Share

Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya
Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya
Author: Makjos

Bab 1

Author: Makjos
Di atas tempat loncat bungee luar ruangan.

Aku berdiri di sudut paling ujung, kedua tanganku mencengkeram erat pagar di samping. Perutku yang sudah mengandung delapan bulan terasa semakin turun dan sangat tidak nyaman karena cuaca yang buruk.

Peralatan pengaman loncat bungee yang dipakai seadanya itu membuat wajahku pucat.

Namun suamiku, Anton yang berdiri di seberang, sama sekali tidak menyadari keadaanku. Sebaliknya, dia menatap dengan penuh kelembutan ke arah cinta pertamanya, si Sisil, orang yang bersikeras datang ke loncat bungee hari ini.

Terlihat Sisil mendekat ke arah Anton dan berkata,

“Anton, kamu baik sekali. Setiap kali suasana hatiku buruk, kamu selalu menemaniku melampiaskan emosi. Kamu adalah orang terpenting dalam hidupku!”

Anton pun memeluknya dengan lembut.

“Tenang saja, Sisil. Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di sisimu. Jadi, kamu nggak perlu takut apapun.”

Usai bicara, mereka pun saling bertatapan penuh perasaan. Seolah orang lain di sekitar tidak ada sama sekali.

Saat itulah, angin kencang di belakangku menggoyangkan rangka loncat bungee. Aku reflek terhuyung satu langkah dan langsung mengundang teriakan kaget dari orang-orang sekitar,

“Ya ampun! Perutnya sudah sebesar itu masih loncat bungee? Dia sudah bosan hidup?”

“Ibu hamil seharusnya diam di rumah saja. Cuaca seburuk ini masih main keluar, nggak takut keguguran?”

“Memang ada beberapa wanita yang nggak bertanggung jawab, nggak peduli dengan anak dalam kandungan. Nanti kalau sampai pendarahan hebat dan mati, jasadnya bahkan belum tentu bisa ditemukan!”

….

Mendengar bisik-bisik itu, tatapan Anton ke arahku semakin dipenuhi rasa jijik.

“Dengar nggak? Ibu hamil sepertimu yang hanya bisa merepotkan orang lain, memang pantas dibenci di mana-mana! Aku benar-benar menyesal membawamu keluar!”

Sisil yang melihat situasi ini segera menimpali,

“Anton, jangan marah dong. Demi mengandung anak ini, Kak Fina bahkan sampai tega menjebakmu, jadi jangan mengomelinya lagi.”

Usai bicara, dia pura-pura menundukkan kepala dengan sedih.

“Ini semua salahku. Kalau saja nggak depresi, aku juga nggak akan kepikiran melepas penat dengan loncat bungee… Kak Anton, bagaimana kalau hari ini dibatalkan saja? Sepertinya Kak Fina juga nggak begitu mau.”

“Mana boleh?”

Begitu mendengar Sisil mau menyerah, Anton langsung menolak. Dia menatap Sisil dengan penuh keyakinan.

“Sisil, aku sudah berjanji akan mewujudkan keinginanmu. Kamu harus berhasil loncat bungee hari ini!”

Setelah itu, Anton kembali menatapku dengan wajah penuh jijik.

“Fina, kalau dulu kamu nggak mengumumkan kehamilan saat Sisil baru putus cinta, bagaimana mungkin dia sampai depresi?”

“Semua ketidakbahagiaannya sekarang itu gara-gara kamu. Kalau kamu masih punya sedikit hati nurani, cepat temani dia loncat bungee dan wujudkan keinginannya!”

Barulah orang-orang sekitar sadar bahwa ternyata aku dipaksa datang ke sini dan tatapan mereka ke arah Anton pun menjadi aneh.

Petugas di tempat loncat bungee juga terkejut dan berkata,

“Pak, ibu hamil nggak cocok melakukan loncat bungee, apalagi perutnya sudah sebesar ini. Bagaimana kalau sampai keguguran? Pihak kami nggak bisa bertanggung jawab….”

“Hidup dan mati itu pilihannya sendiri, nggak ada hubungannya dengan siapapun.”

Anton memotong ucapan petugas dengan dingin, lalu mengambil surat pernyataan loncat bungee dan langsung menyodorkannya ke tanganku.

