Namun, sebuah pesan singkat dari ajudan Papanya, membawa Samudera ke ruangan kantor yang dingin di lantai paling atas gedung World Entertainment.

Saat membuka pintu, Ardhaka Wicaksana—Papa Samudera sekaligus pemilik saham utama World Entertainment—agensi yang menaungi Motion13, sudah duduk di balik meja maoninya. Ardhaka tidak menatap layar saham, di depannya hanya terdapat map berwarna cokelat yang menunggu kedatangan Samudera.

Samudera menghela napas. Pria dengan mata tajam dan aura alpha leader itu menutup pintu pelan. “Papa manggil Sam kesini bukan buat ngucapin selama atas kemenangan daesang tadi, kan?” tanya Samudera. Dia masih mengenakan pakaian panggungnya, jaket kulit custom dengan kristal yang berat.

Ardhaka mendongak. Matanya tajam, lebih tajam dari milik Samudera. Dia tersenyum tipis, mempersilakan putra tunggalnya untuk duduk. “Selamat, Sam. Kamu membuktikan kalau investasi Papa tidak sia-sia. Tapi kita berdua sama-sama tahu, Motion13 cuma satu fase dalam hidup kamu. Sekarang, waktunya membayar janji.”

Samudera tertawa hambar, menyisir rambutnya yang dicat cokelat dengan jemarinya. “Janji? Janji apa, Pa? Janji membawa agensi ini ke pasar internasional? Sudah ku lakukan. Motion13 konser hingga ke Amerika sejak tiga tahun yang lalu,” ujar Samudera menyebutkan kebanggannya. “Atau janji untuk tidak terlibat skandal? Aku bersih. Tidak ada skandal apapun dalam grupku.”

“Bukan itu,” Ardhaka menggeser map cokelat tersebut ke tengah meja. “Jani sepuluh tahun yang lalu. Saat kamu bersujud memohon ke Papa dan Mama untuk mengizinkanmu menjadi trainee ketimbang masuk sekolah bisnis di London. Kamu waktu itu bilang, ‘Beri Sam waktu sampai usiaku 30 tahun untuk menguasai panggung dan membawa Motion13 ke puncak tertinggi, setelah itu Samudera janji akan mengikuti rencana yang Papa tentuin.’

Ardhaka menyebutkan ucapan Samudera dengan mantap, seolah masih mengingat malam dimana Samudera memohon sambil menangis di depan orang tuanya.

Dan Samudera juga masih mengingat jelas momen itu. Wajahnya mengeras. “Itu janji anak remaja yang sedang putus asa, Pa! Aku baru dua puluh tahun waktu itu!”

Ardhaka menyeringai. “Dua puluh atau lima puluh tahun, keturunan Wicaksana tidak pernah menjilat ludahnya sendiri, Samudera,” suara Ardhaka tidak meninggi, namun semakin berat. “Tahun ini kamu memasuki usia tiga puluh tahun. Kontrakmu dengan kebebasan yang kamu setujui, sudah habis. Kamu akan menikah dengan perempuan dari rekan bisnis kita.”

Samudera meradang, dia menggebrak meja. “MENIKAH?! Fans mencintaiku karena aku milik mereka! Papa gila minta aku menikah sekarang? Disaat Motion13 bulan depan mau world tour? Papa mau ngehancurin saham perusahaan sendiri?”

Ardhaka berdiri, postur tubuhnya masih tegak meski usianya tidak lagi muda. “Saham bisa naik turun kapan saja, Sam. Tapi integritas keluarga adalah prioritas. Kamu pikir kenapa Papa membiarkanmu menjadi idola di atas panggung selama sepuluh tahun? Supaya kamu punya modal sosial, dikenal banyak orang.”

Ardhaka menghela napas, mengusap pelan pundak Samudera. “Sekarang, gunakan modal itu untuk memperkuat dinasti kita. Menikahlah, atau Papa akan membekukan seluruh promosi Motion13, membatalkan world tour kalian.”

Samudera tertegun. Darahnya berdesir hebat, tangannya sedikit bergetar dan berkeringat. Dia sangat mengenal Papanya. Ardhaka adalah orang paling penting di industri ini, ancamannya tidak pernah main-main. Samudera tahu bahwa Papanya akan dengan mudah menghancurkan orang-orang yang tidak mau menuruti kendalinya, semudah membalikkan telapak tangan.

“Papa egois,” bisik Samudera, suaranya bergetar menahan amarah. “Papa menggunakan impianku sebagai perjanjian dan sandera. Papa gak pernah sekalipun menyempatkan waktu untuk sekadar bertanya, apa aku bahagia?”

