แชร์

Tidur di Barak Proyek Bersama Suami Sahabatku
Tidur di Barak Proyek Bersama Suami Sahabatku
ผู้แต่ง: Peach

Bab 1

ผู้เขียน: Peach
Namaku Sherly Duma, seorang wanita muda yang baru saja bercerai.

Karena harus keluar dari rumah tanpa membawa harta sepeser pun, aku tidak punya pilihan selain menumpang pada sahabatku di sebuah lokasi proyek bangunan.

Namun, aku tidak menyangka bahwa barak mereka ternyata merupakan asrama campuran pria dan wanita.

Setelah jam kerja usai, aku berdiri di tengah barak dengan mengenakan gaun ketat dan stoking hitam, menyeret koperku di bawah tatapan para pria di sana.

Mata mereka seperti serigala yang melihat mangsa, tak sedetik pun beralih dari tubuhku.

Mulai dari kaki, pinggang, bokong, hingga dada.

Mereka menatap ke setiap bagian yang sensitif.

Sahabatku, Inara, yang bekerja sebagai kuli di sana, bergegas menyampirkan jaket ke bahuku. Ucapannya bernada mengeluh, tetapi tersirat rasa peduli yang dalam.

"Sherly, kamu ini bagaimana sih? Di tempat yang penuh laki-laki begini, kamu malah berpakaian seperti ini!"

Aku mengerucutkan bibir dengan perasaan sedih.

Bukannya aku sengaja ingin menarik perhatian, tapi perceraian itu terjadi begitu mendadak. Mantan suamiku tidak menyisakan apa pun untukku.

Aku diusir begitu saja dan hanya sempat membawa pakaian yang biasa kupakai sehari-hari.

Mantan suamiku adalah seorang bos kecil yang sangat menjaga gengsi. Demi menjaga nama baiknya di depan rekan bisnis, baju-bajuku selalu bergaya seksi dan menggoda seperti ini.

Suami Inara yang bernama Henri Visha, hanya melirikku sekilas sebelum buru-buru menundukkan kepala dengan canggung.

"Anu, kamu Sherly, ‘kan? Istriku sudah menceritakan masalahmu, jangan khawatir."

"Asrama kami nggak terlalu ketat, kamu boleh tinggal di sini selama yang kau mau."

"Hanya saja ...." Henri menelan ludah sambil menunjuk deretan tempat tidur di ruangan itu. "Tempat tidur di sini model barak memanjang, pria dan wanita tidur bersama di satu ruangan."

Mendengar aku akan menginap, para pria di ruangan itu mendadak bersemangat.

Tanpa peduli apakah mereka mengenalku atau tidak, mereka mulai menggoda dan mengajakku tidur di sebelah mereka. Melihat mereka bertelanjang dada, jantungku berdegup kencang dan wajahku memerah hebat.

Meski aku berparas cantik dan pernah menjadi primadona saat kuliah, seumur hidup aku hanya pernah berhubungan dengan satu pria, yaitu mantan suamiku.

Mana pernah aku menghadapi situasi seperti ini?

"Sherly, aku ...."

Inara tentu tahu kesulitanku, tapi lokasi proyek ini terlalu jauh dari kota. Tidak ada penginapan lain di sekitar sini.

Apalagi aku diusir tanpa membawa uang sepeser pun.

"Begini saja Sherly, kita tukar posisi."

"Kamu tidur di sebelah suamiku, aku akan berdesakan di tempat lain."

Tempat tidur Inara berada di posisi paling pojok dekat dinding. Tidur di sana memang bisa menjauhkanku dari gangguan pria-pria lain.

Tapi, harus tidur bersisian dengan suami sahabatku? Rasanya sangat memalukan.

Refleks aku melirik Henri.

Wajahnya juga tampak memerah dan dia terus menelan ludah karena canggung.

Namun, karena keadaan sudah mendesak, hanya ini satu-satunya jalan. Menghadapi Henri seorang diri jauh lebih baik daripada menghadapi sekawanan serigala lapar di ruangan ini.

Di asrama ini tidak ada tempat tertutup untuk berganti pakaian.

Aku terpaksa berbaring dengan tetap mengenakan gaun ketat itu. Baru setelah aku diam-diam melepas pakaian dalam di balik selimut, tubuhku terasa lebih rileks.

Wanita dengan dada besar sepertiku memang tidak nyaman jika harus tidur memakai bra.

Rasanya sangat menyesakkan.

Setelah lampu dimatikan, meski harus berhadapan dengan seisi ruangan yang penuh pria asing, rasa panas di wajahku tak kunjung reda.

Namun, karena terlalu lelah setelah segala kekacauan hari ini, aku pun jatuh tertidur.

Dalam mimpi, mantan suamiku datang mengajak berbaikan.

Dia bilang wanita simpanannya di luar sana tidak ada apa-apanya dibanding denganku. Merasakan panas tubuh mantan suamiku, tubuhku pun mulai merespons secara alami.

Semenjak mantan suamiku berselingkuh, aku sudah tidak merasakan kehidupan suami istri selama setengah tahun.