“Tanda tangan, cepat!”

Tiga kata singkat itu membuatku semakin jelas melihat rasa jijik dan penolakan di matanya. Cara dia memandangku seperti sedang melihat sampah yang ingin segera disingkirkan.

Aku dengan tenang menerima surat pernyataan itu dan menandatanganinya dengan tanpa ekspresi.

Setelah mengalami kematian tragis di kehidupan sebelumnya, aku sudah menyadari betapa dinginnya suami yang kucintai bertahun-tahun ini.

Dia tidak mencintaiku dan juga anak di dalam kandunganku.

Kalau begitu, tidak ada lagi yang perlu kusesali.

Aku akan menuruti keinginannya dan benar-benar menghilang dari dunianya.

Aku mengembalikan surat pernyataan ini ke tangan petugas. Lalu di bawah tatapan Sisil yang berusaha menyembunyikan niat jahatnya, aku melangkah pelan ke tepi tempat loncat bungee.

“Anton, anak ini… kukembalikan padamu!”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 8

    Selama Anton sibuk mencari ke sana kemari, aku sudah mulai bekerja di perusahaan baru di Kota Hokko.Pihak perusahaan sangat terkejut saat melihat resumeku. Bos besar bahkan langsung turun tangan untuk bernegosiasi denganku. Dia bilang selama aku bersedia bergabung, diriku bebas mengajukan syarat apapun.Aku hanya tersenyum tipis dan menjawab, “Aku nggak punya syarat khusus, tapi aku bisa membawakan setidaknya sepuluh proyek baru untukmu.”Bos pun tercengang. Dia memberiku gaji tahunan yang fantastis dan bahkan menawarkan sebagian saham perusahaan untukku.Aku menerimanya. Pada hari kedua bekerja, aku langsung bergerak merebut beberapa proyek dari perusahaan Anton. Termasuk perangkat lunak yang dilaporkan bawahan itu, sebenarnya itu semua adalah ulahku.Karena itu adalah desainku sendiri, sangat mudah bagiku untuk mengotak-atiknya. Saat mereka menyadarinya, semuanya sudah terlambat.Dalam waktu kurang dari sebulan, aku berhasil menarik hampir semua proyek milik perusahaan Anton. Hal

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 7

    Anton benar-benar tak percaya.“Nggak mungkin! Mana mungkin?! Mana mungkin Sisil membohongiku?!”Tepat saat itu, bawahannya kembali menelepon,“Pak… pak Anton, kapan Bu Fina bisa ke kantor? Perangkat lunak kita diretas, sekarang seluruh jaringan lumpuh, semua pengguna mengajukan komplain!”“Cari tim teknik! Cari bantuan teknik lain! Tanpa Fina, emangnya kalian nggak bisa hidup?!”Anton menutup telepon dengan amarah yang meluap. Dia berdiri dan bergegas keluar dari rumah sakit. Karena lift sedang digunakan, dia pun memilih melewati tangga darurat.Namun, baru turun dua lantai, dia mendengar suara desahan tak senonoh dari sepasang pria dan wanita.“Dokter Ken, aku bahkan sudah menemanimu seperti ini… bisa nggak diagnosa di rekam medisku ditulis lebih parah lagi? Bilang saja… bilang saja kalau aku mau bunuh diri karena tekanan dari si Fina itu….”Suara pria itu terdengar terengah-engah penuh nafsu, tangannya dengan rakus meraba tubuh si wanita.“Dasar wanita nakal, kenapa harus selalu men

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 6

    Anton sempat menelepon Fina dua kali setelah dibawa ke rumah sakit, tapi tidak ada jawaban.Ditambah lagi, Sisil terus menangis sambil mengeluh betapa sedih perasaannya dan mengancam ingin bunuh diri. Akhirnya, Anton pun sama sekali tak berpikir untuk mempedulikan nasib Fina.Hingga seminggu kemudian, setelah kondisi Sisil stabil, akhirnya Anton pulang ke rumah.Begitu masuk, dia melempar jaketnya sembarangan dan reflek berteriak ke arah ruang tamu,“Kok belum masak?”Namun, yang menjawabnya hanyalah keheningan yang dingin.Anton mulai merasa ada yang aneh. Sambil mengernyit, dia berjalan ke ruang tamu, lalu ke kamar. Setelah berkeliling, barulah dia sadar kalau rumah itu kosong.Dia baru tersadar kalau Fina tidak ada di rumah.Dia mengambil ponsel dan mencoba telepon lagi, tapi kali ini operator menjawab bahwa nomornya tidak aktif.Anton mengumpat pelan. Dia mengira Fina sedang merajuk lagi, jadi dia memilih untuk masa bodoh dan langsung pergi minum-minum dengan temannya.Setelah bebe

