Pernah dengar cerita tentang pasangan yang hubungannya retak karena perselingkuhan... dengan teman-teman? Aku bukan ahli hubungan, tapi dari obrolan dengan banyak orang, pola ini ternyata cukup umum. Ada wanita yang bercerita bagaimana suaminya secara konsisten memilih membantu teman pindahan rumah daripada menghadiri ulang tahun anak mereka, atau lebih sering bermain game online dengan squad-nya daripada ngobrol dengan istri. Yang bikin frustasi adalah ketika dia mencoba membahasnya, suaminya malah bilang 'Kamu terlalu sensitif' atau 'Aku cuma butuh refreshing'.
Tapi di balik itu, seringkali ada kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Bisa jadi suami merasa lebih dimengerti oleh teman-temannya, atau mungkin ada ketidakpuasan dalam hubungan yang tidak diungkapkan. Solusinya tidak pernah instan, butuh kesabaran dan terkadang bantuan profesional untuk membangun komunikasi yang lebih sehat.
Ada seorang teman dekatku yang sering curhat tentang suaminya yang lebih memilih menghabiskan waktu dengan teman-temannya daripada bersamanya. Dia bercerita bagaimana awalnya dia menganggap itu hal biasa, tapi lama-kelamaan merasa diabaikan. Suaminya sering pulang larut malam, bahkan di akhir pekan lebih memilih nongkrong daripada quality time bersama keluarga. Dia mencoba komunikasi, tapi responnya selalu 'Aku butuh me time dengan teman-teman'. Rasanya seperti diprioritaskan kedua, dan itu menyakitkan.
Dari pengamatanku, hubungan itu butuh keseimbangan. Bukan berarti suami tidak boleh punya waktu untuk teman, tapi ketika itu mulai mengorbankan hubungan, itu jadi masalah. Temanku akhirnya memutuskan untuk bicara serius, bahkan menyarankan konseling bersama. Butuh waktu, tapi akhirnya suaminya mulai mengerti dan mencari titik tengah. Kuncinya adalah saling menghargai dan kompromi.
Dalam pernikahan sepupuku, ada fase dimana suaminya benar-benar terobsesi dengan grup motor mereka. Setiap weekend pasti touring, bahkan rela menghabiskan banyak uang untuk modifikasi motor daripada untuk kebutuhan rumah. Awalnya sepupuku menganggap itu hobi yang sehat, sampai dia sadar mereka hampir tidak pernah menghabiskan waktu berdua lagi. Percakapan mereka lebih banyak tentang rencana touring berikutnya daripada tentang masa depan keluarga.
Yang menarik adalah bagaimana dia menghadapinya. Daripada melarang, dia justru mulai ikut beberapa acara touring dan perlahan-lahan mengenal teman-teman suaminya. Dengan cara itu, dia tidak lagi merasa seperti 'musuh' yang ingin memisahkan suaminya dari hobinya, tapi justru menjadi bagian darinya. Sekarang mereka punya kesamaan aktivitas yang bisa dinikmati bersama, meski tetap ada batasan waktu yang disepakati berdua.
Aku pernah membaca sebuah thread di forum tentang seorang istri yang merasa seperti 'Orang Ketiga' dalam pernikahannya sendiri. Suaminya selalu mengutamakan teman-temannya, bahkan untuk hal-hal kecil seperti memilih restoran atau merencanakan liburan. Yang menarik, dia menggambarkan bagaimana dia mulai merasa seperti tamu di rumahnya sendiri. Suaminya akan mengadakan acara kumpul-kumpul tanpa memberitahunya terlebih dahulu, atau membatalkan janji mereka untuk hangout dengan kawan lama.
Yang bikin sedih, dia merasa tidak punya tempat untuk protes karena takut dianggap posesif. Tapi diam-diam itu mengikis rasa percaya dirinya. Dia akhirnya menemukan solusi dengan membangun lingkaran pertemanannya sendiri dan mulai fokus pada hobi yang dulu dia tinggalkan. Lambat laun, suaminya justru mulai lebih menghargai waktunya karena melihat dia juga punya kehidupan di luar rumah tangga.
2026-05-06 22:30:28
2
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Cobaan Istri Yang Ditinggal Suami
Hoshea Theodor
0
4.5K
Aku tak sengaja mengirimkan foto pribadiku ke ayah mertua dan sejak saat itu, masalah pun mulai datang silih berganti.
“Sayang, siapa pria yang menindih di atasmu?”
Tanya suamiku dengan nada penuh emosi.
Sementara aku hanya bisa menatapnya dengan pandangan kosong dan tak berani menjawab….
Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya
Pernikahan yang kujalani bertahun-tahun kupikir dibangun dari kepercayaan dan pengorbanan. Aku istri yang sah, perempuan yang menjaga rumah, nama, dan harga diri suaminya. Hingga suatu hari aku sadar, status sebagai istri tak lagi menjadikanku satu-satunya.
Kehadiran perempuan lain memecah hidupku menjadi dua: sebelum aku tahu, dan setelah aku tak bisa lagi berpura-pura. Aku dipaksa berdamai dengan kenyataan bahwa cintaku tak cukup untuk membuatku dipilih. Di antara pengkhianatan yang dibungkus dalih tanggung jawab, aku dan perempuan itu sama-sama menjadi korban dari seorang lelaki yang ingin memiliki segalanya tanpa kehilangan apa pun.
Ketika keadilan tak pernah benar-benar berpihak, aku dihadapkan pada pilihan paling kejam: bertahan dan perlahan menghilang, atau pergi dengan membawa luka yang tak pernah sembuh. Dalam pernikahan yang melibatkan tiga hati, tak ada pemenang—hanya perempuan yang dipatahkan, dan cinta yang berubah menjadi sesuatu yang tak lagi bisa disebut rumah.
Aku kira aku adalah satu-satunya istri dalam hidup suamiku. Ternyata aku hanyalah istri kedua. Orang ketiga dalam pernikahan suamiku dan istri pertamanya.
Saat suamiku memaksa diriku yang sedang hamil delapan bulan untuk menemani sahabat masa kecilnya main loncat bungee, aku tidak membantah ataupun marah.
Sebaliknya, aku malah mengangguk setuju.
Aku melakukan ini karena di kehidupan sebelumnya, sahabatnya itu sedang sedih.
Demi menghiburnya, suamiku berjanji akan mengabulkan satu permintaannya.
Sahabatnya pun bilang pada suamiku kalau keinginan terbesarnya adalah ada orang yang menemaninya main loncat bungee.
Suamiku yang takut ketinggian langsung menyuruhku untuk menemaninya, aku pun menolak mentah-mentah dengan alasan sedang hamil.
Karena penolakanku, sahabatnya itu sedih dan akhirnya memilih pergi ke bar untuk minum-minum.
Sialnya, dia malah dijebak di sana, diracuni dan dilecehkan hingga kehilangan kesuciannya.
Setelah kejadian itu, dia yang merasa hancur meninggalkan sebuah surat wasiat sebelum mengakhiri hidupnya,
[Kalau saja aku nggak pergi ke bar hari itu, mungkinkah semuanya akan berbeda?]
Membaca surat itu, suamiku mencekik leherku.
“Kenapa kamu nggak mengikuti ajakan Sisil untuk loncat bungee? Apa susahnya tinggal mengikuti dia saja?”
Akhirnya, aku mati dicekik oleh suamiku sendiri dan anak di kandunganku yang belum sempat lahir pun ikut pergi bersamaku.
Begitu membuka mata kembali, ternyata aku kembali ke hari di mana suamiku memintaku menemani sahabatnya itu main loncat bungee….
"Aku sudah lama merindukanmu ...."
Di malam hari, pria itu menciumku dengan semena-mena.
Dia adalah suami yang tinggal di keluarga pihak wanita.
Saat aku mabuk, dia meniduriku. Hal ini juga menjadi rumor yang besar.
Jadi, aku, si nona dari keluarga kaya terpaksa membiarkan pria miskin sepertinya menikah masuk ke keluargaku dan menjadi suamiku.
Karena dalam hatiku merasa tidak rela, aku terus mempermalukan dan menindasnya.
Namun, dia tidak pernah marah padaku, malah bersikap lembut padaku.
Saat aku mulai pelan-pelan menyukainya, dia malah minta cerai denganku.
Pria yang dulunya lembut dan perhatian berubah menjadi pria yang mengerikan.
Waktu yang singkat itu membuat keluargaku bangkrut, sedangkan dia menjadi kaya. Dulu suami lembut dan perhatian yang kuhina berubah menjadi majikanku yang kaya raya.
Bagaimana perasaanmu saat mengetahui suami yang selama ini kamu cintai ternyata hanya menjadikanmu pelarian? Sakit? Sudah pasti!
Ayana Nashwa Zia yang akrab dipanggil Ana merasa hidupnya sangat tidak adil. Hatinya hancur sampai-sampai memilih diam dan berlalu pergi.
