分享

Janji Ke Delapan Belas Kali
Janji Ke Delapan Belas Kali
作者: Aman

Bab 1

作者: Aman
Ponselku bergetar, itu adalah pesan dari bagian SDM firma hukum tempatku bekerja.

[Apa Pak Toni sudah tahu kalau kau akan mengundurkan diri?]

Aku melangkah keluar dengan ponsel di tangan. Toni masih duduk di meja makan.

Dia menatapku dengan ekspresi aneh. Setelah sempat ragu-ragu sejenak, dia akhirnya bertanya dengan nada tak yakin.

“Kali ini, kenapa kau tidak bertanya padaku alasannya?”

Setelah membalas pesan itu, aku kemudian berbalik menatap Toni.

“Itu tidak penting.”

Secara harfiah, hal itu memang sudah tidak penting lagi.

Saat pertama kali kami berjanji untuk mengurus akta pernikahan, murid magangnya yang bernama Cintia mengatakan kalau dia sakit perut.

Aku menunggu di bangku panjang di luar Kantor Catatan Sipil dari pagi hingga senja, dan akhirnya pulang sendirian.

Kedua kalinya, Cintia mengatakan kalau dia tidak bisa mengisi tabel berkas perkara.

Dia menurunkanku di tengah perjalanan, di sebuah ujung jalan tol yang padat kendaraan dan kembali ke kantor tanpa menoleh sedikit pun.

Setelah itu, setiap kali kami berencana untuk pergi mendaftarkan pernikahan, Cintia selalu saja mengalami berbagai macam masalah dengan waktu yang sangat pas.

Dalam enam bulan setelah pernikahan kami, drama seperti ini telah terulang sebanyak tujuh belas kali.

Toni tampak terkejut dengan jawabanku, jakunnya bergerak naik-turun. Setelah beberapa saat terdiam, dia menyerahkan ponselnya kepadaku.

"Aku lihat akhir-akhir ini banyak orang yang menyewa jasa fotografer saat mendaftarkan pernikahan."

"Bagaimana kalau kita menyewa juga? Bukannya kau suka hal-hal seperti ini?"

Jadi, dia ingat aku menyukai momen penuh romantisme dan formalitas.

Aku berpikir sejenak dan bertanya, "Apa kau ada waktu nanti malam? Ayo, kita makan malam perpi ...."

Sebelum aku bisa menyelesaikan kata-kata "makan malam perpisahan", ponselnya berdering.

Itu murid magangnya, Cintia.

Setelah percakapan singkat, dia menutup telepon. Lalu, Toni menatapku.

"Sayang, Cintia, dia ...."

Aku memotongnya, dan tersenyum tipis.

"Pergi saja, hati-hati di jalan."

Toni terkejut, dia tampak heran dengan sikap tenangku hari ini.

Namun setelah beberapa saat, dia berganti pakaian dan berjalan keluar.

"Aku akan membelikanmu hadiah saat pulang nanti malam."

Pintu tertutup dengan suara keras. Tak lama kemudian, aku bisa mendengar suara mobil menyala dan melaju pergi di bawah sana.

Aku berdiri di tempat, terpaku menatap pintu yang tertutup.

Lima tahun hubungan cinta kami, dan enam bulan masa pernikahan.

Seharusnya aku sudah melepaskan hubungan ini sejak lama.

Sore itu, aku pergi ke kantor dan menyerahkan surat pengunduran diri secara pribadi kepada bagian SDM.

Dia menatapku dengan wajah penuh penyesalan dan kebingungan.

"Kau dan Pak Toni itu pasangan emas di firma hukum ini. Saat pesta pernikahan kalian enam bulan lalu, bukan hanya bos, tapi banyak klien kita yang datang untuk mengucapkan selamat."

"Ada banyak orang yang iri pada kalian saat itu. Kenapa kau tiba-tiba saja ingin pergi?"

Aku teringat dengan pesta pernikahan kami enam bulan lalu.

Seratus sepuluh meja penuh dengan para tamu undangan, karpet merah yang membentang, dan dikelilingi oleh bunga-bunga yang indah.

Toni menggenggam tanganku, dan berjanji akan melindungiku seumur hidupnya.

