Siapa Yang Mengatur Standar Penulisan Bahasa Indonesia Yang Benar?

2026-05-26 10:45:51
253
Share
Kuis Kepribadian ABO
Ikuti kuis singkat untuk mengetahui apakah Anda Alpha, Beta, atau Omega.
Aroma
Kepribadian
Pola Cinta Ideal
Keinginan Rahasia
Sisi Gelap Anda
Mulai Tes

2 Jawaban

Olive
Olive
Penyimak Perawat
Bicara soal standar penulisan bahasa Indonesia, selalu teringat diskusi seru di komunitas penulis indie. Ternyata ada badan resmi bernama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) di bawah Kemdikbud yang jadi 'wasit' utama. Mereka ini ngeluarin Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang jadi kitab suci buat penulisan baku. Tapi lucunya, di lapangan sering banget ketemu perdebatan antara aturan baku vs bahasa gaul yang hidup organik di masyarakat.

Aku sendiri sering galau antara ikutin PUEBI atau nyelipin gaya colloquial biar lebih relatable. Misalnya nih, di platform digital kayak Twitter atau TikTok, orang lebih terbiasa pakai 'lo/gue' ketimbang 'saya/Anda'. Badan Bahasa sebenarnya cukup progresif dengan mengakomodir perubahan zaman, tapi tetap punya batasan tertentu buat menjaga kemurnian bahasa. Uniknya, mereka juga rajin ngadain sosialisasi lewat webinar dan lomba blog buat promosiin penulisan yang baik dan benar.
2026-05-27 09:04:47
13
Xander
Xander
Kawan Novel Admin
Dari sudut pandang praktisi konten kreatif, standar bahasa itu ibarat rambu lalu lintas yang perlu diketahui tapi bisa dimaklumi jika dilanggar demi kreativitas. Badan Bahasa memang punya otoritas formal, tapi di dunia digital, algoritma platform dan tren justru sering jadi 'pengatur tak resmi'. Contohnya, penggunaan kata 'banged' atau 'kepo' yang awalnya dianggap slang, sekarang malah masuk KBBI. Aku pribadi sih selalu berusaha menyeimbangkan antara patuh aturan dan adaptasi dengan audiens.
2026-05-29 22:53:02
15
Lihat Semua Jawaban
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Buku Terkait

Pertanyaan Terkait

Apa perbedaan Bahasa Betawi dengan bahasa Indonesia standar?

5 Jawaban2025-11-21 00:51:05
Membahas Bahasa Betawi selalu bikin aku tersenyum karena nuansa akrabnya. Bedanya dengan bahasa Indonesia standar paling kentara di kosakata dan logat. Misalnya, kata 'ente' untuk 'kamu' atau 'nyokap-bokap' buat orang tua. Logat Betawi itu khas banget, lebih melodis dengan intonasi naik turun yang kental. Yang menarik, Bahasa Betawi banyak menyerap kata dari bahasa lain seperti Hokkien (contoh: 'cimeng' dari 'xiè mèng' artinya mimpi buruk) atau Arab ('mahalabiyu' dari 'mahallabiyya' untuk sejenis dessert). Sementara bahasa Indonesia standar lebih formal dan cenderung netral secara kultural. Perbedaan ini bikin Betawi punya warna unik yang hangat seperti obrolan di warung kopi.

Kapan ejaan bahasa Indonesia pertama kali ditetapkan?

4 Jawaban2026-06-20 10:09:57
Menggali sejarah ejaan bahasa Indonesia itu seperti membuka lembaran lama yang penuh dinamika. Awalnya, bahasa Melayu—yang jadi cikal bakal bahasa Indonesia—menggunakan ejaan Latin berdasarkan tulisan Belanda, dikenal sebagai 'Ejaan Van Ophuijsen' sejak 1901. Ejaan ini pakai tanda diaresis (ë) dan oe untuk u, mirip gaya kolonial. Tapi setelah Sumpah Pemuda 1928, semangat nasionalisme mendorong penyederhanaan. Tahun 1947, 'Ejaan Republik' atau 'Ejaan Soewandi' muncul, mengganti oe jadi u dan menghapus tanda diakritik. Ini jadi tonggak penting sebelum akhirnya EYD (Ejaan yang Disempurnakan) resmi diberlakukan tahun 1972. Yang menarik, perubahan ejaan ini nggak cuma soal teknikal, tapi juga politis. Setiap reformasi mencerminkan upaya lepas dari warisan kolonial dan mencari identitas sendiri. Dulu sempet ribut soal 'foto' vs 'photo' atau 'system' vs 'sistem', tapi sekarang udah makin stabil. Kadang aku bayangin gimana repotnya penulis zaman dulu harus adaptasi tiap ada perubahan aturan!

