Share

BALAS DENDAM TERMANISNYA (Kebangkitan yang Tak Terbayangkan)
BALAS DENDAM TERMANISNYA (Kebangkitan yang Tak Terbayangkan)
Penulis: Betty Williams

CHAPTER 1

Penulis: Betty Williams
last update Tanggal publikasi: 2026-07-23 04:21:04

### BAB 1:

**TERTANGKAP DI RANJANG: DIA TIDAK PERNAH MENYANGKANYA**

Hujan gerimis turun di luar dan Flora sedang berada di dapur, menyiapkan makan malam favorit suaminya, makaroni dan keju, ketika ponselnya tiba-tiba mulai berdering.

Ia melirik ID pemanggil dan tersenyum.

Itu suaminya, Richard Wilson.

Hari ini adalah ulang bulan pertama mereka dan pria itu telah memberitahunya di pagi hari bahwa dia tidak sabar untuk pulang ke rumah dan menyantap makan malam favoritnya yang dibuat secara khusus oleh Flora.

"Halo sayang, kamu sudah di jalan?" Tanyanya sesaat setelah menempelkan ponsel di telinganya.

"Belum. Aku hanya butuh sedikit bantuan darimu." Suara maskulin yang memikat menjawab dari ujung telepon sana.

"Clara baru saja mendarat di bandara, dan ada banyak pekerjaan di mejak saat ini. Bisakah kamu membantuku menjemputnya?" Tanyanya.

"Tentu. Itu bukan masalah besar." Jawab Flora tanpa ada keraguan sedikit pun.

Tentu saja, ia telah berdoa agar kesempatan ini datang, jadi mengapa ia harus mengatakan 'tidak' untuk permintaan seperti ini?

Clara adalah saudara kembar Richard yang telah pergi selama lima tahun, dan hanya berkomunikasi dengan Flora melalui panggilan suara dan video.

Bahkan pernikahannya dengan Richard ditayangkan secara langsung di TV hanya agar Clara bisa menontonnya secara daring.

Tanpa ragu, Flora mempercepat proses memasaknya agar tidak membuat adik ipar favoritnya menunggu terlalu lama.

"Hei Debby. Coba tebak? Adik iparku baru saja mendarat di bandara! Bisakah kamu menemaniku ke bandara selagi aku mengendarai mobil untuk membawanya pulang? Tolong, jangan tolak aku, ya..." Flora dengan cepat mengirimkan pesan suara kepada sahabatnya, Debby, selagi ia mencari gaun terbaik yang akan membuatnya terlihat anggun dan memberikan kesan pertama yang baik pada Clara.

Sebelum ia selesai berpakaian, Debby telah mengiriminya pesan berisi lokasi tempat mereka akan bertemu di sepanjang jalan menuju bandara.

Sesampainya di bandara, Flora masih memindai berbagai wajah wanita muda dan cantik di sekitar lingkungan itu, mencoba menemukan adik iparnya ketika seorang wanita muda bergaun biru, dengan senyum lembut dan kecantikannya yang dipertegas oleh fitur wajah yang elok tiba-tiba berlari ke arahnya.

"Heeeyyy, akhirnya aku bisa melihatmu langsung! Benar-benar lambang kecantikan!" Seru wanita itu sambil memeluk Flora dengan erat.

"Wah! Aku percaya pada saudaraku. Aku tahu dia selalu punya mata yang bagus untuk hal-hal yang indah." Tambahnya.

Flora tidak bisa menahan rona merah di pipinya.

"Kamu juga terlihat sangat cantik. Sekarang, aku tahu kenapa Richard selalu menyanyikan pujian untukmu, dan selalu bersikeras bahwa dia harus menyeleksi pria mana pun yang ingin menikahimu." Canda Flora.

Menatap wanita anggun di depannya, Flora tidak bisa tidak membayangkan penampilan calon anak perempuannya bersama Richard nanti.

Baik mereka berdua maupun keluarga mereka tidak ada yang berwajah buruk, jadi sama sekali tidak mungkin anak mereka akan terlihat berbeda.

Saat mereka berkendara menuju kediaman Wilson, Clara meminta agar mereka berhenti di sebuah *lounge*, restoran favoritnya saat ia berada di New York, agar ia bisa meminum satu sloki minuman favoritnya dan sepiring makanan kesukaannya.

"Aku benar-benar merindukan segala hal tentang De-earnest Lounge, kamu tahu. Percayalah padaku, kamu akan membujuk suamimu untuk sering berkunjung ke sini setelah kamu mencoba pelayanan mereka." Kata Clara dan mereka semua tertawa terbahak-bahak saat mereka mengobrol dan berjalan menuju konter.

