Berita itu bikin dingin rasanya—11 Agustus 2014, Robin Williams ditemukan meninggal di rumahnya di Tiburon, California, pada usia 63 tahun. Laporan resmi menyatakan bahwa ia meninggal karena asfiksia akibat tergantung, dan kematiannya diklasifikasikan sebagai bunuh diri.
Dari sudut pandang yang lebih luas, ada perkembangan penting setelah kejadian itu: hasil pemeriksaan dan penjelasan keluarga menunjukkan dia menderita diffuse Lewy body disease. Kondisi ini jarang dibicarakan waktu itu, tapi gejalanya—gangguan memori, halusinasi, dan masalah motorik—bisa sangat membingungkan dan melemahkan. Mengetahui fakta ini mengubah cara banyak orang memahami tragedi tersebut; bukan sekadar tindakan impulsif, melainkan seseorang yang mungkin sedang bergulat dengan penyakit otak yang kompleks dan depresi.
Buatku, kejadian ini juga membuka percakapan publik soal bagaimana sistem kesehatan mental dan neurologi harus lebih peka ke gejala-gejala yang kadang terlihat samar. Di samping kenangan akan lawakannya yang spontan dan kemampuan aktingnya yang luar biasa, kematiannya mengajak kita lebih empati terhadap orang-orang yang menderita penyakit yang tak terlihat.
Gue masih inget betul tanggalnya: 11 Agustus 2014. Robin Williams, yang terkenal bisa bikin orang ketawa dan nangis dalam satu napas, meninggal di rumahnya di Tiburon, California. Ia berusia 63 tahun.
Penyebab kematiannya dicatat sebagai asfiksia karena tergantung, dengan penetapan sebagai bunuh diri oleh pihak berwenang. Nggak lama setelah itu terkuak juga bahwa ia mengidap diffuse Lewy body disease, sebuah kondisi neurodegeneratif yang bisa bikin perilaku dan persepsi berubah drastis. Kata orang-orang dekatnya, kondisi itu sangat memberatkan dan mungkin mempengaruhi kesehatannya secara mental.
Buat gue, fakta-fakta ini bikin perasaan campur aduk: sedih karena kepergiannya, dan juga lebih sadar bahwa di balik tawa besar sering ada perjuangan yang sulit dilihat. Aku tetap sering nonton klip-klip lucunya, sebagai cara kecil untuk menghargai bakatnya sekaligus mengingat pentingnya perhatian pada kesehatan mental.
Gak pernah terhapus dari ingatan: 11 Agustus 2014 adalah hari yang bikin suasana dunia hiburan serasa kehilangan sesuatu yang tak tergantikan. Robin Williams ditemukan meninggal di rumahnya di Paradise Cay, Tiburon, California. Usianya 63 tahun saat itu.
Penyebab resmi yang dicatat oleh koroner adalah asfiksia karena tergantung—disimpulkan sebagai bunuh diri. Berita itu menghantam keras karena selain dikenal sebagai komedian enerjik, dia juga aktor brilian yang bisa tiba-tiba bikin kita nangis lewat adegan serius di 'Good Will Hunting' atau membuat keluarga tertawa di 'Mrs. Doubtfire'. Belakangan terungkap juga bahwa dia menderita penyakit Lewy body diffuse, sejenis gangguan neurodegeneratif yang bisa menyebabkan halusinasi, perubahan kognitif, dan gejala seperti Parkinson. Keluarga menyebutkan kondisi ini sebagai faktor yang memperburuk keadaannya dan mungkin berkontribusi pada keputusannya.
Mengingat semua itu, rasanya campur aduk antara kehilangan senyum-senyum jenaka yang selalu muncul tiba-tiba dan dukungan lebih besar terhadap pemahaman soal penyakit mental serta gangguan otak. Aku masih sering nonton ulang potongan-potongan lawakannya, sambil teringat bahwa di balik tawa itu ada pertempuran yang dalam. Kehadirannya tetap terasa setiap kali aku menonton kembali karya-karyanya, dan itu menenangkan dalam cara yang sederhana.