Tutorial mengatur bahasa Indonesia di Webtoon dengan screenshot

4 Jawaban2026-02-13 07:22:30
Webtoon sebenarnya cukup mudah untuk diatur bahasanya, tapi mungkin beberapa orang masih bingung karena antarmukanya berubah sesekali. Aku sendiri sempat kesulitan waktu pertama coba ubah ke Bahasa Indonesia, tapi setelah eksplorasi dikit, ketemu caranya. Pertama, buka aplikasi Webtoon di HP kamu, lalu klik profil di pojok kanan bawah. Scroll ke bawah sampai nemu bagian 'Settings' (pengaturan). Di situ ada opsi 'Language', tap itu, dan pilih 'Bahasa Indonesia'. Kalo udah, biasanya aplikasi akan restart otomatis. Gampang kan? Sayangnya aku gak bisa kasih screenshot sekarang, tapi langkah-langkahnya persis kayak gitu.

Siapa yang menetapkan ejaan yang disempurnakan adalah di Indonesia?

2 Jawaban2025-10-22 20:07:49
Buatku, cerita soal ejaan selalu terasa seperti perjalanan kecil menelusuri sejarah bahasa yang hidup. Aku ingat waktu kuliah bahasa dulu sering baca bahwa 'Ejaan yang Disempurnakan' — biasa disingkat EYD — bukan dibuat oleh individu tunggal melainkan oleh negara. Lebih tepatnya, EYD ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1972 sebagai hasil usaha penyelarasan ejaan antara Indonesia dan Malaysia. Periode itu memang penting: kedua negara bersepakat untuk menyamakan penulisan agar komunikasi tertulis dalam bahasa Melayu–Indonesia lebih konsisten. Di pihak Indonesia, langkah formalnya dilaksanakan lewat kementerian terkait yang membina bahasa, dan lembaga bahasa negara yang menggodok pedoman serta menerbitkan aturan resmi. Dalam praktik sehari-hari, siapa yang 'menetapkan' berarti institusi pemerintah bertanggung jawab—kementerian yang mengurusi pendidikan dan kebudayaan serta badan pengembang bahasa yang kemudian mengeluarkan pedoman resmi. Sekolah, penerbit, media, dan institusi resmi lain biasanya mengikuti pedoman itu sebagai standar baku. Seiring waktu, pedoman itu juga mengalami revisi: EYD sebagai nama populer pada akhirnya diperbarui dan dikemas ulang dalam aturan dan pedoman baru (misalnya pedoman yang lebih modern kemudian dikenal luas), karena bahasa itu dinamis dan butuh penyesuaian dengan kenyataan penggunaan. Kalau dipikirkan, rasanya wajar kalau penetapan ejaan dilakukan oleh lembaga negara: bahasa standar memerlukan legitimasi institusional supaya pendidikan dan administrasi bisa berjalan seragam. Aku suka melihatnya sebagai kerja kolektif, bukan aturan kaku yang turun dari langit—ada proses diskusi, penyusunan, dan sosialisasi. Biarpun sekarang banyak orang masih menyelipkan penulisan lama atau gaya informal di chat, adanya pedoman resmi membuat kita punya rujukan ketika mau menulis untuk keperluan formal, dan itu membantu menjaga agar komunikasi tetap jelas.

Bagaimana penulisan bahasa Indonesia yang benar menurut PUEBI?

2 Jawaban2026-05-26 10:31:50
Pernah ngerasa bingung saat nulis chat atau caption medsoc trus kepikiran 'ini bener sesuai PUEBI nggak sih?' Aku dulu sering banget ngalami itu, sampe akhirnya belajar pelan-pelan lewat pengalaman nulis blog. Menurut PUEBI, penulisan yang benar itu harus memperhatikan beberapa hal krusial. Misalnya, pemakaian huruf kapital untuk nama orang, gelar, atau awal kalimat. Yang sering salah itu penulisan kata ganti 'Anda' - harus pakai huruf besar lho karena bermakna hormat. Trus soal penulisan kata depan seperti 'di' dan 'ke'. Kalau menunjukkan tempat, harus ditulis terpisah ('di rumah', 'ke sekolah'), tapi kalo jadi awalan ya disambung ('dimakan', 'kekasih'). Nah yang bikin banyak orang keliru itu tanda baca. Titik koma (;) jarang dipake padahal berguna banget buat misahin klausa panjang. Aku sendiri suka pakai fitur pemeriksa ejaan online buat double-check sebelum publish tulisan. Yang paling seru sih belajar lewat contoh konkret - bacaan formal seperti artikel koran biasanya patuh banget sama PUEBI.