Ardhaka tersenyum. “Kebahagiaan adalah harapan bagi orang biasa, Sam. Tapi kita adalah penguasa. Penguasa tidak mencari kebahagiaan, mereka mencari stabilitas,” jawab Ardhaka dingin.

“Papa udah gila! Aku tetap gak mau menikah,” Samudera berbalik menuju pintu. “Batalkan saja tur dunianya. Hancurkan saja karirku. Aku tidak peduli.”

“Samudera!” suara Ardhaka menggelegar, menghentikan langkah anaknya di ambang pintu. “Jika kamu pergi sekarang, besok pagi akan ada berita bubarnya Motion13. Papa akan menghancurkan juga karir kedua belas membermu dengan memastikan tidak ada lagi agensi yang mau menerima kalian di negeri ini. Kamu mau membermu berhenti dari mimpi-mimpinya?”

Samudera membeku. Tangannya mengepal di gagang pintu hingga buku jarinya memutih. Ini bukan lagi sekadar perdebatan tentang pernikahan, ini adalah perang antara martabat seorang artis dan realitas seorang ahli waris.

Samudera masih mematung di ambang pintu. Ruangan itu mendadak terasa kekurangan oksigen. “Siapa?” suara Samudera terdengar serak.

Langkahnya berbalik menuju meja sang Papa. “Siapa wanita malang yang Papa pilih untuk masuk ke dalam neraka kontrak ini?”

Ardhaka Wicaksana tidak langsung menjawab. Ia kembali duduk di kursi kebesarannya, menyesap sisa kopi hitam yang sudah mendingin. Ia menikmati momen ini, momen dimana sang anak kembali dan dia memegang kendali sepenuhnya.

Ardhaka mendongak. “Dia bukan wanita malang, Sam. Dia adalah satu-satunya orang yang levelnya layak untuk bersanding denganmu tanpa terlihat seperti pajangan yang numpang tenar pada nama besarmu sebagai idola,” Ardhaka meletakkan cangkirnya. “Kamu sudah pernah bertemu dengannya. Papa yakin kamu tahu siapa dia. Bahkan, grup kalian pernah menjadi brand ambassador untuk produknya tahun lalu.”

Samudera mengerutkan kening. Pikirannya berlari cepat, memindai puluhan brand yang pernah bekerja sama dengan Motion13 tahun lalu. Namun, hanya ada satu nama yang muncul cepat di otaknya, membuat jantungnya memberikan reaksi tidak terduga.

“Jangan bilang…”

“Seraphine Swarna Kirana,” Ardhaka menyebutkan nama itu dengan nada bicara yang tenang dan artikulasi yang sempurna. “Pemilik Seraphine Aesthetic Group. Papanya, Handoko Kirana adalah teman lama Papa. Papa sudah bertemu dengannya.”

“Seraphine?” Samudera mengulang nama itu, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil. “Dia tidak mungkin setuju dengan kegilaan ini. Dia wanita pekerja keras dan punya segalanya. Kenapa dia mau terikat dengan kehidupan seorang idol yang penuh dengan sorotan dan hidupnya diatur oleh agensi?”

Ardhaka tersenyum tipis. Ia menangkap keraguan di mata anaknya. “Seraphine adalah wanita cerdas dan visioner, Sam. Dia tahu keuntungan dari menggabungkan pengaruh lifestyle brand-nya dengan fans Motion13 adalah strategi bisnis yang jenius. Dia juga menghormati pekerjaanmu. Dia bilang padaku bahwa kamu dan Motion13 adalah sedikit dari idol yang punya ‘isi kepala’ dan prinsip teguh di industri ini.”

Samudera memalingkan wajah, tak ingin Papanya melihat kilat aneh di matanya. Menghormatiku? batinnya. Selama kerja sama tahun lalu, mereka hampir tidak pernah bicara secara pribadi. Hanya pertukaran sapaan formal dan diskusi professional.

“Kenapa kamu diam saja, Sam?” tanya Ardhaka membuat Samudera mendongak. “Dengan sifat keras kepalamu, Papa tahu kamu mungkin akan memaki nama lain yang Papa sebutkan jika itu artis ataupun idol dari industri yang sama. Tapi Seraphine tidak.”

Ardhaka menatap tepat kedua mata Samudera. “Apa karena dia Seraphine? Apa karena kamu sadar bahwa dia adalah satu-satunya wanita yang tidak bisa kamu tolak dengan alasan ‘dia tidak selevel denganku’?”

