MasukNamaku Sari aku menikah dengan suami yang baik, perhatian dan pekerja keras karena bagiku hal itu penting maka aku akan terus berjuang bersamanya meski dalam keadaan kekurangan harta, kondisi ekonomi yang naik turun. Pun meski berdampingan dengan keluarga yang kurang baik, orang tua yang tidak perduli, sodara yang maunya menang sendiri juga harus menyaksikan ipar yang selingkuh dengan ipar, tapi berbeda jika dia ada main dengan perempuan lain, sayangnya kebaikannya selama bersamaku membuatku ragu untuk meninggalkannya ketika dia bilang bersama perempuan lain demi menghidupi keluarga.
Lihat lebih banyakMenantu Egois
Namaku Rina. Aku memiliki suami bernama Tejo.Suamiku adalah anak satu-satunya Ibu mertuaku bernama Darsih.Ibu mertuaku seorang janda, walaupun janda, Dia adalah orang yang sangat mandiri, Ibu mertuaku tidak pernah meminta uang kepada Suamiku.Aku menikah dengan Mas Tejo sudah hampir lima tahun.Selama itu pula, aku selalu melarang Mas Tejo memberi uang kepada Ibunya.Bagiku uang Mas Tejo ya hanya untuk ku. Sedangkan Ibu mertuaku tidak berhak atas gaji mas Tejo.Mas Tejo bekerja sebagai Manager disebuah perusahaan terbesar dikota Surabaya.Kami tinggal disebuah perumahan yang cukup elite dengan rumah yang cukup mewah.Sedangkan Ibu mertuaku, tinggal di sebuah perkampungan yang berada dibelakang perumahan kami.Rumah Ibu mertuaku sangatlah sederhana berbanding terbalik dengan rumah kami.Pernah suatu hari Mas Tejo mendapat tunjangan dari kantor sebesar dua puluh juta dan aku tidak mengetahui hal itu.Aku tahunya ketika Ibu mertuaku mulai merenovasi rumahnya.Aku yang mendengar kabar kalau Ibu mertuaku sedang merenovasi rumahnya. Membuat aku marah dan penasaran jadi aku putuskan untuk langsung pergi mendatangi Ibu mertua ku dan ingin sekali aku bertanya darimana uang untuk renovasi. Karena aku yakin jika uang itu pasti dari suamiku.Ketika aku baru sampai di kampung itu. Ku lihat Ibu sedang duduk bersama tetangganya.Aku lalu berjalan mendekat kearahnya."Ibu lagi renovasi rumah ya?"tanyaku sambil mengedarkan pandangan kerumah Ibu yang mulai dibongkar sebagian oleh tukang."Iya Rin. Itu temboknya sudah banyak yang retak jadi dibetulin biar gak ambruk."jawabnya sambil menunjuk sebagian tembok yang dibongkar."Wah. Ibu dapat undian darimana bisa renovasi rumah?"tanyaku menyelidik."Alhamdulillah dapat rejeki dari anak Ibu."jawabnya santai."Anak Ibu kan cuma Mas Tejo! jadi uang itu dari Mas Tejo?"tanyaku dengan ketus."Ha...ha...ha... ya iyalah Rin. Anak Ibu cuma Tejo sama Kamu."jawabnya sambil tertawa."Aduh Bu, jangan halu dech! aku kan cuma menantu bukan anak Ibu."jawabku ketus."Apa bedanya menantu sama anak kandung Rin? Wong yo sama saja."ujarnya lagi sambil tersenyum."Bedalah Bu! aku ini cuma mantu ingat ya Bu! MANTU!"ujarku ketus dengan menekan kata Mantu. Ibu mertua tidak lantas menjawabku, tapi dia mengalihkan pembicaraanku."Sudah gak usah diperpanjang lagi, apa kamu gak malu dilihat para tetangga."jawabnya sambil menunjuk kearah tetangga yang memperhatikan kami."Rina kesini cuma mau tahu Ibu dapat uang dari mana?"tanyaku ketus tanpa peduli omongan ibu tentang para tetangga yang menatap tajam kearahku."Sudah Ibu