Tips apa saja untuk memperbaiki penulisan bahasa Indonesia yang benar?

2 Jawaban2026-05-26 06:42:19
Kesalahan dalam penulisan bahasa Indonesia seringkali terjadi karena kurangnya perhatian terhadap detail kecil yang sebenarnya crucial. Mulailah dengan rajin membaca karya-karya penulis Indonesia klasik seperti Pramoedya Ananta Toer atau NH Dini—mereka adalah maestro yang menunjukkan bagaimana bahasa bisa mengalir indah sekaligus presisi. Perhatikan cara mereka menyusun kalimat, memilih diksi, dan menata paragraf. Jangan lupa untuk selalu memeriksa Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) terbaru, karena aturan seperti penulisan 'di' sebagai awalan vs. 'di' sebagai kata depan sering menjadi jebakan. Satu trik praktis yang kubiasakan adalah menulis draft kasar dulu, lalu membacanya keras-keras. Suara kita sendiri adalah alat deteksi alami untuk menemukan kalimat yang rancu atau tidak efektif. Kalau ada bagian yang terdengar aneh atau membuat kita tersendat saat membacanya, itu pertanda perlu direvisi. Untuk latihan, cobalah menulis ulang artikel berita dengan gaya bahasa sendiri—latihan ini membantuku memahami struktur informasi sekaligus melatih kelenturan berbahasa.

Siapa yang menyusun standar struktur makalah yang baik dan benar?

2 Jawaban2026-06-08 21:41:44
Pernah ngebayangin nggak, siapa sih yang bikin aturan baku buat struktur makalah? Aku sering mikirin ini pas lagi ngerjain tugas kuliah. Ternyata, nggak ada satu 'bos besar' yang nentuin sendiri, tapi lebih ke hasil kolaborasi akademisi dan institusi pendidikan selama bertahun-tahun. UNESCO sama organisasi riset internasional lain mulai standarisasi di abad 20, terus dikembangkan sama universitas-universitas top kayak Harvard atau Oxford. Mereka bikin template supaya penelitian bisa konsisten dan mudah dipahami. Yang menarik, standar ini terus berkembang adaptif. Dulu cuma ada bagian pendahuluan-kesimpulan, sekarang ada etika penelitian, conflict of interest, bahkan DOI. Aku suka gaya IMRAD (Introduction, Methods, Results, Discussion) yang dipopulerin sama jurnal kedokteran tahun 1970-an. Lucunya, standar beda-beda tergantung disiplin ilmu – makalah sastra lebih fleksibel dibanding engineering yang super rigid. Terakhir kali cek, APA Style dan IEEE format masih jadi favorit, tapi selalu ada ruang buat improvisasi selama esensi akademisnya terjaga.

Bagaimana penulisan kata 'di' yang benar dalam bahasa Indonesia?

2 Jawaban2026-03-24 08:56:56
Ada sesuatu yang sering bikin aku mikir setiap kali nulis pesan atau status di media sosial: kapan sih harus nulis 'di' sebagai kata depan dan kapan harus digabung sebagai awalan? Awalnya aku ngira ini simpel aja, tapi ternyata aturannya cukup spesifik. Kata 'di' sebagai penunjuk tempat harus ditulis terpisah, kayak 'di rumah', 'di sekolah', atau 'di pasar'. Ini beda banget sama 'di' yang jadi partikel pembentuk kata kerja pasif, yang harus digabung, contohnya 'dimakan', 'dibaca', atau 'ditulis'. Yang lucu, aku sering nemuin kesalahan ini di komentar-komentar online, bahkan dari orang yang udah dewasa. Kadang mereka nulis 'dirumah' atau 'di makan', yang sebenernya keliatan aneh banget buat yang udah familiar sama aturan bahasa. Aku sendiri belajar ini waktu SMP dari guru Bahasa Indonesia yang super ketat, dan sejak itu jadi selalu kepikiran kalau mau nulis sesuatu. Menurutku, awareness tentang hal kecil kayak gini bisa bikin tulisan kita keliatan lebih profesional, bahkan di media sosial sekalipun.