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 5

    Aku menghabiskan beberapa hari lagi di rumah sakit. Selama waktu itu, aku menghubungi perusahan rekanan di Kota Hokko yang pernah bekerja sama dengan perusahaanku dulu. Aku mengirimkan lamaran kerja pada malam hari dan menjadwalkan sesi wawancara untuk bulan depan.Setelah itu, aku pergi ke bank untuk menarik semua tabunganku, menutup semua rekening, lalu membeli tiket pesawat ke Kota Hokko untuk benar-benar meninggalkan kota ini selamanya.Aku dan Anton adalah teman kuliah. Dulu, karena visi kami dalam mata kuliah jurusan sering sejalan, dosen membagi kami ke dalam satu kelompok belajar yang sama.Anton adalah tipe orang dengan kemampuan eksekusi yang kuat, tapi dia kurang dalam hal inovasi dan bakat desain. Setiap perangkat lunak yang dia rancang cenderung ketinggalan zaman dan tak punya daya saing di pasar.Sebaliknya, desainku selalu inovatif dan melampaui zaman, aku bahkan beberapa kali menjuarai kompetisi.Itulah alasan kenapa dia mengajakku merintis bisnis bersama. Masa-masa aw

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 4

    Semua orang yang ada di lokasi benar-benar terkejut mendengar itu. Bagaimanapun, tidak ada yang ingin melihat tragedi semacam ini terjadi di depan mata mereka.Petugas yang membantuku sejak tadi langsung berteriak, “Tunggu apa lagi? Cepat angkat dia ke dalam mobil!”Sambil bicara, dia berusaha mengangkat tanduku masuk ke ambulans.Namun, setelah Anton tersadar dari keterkejutannya, dia masih tampak ragu. Dia malah berteriak ke arahku,“Tunggu!”“Fina! Jangan-jangan kamu pura-pura lagi? Ada banyak orang di sini, kusarankan sebaiknya kamu berhenti melakukan hal seperti ini!”Perawat yang tadi bicara langsung merasa geram dan kehabisan kata-kata. Dia melotot ke arah Anton dan berkata, “Pak, tolong segera turun dari ambulans kami! Tugas ambulans itu menyelamatkan nyawa berdasarkan tingkat keparahan kondisi pasien. Kalau kamu terus membuat keributan dan menghalangi, kami akan lapor polisi!”Mendengar ucapan perawat, para pengunjung yang melihat seluruh kejadian itu pun ikut emosi. Mereka

  • Suamiku Dibutakan Sahabat Masa Kecilnya   Bab 3

    Mendengar itu, wajah Anton berubah drastis. Lalu, dengan sinis berkata, “Keguguran terus! Dari awal hamil sampai sekarang, entah sudah berapa kali kamu bilang mau keguguran, tapi nyatanya anak itu juga baik-baik saja, ‘kan?”Usai bicara, dia berjalan ke hadapanku dan menatap rendah ke arahku yang terkapar mengenaskan di lantai.“Cepat bangun dan turun dari sini! Jangan menghalangi orang lain yang mau main!”Wajahku sudah pucat karena menahan sakit yang luar biasa. Aku bahkan tak sanggup mengeluarkan suara. Dengan tangan gemetar, aku mencengkeram ujung celananya dan memohon, “Kumohon… panggilkan ambulans… aku bisa mati….”Melihat itu, raut wajah Anton semakin muram. Dia menghentakkan kakinya dengan kasar untuk melepaskan cengkeramanku, lalu mencibir, “Pantas saja Sisil bilang aktingmu bagus, ternyata memang benar! Hanya main loncat bungee saja, apa-apaan bisa mati?!”“Fisikmu begitu kuat, mau pura-pura untuk dilihat siapa, sih? Melihatmu saja sudah membuatku muak. Kamu benar-benar ng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status