Pesta itu memang sangat meriah dan juga indah.

Namun, betapa pun meriah dan indahnya, semuanya telah hilang sekarang.

Setelah mengajukan surat pengunduran diri dan pulang ke rumah, waktu sudah lewat jam sepuluh malam.

Rumah terasa sangat sunyi dan kosong, tak ada orang satu pun.

Namun, sebuah notifikasi dari status WhatsApp Cintia muncul di ponselku.

Dia menandai namaku secara khusus.

[Terima kasih kepada mentorku karena sudah menghabiskan sore ini bersamaku. Sebagai balasannya, aku akan mentraktirmu nonton konser besok.]

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Janji Ke Delapan Belas Kali   Bab 8

    Aku tidak memberikan respon apa pun."Aku tahu, apa pun yang kukatakan sekarang sudah tidak berguna."Toni menyeka air matanya."Tapi aku benar-benar sudah berubah. Aku sudah memindahkan Cintia, dan tidak lagi berhubungan dengannya.""Aku selalu memikirkanmu setiap hari, bagaimana kau makan, kau tidur, dan bagaimana kau bekerja. Aku ingin meneleponmu, tapi takut mengganggumu. Aku ingin datang menemuimu, tapi takut kau akan jadi kesal padaku."Dia mendongak, matanya memerah."Tapi aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Aku tidak bisa hidup tanpamu."Aku menatap lurus ke dalam matanya.Di dalamnya, ada kilatan rasa takut, permohonan, ketulusan, dan rasa bersalah."Tapi, aku sudah tidak mencintaimu lagi."Ruangan itu langsung menjadi sunyi.Setelah sekian lama, dia kembali bicara dengan suara serak dan parau."Apa aku ... sudah tidak punya kesempatan?"Aku tidak menjawab.Dia menatap lekat mataku, seolah mencoba menemukan jawaban di dalamnya.Akhirnya, dia menundukkan kepala dan meng

  • Janji Ke Delapan Belas Kali   Bab 7

    Aku mendongak menatapnya.“Tapi hari itu, hanya itu yang kau katakan.”Dia terdiam.“Kau tidak pernah berkata ingin menikah denganku.”Wajahnya tiba-tiba berubah drastis.“Kau bilang akan melindungiku seumur hidup, kau bilang akan mencintaiku selamanya, kau juga bilang banyak hal, tapi kau tidak pernah bilang akan menikahiku.’”Aku menarik tangan dari genggamannya.“Aku tidak menyadarinya saat itu. Kupikir kau terlalu gugup dan lupa. Tapi kemudian aku baru berpikir, itu mungkin karena kau memang tidak pernah berniat menikah denganku.”“Aku berniat!” Suaranya tiba-tiba meninggi, “Aku sangat menginginkannya! Aku sudah mempersiapkan semuanya sejak lama ....”“Lalu, kenapa kau tidak pernah datang mendaftarkan pernikahan kita?”Dia membuka mulut, tetapi tidak bisa berbicara apa pun.“Karena di hatimu, kau sudah merasa aku menjadi milikmu. Jadi, apakah kita mendaftarkannya atau tidak, tetap saja tidak akan mengubah fakta tersebut.”“Tapi kau lupa satu hal, secara hukum, kita sama sekali buka

  • Janji Ke Delapan Belas Kali   Bab 6

    Bahasa Peronasku semakin lancar, dan pekerjaanku pun berjalan lebih mulus.Peter berkata bahwa musim semi mendatang, dia akan membiarkanku menangani sebuah kasus secara mandiri.Malam itu, setelah selesai bekerja lembur, aku kembali ke apartemen dan melihat sosok yang sangat kukenal di lantai bawah.Dia mengenakan mantel hitam panjang, berdiri di bawah lampu jalan, sambil memegang buket bunga.Begitu melihatku, dia langsung bergegas menghampiri.“Linda.”Itu adalah Toni.Penampilannya sangat berubah, tubuhnya kurus kering, matanya cekung, tulang pipinya menonjol, dan bibirnya pecah-pecah, seolah-olah dia belum makan atau tidur dengan baik selama sebulan.Aku berdiri mematung, tidak bergerak sama sekali.“Kenapa kau ke sini?”“Aku datang untuk menemuimu.” Suaranya serak. “Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.”“Menunggu apa?”“Menunggu kau pulang,” katanya. “Kau tidak membalas pesanku, ataupun menjawab teleponku, jadi aku tidak punya pilihan selain datang ke sini.”Aku menatap bunga