Suasana restoran itu sangat berkelas dan memikat. Seperti biasa, Flora memesan anggur non-alkohol dingin sementara Clara dan Debby meminum bergelas-gelas wiski tanpa henti.

Setelah beberapa menit, Flora merasa seolah-olah tubuhnya dipanggang di atas api. Penglihatannya mendadak kabur. Ia tidak bisa menggerakkan kakinya, karena ia mulai merasa pusing dan mengantuk.

Ia mengulurkan tangannya dan menggapai lengan seseorang. Ia ingin berteriak meminta pertolongan, namun dikalahkan oleh aroma maskulin yang kuat.

"Cla–ra, Debby, kalian di mana..." Sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, bibirnya yang sedikit terbuka dikunci secara paksa.

Ia mencoba melawan, tetapi ia tidak berdaya. Pria itu tidak memberinya kesempatan sedikit pun untuk lepas dari pelukannya. Pria itu melanjutkan dengan menyelami lidahnya, melumat bibirnya dengan ciuman sebelum bergerak perlahan ke dagu dan lehernya.

'Bukankah seharusnya ia merasa jijik dengan ciuman orang asing ini?'

Namun, ia gemetar dalam kenikmatan saat tangan pria itu berpindah ke buah dadanya, mencubit putingnya dengan lembut. Ia mulai merintih dalam kenikmatan yang dalam.

Ini adalah jenis kenikmatan yang persis seperti yang dibuat Richard pada malam pernikahan mereka.

Dalam hitungan detik, ia merasakan sakit yang tajam di bagian bawah tubuhnya. Berbeda dengan Richard, penetrasi yang sangat kuat dan intens itu terasa begitu menguasai dirinya.

Pagi-pagi sekali, sinar matahari menerobos masuk melalui jendela, menyinari seluruh ornamen megah di dalam ruangan.

Di atas sofa besar, seorang wanita ramping berbaring dengan tenang di satu sisi, tubuhnya tertutup di bawah selimut, sementara pakaian dan pakaian dalam yang berantakan terlempar sembarangan di atas ubin berwarna krem.

Aroma samar bekas percintaan masih tertinggal di mana-mana di sekitar ruangan.

Dalam tidur nyenyaknya, ia tiba-tiba mendengar suara benturan keras di pintu. Awalnya, ia enggan untuk bangun, tetapi ketika pintu itu mendadak terbuka lebar secara paksa, ia memaksa matanya untuk terbuka.

Ia mengedipkan mata perlahan. Saat ia berhasil membuka matanya sepenuhnya, ia melihat suaminya, Richard Wilson, berdiri di ambang pintu, menyilangkan tangan di dada dan wajahnya berselimut rasa jijik saat menatapnya.

Ibu mertuanya dan Clara juga berdiri di sampingnya, tampak sangat terkejut saat menatap dirinya.

"Ri…Richard…" Katanya terbata-bata. Seluruh tubuhnya menegang ketika ia menyadari bahwa ia telanjang di balik selimut.

Ia melihat sekeliling ruangan itu, tidak ada bedanya dengan fasilitas hotel kelas satu.

"Aku di mana Richard? Bagaimana… bagaimana aku bisa berakhir di sini? Maksudku, siapa..."

"Tutup mulutmu yang tidak tahu malu itu, dasar pelacur! Masih memiliki keberanian untuk menanyakanku bagaimana kamu berakhir di sini adalah hal yang paling menjijikkan, Flora!" Ejek Richard.

"Katakan padaku, dengan bajingan mana kamu menyerahkan tubuhmu?" Raungnya.

'Apa yang sebenarnya dia katakan?' pikirnya.

Flora menyipitkan matanya dan mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi tadi malam, tetapi otaknya kosong.

Satu-satunya hal yang bisa ia ingat adalah momen kebersamaannya dengan Clara dan Debby di sebuah restoran setelah berkendara beberapa mil dari bandara.

Clara berjalan mendekati tempat tidur bersama ibunya, wajah mereka berkerut jijik.

"Clara, semoga kameramu cukup bagus untuk mengambil gambar yang jelas dari kakak iparmu yang tanpa malu tidur dengan pria lain hanya sebulan setelah pernikahannya.”

‘Tidur dengan pria lain?' Flora menelan ludah dengan rasa sakit.

"Aku bersumpah, aku tidak..." Flora terbata-bata, mencoba menjelaskan dirinya sendiri, tetapi Richard tidak peduli. Pria itu melangkah menuju tempat tidur dan menarik rambut panjangnya, membuatnya berteriak kesakitan.

Pria itu mencengkeram tangannya dan mencoba menariknya keluar dari tempat tidur, menyingkap leher dan bahunya, yang memperlihatkan bukti ciuman yang lebih jelas di seluruh tubuhnya, membuat pembelaannya menjadi tidak berarti.