Apa itu penulisan partikel dalam bahasa Indonesia?

4 Jawaban2026-03-19 03:16:15
Pernah ngeh betapa lucunya beberapa kata kecil dalam bahasa Indonesia bisa mengubah seluruh nuansa kalimat? Itulah partikel! Mereka seperti bumbu dalam masakan—tanpanya, komunikasi terasa hambar. Misalnya 'dong' dalam 'Aku juga mau dong' memberi kesan playful, atau 'lah' di 'Gitu aja kok repot lah' yang bikin nada jadi lebih casual. Uniknya, partikel ini nggak punya arti literal, tapi punya kekuatan besar buat nge-shade emosi atau penekanan. Yang bikin tambah menarik, partikel sering banget dipakai dalam percakapan sehari-hari tapi jarang diajarkan secara formal. Kayak 'nih' untuk menunjukkan sesuatu ('Ini nih yang kubilang') atau 'sih' untuk ekspresi kesal ('Dia tuh males banget sih'). Belajar partikel itu seperti dapat kunci rahasia buat ngobrol ala native speaker!

Siapa lembaga yang menetapkan ejaan yang disempurnakan adalah standar?

1 Jawaban2025-09-02 13:07:37
Serius, ini topik yang sering bikin diskusi hangat di kalangan penulis dan guru bahasa—siapa yang jadi penentu standar ejaan, sih? Aku biasanya langsung ingat badan resmi yang selama ini jadi rujukan utama: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (sebelumnya dikenal sebagai Pusat Bahasa) yang berada di bawah kementerian pendidikan. Mereka itulah lembaga pemerintah yang punya kewenangan resmi untuk merumuskan dan menetapkan pedoman ejaan bahasa Indonesia yang dipakai secara nasional. Sedikit konteks sejarah biar nggak garing: istilah 'Ejaan Yang Disempurnakan' memang populer sejak dipakai setelah kesepakatan antara Indonesia dan Malaysia pada awal 1970-an—inti dari upaya itu adalah menyelaraskan ejaan antara kedua negara. Di Indonesia sendiri, pelaksana teknis dan pengembang kebijakan ejaan berada di Pusat Bahasa, yang kemudian berevolusi menjadi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Perlu dicatat juga bahwa sejak beberapa tahun lalu istilah resmi yang lebih mutakhir adalah 'Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia' (disingkat PUEBI), yang merupakan pembaruan dan penyempurnaan dari apa yang dulu dikenal sebagai 'Ejaan Yang Disempurnakan'. Jadi kalau kamu lihat pedoman resmi sekolah, dokumen pemerintahan, atau materi pembelajaran, biasanya merujuk ke keluaran dari Badan Bahasa ini. Dari praktisnya, institusi itulah yang mengeluarkan buku panduan, maklumat, dan pembaruan ejaan yang kemudian menjadi rujukan bagi dunia pendidikan, media, birokrasi, dan penerbitan di Indonesia. Kalau ada kebingungan soal penulisan huruf, pemenggalan kata, penggunaan tanda baca, atau aturan serapan kata asing, rujukannya tetap ke pedoman yang diterbitkan mereka. Meski begitu, di dunia kreatif seperti fanfiction, komik indie, atau dialog santai, sering juga penulis memilih gaya bahasa yang sedikit longgar demi nuansa—tapi untuk keperluan resmi, standar dari Badan Bahasa-lah yang jadi patokan. Sebagai penggemar tulisan dan bahasa, aku senang melihat bagaimana aturan-aturan itu berkembang: dari usaha menyatukan ejaan antarnegara hingga penyusunan PUEBI yang lebih responsif terhadap perkembangan bahasa. Aku pribadi selalu pakai pedoman resmi saat menulis sesuatu yang mau dipublikasikan, tapi juga nggak bisa bohong kalau kadang aku suka bereksperimen di teks-teks fun—kadang tata bahasa itu kaku, tapi juga nyelipin karakter. Intinya, kalau kamu butuh standar sah untuk keperluan formal, lihat ke Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; kalau mau ngeplay untuk cerita, kebebasan kreatif masih punya tempatnya sendiri.
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status