Wanita sama halnya dengan pria.

Kami punya kebutuhan, dan itu tidak ada hubungannya dengan menjadi wanita jalang atau bukan.

Aku menggeliat gelisah, tetapi detik berikutnya aku tersentak kaget.

“Kenapa besar sekali?”

Ukuran ini bahkan dua kali lipat lebih hebat dari milik mantan suamiku.

Ada yang tidak beres ....

Aku memaksa mataku yang sayu untuk terbuka dan seketika tersadar bahwa aku masih berada di lokasi proyek.

Tanganku tanpa sadar menggenggam sesuatu.

Sensasi panas dan keras yang sama persis dengan yang ada di mimpiku.

Astaga, ini Henri!

Aku ternyata sedang "kumat" di hadapan suami sahabatku sendiri di tengah malam! Pria itu jelas-jelas sedang menahan diri sekuat tenaga.

Otot-otot tubuhnya menegang dan napasnya memburu kasar.

Aku buru-buru melepaskan genggamanku. Karena takut membangunkan yang lain, aku mendekat ke arah Henri dan meminta maaf dengan suara lirih.

"Maaf, Kak Henri ... aku nggak sengaja."

"Tolong jangan salah paham."

Henri membelalakkan mata tanpa menjawab. Aku menunduk mengikuti arah pandangannya dan baru menyadari bahwa karena gerakanku tadi, sebagian besar bagian dadaku yang putih terekspos.

Di kegelapan malam, pemandangan putih itu tampak bergoyang samar.

Benar-benar memalukan.

Aku ingin segera menjauh, tapi pakaianku justru tersangkut di pinggiran ranjang atas.

Saat aku bergerak, gundukan putih yang besar itu justru semakin menyembul keluar.

Pada saat itu, seluruh tubuhku terasa panas karena malu. Rasanya ingin mati saja karena canggung. "Jangan ... jangan lihat lagi!"

Henri tersentak sadar dan buru-buru meminta maaf.

Dia berniat membantuku melepaskan kain yang tersangkut. Namun begitu bangkit, tubuhnya justru terimpit erat dengan tubuhku.

Tanpa penyangga bra, dua gundukan empuk di dadaku terimpit oleh otot kekar Henri. Napas panas pria itu pun langsung menerpa wajahku.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tidur di Barak Proyek Bersama Suami Sahabatku   Bab 7

    Saat aku terbangun kembali, yang kulihat adalah langit-langit rumah sakit. Luka di tanganku sudah dibalut. Di samping tempat tidur, ada seorang polisi wanita yang menjagaku."Kamu sudah bangun? Jangan takut, sekarang kamu sudah aman.""Keberanian dan kecerdikanmu telah menyelamatkan dirimu sendiri."Aku mengangguk, tetapi air mata tetap mengalir tak terbendung. Saat makan di restoran, aku menyadari ada yang salah dengan Winda dan Henri. Jadi, saat pamit ke toilet, aku diam-diam menelepon polisi. Bagaimanapun juga, aku harus waspada. Aku tidak bisa mempertaruhkan sisa hidupku pada nurani Winda, yang mungkin sudah hilang.Ternyata, dugaanku benar. Sejak mantan suamiku mengusirku, membekukan kartu kredit, dan membiarkanku tanpa uang sepeser pun, jebakan ini sudah dimulai. Selama bertahun-tahun menikah, segala hal tentangku berada dalam genggamannya. Teman-teman sosialita yang biasa bermain denganku, hanyalah mereka yang menghormati suamiku. Tidak ada satu pun yang benar-benar tulus

  • Tidur di Barak Proyek Bersama Suami Sahabatku   Bab 6

    Inara bergegas mengayunkan tangannya di depan mataku. "Sherly, kamu nggak apa-apa?" "Henri! Cepat, jaga Sherly baik-baik! Aku akan minta sup pereda mabuk pada pelayan."Dalam pandanganku yang kabur, sosok Inara perlahan menghilang. Tak lama kemudian, sepasang tangan besar Henri mulai meraba paha dengan tidak sabar. Seluruh tubuhku menegang karena terkejut, tetapi kelopak mataku terasa sangat berat.Di sini banyak orang berlalu-lalang, bagaimana mungkin Henri berani melecehkanku? "Ja-jangan!"Aku refleks mencoba menghalanginya dengan tangan, tetapi sia-sia. Meski hanya punya sedikit pengalaman semalam, Henri sepertinya sudah memetakan titik sensitif di tubuhku. Dia dengan lihai menyelinap ke balik gaunku.Meski kesadaranku samar, tubuhku tidak kehilangan respons. Aku bisa merasakannya, area di antara kakiku sudah basah. Entah karena pengaruh alkohol atau bukan, reaksi tubuhku hari ini jauh lebih hebat daripada semalam. Jika ini sampai ketahuan Inara, aku benar-benar tidak akan bi