"Ambil gambar area itu dengan jelas." Perintah Henya.

"Percayalah padaku, Ibu." Clara memegang kamera sambil tersenyum sinis. "Oh wah! Tidak perlu ada yang diberitahu bahwa kamu benar-benar menikmati waktu yang menyenangkan bersama pria simpananmu tadi malam!"

'Sial! Bagaimana aku bisa berakhir dalam kekacauan ini?' Flora bergumam dalam hati.

Pada setiap detik yang berlalu, ia terus membayangkan beberapa adegan menjijikkan di kepalanya.

Ia mengalihkan pandangannya ke arah Richard, suaminya yang dulunya tampan dan selalu tersenyum kini berdiri di depannya, menatapnya dengan rasa jijik yang mendalam seolah-olah dia adalah seonggok sampah.

"Richard, tolong dengarkan aku. Aku..." Ia mencoba menjelaskan.

"Cukup, Flora!" Bentaknya.

"Kamu benar-benar tidak tahu malu, Flora! Berselingkuh dariku hanya sebulan setelah berdiri di atas altar? Aku tidak peduli bagaimana itu terjadi atau dengan siapa kamu melakukannya, tapi.... Bersiaplah untuk perceraian." Isyaratnya, dan dalam hitungan detik, ia melangkah keluar ruangan tanpa menoleh lagi padanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • BALAS DENDAM TERMANISNYA (Kebangkitan yang Tak Terbayangkan)   CHAPTER 98

    BAB 98HARGA UNTUK MENEMUKAN KEBENARANStaf rumah sakit sudah menunggu Natasha di meja resepsionis. Sebuah amplop cokelat yang masih tersegel terletak di atas nampan logam.“Silakan tanda tangan di sini,” kata pria itu sambil mendorong amplop tersebut ke arahnya.Natasha menarik napas dalam-dalam sambil memegang amplop itu dengan kedua tangannya.Dia tidak membukanya di laboratorium. Sebaliknya, dia berjalan keluar, masuk ke mobilnya, lalu mengunci keempat pintunya. Setelah itu, dia duduk di sana selama hampir lima menit dengan amplop di atas pangkuannya, mendengarkan suara napasnya sendiri.Akhirnya, dia menyelipkan ibu jarinya di bawah lipatan amplop dan merobeknya hingga terbuka.Kertas di dalamnya tipis dan putih, dipenuhi tabel serta angka-angka yang tidak dia pahami. Namun, di bagian paling bawah, terdapat sebuah kalimat pendek yang ditulis dengan huruf hitam di dalam kotak tebal. Itu adalah kesimpulan akhir dokter, dan Natasha memahaminya dengan sangat jelas.“Probabilitas bahw

  • BALAS DENDAM TERMANISNYA (Kebangkitan yang Tak Terbayangkan)   CHAPTER 97

    BAB 97LANGKAH CERDASNatasha mengembuskan napas panjang dengan lega saat duduk di kursi pengemudi mobilnya.“Akhirnya. Aku sudah mencapai setengah jalan,” katanya kepada dirinya sendiri sambil tersenyum lebar dan melihat rambut serta cangkir yang telah diambilnya dari Tuan Smith.Namun, mendapatkan sampel Adrian akan jauh lebih sulit karena Adrian sama sekali tidak memercayainya.Dia menunggu hingga sore hari, ketika dia tahu Adrian pasti berada di kantornya. Kemudian, dia memasuki area resepsionis dengan membawa sebuah amplop tebal.Dua sekretaris mencoba menghentikannya, tetapi dia mengatakan dengan suara jelas bahwa dia datang untuk melakukan pembayaran yang diperintahkan oleh pengadilan. Tidak satu pun dari mereka berani membantahnya.Adrian sedang duduk di belakang meja kerjanya yang besar, dengan secangkir kopi di sampingnya, ketika terdengar ketukan di pintu.“Masuk,” katanya.Begitu Natasha masuk dan mata mereka bertemu, Adrian segera mengalihkan pandangannya kembali ke berka