Samuder terdiam. Bayangan Seraphine yang sedang memeriksa foto di lokasi pemotretan di pinggiran kota Paris untuk kampanye parfum terbaru Seraphine kembali terlintas.

“Dia udah setuju?” tanya Samudera lagi, memastikan.

“Kamu bisa memastikannya sendiri. Temui dia besok malam,” Ardhaka memberikan kartu nama Seraphine, ia tersenyum simpul dan menepuk bahu Samudera dengan keras. “Jangan mempermalukan nama Wicaksana. Bersikaplah seperti ‘pria’ saat bertemu dengannya, bukan sebagai idol papan atas.”

Samudera menepis tangan ayahnya. "Papa menang kali ini. Bukan karena Papa mengancamku dengan kontrak sepuluh tahun itu."

Ardhaka menaikkan alisnya. "Oh ya? Terus karena apa?"

Samudera menatap ayahnya dengan keberanian yang baru muncul, sebuah jenis keberanian yang dicampur dengan keputusasaan. "Karena aku ingin mendengar langsung dari Seraphine. Aku ingin tahu alasan apa yang membuat wanita sepertinya sudi masuk ke dalam permainan kotor Papa. Jika dia memang setuju hanya karena bisnis, maka aku akan menikahinya, menjadi boneka Papa, dan memastikan Papa mendapatkan semua keuntungan saham yang Papa mau."

"Tapi?" Ardhaka memancing.

"Tapi jika dia dipaksa, seperti aku..." Samudera menjeda, suaranya bergetar oleh emosi yang sulit didefinisikan. "Aku akan melakukan segala cara untuk menghancurkan rencana ini, bahkan jika aku harus membakar gedung World Entertainment ini bersamaku."

Ardhaka tidak marah. Ia justru tertawa kecil. "Itu baru anakku. Ambisi, kemarahan, dan sedikit drama. Pergilah. Temui dia.”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 6

    Tiga hari ternyata berlalu dengan cepat.Di balik dinding kaca gedung World Entertainment yang dingin, sebuah draf pernyataan sedang ditinjau oleh Ardhaka Wicaksana untuk terakhir kalinya. Samudera, yang biasanya menghabiskan waktu di ruang latihan hingga ototnya mati rasa, kini duduk di sofa asrama dengan tatapan kosong yang mengarah ke luar jendela, memikirkan bagaimana sisa parfum sandalwood yang tertinggal di mobilnya akan segera menjadi aroma yang sah di hidupnya.Tepat pukul 10:00 pagi, sebuah pemberitahuan serentak muncul di seluruh platform media sosial resmi World Entertainment dan Kirana Group. Sebuah foto hitam putih dengan kualitas artistik tinggi diunggah: kelingking tangan Samudera dan Seraphine yang saling bertautan.[PENGUMUMAN RESMI WORLD ENTERTAINMENT]Halo, kami World Entertainment.Kami membawa berita bahagia mengenai artis kami, Samudera Adikara Wicaksana, Leader dari Motion13.Selama satu tahun terakhir, Samudera dan Seraphine Swarna Kirana (CEO Seraphine Aesthet

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 5

    Pagi itu, Samudera memarkirkan SUV hitamnya di basement gedung World Entertainment. Dia datang lebih dulu daripada kedua belas membernya yang masih antri mandi di dorm. Tujuannya datang lebih awal hanya satu: menemui Papanya di lantai atas gedung agensi.Samudera mematikan mesin mobilnya. Sisa aroma sandalwood yang ditinggalkan Seraphine di dalam mobilnya terasa seperti masih menguar di udara. Ada getaran aneh di dadanya ketika merasakan tekstur tisu yang masih tersimpan dalam kantong jaketnya.Samudera melangkah masuk dengan tenang. Menekan tombol lift ke lantai teratas. Ia tidak akan membiarkan Papanya merasa menang telak hanya karena ia setuju untuk menikah. Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu ruang kerja Ardhaka Wicaksana.Ardhaka sedang menyesap kopi hitamnya. Ia menaikkan alis begitu melihat Samudera datang dengan aura yang berbeda.“Sudah bertemu Seraphine semalam?” tanya Ardhaka tanpa basa-basi.Samudera menarik kursi di depan meja maoni itu, duduk dengan kaki menyilang, menunj