2025-11-13 03:28:29
15
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?
Bella Amara
9.6
219.8K
“Mau?”
Surya Setiawan menatap wanita yang menerjang masuk ke dalam pelukannya dengan wajah memerah, nadanya terdengar santai.
Joana Widodo sedang kambuh. Ia gigit bibirnya dan mengangguk.
Sudah setahun menikah, namun suaminya, Fajar Geraldi nggak pernah sekali pun sentuh dia.
Karena itu, Joana menderita gangguan histeria, setiap kali kambuh, ia diliputi hasrat yang begitu kuat.
Hingga suatu malam ia pergoki suaminya diam-diam cium foto kakaknya. Baru saat itu ia sadar kalau selama ini ia cuma pengganti. Kondisinya pun makin parah. Ia terpaksa pergi ke rumah sakit. Di sana, ia bertemu seorang dokter muda yang tampan.
Saat pemeriksaan berlangsung, ia hampir kehilangan kendali dan nyaris ….
Nggak nyangka, keesokan harinya saat masuk kerja, dokter yang semalam periksa dia dengan begitu intim ternyata adalah presiden direktur baru yang tiba-tiba ditunjuk?
Joana berniat pura-pura nggak kenal dia.
Namun, ia justru dipromosikan jadi asisten pribadi di sisi sang presiden direktur yang baru.
“Surya, aku sudah punya suami. Apa kamu mau jadi pihak ketiga?”
Di dalam kantor, Joana dipaksa duduk di pangkuannya dengan kaki terbuka, wajahnya merah padam karena kesal.
Pria itu cengkeram pinggangnya dan cium dia.
“Sayang, kamu lupa? Kemarin malam, semalaman kamu panggil aku suami.”
Belakangan, Joana nikah lagi tanpa menoleh ke belakang. Mantan suaminya justru menyesal, dengan mata merah memohon ke dia, “Joana, ayo kita mulai lagi! Asal nggak cerai, kamu mau apa pun akan aku turuti!”
Joana menatapnya dingin.
“Maaf. Aku nggak tertarik dengan pria yang nggak mampu jadi suami seutuhnya.”
Nadia ingin berbagi kebahagiaan atas kehamilannya pada kedua orang tua dan Nabila saudaranya. Betapa terkejutnya Nadia saat melihat keluarganya bahagia atas kehamilan Nabila yang ia ketahui belum menikah, dan yang lebih mengejutkan lagi lelaki yang menjadi ayah dari anak yang dikandung Nabila adalah Rama suaminya. Talak akhirnya terucap dari bibir Rama.
Nadia pergi dalam kekalutan hingga mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dia keguguran. Nadia yang merasakannya sakit raga dan hatinya masih harus berhadapan dengan Gio pemilik mobil mewah yang ia tabrak. Dan sebagai ganti rugi yang tak sedikit Gio meminta Nadia menjadi istrinya. Padahal Gio adalah pemilik perusahaan tempat Rama bekerja.
Terbesit balas dendam, tapi ternyata menikah dengan Gio bagaikan memasuki neraka dunia yang lain.
Setelah dijual oleh ayahnya sendiri kepada seorang desainer legendaris bernama William Neil, gadis 18 tahun bernama Lira Suhita hidup dalam dunia penuh cahaya dan kamera, tetapi tanpa kebebasan. William menjadikannya seorang bintang model, membentuk Lira sesuai visi dan ambisinya.
Namun, di balik kilau busana dan tepuk tangan, Lira justru terjebak dalam pesona pria berusia 36 tahun yang berbahaya—ambisius, manipulatif, dan obsesif.
Saat cinta dan ketakutannya bercampur, Lira harus memilih: tunduk pada William yang telah menjadikannya bintang model … atau membuang semua kemewahan ini demi kebebasan yang dahulu dia impikan.