  • Tidur di Barak Proyek Bersama Suami Sahabatku   Bab 5

    Aku menangis saking paniknya. "Aku bukan wanita murahan seperti yang kamu katakan! Aku hanya menumpang di sini!"Wisnu mencibir dan hendak bicara lagi, tetapi suara ketukan pintu dari Inara terdengar dari luar. "Sherly, ini aku. Aku datang untuk menjemputmu makan siang. Kenapa kamu mengunci pintu di siang hari begini?"Syukurlah, Inara datang! Merasa terganggu, Wisnu turun dari tubuhku dengan berat hati. Namun sebelum pergi, dia sengaja membisikkan kata-kata yang memuakkan. "Hati-hati dengan pasangan Henri itu, jangan sampai kamu dijual tapi malah tidak tahu!"Aku melotot tajam ke arahnya. "Cuih! Dasar berengsek! Jangan mencoba mengadu domba kami! Kalau aku nggak sedang sibuk sekarang, sudah kulaporkan kamu ke polisi!"Wisnu memakai bajunya kembali sambil tertawa acuh tak acuh. Awalnya, kukira dia hanya bicara asal karena tidak mendapatkan apa yang dia mau, tapi kata-katanya selanjutnya benar-benar membuatku tersadar."Aku nggak bohong padamu, kamu harus hati-hati. Coba kamu pik

  • Tidur di Barak Proyek Bersama Suami Sahabatku   Bab 4

    Mata Inara semakin memerah saat berbicara, sementara pria lainnya menatap dengan tatapan mengejek. Meski malam ini aku berhasil menyelamatkan diriku, tapi reputasiku sudah hancur total.Aku tersiksa hingga keesokan paginya. Di asrama, hanya tersisa aku sendiri karena yang lain sudah pergi bekerja. Aku menatap deretan kartu kredit di tanganku yang sudah dibekukan oleh mantan suamiku, lalu menghela napas panjang. Meski tidak punya uang sepeser pun, aku tidak mungkin terus tinggal di asrama ini.Namun, tepat saat aku selesai mengemasi barang-barangku, Inara masuk membawa sarapan yang masih hangat. Nada bicaranya tidak menunjukkan amarah maupun senang. "Makanlah, aku sengaja membelikannya untukmu."Perutku yang sudah keroncongan terasa mulas, hidungku terasa perih dan air mataku jatuh berderai. Tidak kusangka setelah kejadian semalam, Inara masih bisa bersikap perhatian padaku. Sambil menelan roti, suaraku terdengar serak. "Soal kejadian semalam, aku ...."Inara mengangkat tangan,

  • Tidur di Barak Proyek Bersama Suami Sahabatku   Bab 3

    Benda yang sekeras besi itu menekan bagian lembutku, rasa sakitnya membuat air mataku menetes secara alami. Mungkin karena seseorang bisa meledakkan potensi tersembunyi di saat paling putus asa, atau mungkin karena rasa sakit yang tak tertahankan itu, membuat tubuhku yang lemas perlahan kembali bertenaga.Kesadaranku pulih sepenuhnya. Aku mengulurkan tangan kecilku untuk melindungi diri sendiri, lalu berucap dengan terburu-buru, "Aku ini sahabat istrimu! Kalau kamu nggak segera menjauh, aku akan melaporkanmu padanya!"Tak disangka, Henri sama sekali tidak gentar menghadapi ancamanku. Dengan kurang ajar, dia menepuk-nepuk pipiku. "Sudah kubilang, malam ini istriku sendiri yang setuju! Kalian ‘kan sahabat baik, dia merasa kasihan padamu karena nggak punya suami!"Tidak mungkin!Walaupun aku sudah lama tidak berhubungan dengan Inara, tapi setelah bertahun-tahun berteman saat kuliah, aku yakin tahu persis dia orang yang seperti apa.Benar-benar tidak kusangka, Henri tega mengucapkan ke

  • Tidur di Barak Proyek Bersama Suami Sahabatku   Bab 2

    Tanpa diduga, kedua kakiku justru merapat erat secara spontan. Bagian sensitif di dadaku pun mengeras di saat yang tidak tepat. Henri yang sedang membantuku melepaskan baju tentu saja merasakannya. Sesuatu yang keras di balik bokongku pun kembali menegang.Rasanya begitu mengganjal hingga aku hampir memekik. Ukurannya bahkan lebih luar biasa dari sebelumnya. Entah mengapa, selain rasa malu, muncul sebuah getaran aneh di dalam hatiku.Aku dan Inara adalah sahabat sejak kuliah. Penampilannya biasa saja, berbeda denganku yang dipuja banyak orang karena wajah dan bentuk tubuh yang sempurna. Setelah lulus, dia tidak mendapat pekerjaan bagus sehingga harus bekerja kasar di proyek. Sementara aku menerima lamaran mantan suamiku dan menjadi nyonya kaya.Namun siapa sangka, sekarang nasibku justru berakhir seperti ini. Bahkan pria yang kupilih dulu tidak sekuat suami sahabatku. Dulu dengan mantan suamiku, aku tidak pernah merasa sehebat ini. Entah bagaimana rasanya jika dilakukan dengan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status