Pernah nggak sih merasa jadi nomor dua setelah gengnya sendiri? Aku pernah ngerasain itu di awal pernikahan. Suamiku tipe yang super sosial, dan kadang aku merasa jadwal kencinya sama teman-teman lebih fix daripada janji makan malam berdua. Yang akhirnya kulakukan adalah ngobrol santai sambil minum teh, jelasin perasaanku tanpa sounding accusatory. Kuncinya komunikasi tapi dengan timing yang tepat—nggak pas dia lagi asyik ngumpul atau lagi kesal. Perlahan kami bikin komitmen kecil, kayak 'Sabtu malam khusus kita berdua'. Sekarang dia lebih aware tanpa harus ninggalin hobinya bersosialisasi.
Hal lain yang membantu adalah ikut kenal teman-temannya. Aku mulai ikut main board game bareng mereka, dan ternyata seru! Jadi hubunganku sama mereka lebih akrab, dan suamiku juga lebih happy karena dua dunianya bisa nyambung. Kadang masalahnya bukan soal prioritas, tapi bagaimana caranya bikin boundaries yang sehat buat semua pihak.
Ada banyak lapisan kompleks dalam hubungan pernikahan ketika salah satu pasangan lebih memprioritaskan pertemanan. Dari pengalaman pribadi mengamati beberapa teman dekat, pola ini sering memicu perasaan kesepian dan ketidakberdayaan pada pasangan yang merasa diabaikan. Secara psikologis, ini bisa berkembang menjadi kecemasan akan penolakan atau keyakinan bahwa diri sendiri tidak cukup berharga.
Yang menarik, beberapa justru mulai mengembangkan ketergantungan berlebihan pada pasangan sebagai reaksi balik, sementara yang lain malah menarik diri sepenuhnya. Dua pola ekstrem ini sama-sama berbahaya bagi kesehatan mental. Kuncinya mungkin ada di komunikasi tanpa menyalahkan - tapi memang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.
Pernah ngerasain kayak ada yang nggak balance dalam hubungan? Aku lihat banyak pasangan yang menghadapi dinamika ini. Hubungan pernikahan itu seperti taman—butuh perhatian terus-menerus, tapi kadang salah satu pihak terlalu sibuk 'menyiram' hubungan lain di luar. Teman itu penting, tapi ketika prioritas terus-menerus mengabaikan kebutuhan emosional pasangan, bisa timbul rasa terasing. Aku pribadi pernah diskusi sama teman yang cerita suaminya lebih sering hangout sampai larut ketimbang ngobrol santai di rumah.
Komunikasi adalah kuncinya. Kadang suami nggak sadar bahwa kebiasaannya berdampak besar. Bukan tentang melarang pertemanan, tapi menemukan titik tengah di mana kedua belah pihak merasa dihargai. Pernikahan sehat biasanya tumbuh ketika kedua orang bisa menyeimbangkan dunia sosial dan komitmen bersama.
Ada seorang teman dekatku yang pernah bercerita tentang perjalanannya melepaskan perasaan untuk pria lain setelah menikah. Awalnya, dia merasa sangat bersalah karena masih sering membandingkan suaminya dengan sosok tersebut. Tapi justru dari situ, dia belajar bahwa pernikahan bukan tentang menemukan orang sempurna, tapi tentang memilih untuk mencintai dengan sadar setiap hari.
Dia mulai mengubah pola pikirnya dengan fokus pada kebaikan kecil yang dilakukan suaminya—hal-hal yang dulu dianggap remeh. Perlahan, rasa kagum pada pria lain itu berubah menjadi apresiasi biasa, sementara ikatan dengan suaminya justru semakin dalam. Kuncinya? Komunikasi jujur dengan diri sendiri dan proses menerima bahwa perasaan manusia itu kompleks, tapi kita punya kendali atas tindakan.
Pernah bertemu pasangan seperti ini di acara keluarga besar. Sang istri terus-menerus memamerkan pencapaian materi, sementara suaminya hanya mengangguk setuju dengan wajah datar. Awalnya kupikir itu cuma kesan pertama, tapi ternyata dinamikanya memang begitu. Mereka seperti duo yang saling melengkapi dalam ketidakseimbangan—satu sisi terlalu vokal, sisi lain pasif tapi terasa mengendalikan dari belakang.
Yang menarik, justru di momen informal seperti main game bareng, pola ini terbalik. Suami tiba-tiba jadi sangat kompetitif dan detail mengatur strategi, sementara istri malah jadi pendiam. Mungkin dominasi itu fleksibel tergantung situasi? Aku malah penasaran apakah ini bentuk kompensasi atau memang kepribadian asli mereka yang keluar dalam setting berbeda.