Tersadar dari Mimpi, Aku Memutuskan untuk Meninggalkannya
Nita Jameela
10
7.3K
Di hari pernikahan kami, “adik” kesayangan Levin tiba-tiba pingsan. Dia pun meninggalkanku di atas altar dan menggendong adiknya itu pergi ke rumah sakit.
Begitu menyaksikan hal ini, penyakit jantung ibuku kambuh. Namun, semua orang yang hadir hanya ingin menonton pertunjukan dan sama sekali tidak berniat untuk membantu. Saat aku mengantar ibuku sampai ke rumah sakit, dia sudah tidak terselamatkan.
Pada saat ini, Levin tiba-tiba meneleponku, “Sienna, kamu lagi di mana? Penyakit Lestari kambuh lagi. Dia butuh sumsum tulang belakangmu!”
“Levin, kita ... pisah saja!”
Aku memutuskan sambungan telepon, lalu berbalik dan pergi. Kali ini, aku tidak akan menoleh lagi.
Wira dan Raisa tidak pernah akur sejak kecil. Pada tahun itu, di kalangan mereka hanya tersisa mereka berdua yang cocok untuk dijodohkan.
Wira berkata dengan tegas, "Sekalipun mati, aku nggak akan menikahi Raisa."
Namun, Raisa malah menunjukkan ketertarikan. "Kalau begitu, aku pasti akan menikah denganmu. Cepat mati sana."
Di hari pernikahan, Wira melepaskan puluhan ekor ayam di lokasi acara sebagai bentuk penghinaan. Tanpa ekspresi, Raisa mengambil seekor ayam dan memanggilnya sebagai suaminya.
Seketika, Wira kehilangan keinginan untuk mempermalukannya. Dia menatap Raisa yang bersikeras menikah dengannya sambil mencibir. "Kamu pasti bakal nyesal."
Tiga tahun pernikahan, untuk ke-99 kalinya, Raisa memergoki Wira berselingkuh di ranjang. Barulah saat itu, dia benar-benar mengerti apa yang dimaksud Wira dulu dengan "penyesalan".
Dia adalah ketua Pasukan Aksara yang menyebar di seluruh dunia!
Dia adalah pendiri Perusahaan Aksara yang memiliki kekayaan ratusan triliun!
Dia kembali ke Kota Kumara untuk mencari tunangannya. Namun, dia malah menemukan tunangannya bertunangan dengan orang lain. Tunangannya itu merobek surat nikah secara terang-terangan dan mempermalukannya ....
Berita tentang kepergian Robin Williams selalu bikin aku kaget lagi tiap kali teringat — suaranya dan cara humornya begitu melekat di kepala. Pada dasarnya, dia meninggal di rumahnya yang berada di kawasan Paradise Cay, sebuah enclave di dekat Tiburon, Marin County, California. Kejadian itu terjadi pada 11 Agustus 2014, dan laporan resmi menyebutkan lokasi persisnya adalah di kediamannya sendiri.
Menurut keterangan petugas, orang yang menemukan tubuhnya adalah asisten pribadinya. Dari laporan penyelidikan awal yang beredar waktu itu, istrinya tidak berada di rumah saat peristiwa itu terjadi. Ini jadi salah satu momen publik yang terasa amat tragis bagi banyak penggemar, karena kita menyaksikan kehilangan seorang komedian dan aktor yang selalu tampak penuh energi di layar.
Buatku, kenangan terbaik soal dia tetap karya-karyanya—cara dia mengubah kesedihan jadi tawa, dan sebaliknya. Info tentang tempat dan orang yang menemukannya memberi konteks, tapi yang paling nempel tetap warisan humornya dan percakapan yang dia buka soal kesehatan mental. Aku sering kembali nonton beberapa filmnya kalau lagi perlu pengingat tentang bagaimana tawa bisa jadi penghibur sekaligus peringatan untuk peduli pada orang di sekitar kita.