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 4

    Seraphine mendengus, ia meletakkan garpu dengan denting halus yang mengisi keheningan galeri. “Kita ketemu cuma sekali karena kerjasama produk parfum gue, Samudera. Pertemuan formal itu nggak membuat kita jadi teman lama yang bisa sharing rahasia masing-masing dalam satu atap. Secara teknis, kita cuma orang asing yang pernah jadi rekan kerja.”Samudera menyeringai. “Gue tahu lo benci basa-basi, Seraphine, dan gue juga. Tapi kalau lo pikir pernikahan ini cuma soal mindahin koper ke rumah yang sama dan pura-pura romantis di depan kamera, lo berarti meremehkan apa yang bakal terjadi diluar sana. Fans gue, media, bahkan keluarga kita sendiri… gue yakin mereka bakal ngebedah hidup kita sampai ke akar-akarnya.”Seraphine menatap steak wagyunya yang mulai mendingin. "Makanya gue bilang, kita butuh kesepakatan. Gue udah nyiapin draf kontrak internal di luar apa yang bokap lo buat. Poin pertama: privasi mutlak. Kamar kita terpisah. Poin kedua: jadwal pertemuan publik bakal disesuaikan sama kal

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 3

    Pagi itu, di kasur asramanya yang dingin. Samudera menatap kartu nama Seraphine. Setelah perdebatan panjang dengan Papanya dan interogasi dengan para member, Samudera memutuskan untuk mengambil inisiatif.Papanya memang menyuruh Samudera untuk menghubungi Seraphine, mengatur janji untuk makan malam. Tetapi, ia tidak ingin pertemuan itu diatur oleh asisten Ardhaka atau tim PR perusahaan. Ia ingin ini dimulai darinya.Samudera menghela napas sebelum mengambil handphonenya di meja nakas. Dia mengirimkan pesan kepada Seraphine.To: SeraphineSamudera: Seraphine.Samudera: Ini Samudera,Samudera: Gue rasa kita perlu ketemu soal rencana gila bokap kita.Samudera: Nanti malam jam 7 di VIP Lounge Hotel Luminary.Samudera: Gue udah pesen tempatnyaSingkat. Padat. Profesional.Begitu pikir Samudera. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Tidak ada balasan dalam sepuluh menit pertama. Samudera bahkan berdecak saat melihat notifikasi grup chatnya dengan manajemen yang mengingatkan jadwa

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 2

    Samudera masuk ke apartemen mewah Motion13 yang letaknya tidak jauh dari gedung agensi. Disana, kedua belas membernya sudah menunggu dan duduk melingkar di atas karpet mahal di ruang tengah.“Wah, akhirnya leader kita balik juga,” Harsa berseru heboh, mengangkat slice pizza di tangannya. “Gimana, Bang? Bokap lo ngasih bonus apa buat kemenangan tadi? Saham tambahan? Atau mobil sport baru?”Samudera tidak menjawab. Dia melepaskan jaketnya dan melemparnya dengan asal. Samudera mengambil posisi duduk di tengah, bersandar pada sofa.“Gue harus ngomong,” suara Samudera memecah keheningan. Wajahnya nampak lebih serius kali ini, bahkan serratus kali lebih serius daripada speech di panggung setelah mendapatkan daesang beberapa jam yang lalu.Jauzan, sang main vocal sekaligus salah satu member tertua dibawah Samudera, mengerutkan kening. “Kenapa, Sam? Muka lo kayak habis lihat hantu, pucet banget. Bokap lo bilang apa? Saham perusahaan turun? Atau ada masalah sama sponsor?”Jauzan bertanya banya

  • PERNIKAHAN DI BAWAH SOROTAN   Bab 1

    Akhir tahun merupakan momen yang ditunggu banyak seniman ataupun idol dalam negeri. Banyak acara penghargaan yang digelar tahun ini. Salah satunya adalah pagelaran di panggung megah Jakarta, memberikan penghargaan Artist of the Year kepada grup idol yang sedang naik daun, Motion13.Sebagai seorang leader, Samudera Adikara Wicaksana, seharusnya berada di pesta perayaan bersama kedua belas membernya di asrama mewah mereka. Namun, sebuah pesan singkat dari ajudan Papanya, membawa Samudera ke ruangan kantor yang dingin di lantai paling atas gedung World Entertainment.Saat membuka pintu, Ardhaka Wicaksana—Papa Samudera sekaligus pemilik saham utama World Entertainment—agensi yang menaungi Motion13, sudah duduk di balik meja maoninya. Ardhaka tidak menatap layar saham, di depannya hanya terdapat map berwarna cokelat yang menunggu kedatangan Samudera.Samudera menghela napas. Pria dengan mata tajam dan aura alpha leader itu menutup pintu pelan. “Papa manggil Sam kesini bukan buat ngucapin s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status