bilang dari anak Ibu masak kamu gak ngerti."ujarnya santai sambil berjalan menuju rumahnya yang sebagian sudah mulai di bongkar."Dari Mas Tejo maksud Ibu?"tanyaku."Iya Rin dari Tejo darimana lagi Ibu dapat uang kalau bukan dari Tejo."jawabnya sambil masuk ke dalam kamarnya."Kok Ibu itu seenaknya saja minta uang sama Mas Tejo!"bentakku."He!!! kalau ngomong sama Ibu yang sopan."jawabnya sambil menghardik."Ibu itu coba sadar diri dong. Mas Tejo sudah punya istri jadi seharusnya Ibu itu mengerti jangan seenaknya main minta uang. Mas Tejo itu harus menafkahi aku. "ujarku kesal."Coba kamu pulang dan tanya sama Tejo apa pernah Ibu minta uang sama Dia."ujar Ibu ketus."Lha! ini buktinya Ibu bisa renovasi rumah katanya uang dari Mas Tejo."ujarku tak kalah ketus."Kamu kalau mau marah jangan sama Ibu lebih baik kamu tanya dulu Tejo."jawab Ibu ketus."Ibu ini coba jadi orang tua jangan suka nyusahin anak!"bentakku."He!!! Rina! Kamu pikir pake ot*k! lima tahun kamu menikah dengan anakku, apa pernah kamu kasih Ibu uang sebesar seratus ribu saja? Bukankah kamu yang sering minta uang sama Ibu ketika Tejo belum jadi manager seperti sekarang!"ujarnya marah."Ya wajarlah aku minta sama Ibu. itu kan karena Ibu orang tua Mas Tejo!"jawabku tak mau kalah."Ya begitu juga dengan Ibu, seharusnya wajar dong jika ibu minta uang kepada Tejo karena Dia anak Ibu!"bentaknya."Ya gak lah Bu! ibu kan masih sehat dan masih bisa kerja jadi jangan minta uang atau menyusahkan Mas Tejo lagi!"bentakku."Dasar mantu gak waras! coba pikir baik-baik kalau bukan Ibu yang menyekolahkan Tejo sampai tinggi, tidak mungkin Tejo bisa mendapat jabatan seperti sekarang!"bentaknya."Ya wajarlah. Ibu itu kan orang tuanya!"jawabku tak kalah ketus."Sudahlah Ibu malas berdebat dengan mu! Malu dilihat orang! Sudah sana kamu pulang!"usirnya kepadaku.Aku sangat marah ketika mendengar Ibu mengusirku."Awas ya Bu! Aku akan suruh Mas Tejo untuk meminta kembali uang itu!"ujarku sambiln berlalu pergi.Aku pulang dengan perasaan marah dan jengkel kepada ibu. Aku juga marah kepada Mas Tejo, bagaimana bisa dia berani memberikan uang kepada ibu tanpa ijin terlebih dahulu kepadaku. Bukankah dia sangat tahu jika aku melarangnya, Ibu itu masih sehat dan kuat untuk bekerja, bahkan ibu juga memiliki usaha warung. Jadi Mas Tejo tidak perlu lagi memberi uang kepadanya."Alhamdulillah sekarang Rehan udah bisa pulang," ucapku seraya memeluk Rehan. "Ayah mana Bun? katanya mau jemput Rehan?" tanya Rehan seraya memandang arah pintu. "Mungkin sebentar lagi datang, atau sepertinya Ayah akan langsung menyusul ke rumah," jawabku menyemangati Rehan. "Tapi Rehan takut Ayah gak datang," ucap Rehan dengan tertunduk lesu. "Bunda telepon Ayah sekarang yah," ucapku seraya meraih hpku di tas. "Iya Bunda, telepon sekarang cepat, Rehan mau pulang sama Ayah," ucap Rehan begitu semangat. "Rehan mau pulang ke tempat Ayah?" tanyaku cemas. "Iya, kan kemarin Bunda bilang, kalau Rehan udah sembuh Rehan boleh ikut Ayah," jawabnya dengan mata berkaca. Aku seperti tak mau merelakan, tapi juga tak kuasa merusak kebahagiaan Rehan yang baru sembuh dari sakitnya. "Bunda akan tepati janji Bunda kan," ucap Rehan menyadarkanku. "Iya Iyah, tentu saja," jawabku gugup. "Kalo gitu Bunda telepon Ayah sekarang, Rehan pengin mainan sama Ayah cepet," ucap Rehan seraya menggoyang-go