  • BALAS DENDAM TERMANISNYA (Kebangkitan yang Tak Terbayangkan)   CHAPTER 96

    BAB 96PUTUS ASA MENCARI KEBENARANKetika Natasha pulang malam itu, dia terlalu lelah untuk bergabung dengan keluarganya di meja makan. Karena itu, dia langsung pergi ke kamarnya dan mengunci pintu.“Lopez, aku mulai takut pada putri kita. Aku khawatir dia menyembunyikan sesuatu dari kita berdua,” kata Nyonya Lopez sambil memperhatikan Natasha menaiki tangga.“Aku sudah mengatakan ini kepadamu sebelumnya, tetapi kau tidak mau memercayaiku. Aku sudah tahu sejak lama bahwa dia sedang merencanakan sesuatu,” jawab Tuan Lopez.“Maafkan aku karena meragukanmu, Sayang. Aku tidak pernah menyangka masalahnya akan seserius ini. Aku baru mulai mencurigainya ketika menyadari bahwa dia hampir tidak pernah menatap mataku seperti dulu. Natasha menjadi sangat pendiam, Lopez. Tolong lakukan sesuatu. Aku takut kehilangan putriku,” katanya dengan suara bergetar dan mata yang hampir meneteskan air mata.Tuan Lopez mengulurkan tangannya melewati meja dan menggenggam tangan istrinya dengan lembut.“Percaya

  • BALAS DENDAM TERMANISNYA (Kebangkitan yang Tak Terbayangkan)   CHAPTER 95

    BAB 95DARI MUSUH MENJADI KELUARGA"Duduklah, Adrian. Aku tidak datang untuk bertengkar atau membuat keributan," kata Tuan Smith.Matanya perlahan menyapu seluruh ruangan. Dia memperhatikan lukisan-lukisan yang tergantung di dinding, bunga-bunga, dan cahaya pagi yang terang menembus jendela-jendela besar. Akhirnya, pandangannya tertuju pada Flora, yang berdiri kaku seperti patung sambil memeluk putranya. Dan kecil pun sudah terlihat ketakutan."Selamat pagi, Nyonya Smith," sapa pria tua itu.Dia mengucapkan gelar tersebut secara perlahan dan hati-hati, seolah-olah masih mencoba memastikan apakah gelar itu cocok untuk Flora.Apakah dia baru saja memanggilku Nyonya Smith? pikir Flora."Selamat pagi, Tuan," jawab Flora dengan suara yang hampir tidak terdengar."Aku sudah membaca surat kabar," kata pria tua itu sambil duduk di kursi terdekat dengan sedikit erangan. "Aku membaca bahwa beberapa pengusaha yang sangat dihormati ternyata menyelundupkan barang. Aku juga membaca berita tentang a

  • BALAS DENDAM TERMANISNYA (Kebangkitan yang Tak Terbayangkan)   CHAPTER 94

    BAB 94MELINDUNGI ANAK MUSUHNYA"Cukup membicarakan Flora, Debby!""Jangan menyuruhku diam!" balas Debby dengan marah. "Wanita itu membuat kita terlihat seperti penjahat di hadapan seluruh kota, sementara kau hanya duduk di sana seolah-olah..."Dia menghentikan ucapannya ketika tas tangannya melorot dari bahunya dan ponselnya jatuh ke lantai ubin yang keras. Layar ponsel menyala saat benda itu menghantam lantai.Richard menunduk, dan seketika itu juga, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.Di layar terlihat foto seorang anak laki-laki kecil yang mengenakan seragam sekolah berwarna biru. Anak itu tertawa sambil membawa tas di bahunya. Di bawah foto tersebut, terdapat sebuah pesan yang belum dikirim:"Lain kali, mobil itu tidak akan hanya diparkir."Debby mulai gemetar ketika melihat Richard menatap layar ponselnya. Namun, dia berusaha mempertahankan ekspresi tenang untuk menyembunyikan ketakutannya.Dia segera membungkuk untuk mengambil ponsel itu. Namun, sebelum tangannya sempat mer

  • BALAS DENDAM TERMANISNYA (Kebangkitan yang Tak Terbayangkan)   CHAPTER 93

    BAB 93CARA BALAS DENDAM YANG LEBIH BERBAHAYAFlora merasa tanah di bawah kakinya seolah-olah miring. Adrian melangkah mendekatinya dari belakang dan merangkul bahunya."Kau melakukan hal yang benar, Nak," katanya sambil berlutut agar sejajar dengan tinggi Dan. "Mulai sekarang, kau akan memiliki teman baru yang akan menemanimu berjalan ke sekolah. Namanya Tuan Carter. Dia sangat besar dan sangat lucu. Bagaimana, kau setuju?""Pengawal?" Mata Dan membesar karena kegembiraan. "Seperti yang ada di film?""Tepat sekali. Persis seperti yang ada di film."Dan menyeringai lebar, dan untuk sesaat, Adrian membalas senyumnya. Namun, ketika bocah kecil itu berbalik untuk melambaikan tangan kepada teman-temannya sebagai tanda perpisahan, senyum Adrian perlahan menghilang. Tatapan matanya begitu menyedihkan hingga sopirnya pun mengalihkan pandangan. Dia belum pernah melihat tuannya sehancur itu seperti hari ini.Malam itu, setelah Dan akhirnya tertidur sementara Tuan Carter duduk di luar kamarnya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status