  • Janji Ke Delapan Belas Kali   Bab 5

    “Linda!”“Toni, lepaskan aku.”Aku menutup telepon dan mematikan ponsel.Rekan kerja yang menjemputku tampak berlari-lari kecil dan meminta maaf dalam bahasa Peronas karena datang terlambat.Aku tersenyum dan menggelengkan kepala, lalu mengikutinya keluar dari terminal bandara.Malam di Piata terasa lebih dingin daripada di rumah, angin yang berhembus membawa aroma asing.Aku menarik napas dalam-dalam, seolah sedang membuang seluruh kenangan selama lima tahun terakhir.Satu bulan kemudian.Di kawasan elit Kota Piata, di sebuah kafe kecil bernama Lovata.Aku duduk di dekat jendela, dengan kroisan dan secangkir kopi susu di depanku.Di luar jendela, terlihat pejalan kaki tampak bergegas di sepanjang jalan, beberapa sedang berjalan-jalan dengan anjing mereka, beberapa mendorong kereta bayi, dan beberapa sedang berhenti di kios buku pinggir jalan.“Linda?”Aku mendongak. Seorang pria berambut pirang dan bermata biru tampak berdiri di depan mejaku, memegang sebuah dokumen.“Peter.” Aku berd

  • Janji Ke Delapan Belas Kali   Bab 4

    Tepat saat pesawat menembus awan, aku mematikan ponsel.Hamparan cahaya putih dari luar jendela menyilaukan mataku.Aku menutup mata, lalu potongan-potongan kenangan selama lima tahun terakhir ini mendadak melintas di benakku.Pertama kali aku bertemu Toni di firma hukum, dia mengenakan setelan jas abu-abu tua, sedang berpidato dengan penuh semangat dalam simulasi persidangan.Pada kencan pertama kami, dia membawaku makan di warung pinggir jalan, lalu mengatakan bahwa inilah yang disebut dengan cita rasa kehidupan yang sesungguhnya.Pertama kali aku bertemu orang tuanya, dia menggenggam tanganku dan berkata, "Jangan takut, ada aku."Dan pada hari pernikahan kami, dia minum hingga mabuk, lalu memelukku erat dan berkata, "Linda, bisa menikahimu adalah berkah terbesar dalam hidupku."Berkah.Aku membuka mata dan tersenyum getir.Berkah pun sepertinya memiliki tanggal kadaluarsa.Setelah penerbangan selama dua belas jam, aku mendarat di Bandara Chari Diamo di Kota Piata pada jam tujuh mala

  • Janji Ke Delapan Belas Kali   Bab 3

    “Aku sudah bilang akan membelikanmu hadiah kemarin, tapi belum sempat. Jadi, hari ini … aku akan menebusnya.”Aku tertegun sejenak.Lalu, aku teringat pada ucapannya kemarin sebelum dia pergi keluar.“Aku akan membawakanmu hadiah saat pulang nanti malam.”Aku tidak menyangka kalau dia akan mengingatnya.Akan tetapi, dilihat dari tanggal di notanya, itu tertulis setengah jam yang lalu.Dia mungkin merasa tidak enak melihat aku memberikan tanda suka pada unggahan Cintia di status WhatsApp.Sepertinya dia mampir di toko pinggir jalan dan membeli sebuah tas sebagai bentuk kompensasi.Aku tidak menerimanya, dan juga tidak mengatakan apa pun.Toni meletakkan tas itu di atas ranjang, dia tampak ragu sejenak.“Ngomong-ngomong, untuk pemilihan karyawan berprestasi di kantor bulan depan, apa kau bisa .…”“Memberikannya ke Cintia?”Dia tidak menyangka kalau aku akan bicara seperti itu, dia kemudian mengangguk canggung.“Dia masih baru, jadi sangat membutuhkan pengakuan seperti itu. Kau kan sudah

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status