"Mbak Sari aku minta nasehatnya aku minta sarannya aku lagi bingung banget Mbak," rengekku pada mbak Sari. "Apa yang kamu lakukan sudah benar, sudah serahkan saja pada dokter tugas kamu sekarang tinggal berdo'a," jawab mbak Sari bijak. "Masalahnya sudah tiga hari panasnya belum turun juga, dan Rehan terus saja memanggil Ayahnya, dokter juga menyarankan untuk segera memanggil Ayahnya," ucapku ragu. "Apa gak sebaiknya kamu beritahu Bayu tentang keadaan Rehan sekarang," ucap mbak Sari memberi saran. "Itu dia masalahnya Mbak, aku sempat berfikir jika Rehan bisa melewati masa ini maka Rehan akan benar-benar bisa lepas dari Bayu," ucapku penuh harap. "Jika Rehan sudah bisa lepas dari Bayu maka aku akan segera mengajukan permohonan cerai,” ucapku ragu. “Tapi keadaan Rehan sekarang membuatku bingung juga, baiknya gimana ya Mbak," lanjutku dengan putus asa. "Aku tau ini hal yang berat untukmu, tapi ini juga berat buat Rehan, mungkin untuk saat ini, kamu ngalah dulu aja ya, biarkan Rehan
"Tania mau mampir dulu gak?" tanya Niar ketika sampai di rumah tantenya Niar. "Udah malam ya, besok-besok aja, udah main seharian mau istirahat dulu ya Tan," ucapku menolak. "Apa kita mampir dulu sebentar Yah, sebentar aja," rayu Tania padaku. "Kan udah main seharian ini, besok juga ketemu lagi sama tantenya," bujukku. "Sebentar aja, sebentaaaaar banget Yah," Tania terus saja merengek. "Ya sudah tapi bentaran aja," ucapku menyerah. "Oke, makasih Ayah," ucap Tania seraya ke luar mobil. Aku pun menepikan mobilku kemudian turun dari mobil. "Kayaknya ada tamu di dalam?" tanyaku seraya berjalan ke dalam. "Kayaknya si iya," jawab Niar dengan terus melanjutkan langkahnya. "Assalamu'alaikum," ucap kami serempak di depan pintu. "Wa'alaikumsalam.. " jawab serempak orang-orang dari dalam. Kemudian Niar membuka pintu dan masuk rumah, aku dan Tania lekas mengikutinya. "Niar ini Halim sudah lama nungguin kamu," ucap tantenya Niar. Aku mendekat menyalami semua orang di dalam tak lupa T
"Tunggu-tunggu, kok Mbak Niar bisa kenal juga sama suaminya Bening, dan berarti Bening masih punya suami?" ucap Nisa terlihat bingung. "Kan sudah ku bilang, gak ada yang gak aku ketahui," jawab Niar dengan khas sombongnya. "Tadi kebetulan kami lihat mereka di rumah makan yang kami datangi," jawabnya lagi menjelaskan. "Dia kayaknya masih berstatus istri orang tapi kemungkinan besar dia akan menceraikan suaminya, karena di lihat tadi dia sudah gak mau lagi peduli sama suaminya," ucap Niar yakin. Sekarang aku tau kenapa Niar begitu tertarik ingin tau masalah Bayu tadi, ternyata benar dia ingin membantu Nisa, aku yang kakanya bahkan tak ada usaha apapun untuk membantunya. "Terus untuk Rehan gimana Mbak, gimana kalau Bayu menuntut hak asuh anak juga," ucap Nisa khawatir. "Sebernarnya kalau Bayu terbukti dengan kuat dia selingkuh maka hak asuh anak akan jatuh padamu Nis," ucapku meyakinkan. "Tapi, percuma juga Rehan bersamaku kalau dia terus-terusan maunya sama ayahnya," keluh Nisa.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.